Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vanesa dan Riza


__ADS_3

Alin dan James gelisah. Mereka duduk di kursi penunpang denga seorang supir yang membawa mobil ini ke kota kembang. Kota dimana sang putri justru tengah bersenang-senang, padahal ia sedang bersusah payah mempeertahankan harga diri putrinya.


“Mommy masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kenan, Dad,” ucap Alin.


“Daddy pun begitu,” jawab James. “kita lihat saja, Mom. Jika Kenan memfitnah putri kita, Daddy tidak segan-segan membuat keluarga mereka hancur.”


“Maaf Kean, salahkan putramu atas apa yang terjadi pada kami sekarang,” ucap James lagi.


Alin menggosok-gosok telapak tangannya. Ia sungguh gelisah.


Tiga jam lebih, Alin dan James melakukan perjalanan, hingga sampai di tempat yang ditunjukkan Kenan. Kedua insan paruh baya ini langsung menuju kamar yang tertera di amplop itu. di sana pun tertera passcode untuk masuk apartemen Riza.


Kenan jenius, hingga mengetahui passcode apartemen itu. Rencana Kenan berjalan lancar. Setelah mengetahui keberadaan Vanesa dan mencari tahu siapa Riza, Kenan menemukan apartemen itu. Ia membayar salah satu manajemen gedung apartemen untuk bekerja sama. Sistem passcode flat Riza dibuat nge-hang, lalu Riza di minta manajemen untuk mengubah kembali passcode itu. saat Riza menekan angka, orang itu merekam gerakan tangan Riza dengan ponselnya secara sembunyi-sembunyi.


Bip


Kamar apartemen Riza itu pun terbuka, setelah Alin dan James menekan passcode itu. perlahan mereka memasuki apartemen itu.


“Za, Ah, geli.” Suara Vanesa terdengar dari luar kamar.


Di dalam kamar, kedua insan yang tengah bercanda ria ini tak menyadari bahwa ada sepasang oang tua tengah mendengar percakapa mereka.


“Kamu ga kerja?” tanya Vanesa manja.


“Aku sengaja mengambil cuti hari ini, supaya bisa menemanimu di sini. aku masih belum puas,” jawab Riza.


Keduanya tengah berbincang di tengah penyatuan. Penyatuan untuk ke sekian kalinya, karena semalam pun mereka melakukannya.


“Kamu harus tanggung jawab, Za. Eum ....”


“Sejak dulu, aku sudah ingin bertanggung jawab, tapi kamu selalu mengejar Kenan. aku kesal.” Rajuk Riza dengan menaikkan temppo gerakannya.


“Ah, Za ...” lenguh Vanesa merasakan nikmat luar biasa.


Di luar kamar itu, Alin dan James geram mendengarnya.


“Menjijikkan sekali, Dad,” ucap Alin.


James tak mampu berkata-kata. Ia pun langsung mendobrak pintu itu.


“Oh, jadi seperti kelakuanmu, Nesa.”

__ADS_1


Kedua insan yang sebentar lagi akan mencapai puncak itu pun langsung menghentikan gerakannya. Mereka menoleh ke sumber suara itu.


“Daddy ... Mommy ...”


Alin menghampiri kedua insan yang masih dalam keadaan polos dan hanya di tutupi oleh selimut tebal.


“Kalian menjijikkan.” Alin melempar bantal ke arah Vanesa dan Riza.


“Kamu tahu Nesa, Daddy sedang membalaskan sakit hatimu pada Kenan, tapi kamu malah enak-enakan di sini. dengan pria tidak jelas.” Jamaes menatap Riza sinis.


“Saya bukan pria tidak jelas, Om.”


“Cukup!” James mengangkat tangannya, agar Riza berhenti bicara.


“Ayo pualng!” teriak james memerintahkan putrinya.


“Ayo Nesa, pakai lagi bajumu dan kita pulang. Dasar memalukan!”


Lalu, Vanesa menurut dan hendak turun dari ranjang besar itu.


“Van, tunggu” Riza menarik lengan Vanesa.


Vanesa menoleh. “Maaf, Za.”


“Halah, penipu.” Sahut Alin.


“Ayo Nesa!” pinta James lagi.


Vanesa memakai pakaiannya, begitu pun Riza. Ia turun dari ranjang dan langsung memakai boxer serta kaos oblong.


Vanesa berjalan keluar mengikuti langkah kedua orang tuanya.


“Van,” Riza menarik lengan Vanesa agar berhenti. “Tetaplah bersamaku.”


“Sekarang kamu pilih, ikut Mommy dan Daddy, atau hidup susah dengan pria ini,” kata Alin.


Alin dan James memang tidak asing dengan sosok Riza. Sejak sang putri berpacaran dengan pria ini, mereka tidak pernah merestui. Oleh karenanya, Vanesa berpacaran diam-diam.


“Mom, Dad. Riza pria yang baik. Dia adalah orang yang menghilangkan rasa sakit Nesa beberapa hari ini.”


“Halah, bodoh. Mau saja kamu dibodohi pria ini. mungkin ini taktiknya, atau mungkin dia dan Kenan bersekongkol agar Daddy tidak bisa mengusik keluarga itu.”

__ADS_1


Riza menggeleng, karena ia memang sama sekali tidak pernah bertemu Kenan.


“Kamu tahu, Daddy hampir saja menyebarluaaskan skandal Kiara ke publik, tapi Kenan memiliki bukti skandalmu dengan pria ini. Bodoh!” lagi-lagi James mencaci putrinya.


Vanesa menggeleng. “Ini di luar keinginan Nesa, Dad. Semua berjalan dengan cepat.”


“Kalau begitu, ayo ikut kami pulang!” ucap Alin.


“Nesa, jangan pergi! Om, tante. Saya akan bertanggung jawab atas semua ini.”


“Dengan apa?” tanya James menatang.


“Menikahi Vanesa.”


“Cih! Jangan mimpi kamu.” James menarik putrinya untuk pergi.


“Tapi, kami sering melakukannya. Jika vanesa hamil bagaimana?” tanya Riza dengan suara sedikit kencang karena jarak antara dirinya dan orang tua Vanesa semakin jauh.


Alin dan James membeku. Mereka melihat ke arah Vanesa dan Ruza bergantian.


“Dasar anak tidak tahu di untung.”


Plak.


James menampar pipi Vanesa.


“Daddy, Jangan!” Alin langsung mencegah suaminya agar tidak lagi memukul sang putri.


Vanesa menangis, sembari memegang pipinya yang merah.


“Dasar murahan! Daddy tidak menyangka kamu semurahan ini.”


“Dad,” teriak Alin yang tak terima putrinya dikatakan demikian, walau yang mengatakan itu adalah ayahnya sendiri.


“Kita memang terlalu memanjakannya. Sekarang terserah kamu. Kamu mau ikut pulang atau di sini bersama pria ini?” tanya James pada sang putri untuk yang terakhir kali.


“Aku ikut Daddy,” ucap Vanesa yang tidak mungkin meninggalkan ke glamoran hidupnya hanya untuk Riza.


“Van,” panggil Riza lirih.


“Maaf, Za. Aku tidak bisa hidup susah,” jawab Vanesa sedih.

__ADS_1


Riza memang hanya dari keluarga biasa. Ia pun hanya pegawai biasa yang bekerja sebagai manajer dari perusahaan yang dimiliki mantan tunangannya.


Riza pasrah dan tertunduk lesu. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, sama seperti dua belas tahun silam.


__ADS_2