Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kecolongan


__ADS_3

Kiara mengerjapkan mata, ia melihat sang suami sudah rapih berdiri di depan cermin.


“Kamu sudah rapih?” tanya Kiara pada Gun.


Gunawan menoleh sembari mengancingkan kemeja lengan panjang pada pergelangan tangannya.


“Ya, kebetulan aku ada rapat pagi-pagi sekali.”


Kiara menoleh ke arah jam dinding yang sedang menunjuk pukul tujuh.


“Dengan calon suami Vely?”


“Benar.” Gun mengangguk.


“Kenapa tidak membangunkanku untuk menyiapkan keperluanmu?” tanya Kiara lagi.


Gunawan menghampiri Kiara dan duduk di ranjang. “Aku lihat, kamu tidur sangat pulas. Jadi aku tidak tega membangunkanmu.”


Kiara tersenyum. Rasanya ungkapan Gunawan begitu tulus.


“Maaf aku meninggalkanmu. Nanti pulang barenga Mami atau Vicky saja ya,” ucap Gun, yang kemudian berdiri.


Kiara masih duduk di atas ranjang itu dengan menutupi tubuh polosnya pada selimut tebal yang berwarna putih. Kiara mengangguk.


“Tidak memesan sarapan?” tanya Kiara lagi.


Gun menggeleng. “Tidak, aku buru-buru.”


Gunawan meninggalkan Kiara yang masih duduk di sana, lalu berjalan ke arah sofa. Ia mengambil dasi dan jasnya. Lalu ia kembali mendekati sang istri.


“Aku hanya minta tolong ini. Tolong pasangkan!” Gunawan kembali duduk di tepi ranjang dan menyerahkan dasi berwarna abu-abu itu kepada sang istri.


Kiara pun mengambilnya dan mulai memasangkan benda itu pada leher sang suami. Gunawan menatap lekat wajah Kiara yang berada dekat di hadapannya. Ia memang bodoh, karena dulu telah mengabaikan istri yang cantik seperti Kiara.


Kiara memasangkan dasi itu dengan cepat, karena sejak SMA, ia juga selalu memasangkan dasi untuk Kenan.


“Selesai,” ucap Kiara.


Gunawan meraba dasi yang terpasang di lehernya. “Terima kasih.”


“Sama-sama, hati-hati di jalan.”


Gunawan berdiri. “Kamu juga hati-hati.” Lalu, ia kembali membungkuk dan


mengelus perut Kiara yang bulat. “Dah, baby girl. Papa kerja dulu ya.”


Gunawan mengecup perut itu. Lalu, dengan sedikit ragu Gunawan mendekatkan bibirnya pada kening Kiara. Ia pun mengecup kening itu.


Kiara memejamkan matanya, seolah cinta yang sudah hadir di dalam hati Gunawan terasa hingga sampai di relung hati Kiara yang paling dalam, membuat kebekuan itu sedikit terpecahkan.


Kemudian, Gunawan berdiri dan hendak meninggalkan sang istri. Namun, Gunawan kembali menoleh ke arah Kiara yang masih menatapnya, sebelum ia membuka pintu itu.


Gunawan tersenyum, di iringi senyum manis yang langsung di balas oleh Kiara.


“Aku berangkat,” ucap Gun yang dia ngguki oleh Kiara, sesaat sebelum ia menutup kembali pintu itu.


****


Tiga jam kemudian, di kamar yang berbeda.


“Ken... Eum ...” lenguh Hanin, ketika bibir Kenan melahap satu gunung kembarnya dengan tangan yang juga bergerak untuk memilin sebelahnya.


“Ken ... sakit.” Hanin memukul pelan bahu sang suami, karena Kenan menggigit put*ngnya dengan cukup keras, membuat mata Hanin terbuka, padahal sebelumnya ia belum terbangun.


Kenan membangunkan sang istri dengan cara ekstrim. Kenan masih saja memainkan tubuh istrinya, walau semalam ia sudah mendapatkan apa yang ia mau, setelah satu minggu lebih berpuasa.


“Gemas, Sayang. Abisnya makin bulet banget sih, jadi geregetan kan liatnya.”

__ADS_1


“Apaan sih.” Hanin menncoba mendorong bahu sang suami, agar menjauh dari dadanya.


Kemudian, Kenan melepaskan benda favoritnya itu sembari menampilkan jejeran giginya.


“Ish, Jelek. Ngeselin.”


Kenan malah tertawa.


Tok ... Tok ...


Kenan dan Hanin menoleh ke arah pintu yang tengah di ketuk.


“Ada orang di sana,” kata Hanin yang menggoyangkan bahunya karena sang suami hendak melanjutkan aktifitas mesumnya tadi.


“Biarin,” jawab Kenan malas.


“Ih, buka dulu sana.” Hanin mendorong tubuh Kenan.


Akhirnya Kenan bangun dan hendak turun dari ranjang itu. “Ah, mengganggu saja.”


Hanin terkekeh geli. Lalu, ia pun turun dari ranjang dan beralih ke kamar mandi, sebelum Kenan membuka pintu. Ia malu jika orang yang ada di luar sana melihat dirinya yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut tebal ini.


Ceklek


Kenan membuka pintu itu. Ia melihat Vicky dan Kiara berdiri di luar.


“Haduh, penganten baru baru bangun,” ledek Vicky.


“Penganten lama, tapi baru di resmiin,”sahhut Kenan membuat Vicky dan Kiara tertawa.


“Kamu pulang bareng Vicky, Ra?” tanya Kenan.


Kiara mengangguk.


“Memang Gunawan mana?” tanya Kenan lagi.


“Mas Gun udanh berangkat pagi-pagi banget, katanya ada meeting dengan Mr. Dave.”


“Oh,” Kenan membulatkan bibirnya setelah mendapat jawaban dari sang adik.


“Mami?”


“Mami juga udah pulang setelah sarapan. Beliau hanya nitip pesan, katanya lu berdua harus tinggal bersama di rumah Mami,” jawab Vicky.


“Wah kalo begini, kapan gue sama Hanin berduaan,” ujar Kenan.


“Sekarang Hanin mana? Aku ingin pamit,” ucap Kiara.


“Iya, Ra.” Hanin keluar dari kamar mandi dengan dres satin tanpa lengan. Rambutnya yang dikuncir tinggi membuat beberapa tato hasil Kenan semalam pun terlihat jelas.


Hanin berjalan mendekati Kiara dan Vicky, hingga tawa kecil pun tersungging dari kedua orang itu saat mellihat Hanin yang tidak sadar akan bercak merah yang banyak di lehernya.


“Ya udah, gue balik lah. Pamali gangguin penganten baru,” ucap Vicky.


“Iya, aku juga pamit deh. Ayo, Vicky!” sahut Kiara.


Namun, Hanin langsung menyanggah. “Ih, apaan sih. Penganten baru mulu. Udah lama kali,”


Kenan pun menyungging senyum yang tahu mengapa Vicky dan Kiara tertawa dan meledek istrinya. Ia malah senang telah banyak memberi tanda kepemilikan di sana.


“Ya udah, gih sana pergi. Hush ... hush ...” Kenan mengusir Vicky dan memegang kedua bahu Kiara untuk menuntut sang adik agar keluar.


“Kakak .. Kakak .. mesum banget sih sekarang,” Kiara tertawa.


“Sebenernya emang dia udah seperti ini, tapi dulu di tahan karena belum ada lawan,” ledek Vicky.


Hanin dan Kiara tertawa.

__ADS_1


“Ya ... ya ... ya ... “ Kenan mengangguk dengan tetap menyungging senyum.


Lalu, ia hendak menutup pintu itu. Namun, ia kembali membuka lebar dan memanggil Vicky yang sudah berbalik badan dan hendak berjalan melewati lorong kamar itu.


“Oiya, Vick. Nanti satu berkas itu belum lu serahin?” tanya Kenan, saat ingat bahwa ada satu bukti lagi untuk menguatkan bahwa rivalnya bersalah.


“Iya, masih ada di mobil. Nanti abis antar Kiara, gue langsung serahin ke sana.”


“Sip.” Kenan menunjukkan ibu jarinya ke atas. Lalu kembali menutup pintu itu.


Kenan langsung menggendong tubuh Hanin yang tengah berdiri persis di sampingnya.


“Aww,” jerit Hanin saat tubuhnya tiba-tiba melayang ke udara.


“Akhirnya, ga ada yang ganggu. Kita mandi bersama, Sayang.” Kenan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


“Hanya mandi saja, tidak lebih.” Hanin memperingatkan sang suami, karena sejak semalam ia lelah memuaskan sang suami yang tak pernah merasa puas dengan tubuhnya ini.


“Satu kali lagi, Sayang,” rengek Kenan.


“Ngga, Sayang. kamu ga kasihan sama dia.” Hanin menunjuk bayi yang ada di perutnya.


Kenan pun menyerah. Ia menarik nafasnya malas. “Kalau sudah menyangkut itu, aku menyerah.”


Hanin tertawa.


Di lift, Kiara berasam Vicky tengah turun untuk meninggalkan hotel ini.


“Waduh, Vick. Obatku tertinggal di kamar,” ucap Kiara sembari merogoh tasnya. Ia meninggalkan banyak obat hamil yang berada dalam satu bag sedang berwarna bening.


“Obat apa? Obat hamil?”


Kiara menganguk.


“Ya udah balik lagi ke atas,” ucap Vicky yang kemudian turun di lantai itu dan kembali menuju ke kamar Kiara tadi.


Setelah itu, mereka turun kembali dan berjalan ke area parkir. Mobil Vicky sudah bertengger di sana. mereka pun menaiki mobil itu dan Vicky mulai menjalankan pelan, karena ia sedang membawa wanita hamil.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Kenan berdering beberapa kali. Namun, Kenan baru mengangkatnya, setelah ia selesai mandi dan keluar dari ruangan itu. Ponsel Kenan tergeletak di nakas yang dekat dengan ranjang. Ia melihat nomor orang kepercayaan yang selalu ia suruh untuk menjadi bodyguard atau mata-mata.


“Ya,” jawab Kenan.


“Apa?” tanya Kenan berteriak, membuat aktifitas Hanin yang sedang menyisir rambutnya itu pun terhenti.


“Bodoh! Mengapa bisa kecolongan? Bodoh.” Kenan langsung menutup telepon itu dengan wajah panik.


“Ada apa, Ken?” tanya Hanin yang langsung mendekati suaminya yang terlihat marah.


“Ah, si*l,” umpat Kenan sembari memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.


“Ken, ada apa?” tanya Hanin dengan penekanan, pasalnya Kenan selalu tidak mau membagi masalahnya.


“Mobil Vicky,” ucap Kenan gemetar sambil memakai kaosnya asal.


“Mobil Vicky kenapa?” tanya Hanin tak sabar akan jawaban sang suami.


“Mobil Vicky dikerjai orang. Di atas kecepatan empat puluh kilometer, rem itu tidak berfungsi.”


“Kiara,” Hanin menyebut nama adik Kenan dengan lirih, dadanya bergemuruh hebat.


Sedangkan Kenan sibuk dengan ponselnya yang menelepon bantuan pada polisi juga orang-orang suruhannya agar langsung ke lokasi Vicky.


Benar saja, Vicky tidak bisa menginjak rem mobilnya ketika mereka berada di jalan bebas hambatan dengan kecepatan enam puluh kilometer, kecepatan yang masih di bilang tidak terlalu kencang saat berada di dalam jalan itu. Namun, Vicky hendak menurunkan kembali kecepatan itu. Tapi saat ia menginjak rem, alat itu tidak berfungsi.


“Remnya blong, Ra,” ucap Vicky panik.

__ADS_1


__ADS_2