Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ekstra part 7


__ADS_3

“By, aku ingin melahirkan normal.” Hanin masih mencoba bernegosiasi dengan suaminya, sedangkan dokter sudah mempersiapkan meja operasi untuk Hanin.


“Ini sudah dua jam, Sayang. tapi belum ada perubahan. Status pembukaannya masih saja sama. Aku khawatir.”


Kenan sudah menunggu untuk memenuhi keinginan sang istri yang ingin melahirkan normal. Walau selama dua jam itu, sang istri tak mengeluh atau tak berteriak kesakitan, tapi Kenan tetap tidak tega melihat istrinya seperti ini.


“Aku ingin berkorban untuknya,” ucap Hanin sembari mengelus eprut besarnya itu. “Dek, ayo dong, keluar!” Hanin terus berkomunikasi dengan bayi yang masih dalam perutnya itu.


“Sayang, anak kita tahu bahwa kamu sudah berjuang untuknya.” Kenan tersenyum untuk meyakinkan sang istri. “Kamu adalah istri dan ibu yang hebat.”


Hanin tersenyum dan pasrah. Apalagi dokter mengatakan bahwa air ketuban di dalamnya semakin menipis. Mau tidak mau, Hanin memang harus operasi untuk mengeluarkan bayi yang tak kunjung keluar.


Ruang operasi untuk Hanin sudah siap. Istri pemilik Aditama Grup itu pun segera di bawa dari IGD menuju ruang operasi.


Kenan dengan setia menemani sang istri. ia ikut bersama beberapa perawat yang sedang mendorong istrinya menuju ruang operasi. Ia terus mengepal tangan Hanin yang dingin. Dingin karena udara AC rumah sakit, bercampur rasa takut karena ini adalah kali pertama Hanin menginjakkan kaki di meja operasi.


“Kenan,” teriak Rasti yang melihat sang putra tengah mengiringi istrinya di sana.


Kenan menoleh ke sumber suara itu, hingga dua perawat yang mendorong tempat tidur Hanin pun ikut terhenti. Rasti berlari ke arah Kenan dan Hanin. Ia di jemput Vicky, atas perintah Kenan.


“Mam,” ucap Hanin dan Kenan bersamaan.


Rasti langsung mengelus pipi menantunya. “Kamu jangan takut, Sayang! Mami akan di sini menemanimu hingga kamu melahirkan.”


Hanin tersenyum. Kemudian, dua perawat itu pun kembali mendorong tempat tidur Hanin dan naik ke lantai lima menggunakan lift.


“Mami maaf, jika Hanin banyak salah. Maaf, Mami.” Hanin terus menggenggam tangan ibu mertuanya.”


“Tidak, sayang. kamu tidak pernah punya salah sama Mami. Justru Mami yang sering membuatmu sakit hati. Mami minta maaf.”


“Tidak Mami. Mami juga tidak pernah berbuat salah pada Hanin. justru Hanin bersyukur memiliki ibu mertua yang baik seperti Mami.”


Rasti terharu. Ia pun meneteskan airmata. Hanin memang sudah tidak memiliki orang tua. Oleh karenanya, ia sangat menyayangi Rasti seperti ibu kandungnya sendiri.


“By, Maafin aku ya.” Hanin menggenggam erat tangan suaminya. “Maaf, aku sering membuatmu repot. Maaf kalau aku sering membuatmu pusing karena suka kabur-kaburan.”


Kenan tersenyum. Kelopak matanya menggenang, entah sejak kapan. Ia mengusap kepala sang istri sembari mengangguk, hingga berada di depan pintu ruang operasi.


“Hanya Pak Kenan yang di perkenankan masuk,” ucap dokter yang sudah menyamut kedatangan Hanin di ruangan itu.


Rasti mengagguk. “Kenan, support terus istrimu.”

__ADS_1


Kenan mengangguk. “Iya, Mam.” Lalu, masuk ke dalam rumah sakit itu dan salah satu eprwat menutupnya.


Rasti menunggu di luar ruangan bersama Vicky. Ia merasa tidak tenang. Pasalnya ia pun melahirkan kedua anaknya dengan normal. Rasti sangat khawatir dengan menantunya.


“Semua akan baik-baik saja, Tante,” ucap Vicky untuk menenangkan Rasti.


Rasti duduk sembari mengatup kedua tangannya di bibir. Ia mengangguk dan tersenyum ke arah Vicky. “Terima kasih, Nak.”


Di dalam sana, Kenan sudah lengkap menggunakan pakaian rumah sakit. Tangannya tidak pernah lepas dari tangan sang istri. Sungguh, perjuangan seorang ibu begitu luar biasa. Kenan bisa merasakan bagaimana sang istri berjuang saat ini.


Kenan adalah satu-satunya pria yang ada di ruangan ini. Ia meminta semua yang menangani istrinya dalah perempuan, dari mulai dokter, perawat dan bagian anastesi. Ia tidak ingin ada satu pun pria yang melihat kemolekan tubuh istrinya, terlebih saat ini yang tengah terpampang adalah bagian favoritnya itu.


Waktu demi waktu berjalan, Hanin pun sudah tidak merasakan apapun yang sedang dokter lakukan di bawah sana. Ia hanya mendengarkan sang suami yang bercerita saat ia kecil hingga remaja. Kenan pun menceritakan dirinya yang sering dikejar-kejar wanita, hingga harus berdiam diri di toilet sekolah selama satu jam untuk menghindari teman wanitanya saat itu yang benar-benar tergila-gila padanya.


“Dari sekian banyak wanita, kenapa kamu memilihku, By?” tanya Hanin lirih dengan kedipan mata perlahan dan sayu.


Kenan tersenyum dan mengelus wajah mulus itu. “Aku menyukaimu sejak pandangan pertama. Sejak melihatmu melintas di depan mobilku saat kamu ingin menyebrang jalan dari depan gedung kantormu menuju cafe. Kamu cantik, senyummu yang tengah membantu wanita tua itu menyeberang, membuatku terpesona. Lalu, Vicky memberitahuku bahwa kamu adalah kekasih Gunawan.”


Hanin mendengarkan suaminya dengan seksama. Kedua mata mereka saling bertatapan tanpa jarak.


“Terus?” tanya Hanin sembari tersenyum. Ia suka jika sang suami sedang bercerita, karena semua kata-kata yang keluar dari mulutnya saat bercerita, tersusun rapih dan tak terlewat.


“Aku tidak rela.”


Kenan menggeleng. “Bukan. Justru aku tidak rela, jika wanita sepertimu untuk Gunawan, karena harusnya wanita sepertimu itu untukku.”


Hanin ingin tertawa, tetapi ia tahan.


“Terima kasih, Sayang. Sungguh aku sangat beruntung.” Kenan menatap wajah Hanin dengan mata berkaca-kaca.


“Aku juga beruntung, By.” Hanin tersenyum.


Kenan terus mengajak istrinya berbincang ringan. Ia sengaja berusaha mengalihkan rasa takut sang istri. Dan, itu berhasil. Hanin merasa dirinya tidak sedang di opersai, hingga suara tangis bayi itu pun terdengar.


“Oeek ... Oeek ... Oeek ...”


Akhirnya cucu kedua keluarga Aditama dilahirkan. Cucu yang terlahir dari putra pertama, sekaligus putra mahkota keluarga itu.


“Alhamdulillah,” ucap Kenan dan Hanin bersamaan yang hanya melihat bayi itu dari jauh, karena sang bayi masih berlumuran darah.


Kenan langsung mengecup seluruh wajah sang istri. “Terima kasih, Sayang.”

__ADS_1


Kepala Hanin yang masih dalam tangkupan kedua tangan Kenan pun mengangguk sembari tersenyum. Lalu, Kenan berdiri dan menghampiri bayi yang baru lahir ke dunia itu.


“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Kenan yang belum sampai melihat sang bayi, namun si dokter sudah memberikannya pada perawat untuk dibersihkan.


“Sehat, Pak. Semuanya lengkap. Tapi ada yang salah dari sejak awal pemeriksaan.”


“Maksud, Dokter?” tanya Kenan cemas.


Tetapi, dokter itu belum menjawab. Ia hanya tersenyum sembari menyelesaikan tugasnya untuk menyelesaikan tahap akhir operasi ini.


Di sana, Kenan sudah tak sabar untuk menggendong dan mengadzankan sang putri yang masih dibersihkan. “Mana putri saya, Suster?”


Tak lama kemudian, suster yang bertugas membersihkan bayi itu pun datang dengan senyum lebar. “Ini anak Bapak, anak Pak Kenan laki-laki.”


Kenan menatap bayi laki-laki yang masih berada di tangan suster itu. Ingin rasanya ia berteriak kencang untuk meluapkan kebahagiaan ini. Ia langsung bersimpuh dan sujud di atas lantai yang dingin itu. ia menunpahkan airmata dan rasa harunya. Sungguh, Tuhan begitu baik padanya. Ia benar-benar bahagia.


Hanin yang hanya melihat dari tepatnya berbaring pun, ikut meneteskan airmata. “terima kasih, ya Allah. Engkau telah menngabulkan doaku.”


Lalu, Kenan berdiri dan dengan semangat menerima bayi tampan itu ke dalam pelukannya. Kenan mengadzankan bayi itu tepat di telinga kanannya. Suara Kenan terdengar berat, karena ia mengadazkan putranya sembari menahan tangis, hingga airmata itu pun tak tumpah lagi.


Kemdian, ia membawa sang putra ke ibunya. “Sayang, anak pertama kita laki-laki,” ucapnya senang dengan mata berbinar.


Hanin ikut tersenyum lebar.


“Terima kasih, Sayang.” Kenan mengecup seluruh wajah sang istri dengan tangan yang masih menggendong putranya. “Terima kasih.”


Kenan memberikan bayi tampan itu ke pelukan sang istri. Seketika, airmata Hanin pun turun. Ia tak bisa membendung rasa bahagia ini.


“Wajahnya mirip sekali denganmu,” kata Hanin melihat hidung dan mata bayi itu.


Kenan tersenyum dan mengangguk. “Ya, dia mirip sekali denganku.”


“Asal mesum dan posesifnya tidak sepertimu,” kata Hanin lagi, membuat Kenan tertawa.


Kenan terus menciumi wajah putra dan istrinya bergantian. Sementara di laur ruangan ini, Rasti masih menunggu dengan cemas.



****


Selamat ya, Kenan dan Hanin

__ADS_1


Ekstra part mereka masih terus brlanjut ya guys . Mau kan? Tapi kalau dua hari sekali upnya, ngga apa-apa ya? Karena aku juga lagi fokus buat ngeluarin novel baru nih dan tetap adanya di sini, di Noveltoon. Terima kasih 😍


__ADS_2