
“Ken, mengapa kamu tidak membeli rumah baru untuk keluarga kecilmu?” tanya Rasti pada putranya yang duduk di sofa.
“Hanin belum mau pindah, Mam.”
“Tapi kenapa? Jika kamu masih lajang atau belum memiliki anak, itu masih mungkin. Tapi sekarang tidak lagi,” jawab Rasti.
Hanin berjalan dari dapur membawa jeruk madu hangat untuk sang ibu mertua yang baru saja tiba di apartemen ini.
Sudah enam hari, Hanin pulang dari rumah sakit dan membawa putranya ke apartemen ini. Hampir setiap hari Rasti berkunjung, tetapi hari ini ia sengaja datang saat malam, karena ia memang ingin bermalam di apartemen ini. Ia ingin tidur bersama cucu kesayangnnya.
“Tidak apa-apa, Mam. Untuk saat ini masih memungkinkan. Lagi pula baby boy masih tidur satu kamar dengan kami kok,” ucap Hanin yang mendudukkan diri di samping Kenan.
Kenan langsung meragkul bahu sang istri sesaat setelah istrinya tepat duduk di samping. “Benar, Mam. Aku setuju dengan Hanin.”
“Kalian ini memang susah sekali di atur,” kesal Rasti yang melihat anak dan menaantunya kompak.
Cup
Kenan mengecup sekilas bibir sang istri, membuat Rasti semakin jengkel.
“By, malu ih ada Mami.”
Kenan malah tertawa.
“Mami yakin, ngga sampai dua tahun. Cucu lelaki Mami akan punya adik.”
Kenan tertawa kencang mendengar penuturan sang ibu. Sedangkan, Hanin mencoba memperingatkan sang suami dengan menyenggol sikunya ke perut sixpect itu.
“Bahkan kalian belum memberi nama cucu kesayanganku ini,” kata Rasti lagi.
Namun Kenan malah masih sibuk menciumi pundak Hanin yang terbuka, tak menghiraukan pertanyaan sang ibu.
“Ken, dengar ngga apa kata Mami?”
“Hah, apa Mam?” tanya Kenan sembari menegakkan tubuhnya yang semula asyik menonton televisi diringi dekapan tubuh sang istri di sampingnya.
Baru malam ini, Kenan bisa berdekatan dengan sang istri. Sejak mereka sampai di apartemen ini, Hanin begitu sibuk mengurus putranya. Beberapa kali Kenan ingin mencumbui sang istri dan saat itu pula baby boy itu menangis meminta makan pada sang ibu.
“Tuh kan, ditanya ngga nyambung.”
“Sudah, Mam,” sahut Hanin.
“Iya, sudah Mam,” sambung Kenan.
“Sudah apa?” tanya Rasti lagi.
“Memberi nama untuk anak pertamaku.”
“Kalian beri nama apa?” tanya Rasti yang memang sudah menyiapkan satu nama.
“Kevin Putra Adhitama,” jawab Kenan lantang.
Ia memang sudah memilah nama yang pas dengan sang istri dan akhirnya nama itu yang disepakati mereka.
“Cocok.” Rasti tersenyum. “Mami juga ingin memberi nama itu. ternyata kita sepemikiran.”
__ADS_1
Hanin dan Kenan tersenyum.
****
“Sayang, pindah yuk!” ucap Kenan menoel lengan sang istri yang tidur di kamar mereka.
Sayangnya di kamar juga ada Rasti yang tidak ingin tidur di kamar tamu, karena ia ingin tidur di samping box tidur cucunya.
Hanin hendak merebahkan dirinya di saming Rasti.
“Ya ampun, By. Nanti kalau aku tidur di kamar, gimana sama Kevin? Kalau dia bangun tengah malam gimana?”
“Ck, Sayang. masa’ aku tidur di kamar tamu sendirian,” rengek Kenan.
Hanin tertawa pelan. “Kamu tuh ya, By. Manja banget sih. Lagian Mami Cuma bermalam semalaman aja kok. Besok kamu tidur sama aku di sini.”
Kenan menggeleng. “Ngga bisa. Aku ngga bisa tidur sendirian.”
“Ish, amit-amit deh.” Hanin kembali bangkit dan hendak menyentuhkan kakinya pada lantai.
“Sudah sana, kalian tidur di kamar tamu. Biar Mami yang jagain Kevin,” kata Rasti tiba-tiba dengan mata yang tetap tertutup.
“Mami ngigau?” tanya Hanin.
“Mungkin.” Kenan tertawa cekikikan pelan. “Ayo, Sayang.” dengan kegirangan ia menggandeng lengan sang istri untuk tidur bersamanya di kamar tamu.
“Nanti kalau tengah malam Kevin mau nyusu gimana?” tanya Hanin lagi pada sang suami.
“Masih ada stok ASImu di lemari es, Sayang. Mami dan Bi Lastri juga tahu kok.”
“Tadi sebelum tidur, aku udah bilang sama Mami.”
Hanin tertawa. “Dasar modus. Kamu pasti udah ngerencanain ini kan?”
“Yoi.” Kenan menaik turunkan alisnya.
Ia memang sudah menyiapkan segala sesuatunya agar Kevin bisa ditinggal malam ini, karena Kenan ingin sekali tidur bersama sang istri dengan nyenyak. Walau sebenenarnya tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena Kenan masih lebih lama untuk berpuasa.
Kenan mendudukkan sang istri dengan hati-hati di tempat tidur. lalu, ia berjongkok.
“Sayang, perban di perutmu belum diganti kan?” tanya Kenan sesampainya mereka di kamar tamu.
“Udah tidak apa, besok pagi aja. Lagian kamu udah seharian aktifitas. Ayo istirahat!” Hanin menepuk sampingnya yang kosong.
Kenan memang sudah memakai piyama dan siap untuk tidur, begitu pun dengan Hanin yang juga sudah menggunakan dres berbahan satin dengan satu tali untuk memudahkannya ketika menyusui. Hanin memang lebih suka menggunakan tangtop atau dres dengan satu tali ketika di rumah.
Kenan bangun dan beralih untuk mengambil kotak P3K yang sudah ia siapkan sebelumnya.
“Aku bersihkan dulu lukamu,” kata Kenan menghampiri lagi sang istri dengan membawa kotak untuk mengobati luka pasca operasi untuk mengeluarkan buah hati mereka, bukti tanda cinta.
“Berbaringlah, Sayang.” Kenan menuntun Hanin untuk merebahkan tubuhnya dan ia duduk persis di sampingnya.
Kenan memulai membersihkan dan menggenati perban itu dengan hati-hati. Setiap malam atau pagi hari ia selalu melakukan ini. Ia merawat sang istri dengan telaten.
“Ssshh ... masih perih By,” lirih Hanin.
__ADS_1
“Iya, Sayang. lukamu sudah hampir kering kok.” Kenan mengganti perban itu dengan kain kassa yang baru dan menutupnya.
Tetapi setelah itu, tangan Kenan justru menjalar ke bagian yang lain. “Kalau yang ini tidak perih ‘kan?”
“Ah, By. Jangan!” rintih Hanin lagi, tetapi kali ini dengan rintihan yang berbeda karena Kenan menyentuh bagian sensitifnya yang memang tidak terluka sama sekali.
“Bagian favoritku tetap aman,” ucap Kenan dengan seringai menyebalkan.
“Ck, kamu tuh pikirannya kesitu terus,” kesal Hanin melihat kemesuman suaminya.
Kini, Hanin tahu akal bulus sang suami yang bersikeras untuk meminta dokter agar segera melakukan tindakan saat melahirkan. Ternyata, Kenan memang tak ingin bagian favorit kepunyaannya itu disentuh oleh siapapun selain dirinya.
Di sana, tangan Kenan masih menggelitiki permukaan bagian itu.
“By, tangannya,” rengek Hanin sembari mencoba menyingkitkan tangan sang suami dari sana.
“Aku kangen, Sayang.”
“Masih lama, By.”
“Baiklah kalau begitu boleh aku lihat saja.”
“Ngga.” Hanin menutupu area itu dengan kedua telapak tangannya. “Stop, By. Ayo tidur!”
“Ck pelit.”
Hanin tak bisa menahan tawanya. Ia melihat Kenan yang berjalan gontai meletakkan kotak P3K itu, lalu merebahkan diri di samping sang istri.
“Baiklah, mari kita bercumbu saja.”
“Benarkah?” mata Kenan kembali berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan coklat.
“Ayo kita mulai!”
Hanin tersenyum. “Benar benar Daddy mesum.”
Kenan pun tertawa dan mulai menindih tubuh sang istri, lalu menerjang bibir ranum itu. Ia ingin menuntaskan hasratnya pada tubuh itu, walau hanya sekedar making out.
Kenan hanya bisa menelusuri bagian atas tubuh itu dengan hati-hati tanpa menyentuh bagian perut sang istri yang masih sakit. Kemudian, Hanin mengambil inisiatif.
“Uh ... Eum ... kamu hebat, Sayang.” racau Kenan sembari mengelus kepala Hanin yang tengah berbaring.
Kenan terus meracau dan memuja sang istri yang semakin lihai memanjakannya. Sungguh, ia semakin mencintai Hanin, wanita dengan sejuta kepribadian menarik yang membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
Kenan terbaring lemah, setelah sang istri berhasil membantunya. Lalu, ia menarik tubuh sang istri agar tertidur di pelukannya.
"Terima kasih, Sayang. I love you more."
Hanin tersenyum dan menjawab pernyataan cinta sang suami dengan bisikan tepat di telinga Kenan, membuat Kenan tersenyum lebar hingga keduanya mata mereka terpejam untuk istirahat.
Karena esok harinya, mereka akan mengadakan konferensi pers sebagai pernyataan bahwa sang putra mahkota selanjutnya telah hadir dengan nama Kevin Putra Adhitama, kelak dialah yang akan mewakili tongkat estafet kekayaan Adhitama setelah Kenan.
**********************************************
Hai, mampir ke novel baru aku yang berjudul PESONA CLEOPATRA. Sudah rilis loh, InsyaAllah aku up setiap hari 2 sampe 3 Bab. InsyaAllah hehehehee....
__ADS_1
Terima kasih 😘😍🥰