
“Terima kasih, Ummi.” Hanin memeluk ibu Lani, ketika ia hendak berpamitan untuk pulang.
“Sama-sama, Han. Kapan-kapan kamu main kesini lagi ya,” jawab Ummi. “Kamu juga ya, Nak.” Arah mata Ummi beralih pada Kenan.
Kenan tersenyum dan mengangguk. “Saya pasti akan merindukan sambal buatan ummi.”
Ummi dan Abah tersenyum. Sedangkan Vicky tertawa, karena melihat Kenan yang menyukai petai dan sambal terasi buatan ibunya Lani.
“Lan. Apa tidak sebaiknya kamu menginap saja? Ini sudah terlalu malam,” ucap abah pada putrinya yang bersikeras akan pulang juga.
Lani menggeleng. “Banyak kerjaan rumah yang belum dibereskan, Bah. Terus Senin udah kerja lagi. Nanti pekerjaan rumahnya semakin numpuk.”
Abah mengangguk.
“Bagaimana kalau asistenku yang akan mengantarmu,” ucap Kenan.
“Betul, setuju,” sahut Hanin. “Lan, kamu ditemenin Vicky aja ya. Biar dia yang nyetir mobil lu sampai rumah.”
“Ngga usah, Han. Ngga apa-apa kok. Aku udah biasa bawa mobil sendiri,” jawab Lani. “Lagian nanti sampai rumahku, Vicky nya gimana?”
“Ya, dia pulang sendiri, masa iya mau nginep dirumah lu, Lan. Yang ada nanti Tio ngamuk. Tapi gue mau liat si Tio ngamuk,” Hanin tertawa.
Lani menyenggol lengan Hanin dengan sikunya. “Rese banget lu.”
“Emang Tio siapa?” tanya Kenan.
“Suaminya Lani,” jawab Ummi.
“Oh, Lani udah bersuami. Vick, jangan macem-macem ya, Lani udah punya suami,” ledek Kenan pada asistennya. Padahal Vicky juga biasa saja dengan sahabat Hanin itu.
“Apaan sih lu, Ken,” kata Vicky santai.
“Ya sudah, Nak. Benar kata Nak Kenan. Malam sudah larut, kalau kamu pulang sendiri, Abah dan Ummi juga khawatir,” kata abah yang diangguki Ummi.
“Gue ngga akan macem-macem kok, Lan,” ucap Vicky tersenyum dengan membentangkan telapak tangannya agar Lani menyerahkan kunci mobil yang ia pegang.
“Kalo macem-macem, paling kamu kena tendang, Vick. Lani itu pemmilik sabuk hitam,” sahut Hanin tertawa.
“Waw, berarti gue yang takut dong,” jawab Vicky membuat semua tertawa termasuk Lani.
Akhirnya keempat orang ini menaiki kendaraannya masing-masing. Vicky mengendarai mobil Lani hingga Jakarta dan Kenan mengendarai sedan mewahnya menuju hotel bersama sang istri.
Setelah semua berada di mobil masing-masing, Kenan sedikit berlari dan mendekati Ummi. Ia memberikan amplop putih yang langsung dikepalkan ke tangan ibunya Lani.
“Ummi, sekali lagi terima kasih karena telah membuat Hanin senang,” kata Kenan.
“Eh, apa ini Nak?” tanya Ummi bingung sembari mellihat ke amplop putih itu.
“Ini ada sesuatu untuk ummi dan abah. Tidak banyak. Terimalah!”
“Ya ampun, NaK. Jangan seperti ini! kami memang sudah menganggap Hanin seperti anak sendiri,” kata Abah.
“Tidak apa-apa, Bah. Ini hanya ucapan terima kasih saja.” Langkah Kenan mundur ke belakang dan meninggalkan kedua orang tua itu.
“Terima kasih, Nak,” teriak Ummi.
Kenan menoleh dan tersenyum sembari sedikit membungkukkan tubuhnya. Di dalam mobil Lani, Vicky tersenyum. Kenan memang banyak berubah setelah menikah, ia sudah bisa menghargai orang lain.
“Nyokap gue dikasih apa?” tanya Lani pada Vicky yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Sepertinya uang,” jawab Vicky.
“Oh, ya?” tanya Lani tak percaya. “Banyak?”
“Ya, lumayan.” Vicky tahu betul nominal uang untuk orang tua Lani, karena memang ia yang menyiapkan itu atas perintah bosnya.
“Gue ngga nyangka keluarga Aditama bisa memperlakukan Hanin seperti ini. tapi gue seneng banget lihatnya.”
“Ya, itu berkat ketulusan dan kesabaran Hanin,” jawab Vicky, lalu menjalankan mobilnya.
Lani setuju dan mengangguk. Soal kesabaran, memang Hanin tak diragukan lagi. Sewaktu masih sama-sam bekerja di kantor yang sama dengan divisi yang sama, Hanin adalah satu-satunya orang paling sabar menghadapi bos mereka yang killer. Soal ketulusan, Lani pun sudah merasakannya, ketika ia menjadi penghuni kos. Hanin yang selalu membantunya saat sakit atau kekurangan uang.
Mobil Kenan dan Lani, terpisah di pertigaan jalan. Mereka melaju dengan tujuan masing-masing.
Ummi menatap amplop putih yang masih belum ia buka. “Ini isinya apa, Bah?”
“Sepertinya uang.”
“Tapi tebal sekali.” Ummi menekan isi amplop itu dari luar.
“Kalau penasaran, dibuka saja,” jawab abah santai tengah merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang sedang duduk ditepian.
Kemudian, perlahan Ummi membuka menyobek ujung amplop itu.
“Maa Sya Allah ...” teriak Ummi, membuat Abah pun ikut terperanjat.
Abah langsung bangun mendekati istrinya. “Ada apa sih, Mi?”
“Ya Allah, Abah. Uangnya banyak sekali.” Ummi memegang segepok uang ratusan ribu yang masih terikat kertas dengan nama Bank yang tertera di sana.
Abah melihat uang itu dan ekspresi istrinya. “Ya ampun, ini sepuluh juta, Mi?”
Ummi mengangguk. “Iya, padahal kita cuma memberi makan malam ala kampung, tapi suaminya Hanin malah memberi uang sebanyak ini.”
****
“By, mandi gih!” Hanin menggoyangkan bahunya, karena sejak sampai di hotel ini, Kenan selalu bergelayut di pundaknya dan terus menempel di belakang.
Mereka duduk di sofa persis dekat dengan jendela yang memperlihatkan pemandangan puncak. Sesekali mereka melihat ke arah pemandangan itu dan televisi yang berada di depannya.
“Kamu belum mandi dari pagi, By. Udah mana mulut kamu bau banget lagi.” Protes Hanin, lalu memajukan tubuhnya.
Kenan tertawa. ia memang makan banyak sekali petai di rumah orang tua Lani. Padahal Hanin hany memakan satu, dua saja. Tapi Kenan mengabiskan tiga papan sendirian.
“Huuuu ...” Kenan sengaja menyemburkan aroma mulutnya pada Hanin.
“Bau, By. Ih ... “ Hanin menahan dada Kenan dan menjauh.
Namun, Kenan justru malah semakin gencar mendekati istrinya dan berbagi aroma mulut.
“By, ngeselin banget sih,” Kepala Hanin mencoba menjauh dari kepala Kenan yang sengaja di dekatkan padanya.
Kenan tertawa. “Kan kamu yang nyuruh aku makan itu.”
“Tapi ngga sebanyak itu juga kali.”
Kenan terus tertawa. Ia pun mecoba mencium aroma mulunya sendiri. “ Hoek. Ternyata makanan itu membawa efek menyengat ya.”
Hanin tertawa. “Tuh, kan kamu sendiri aja mau muntah.”
__ADS_1
Lalu, Kenan kembali mendekati Hanin, sedang istrinya sudah lebih dulu pergi menghindar.
“By, Jangan rese deh!”
“Biarin.”
“By ...” terikan Hanin yang sudah berada di atas ranjang, terdengar melengking.
Ia sengaja menyelimutkan seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu, agar Kenan tidak mngganggunya.
Namun, Kenan terus menarik selimut itu, agar Hanin tidak dapat bersembunyi di sana.
“By .... mandi sana,” teriak Hanin sembari tertawa karena gerakan Kenan yang terus mencoba membuka pertahanannya.
“Aaaa ...” teriak Hanin ketika selimut tebal itu akhirnya berhasil Kenan rebut.
Sejak sampai di kamar ini, Kenan memang sudah menanggalkan pakaiannya dan menyisakan boxernya saja.
Lalu, Kenan berhasil mengkungkung tubuh istrinya yang sudah terlentang di atas ranjang dan mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri.
“By, bau. Mandi dulu sana, Ih ..” Hanin tetap menahan dada bidang itu.
“Biarin, yang bau itu justru lebih enak.” Kenan menaikkan kedua tangan Hanin ke atas kepala wanita itu dan menguncinya.
Kemudian, ia mencium ketiak Hanin. “Aku aja suka baumu.”
“By, ih ... Geli.” Hanin tertawa menahan geli dan hendak menurunkan kedua tangannya. Namun, tangan Kenan lebih kuat mengunci kedua tangan itu.
“Biarin, itu hukuman buat kamu yang udah buat aku stres dari kemarin.” Kenan terus mlakukan aksinya, menciumi kedua ketiak Hanin bergantian hingga pemiliknya tak tahan menahan geli dn terus tertawa.
“By ...” Hanin terus berteriak memanggil nama suaminya, membuat Kenan semakin gencar.
Hingga beberapa menit, akhirnya Kenan menyudahi aksinya. Dada Hanin naik turun, ia lelah tertawa akibat sensai geli itu.
“Kamu nyebelin.” Hanin memukul pelan dada suaminya.
“Kamu lebih nyebelin,” jawab Kenan.
“Itu kan karena kamu,” sanggah Hanin tak mau kalah.
“Salah kamu juga yang ngga mau terbuka. Memang aku cenayang yang tahu isi hati orang.”
Kedua tangan Kenan bergerilya di tubuh itu, hingga berhasil membuka pakaian yang melekat di tubuh Hanin satu-persatu saat Hanin tertawa karena sensasi gelitikan tadi.
Hanin pun tak sadar ketika tubuhnya sudah tak lagi memakai apapun sekarang.
“Dasar ngga peka,” umpat Hanin ketika mereka saling bertatapan.
Lalu, Kenan langsung menunduk dan menggigit put*ng yang sudah tegak itu.
“Aaa ... Hubby sakit,” rengek Hanin karena gigitan sang suami begitu kuat.
“Aku ini peka, sayang. hanya saja kamu belum melihat kepekaanku,” jawab Kenan yang langsung mensejajarkan wajahnya kembali setelah bermain di salah satu gunung kembar Hanin.
“Oh ya,” tatapan Hanin menggambarkan seolah tak percaya.
“Ck,” kesal Kenan, lalu kembali melakukan aksinya.
“Aaaa ... Keeenaaaan ...” Hanin menjerit saat sang suami mulai mempermainkan bagian-bagian sensitif di tubuhnya.
__ADS_1
Kenan menyeringai licik dan kepalanya kembali menatap istrinya. “Ini baru hukuman pertama, Sayang. Aku akan buat kamu menjerit semalaman.”
“Ken ... Ken ... Jelek,” umpat Hanin sembari tertawa.