Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 6


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Rea tak berjumpa Attar. Sang kekasihnya itu pun jarang memberi kabar dengan alasan sibuk dan Rea berusaha mengerti.


"Assalamualaikum," ucap Rea ketika ia memasuki rumahnya.


"Waalaikumusalam," jawab Thia dan Nisa bersamaan.


Nisa, si bungsu yang pengertian itu pun langsung beranjak ke dapur dan mengambil minum untuk sang kakak yang baru saja pulang.


"Kakak, sekarang ngga pernah di antar jemput kak Attar lagi?" tanya Thia.


"Iya, kan kak Attar sekarang udah di Jakarta, tapi masih ngga ada waktu buat kakak sih," sambung Nisa.


"Kak Attar sibuk, Dek." jawab Rea.


"Sibuk kerja apa sibuk jalan sama cewek lain," celetuk Nisa.


"Aww .." tak lama kemudian Nisa berteriak karena kakinya diinjak oleh Thia.


Thia sengaja hanya menceritakan pada Nisa saat ia melihat lagi Attar bersama Sila, tapi kini di sebuah hotel. Ia tak ingin menceritakan langsung pada Rea karena khawatir Rea tak percaya.


"Maksud kamu apa?" tanya Rea dengan arah nata menuju Nisa.


"Kata kak Thia ..."


"Diam, Nisa." Thia membulatkan matanya pada si bungsu.


Rea semakin bingung. Ia melihat ke arah Nisa dan Thia bergantian. "Kalian kenapa sih?"


Thia dan Nisa terdiam. Mulut mereka terkatup. Mereka takut salah bicara.


"Bicaralah, Kakak akan mendengarkan. Kalian mau ngomong apa tadi?" Rea mencecar kedua adiknya.


"Tapi janji kak Rea ngga akan marah," ucap Nisa.


Rea mengangguk.


"Janji juga kalau kak Nisa harus percaya karena Thia ngga mengada-ada," sahut Thia.


"Iya." Rea menganggukkan kepalanya lagi.


"Kemarin, Thia melihat Kak Attar sama cewek yang pernah Thia lihat di mall. tapi kali ini Thia melihat mereka di hotel."

__ADS_1


Rea mengeryitkan dahinya. Ia serius menatap adik pertamanya itu. "Kamu salah lihat kali, Dek."


"Beneran, Kak. Mataku ngga minus. Aku masih jelas melihat wajah kedua orang itu adalah kak Attar dan cewek itu," jawab Thia.


"Terus kamu sendiri ngapain di sana?" tanya Rea.


"Ih, kakak. Aku kan lagi nyari tempat buat magang karena pas nanti masuk kelas 11, aku harus udah mulai magang," sahut Thia.


Thia memang sekolah di SMK Pariwisata jurusan perhotelan. Ketika itu ia sedang mengajukan proses magang di hotel yang cukup ternama di Jakarta dan saat itu ia melihat Attar tengah berjalan digelayuti manja seorang wanita yang ia tafsir sama dengan wanita yang pernah ia lihat di mall.


"Kali ini kakak harus percaya," ucap Thia memperingatkan.


"Iya, kata kakak, kita harus kati-hati sama lelaki." sambung Nisa.


"Iya, tapi kakak masih belum percaya karena Kak Attar bukan orang lain. Kakak tahu betul dia seperti apa. Dia dan keluargnya sudah seperti keluarga kedua buat kita."


"Kak, justru orang yang paling jahat adalah orang terdekat kita," kata Nisa.


Thia memukul paha sang adik. "Sok tau."


"Aww .. " Nisa meringis. "Begitu kata presenter berita kriminal, kak."


Rea masih berpikir. Ada baiknya, kali ini ia mendengarkan perkataan Thia.


"Apa?" Thia balik bertanya.


Mereka bertiga berdiskusi dan duduk dalam satu lingkaran.


"Coba cari tahu, hari apa saja mereka check in di hotel itu. Apa mereka sering menginap di sana atau hanya sekedar bertemu klien saja. karena setahu kakak, adik temannya itu sekarang memang jadi asisten pribadi kak Attar."


"Apa?" tanya Thia tak percaya. Jelas sudah bahwa sang kakak telah di tipu oleh mantan tetangganya itu.


"Kok bukan kakak aja yang jadi asistennya kak Attar. kan kakak pacarnya," ucap Nisa.


"Tidak bisa Nisa, Kakak ngga mau memanfaatkan kak Attar. sebenarnya sejak awal kak Attar juga menawarkan," jawab Rea pada kedua adiknya.


"Tapi kakak kan juga butuh pekerjaan, dari pada harus lari-larian ke cafe atau event organizer untuk nyanyi terus jadi guide pula. Mending tetap dengan satu pekerjaan di kantor. Bukan begitu?"


Rea berdiri dan mengusap kepala adiknya. Rea memang gadis yang memiliki harga diri tinggi. Ia pantang untuk meminta ataupun berbelas kasih dan mendapatkan hasil yang instan. Ia lebih suka bekerja keras, karena ketika mendapatkan hasil dari sebuah usaha dan keringat sendiri, rasanya seperti mendapatkan kepuasan yang tiada tara.


"Kamu bisa, Thia?" tanya Rea lagi tentang permintaannya tadi.

__ADS_1


"Bisa," sahut Thia.


"Memang kamu kenal orang bagian dalam sana yang bisa memberi informasi itu?" tanya Rea lagi.


"Tenang pokoknya, kak Rea tinggal terima beres," jawab Thia.


Pikiran Thia tertuju pada Vicky, karena hanya om itu yang bisa membantunya, sama seperti beberapa hari lalu ketika Thia mengeluh sedang mencari hotel untuk tempat ia dan beberapa temannya magang. Kemudian Vicky langsung memberi rekomendasi hotel ternama itu, tempat dimana ia melihat Attar dan Sila bergelayut manja.


Thia yakin bahwa Vicky akan dengan mudah mendapatkan informasi yang kakaknya inginkan, karena menurut Thia, Vicky adalah pria hebat yang mudah menyelesaikan masalah hanya dengan menjentikkan jarinya.


Tak lama kemudian, Thia mengirim pesan pada Vicky.


Tring


Bunyi ponsel Thia berdering, menampilka pesan yang masuk. Di sana terdapat nama Vicky yang langsung menjawab pesan sebelumnya.


"Baiklah, besok akan om kirimkan datanya. sekaligus hari apa lagi mereka akan datang ke hotel itu."


"Emang bisa?" tanya Thia melakui jawaban pesan singkat.


Vicky menjawab. "Tentu saja, itu hal mudah."


"Okey. Om Vick keren." Thia menyertakan emot jempol di sana.


"Oh, iya dong."


Thia tersenyum membaca jawaban pesan Vicky.


"Kaka kenapa sih senyam senyum.sendiri?" tanya Nisa yang hendak tidur di samping kakaknya.


Nisa dan Thia sedang berada di kamar dan hendak tidur. Kebetulan mereka.memang satu kamar. Sedangkan Rea menempati kamar utama, kamar tempat ia dan sang ibu tidur dulu.


Thia memperlihatkan chat dirinya dengan Vicky kepada Nisa.


"Yes," Nisa langsung mengepalkan tangannya seraya bergerak dari atas ke bawah. Ia senang sekali bahwa Om andalannya menjadi detektif untuk sang kakak. "Semoga kebusukan kak Attar terbongkat."


Thia mengangguk dan tersenyum. Ia juga tak sabar menunggu momen itu. Ia lebih pro pada om Vicky di banding Attar, begitu pun Nisa. Walau orang tua Attar sudah berbuat banyak hal untuk keluarga Rea dulu, tetapi terkadang sifat baik orang tua belum tentu sama dengan anaknya. Dan Attar sepertinya mulai menunjukkan sifat berbanding terbalik dengan ayah ibunya.


Di apartemen, Vicky tengah tersenyum sembari memainkan ponsel itu dan menekan huruf untuk menjawab pesan dari Thia.


"Setelah Rea mergokin tuh cowok, baru gue masuk dan memberikan bukti yang lain," gumam Vicky, membayangkan Rea bersedih dan ia menjadi pahlawan kesiangan yang memberikan bahunya pada Rea.

__ADS_1


"Aish ... udah kaya anak abege aja gue," kata Vicky pada dirinya sendiri sembari tertawa. "Rea ... I'm coming."


Vicky benar-benar tengah jatuh cinta pada Rea, gadis abege yang baru beranjak dewasa.


__ADS_2