Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kejahilan Kenan 1


__ADS_3

Di kediaman utama keluarga Aditama, seperti biasa, Hanin pagi-pagi selalu membantu pelayan di sana untuk menyiapkan sarapan pagi. Hanin berdiri menghadap marmer kitchen set yang berwarna abu-abu kehitam-hitaman. Ia berdiri sendiri di dapur yang luas ini, sembari mengaduk-aduk krim sup jagung, kesukaan Kenan yang masih berada di atas kompor. Biasanya, Kenan akan memakan krim sup jagung ini dengan roti atau pastry.


Beberapa menit kemudian, Hanin tak lagi sendiri, karena ada kedua tangan yang sudah melingkar di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Kenan. Ya, Kenan memeluk Hanin dari belakang.


“Hei, aku cari-cari ternyata kamu ada di sini,” ucap Kenan dengan menaruh dagunya di pundak sang istri sembari menghirup aroma wangi tubuh sang istri dan aroma sup jagung di depannya.


“Nyari aku tuh gampang, kalau ngga di dapur, paling di taman, atau di kamar mandi,” sahut Hanin tersenyum.


“Tapi dulu, aku sempat tidak menemukanmu.” Kenan mengungkit, saat ia kehilangan jejak Hanin kala itu, padahal ternyata Hanin bekerja di perusahaanya.


“Karena aku mendapatkan bantuan dari Vicky,” ledek Hanin.


“Pokoknya apapun masalah yang terjadi dalam pernikahan kita, kamu ga boleh kabur-kaburan lagi. Aku ga bisa jauh darimu, Sayang.” Kenan mengeratkan pelukannya dan mencium bahu Hanin.


“Iya, Sayang. Aku janji, aku selalu berada di sisimu,” Hanin.


“Eum ...” Kenan tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya sembari menggoyangkan tubuh Hanin ke kanan dan kiri.


Kemudian, tangan Kenan meremas kedua bukit kembar Hanin dan membuka dua kancing di atas kemeja itu.


Hanin mematikan kompor itu. Ia sudah tak lagi berkonsentrasi memasak.


“Ken ... Eum, nanti ada Bi lastri.” Hanin berusaha memperingatkan suaminya, karena mereka saat ini tidak sedang berada di apartemen yang hanya ada mereka berdua saja.


Bibir Kenan masih menelusuri bagian leher dan punggung Hanin yang setengah terbuka. Lalu, Kenan membalikkan tubuh Hanin dan mengajaknya bereser ke tempat yang jauh dari perapian itu. Ia melepaskan lagi satu kancing kemeja Hanin, hingga kedua gundukan bulat itu pun terpampang walau masih dengan balutan bra.


“Semalam, kita belum melakukannya, Sayang.” Kenan mencium leher jenjang Hanin dari depan.


Hanin menonggakkan kepalanya ke atas, memberi jalan Kenan untuk menggigit leher itu dan memberinya tanda.


“Salah sendiri, mengapa kamu tidak membangunkanku?”


Semalam, Kenan memang pulang tengah malam. Pekerjaan yang menunpuk, membuatnya harus lembur dan pulang dengan malam yang sangat larut. Biasanya, sang istri akan menunggunya pulang. Namun, semalam mata Hanin sangat kantuk sehingga ia menunggu Kenan sampai tertidur di sofa kamar dalam keadaan televisi yang menyala. Kenan tidak tega, sehingga ia hanya memindahkan sang istri ke tempat tidur tanpa menggganggunya.


“Mana aku tega, kamu tidurnya udah kaya kebo.”


“Masa?” tanya Hanin dengan nada manja.


Kini mereka saling bertatapan.


“Bohong.” Hanin membulatkan matanya pada Kenan.

__ADS_1


Kenan tertawa. “Dih, masa iya aku bohong. Kamu itu ga gerak sama sekali pas aku pindahin. Bener-bener kaya kebo.”


Hanin cemberut. Baru saja malam kemarin ia di sanjung dengan lagu cinta, eh sekarang Kenan sudah kembali menyebalkan lagi dengan menyebutnya ‘kebo’.


Hanin membalikkan lagi tubuhnya ke arah kompor dan menyiapkan makanan itu ke meja makan.


“Sayang, kok diem sih?” tanya Kenan dengan mengikuti langkah Hanin yang tanpa suara dan tanpa senyum.


Langkah Hanin kembali ke dapur untuk mengambil makanan lain, sementara semua minuman sudah di bawa Bi Lastri ke meja itu.


“Sayang, Jangan marah dong! Aku kan becanda.” panggil Kenan dengan menoel pinggang Hanin.


“Ngga lucu, masa aku di samain ama kebo.” Cemberut Hanin.


Kenan langsung menangkap tubuh Hanin dan memeluknya. Ia tertawa. “Suka lihat wajah cemberut kamu. Lucu, gemes. Pengen rasanya aku gigit.”


Kenan mencubit ujung hidung Hanin.


“Mau kamu kaya kebo, kaya apapun, aku tetap cinta kamu. Mau kamu suka ileran atau mendengkur, aku tetap cinta kamu.”


Hanin menrengutkan bibirnya. “Gombal. Hmm .... tapi emang iya, aku seperti itu kalo tidur?” tanya Hanin dengan suara manja.


“Ngga kan?” tanya Hanin lagi.


“Ngga.” Kenan menggeleng. “Ngga salah lagi.”


“Aaa...” teriak Hanin sambil mencubit pinggang Kenan.


Kenan tertawa dan mendekap lagi tubuh istrinya. Ia senang sekali menjahili dan menggoda Hanin. Padahal, sang istri jika tidur tidak seperti itu.


Kemudian, mulut Kenan langsung memakan bibir Hanin, membuat Hanin tak siap mengimbanginya. Mata Hanin membulat, saat ia melihat Bi Lastri yang tidak jadi ke dapur karena kenan sedang ******* bibir Hanin.


“Mmpphh ...” Suara kecipak kecipuk itu pun akhirnya berhenti, karena Kenan melepaskan ciuman itu.


“Kenapa, Sayang?” tanya Kenan yang masih tidak mau melepas pangutan itu, sementara sang istri sudah memberi kode untuk melepaskan pangutan itu.


“Ada Bi Lastri tadi,” rengek Hanin menunjuk ke arah tempat ia melihat Lastri berdiri.


“Biarin aja, yang penting bukan Mami.”


Hanin membulatkan matanya, karena Rasti memang sudah berdiri di belakang Kenan, sekarang.

__ADS_1


“Tapi, sekarang Mami di sini,” ucap Rasti tersenyum, membuat Kenan seketika melepas pelukannya pada sang istri.


“Eh ada Mami.” Kenan nyengir, memperlihatkan jejeran giginya yang rapih.


Rasti tersenyum dan menggeleng sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Dasar nakal. Ayo sarapan! Mesum-mesumannya bisa dilanjut lagi nanti,” ujar Rasti yang menyuruh anak dan menantunya ke meja makan.


Lalu, Kenan menarik tangan istrinya untuk ikut ke meja makan. Setelah menikmati sarapan, Kenan pamit pada sang ibu. Namun, ia tetap menggenggam tangan Hanin.


“Kamu mau bawa Hanin ke kantor?” tanya Rasti.


“Iya,” jawab Kenan.


Hanin yang tidak siap pun membulatkan matanya. “Apa? Ngga kok.”


“Kamu ikut aku ke kantor, Sayang. katanya mau jenguk bayinya Irma.” Kenan selalu punya alasan untuk menaklukkan kepolosan Hanin.


“Emangnya kamu mau ke Bandung?” tanya Hanin.


“Iya, sama Mang Udin, sekalian dia juga lagi ingin pulang karena besok kan weekend.”


“Oh, iya. Mami kok lupa.” Rasti menepuk keningnya, padahal sudah jauh-jauh hari Syamsudin meminta izin untuk menemui keluarganya di Bandung.


“Tapi, aku belum rapih, Ken.” Hanin melihat ke arah Rasti. “Eh, Mas Ken.”


Kenan tertawa mendengar Hanin yang takut pada ibunya karena tidak menyebut nama Kenan dengan embel-embel panggilan depan, karena Kenan memang jauh lebih tua dari Hanin.


“Ya udah aku tungguin,” ucap Kenan. Namun, Hanin masih diam mematung.


“Mau ikut ngga?” tanya Kenan lagi pada istrinya.


“Mau,” jawab Hanin mengangguk.


“Ya udah ganti baju.”


“Sebentar ya!” Hanin tersenyum dan langsung berlari ke kamar.


“Pakai rok dan atasan kemeja saja,” teriak Kenan pada istrinya.


Hanin menoleh dan menunjukkan ibu jarinya ke atas dengan senyum. Ia tak tahu kelicikan apa yang akan dilakukan suaminya. Walau logis, jika harus berpakaian formal ke kantor sang suami. Namun, senyum Kenan terlihat tengah merencanakan sesuatu untuk menjahili istrinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2