
Di kediaman Aditama, Kiara sudah berpakaian rapih. Ia ingin ke ruamh sakit, karena ada jadwal USG empat dimensi. Kiara penasaran dengan jenis kelamin bayi yang tengah ia kandung ini. Dan, untuk melihat bentuk juga kepastian kesehatan dari sang jabang bayi, ia iseng mendaftarkan diri untuk pemeriksaan itu.
“Kamu mau kemana, Ra?” tanya Rasti yang juga sudah berpakaian rapih.
“Mau ke rumah sakit, Mam. Mami sendiri mau kemana?”
“Mami sudah janji dengan salah satu teman untuk menemani dia ke panti asuhan. Kebetulan Mami juga mulai aktif di yayasan dia, sekarang.”
“Oh.” Kiara membulatkan bibirnya.
“Kenapa dari kemarin kamu ga bilang, Ra. Kalau tahu hari ini kamu ke rumah sakit, Mami tidak akan membuat janji ke teman Mami, karena Mami juga ingin melihat calon cucu Mami,” ungkap Rasti antusias.
Kiara nyengir. “Kiara juga lupa, Mam. Semalam baru di ingatkan rumah sakit melalu sms.”
“Kamu ini, apa juga lupa.” Rasti mengetuk kening Kiara, yang sering meremehkan segala hal, bukan karena pikun.
Kiara nyengir, menampilkan jejeran giginya.
Kemudian, Rasti dan Kiara menaiki mobil yang sama. Syamsudin mengantarkan Kiara ke rumah sakit terlebih dahulu, lalu ke tempat panti asuhan yang Rasti tuju.
Tring ....
Ponsel Kiara berbunyi. Ia pun langsung melihat ponsel yang tengah di genggaman itu. Di sana terlihat pesan via whatsapp dari Vicky.
“Kamu sedang di rumah sakit?”
Kiara menyipitkan mata, setelah membaca pesan itu. Ternyata Vicky masih saja menguntit lokasi ponselnya yang terhubung pada email Vicky, karena dulu Kenan selalu meminta sahabatnya itu untuk menjemput sang adik, jika Kenan sedang tidak bisa menjemputnya.
Kiara tak membalas pesan itu.
Tring ...
Ponsel Kiara kembali berbunyi dari orang yang sama dan melalui pesan yang sama.
“Ra, kamu sendiri? Gunawan tidak menemani?”
Lagi-lagi Kiara hanya tersenyum membaca pesan itu dan tidak membalasnya. Vicky dan Kenan memang sama-sama berlebihan ketika menjaganya.
Kiara cukup lama berada di rumah sakit. Ia tersenyum senang saat melihat bentuk dari calon bayi yang ia kandung saat ini.
“Bayinya sehat, Bu. Walau Bu Kiara jarang meminum obat kehamilan,” sindir dokter itu pada Kiara, agar Kiara tidak lupa meminum obat yang ia resepkan.
Dokter itu tengah menggerakkan alat di atas perut Kiara yang terlihat besar.
Kiara yang mendengar sindiran itu pun hanya tersenyum.
“Bayi saya perempuan ya, Dok?” tanya Kiara.
Dokter yang terlihat namanya di dada kiri dengan tulisan Camelia itu pun mengangguk. “Yap, benar.”
__ADS_1
Bentuk wajah calon bayi itu sedikit mennunjukkan wajah Gunawan. Seketika, Kiara tersenyum lagi.
Setelah, selesai di ruang USG empat dimensi, kemudian Kiara keluar. Ia melihat Vicky tengah duduk sembari memainkan ponselnya di ruang tunggu yang berada tepat di depan ruang tempat Kiara periksa tadi.
“Kamu. Ngapain kesini?” tanya Kiara berdiri di depan Vicky.
“Memastikan kamu baik-baik saja,” jawab Vicky santai, lalu berdiri.
“Kalau Gunawan tidak bisa mengantarmu, bilang. Aku pasti akan mengantarmu.”
“Kamu bukan suamiku,” ledek Kiara.
“Ra. Sebelum skandal itu terjadi, Kenan selalu menitipkanmu padaku dan aku tidak keberatan. Walau pun kamu tidak menerima cintaku, paling tidak kita bisa seperti dulu, seperti kakak dan adik.”
Kiara tersenyum dan menggeleng. “Kamu sudah memiliki adik. Bahkan adikmu saja tidak kamu jaga.”
Vicky menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Enak saja. Aku tetap menjaga Vely walau dari jarak jauh. Lagi pula di sana, Vely sudah ada yang menjaga.”
“Oh, ya? Vely mau nikah? Kamu dilangkah lagi? Duh, kasihan,” ledek Kiara.
Kiara dan Vicky tertawa.
“Iya nih, aku dilangkah lagi, bulan depan Vely menikah dan sepertinya aku akan minta cuti nanti.”
“Wah aku turut bahagia, sampaikan salamku nanti untuk Vely.”
Adik Vicky yang merupakan kembaran Vedy, yang tinggal di Australia itu memang sudah menjalin hubungan dengan pria asal Ausy asli. Mereka sama-sama bekerja di gedung yang sama. Mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun dan kini mereka akan menikah.
Sementara, di kediaman Aditama. Gunawan memarkirkan mobilnya dan memasuki rumah itu tergesa-gesa.
“Loh, bi. Kok sepi?” tanya Gunawan pada Lastri, setelah ia sampai di dalam rumah besar itu.
“Iya, Pak. Non Kiara ke rumah sakit. Terus, Ibu ke panti asuhan bersama temannya.”
“Rumah sakit?” tanya Gunawan mengeryitkan dahi. Kiara tidak bilang apapun tadi pagi. Padahal, jika sang istri ingin memeriksa kandungan, ia pun akan dengan senang hati mengantarnya.
“Iya, Pak. Kata Non Kiara, pengen periksa jenis kelamain bayinya.”
“Dari kapan Kiara pergi?” tanya Gunawan lagi.
“Sudah tiga jam yang lalu.”
Gunawan langsung kembali melangkahkan kakinya keluar dan menaiki mobil. Ia segera melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Kiara mmemeriksakan kandungannya.
Sesampainya di rumah sakit. Gunawan memarkirkan mobil, lalu keluar. Baru beberapa kali langkah kakinya bergerak menuju lobby rumah sakit, rupanya ia mendapati sosok sang istri yang tengah berjalan bersama seorang pria yang tidak asing baginya. Mereka tertawa riang, berjalan beriringan dengan langkah kaki yang hendak menuju parkiran.
Gunawan mempercepat langkah kakinya untuk mengejar mereka.
Bugh
__ADS_1
Setelah dekat dengan Vicky. Ia langsung melayangkan tinju ke pipi pria yang sedang berjalan bersama istrinya.
“Gun,” panggil Vicky terkejut setelah ia tersungkur dan mendapati siapa orang yang telah memukulnya.
“Apa-apaan sih, Mas?” teriak Kiara membulatkan matanya ke arah sang suami, sembari berjongkok untuk menolong Vicky yang tersungkur di lantai.
“Kamu membela dia?” tanya Gunawan dengan menunjuk ke arah Vicky. “Kamu juga ngapain masih aja deketin istri gue?”
“Vick kamu ga apa-apa?” Kiara tidak memperdulikan Gunawan yang sedang marah. Ia justru malah membantu Vicky berdiri dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan sapu tagan miliknya.
“Kalian hebat.” Gunawan tersenyum sinis. “Jangan-jangan bayi yang kamu kandung itu memang benar anak dia.” Lagi-lagi Gunawan menunjuk ke arah Vicky.
Untung saja, parkiran itu tidak di lalui banyak orang, sehingga pertikaian mereka tidak diketahui orang lain.
“Terserah. Ayo Vick, kita pulang!” Kiara tetap mengajak Vicky untuk berjalan. Ia malas berdebat dengan Gunawan.
Kalau pun Gunawan tak mengakui anak yang tengah ia kandung. Itu tak masalah. Ia akan merawat anak ini sendiri dan hidup berdua saja.
“Ra. Kamu benar-benar wanita ******.” Gunawan menarik tangan Kiara dari belakang.
Lalu, Vicky menepis tangan Gunawan yang dengan kasar menarik wanita yang tengah hamil besar itu.
“Stop, Gun. Jangan kasar begini,” ucap Vicky.
“Diem lu, Ini urusan gue sama istri gue.”
Kiara menepis tangan yang mencekal pergelangan tangannya. “Sudah, Mas. Aku lelah. Aku memang ****** ...”
“Ra.” Vicky langsung menggeleng mendengar ucapan Kiara yang terdengar menyakitkan.
“Aku wanita yang sudah menghancurkan hidupmu. Kalau kamu membenciku, kenapa tidak kamu ceraikan saja aku. Lagi pula kamu tidak mengakui anak ini 'kan?” Kiara meneruskan perkataan yang sempat terpotong tadi. Lalu, berjalan kembali meninggalkan kedua pria itu.
“Ra. Tunggu!” Vicky mengejar langkah Kiara.
“Aku antar pulang.” Vicky mengikuti langkah Kiara yang terus berjalan.
“Ngga usah, aku bisa sendiri.”
“Ra, kamu lagi hamil. Biar aku antar pulang.”
“Sudah, Vick. Kamu jangan terlalu baik padaku. Aku jadi semakin merasa bersalah.”
“Aku antar pulang. Oke,” ucap Vicky lagi dengan suara lembut.
Kemudian Kiara mengangguk. Mereka pun pulang meninggalkan Gunawan yang masih terdiam mematung.
Gunawan mendengar pertengkaran antara Kiara dan Vicky tadi, sebelum mereka benar-benar berlalu jauh. Ia tak menyangka cinta Vicky begitu besar pada istrinya. Kiara memang cantik dan baik. Terbukti selama menjadi istrinya, Kiara selalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan tidak pernah bermain dengan pria lain, walau dirinya sering bermain dengan wanita club malam.
Gunawan pun menyesal dengan apa yang diucapkannya tadi pada sang istri. Sungguh, ia cemburu.
__ADS_1