Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 8


__ADS_3

“Kamu mau kemana?” tanya Sila.


“Maaf, Sil. Nanti kamu pulang sendiri ya, soalnya aku mau jemput Rea. Sudah satu minggu lebih aku mengabaikannya,” jawab Attar


Mereka duduk berhadapan di ruangan Attar.


“Dia juga tidak mempermasalahkan hal itu bukan? Dia tahu kalau kamu sibuk.”


Attar menganggukkan kepala. “Ya, Rea memang pengertian.”


“Maksudmu aku tidak pengertian?” tanya Sila kesal.


“Bukan begitu, tapi kita selalu bersama, sedangkan dengan Rea aku kurang memberinya waktu.”


Sila cemberut. Ia memang gadis yang manja, yang selalu ingin didahulukan. Berbeda dengan Rea yang mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain. Tetapi satu hal yang tidak bisa Rea berikan pada Attar, yaitu kepuasan hasrat. Sedangkan Sila mampu memberikan itu.


Attar merapihkan mejanya dan segera keluar dari ruangan itu. Kebetulan, hari ini pekerjaannya tidak banyak, sehingga ia bisa pulang agak cepat. Tidak ada yang mengetahui hubungan antara asisten dan bosnya itu. Bahkan ayah Attar sendiri. Sejak Attar bergabung pada perusahaan sang ayah, ayah Attar tidak datang ke kantor setiap hari, membuat Attar bebas berada di sana bersama Sila. Bahkan mereka sering melakukannya di kantor.


Sila masih merengutkan bibir, saat Attar hendak pergi meninggalkannya. Ia berjanji pada diinya sendiri akan mengambil Attar dari Rea sepenuhnya, walau kedua orang tua Attar lebih menyukai Rea.


****


Di sebuah hotel, Kenan dan Vicky baru saja selesai berbincang dengan klien. Setelah klien itu pergi, Kenan dan Vicky masih berada di restoran itu untuk menghabiskan minuman mererka.


“Gimana perkembangan hubungan lu sama Rea?” tanya Kenan.


“Ya, lumayanlah. Sedikit ada kemajuan.”


Kenan tertawa. “Lama banget. Biasanya dalam semalam aja, lu bisa langsung bawa cewek ke kamar.”


“Ck, ini beda, Bro.” Vicky menyesapkan minumannya.


Kenan mengangguk. “Ya, walau gue ngga pernah ONS. Tapi lu bener, kalau buat dijadiin teman hidup, pasti ngga bisa cepet.”


“Ya, cuma lu yang bisa cepet nikahin perempuan incaran lu.”


Kenan tertawa, begitu pun Vicky.


“Itu keberuntungan gue,” jawab Kenan jumawa.


“Oiya, si Gun sama Kiara jadi berangkat ke Bali?” tanya Vicky.


“Iya, rese banget tuh anak, nitip anak sembarangan. Gue jadi ngga bisa ngapa-ngapain sama Hanin.”


Sontak Vicky tertawa hingga hampir menyemburkan minumannya.


“Masalahnya Mami juga lagi pergi satu minggu sama temen-temen sosialitanya. Eh si Gun pake ikut-ikutan. Jadilah Hanin yang kena ngurusin Kayla,” gerutu Kenan.


“Karena Kayla juga anteng sama Hanin, Ken. Ya ... Ngga apa-apalah.”


“Iya, tapi bini gue jadi sibuk banget sampe ngga bisa ngurus gue.”


“Latihan punya anak banyak, Bro.” Ledek Vicky. Ia terus tertawa melihat si bosnya kesal.


Memang sudah dua hari ini Kenan uring-uringan di kantor. Tanduknya kembali keluar karena sudah dua hari ia tidak bisa bercinta dengan sang istri yang disebabkan oleh adik dan suaminya.


Vicky tertawa.


“Puas lu ngetawain gue,” kesal Kenan.


Sebelumnya mood Kenan sudah lebih baik, tetapi Vicky menanyakan hal ini lagi sehingga moodnya kembali buruk.


Gunawan pergi ke Bali untuk keperluan usahanya dan ia mengajak Kiara. Kemudian, mereka mengambil kesempatan ini untuk honeymoon kedua. Lalu, Gunawan meminta Hanin merawat Kayla karena mereka ingin menikmati waktu berdua di sana.


“Nanti gantian, lu yang nitip Kevin ke Kiara. Supaya bisa sepuasnya berdua sama Hanin,” kata Vicky.


Kini mereka berjalan menuju lobby dan hendak meninggalkan gedung ini.


“Ck, itu mah ngga usah diajarin. Liat aja si Gun bakal ngerasain yang gue rasain sekarang.” Kenan tersenyum licik.


“Dasar lu.” Vicky menggelengkan kepala.

__ADS_1


Lalu, mereka menaiki mobilnya masing-masing.


Vicky sengaja mampir ke rumah Rea. Ia sudah memesan dua makanan di restoran hotel tadi untuk Thia dan Nisa. Entrah mengapa ketika ia makan enak, ia teringat dengan kedua adik Rea.


Tiga puluh menit kemudian, Vicky memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian, ia masuk ke dalam gang rumah Rea.


Tok ... Tok ... Tok ....


Vicky mengetuk pintu rumah itu. dengan cepat seseorang pun membukanya.


“Eh, Om Vicky,” senyum Nisa hingga terlihat satu lesung pipinya di sana.


Vicky tersenyum dan mengusap pusuk kepala Nisa. “Nih, om bawa makanan. Thia juga sudah pulang kan?”


Nisa mengangguk dan mengajak Vicky masuk ke dalam rumahnya. “Udah, tuh. Orangnya molor pas nonton drakor.”


Vicky melihat Thia yang tidur di atas karpet bergambar kartun sofia. Remaja itu tertidur sembari memiringkan tubuhnya dan meringkuk. Vicky menghampiri dan duduk di samping Thia. Ia mengusap pucuk kepala Thia.


“Kasihan, kecapean dia,” kata Vicky.


“Salah sendiri, kak Thia tuh banyak ngikutin kegiatan ekstra kulikuler di sekolah,” jawab Nisa.


Vicky hanya tersenyum. “Habis pulang sekolah, kalian sudah makan?”


Nisa menggeleng. “Belum, belum sempat. Tadinya kak Thia mau ceplok telor, eh malah tidur.”


“Ya udah sekarang makan dulu. Tuh, om bawain makanan. Ayo buka!”


Nisa membuka makanan makanan itu dan antusias. Ia langsung menggoyangkan kaki Thia untuk bangun dan ikut makan bersama.


Vicky pun membangunkan anak itu dengan elusan di kepalanya.


Thia bangun semabri mengucek kedua matanya. “Eh, ada om Vicky.”


“Iya, makan dulu nih, om bawain makanan. Kata Nisa kalian belum makan dari pulang sekolah tadi.”


Thia nyengir. “Om tau aja.”


“Kamu bisa aja.” Vicky mengelus pucuk kepala Nisa.


“Tau, modus tuh suapya dibawain makan tiap hari sama om Vicky,” kata Thia.


“Ya udah mulai besok, om akan kirim makanan ke sini setiap hari,” ujar Vicky.


“Jangan ... Jangan!” kata Thia dan Nisa kompak.


“Kenapa?”


“Nanti Kak Rea marah,” jawab Thia yang juga di angguki Nisa.


Thia dan Nisa sudah membuka makanan itu dan melahapnya.


“Tenang Kak Rea sekarang udah om jinakin. Dia ngga akan marah lagi.”


Thia dan Nisa saling bertukar pandang.


“Serius?”


“Kak Rea dan Om Vicky pacaran? Kak Rea udah putusin Kak Attar?” tanya Nisa antusias.


“Belum sih, tapi coming soon.”


Mereka pun tertawa.


Tak lama kemudian, Vicky pamit pulang. Selang beberapa menit dari kepulangan Vicky, Rea dan Attar pun tiba.


Thia dan Nisa sudah membersihkan sisa makanan tadi dan merapihkan rumahnya lagi.


“Assalamualaikum,” ucap Rea dan Attar bersamaan.


“Waalaikumusalam,” jawab Nisa.

__ADS_1


“Thia mana?” tanya Rea pada adik bugnsunya.


“Lagi nyuci piring,” jawab Nisa sembari matanya tetap pada televisi.


“Nis, salim dong sama Kak Attar. Kamu kok diem aja sih,” kata Rea yang melihat adiknya tidak merespon kedatangan sang kekasih.


Dengan malas, Nisa bangkit dan menghampiri Attar yang sudah duduk di sofa.


“Ini, kakak bawa martabak buat kalian.”


Setelah Attar menjemput Rea di kampus, mereka tidak langsung pulang. Mereka mampir ke tempat makan sebentar dan membelikan makanan untuk adik Rea. Saat itu, ingin rasanya Rea menanyakan tentang Sila, tapi setiap kali Rea menyebut nama itu, Attar mengalihkan dengan pembicaraan yang lain. dan, bodohnya hingga kini, Rea masih belum berani untuk membuka video yang dikirimkan Vicky waktu itu.


“Kak, aku tinggal dulu ya,” kata Rea dan Attar mengangguk.


Attar yang tidak begitu dekat dengan Nisa pun memilih diam. Kalau pun ia mencoba membuka percakapan pada Nisa, anak itu hanya menjawab seperlunya.


Thia mandi setelah mencuci piring. Rea mengganti pakaian. Akhirnya Nisa berinisiatif untuk mengerjai kekasih kakaknya. Anak itu mengambil sapu. Ia menyapu semua sudut ruangan termasuk ruang tamu.


“Kak kakinya awas!” ketus Nisa saat ia hendak membersihkan bagian kolong kursi yang di duduki Attar.


“Nisa, ngapain sih nyapu. Ada tamu juga,” kata Rea, setelah keluar dari kaamrnya.


“Tadi aku sama Kak Thia abis makan, jadi kotor.” Nisa masih memegang sapu dan dengan sengaja membenturkan sapu itu ke kaki Attar.


“Aww ..” ringis Attar saat sapu itu mengenai kakinya.


“Syukurin,” batin Nisa.


Thia yang selesai mandi pun ikut duduk di ruangan itu, karena antara ruang tamu dan ruang televisi berdekatan. Thia mengedipkan mata sembari tersenyum pada Nisa yang mengisyaratkan untuk melanjutkan aksinya.


Rea menangkap keisengan kedua adiknya itu. Ia pun langsung meraih sapu dari tangan Nisa. “Udah sini sapunya!” Rea melihat ke arah Attar. “Maaf ya kak.”


Attar tersenyum. “Ya ... ngga apa-apa.” Lalu, Attar berbicara lagi, “Oh iya, mama ngajak kalian ke rumah. Sekarang yuk!”


Thia dan Nisa langsung menggeleng.


“Ngga ah, Kak. Capek,” sahut Thia.


“Iya, Nisa juga lelah,” jawab Nisa.


“Mumpung masih belum malam. Mama kangen sama kalian,” ucap Attar lagi.


Rea melihat ke arah kedua adiknya yang malas-malasan.


“Kalau begitu kamu aja, Re.” kata Attar.


Rea melihat ke arah Thia dan Nisa yang tidak ingin ditinggal.


“Ngga deh, Kak. Nanti malah pulangnya kemaleman. Kasihan seharian Thia dan Nisa berduaan aja di rumah. Sebenarnya aku juga kangen sama Mama Gina, tapi lain kali ya.”


“Yah, sayang banget.” Attar lesu, padahal ia ingin berduaan bersama Rea di rumahnya.


Satu jam kemudian, Attar pulang. Ia menunggu Thia dan Nisa masuk ke dalam kamarnya sendiri, karena ia ingin berduaan dengan Rea di ruang tamu. Tapi nyatanya, Thia dan Nisa kompak berada di sana hingga Attar bosan dan akhirnya pamit pulang.


Setelah kepulangan Attar, Thia dan Nisa hendak melangkahkan kakinya ke kamar.


“Kalian kenapa sih sama Kak Attar?” tanya Rea sesaat sebelum kedua adiknya berlalu.


“Kakak yang kenapa? Kakak selalu bilang kalau kita harus hati-hati sama lelaki. Jangan pacaran! tapi kakak sendiri ngga hati-hati milih lelaki.”


“Iya, dan kita sengaja ngga tidur duluan karena mau jagain kakak dari pria hidung belang seperti kak Attar.”


Thia dan Nisa kompak membuka mata sang kakak.


“Om Vicky udah ngasih banyak bukti perselingkuhan kak Attar, tapi kenapa sih kakak masih aja nutup mata dan ngga mau tahu.” Kesal Thia.


Mereka pun meninggalkan Rea yang masih termenung sendiri.


Kemudian, Rea meraih ponselnya dan membuka whatsapp dari Vicky. Lalu, dengan gerakan jemari perlahan, ia membuka video itu. Seketika matanya membulat melihat adegan yang tengah berlangsung dalam video itu.


Ia menutup mulutnya yang menganga karena tak percaya. “Kak Attar.”

__ADS_1


__ADS_2