Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Di intai


__ADS_3

Pagi ini, Hanin langsung terjun ke dapur. Ia berniat memasak makanan yang cukup banyak, karena hari ini Vicky akan datang. Hanin membiarkan Kenan tidur agar sang suami dapat beristirahat cukup. Sementara, sejak kemarin, Hanin sengaja menghafal nomor Vicky dari ponsel Kenan. Ia meminta tolong pada asistennya itu agar menghandle pekerjaan, mengingat saat ini Kenan sedang sakit. Vicky menyambut keinginan Hanin. Ia dengan senang hati akan membantu Kenan. Dan, pagi ini Vicky berniat datang untuk meminta maaf secara langsung pada sahabat sekaligus bosnya itu.


Di kamar, tangan Kenan meraba ke samping. Matanya masih terpejam. Tubuhnya masih tertelungkup. Namun, otaknya sudah mencari keberadaan sang istri. Kenan langsung membuka mata. Ia tak melihat Hanin di kamar ini. Ia pun langsung menurunkan kakinya dari tempat tidur dan langsung menemui sang istri. Ia mendengar suara riuh di dapur, juga harum masakan yang sedang Hanin buat.


Hanin sedikit terkejut, saat tangan kekar itu melingkar di perutnya. Iaa menoleh ke belakang.


“Hei, sudah bangun?”


“Hmm .... karena kamu tidak ada di sisiku. Jadi aku terbangun.”


Hanin tertawa, sembari mengangkat tangannya ke bahu dan mengelus kepala Kenan yang sedang menempel di bahunya. “Manja sekali sih.”


Kenan mengecup pipi Hanin dari belakang dan mengecup leher jenjangnya. “Biarin. Lagian pagi-pagi sudah ke dapur.” Kenan protes, ia ingin setiap hari ketika membuka mata ada sosok sang istri yang pertama kali ia lihat.


“Kamu harus sarapan dan minum obatnya lagi.” Hanin mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya.


"Hmm ... sudah tidak demam.” Tangan Hanin menyentuh Kening dan leher Kenan.


“Aku udah sehat. Ngga perlu minum obat lagi. Lagi pula obatnya udah ada di depanku. Walau pun masih puasa. Padahal kalo lagi ga puasa aku udah langsung sembuh dari kemarin,” goda Kenan.


“Apa sih? Gajebo!” Hanin meluyur meninggalkan suaminya dan beralih mempersiapkan makanan yang lain, yang akan di masak.


“Apa tuh Gazebo? Saung kecil untuk istirahat? Apa hubungannya?”


Kenan kembali mendekati Hanin dan menempel lagi di belakangnya.


Hanin tertawa. “Dasar ga gaul, kerja mulu sih,” ledek Hanin pada suaminya. “Gajebo itu singkatan dari ga jelas bo.”


“Ck, kamu yang ga jelas, masak sebanyak ini. Buat siapa coba?”


Hanin tersenyum ke arah Kenan. “Buat kamu dong, dan buat seseorang yang mau datang.”


“Siapa?” tanya Kenan yang terus menempel pada sang istri.


“Ada deh,” jawab santai Hanin. Namun, tiba-tiba Hanin merasakan sesuatu yang mengganjal pada tubuh belakangnya.


“Ken,” Hanin langsung membalikkan tubuhnya. Ia menatap ke bagian boxer sang suami.


“Kamu?” tanya Hanin ambigu.


“Aku ingin, Sayang.” Kenan nyengir, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Ih, masih puasa tau. Tahan!” Hanin menepis pusaka Kenan dan menyuruhnya untuk tidur.


“Aww, sakit. Yank.” Rengek Kenan.


Hanin tertawa geli. Sepasang pengantin yang masih terbilang baru ini, terus saja bersenda gurau. Mereka belum menyadari bahwa ada orang yang ingin memisahkan mereka dan tengah mencari kelemahan Kenan.


Ting .. Tong


Bel apartemen Kenan berbunyi.

__ADS_1


“Ada tamu,” ucap Hanin.


“Siapa datang pagi-pagi begini? Teman-temanmu?” tanya Kenan.


“Coba lihat gih!” pinta Hanin pada suaminya. padahal, Hanin tahu siapa tamu itu.


Kemudian, Kenan melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia menekan gagang pintu dan membukanya.


“Ken.” panggil Vicky yang langsung masuk ke dalam apartemen, walau Kenan belum mempersilahkannya.


“Ngapain lu ke sini?” tanya Kenan ketus.


“Di undang Hanin sarapan,” jawab Vicky sembari menampilkan jejeran giginya.


“Ngga punya duit buat sarapan sendiri? Gue belum pecat, udah miskin aja lu.” Kenan kembali menjadi macan tutul.


“Ck, gue kangen banget Kenan yang galak. Siska kangen dimarahin lu katanya. Ngga ada lu dikantor katanya sepi.”


“Siapa yang kangen?” tanya Hanin yang tiba-tiba keluar dari dapur.


“Eh, Hanin. Apa kabar?” Vicky menyapa istri Kenan dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan pada Hanin.


Namun, Kenan segera menepis tangan itu. “Ngga usah pake salaman.”


“Ya elah, Ken. posesive banget lu.”


“Cukup adek gue yang jadi korban kebrengs*kan lu,’ kata Kenan lagi.


“Udah-udah, jangan berantem. Mending kita sarapan dulu. Yuk!” Hanin menggiring suami dan asistennya menuju meja makan.


Vicky dan Kenan pun mengikuti dan duduk berhadapan.


“Ken, di lobby ada orang yang mantau gerak gerik lu,” ucap Vicky yang merasa di buntuti, sejak sampai di lobby apartemen ini.


“Ya, suruhannya daddy James.”


Kenan dan Vicky berbincang pelan. Sementara Hanin masih menyiapkan teh hangat untuk suami dan tamunya.


“Lu kesini pake strategi kan?” tanya Kenan oada Vicky.


“Ya iyalah, gue pinter kali. Makanya dari dulu lu ngga bisa mecat gue.”


“Cih, pede banget lu.”


Vicky tertawa.


Sejak sampai di lobby, hingga berada di lift, Vicky merasa ada pria yang membuntutinya dari belakang. Kemudian, ia menaiki lift dan menekan lantai 20. Lalu, sesampainya di lantai 20, ia kembali mengintip di balik tembok. Ternyata benar, pria itu masih mengejarnya. Kemudian, Vicky turun menggunakan tangga darurat, setelah pria itu pergi jauh mencari keberadaan Vicky di lantai itu. Padahal flat Kenan berada di lantai 18.


“Jadi, lu maafin gue kan?” tanya Vicky.


“Tergantung.”

__ADS_1


“Ken, sumpah! Gue cinta Kiara. Sorry, gue ga bilang ini, karena gue segan sama lu. Lu udah bantu banyak buat gue dan adik-adik gue. Bahkan, kuliah Vely di Ausy juga awalnya karena bantuan lu, hingga sekarang dia lulus dan kerja di sana. Gue ga akan lupa sama jasa-jasa lu, Ken.”


Pada saat itu, Kenan membantu biaya awal semester Vely hingga tingkat tiga, karena pada saat itu Vicky juga membiayai adik laki-lakinya yang baru masuk militer. Vicky memiliki adik kembar, Vely dan Vedy.


Hanin mendengar perkataan Vicky, karena ia sedang berjalan menuju kedua pria yang tengah berseteru itu dan hendak memberi mereka minum. Hanin semakin simpatik dengan kebaikan sang suami. Ia pun tersenyum.


“Ayo diminum dulu!” Hanin mempersilahkan suami dan tamunya.


“Terima kasih, Han,” ucap Vicky dan Hanin pun mengangguk.


“Awalnya gue kecewa dengan keputusan Kiara, tapi gue merima apa yang dia mau. Terbukti selama Kiara menikah, gue ngga pernah ganggu dia. Lu liat sendiri kan? Kecuali sekarang.”


Kenan menoleh ke arah Vicky dan menatapnya tajam.


“Sorry, kalau Kiara bercerai dari Gun. Gue bakal masuk lagi,” ucap Vicky tegas.


“Dasar muka tembok.”


“Biarin. Gue yakin bisa bahagiain adik lu.”


Kenan menarik nafasnya kasar. Dapat terlihat di raut wajah Vicky, bahwa ia memang sangat mencintai adik kesayangannya itu.


“Udah berdebatnya. Sekarang kita makan. Ayo!” pinta Hanin pada kedua pria itu.


Hanin mengambil piring dan menuangkan nasi sedikit-sedikit ke dalam piring itu. “Segini cukup, Ken? tanya Hanin pada suaminya.


“Cukup.”


Hanin menuangkan beberapa lauk ke dalam piring itu dan memberikannya pada sang suami.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Kenan.


Vicky mengamati setiap hal yang terjadi pada pasangan ini. Ia pun tersenyum.


“Akhirnya, sahabat gue bahagia juga. Hidupnya jadi ngga ketemu kertas mulu,” ledek Vicky.


“Telat lu.”


Vicky tertawa, begitupun Kenan yang akhirnya menyungging senyum dan Hanin pun sama, ia tersipu malu karena Vicky terus menggoda kemesraan mereka.


Setelah sarapan pagi di jam yang sudah tidak pagi lagi, Kenan mengajak Vicky menuju ruang kerja.


“Sayang, aku ke ruang kerja ya!” Pamit Kenan pada Hanin yang sedang membereskan piring-piring kotor di meja itu, sembari mengecup kedua pipinya.


“Iya.” Hanin mengangguk dan tersenyum.


“Hmm ... adem banget sih ngeliat lu bedua. Gimana Vanesa ga mencak-mencak coba,” ucap Vicky yang dihiraukan oleh Kenan.


Kenan berlalu dari hadapan Vicky dan kembali berjalan menuju ruang kerja.


Waktu menunjukkan pukul 10.30. sudah satu jam lebih, Kenan dan Vicky berada di ruang kerja. Jika sudah bekerja, Kenan memang pasti akan lupa waktu. Hanin beranjak lagi ke dapur dan membuka lemari es. Tidak ada kue atau pun camilan yang akan ia sajikan untuk kedua orang yang sedang bekerja di dalam ruangan sana. Lalu, Hanin berinisiatif untuk pergi ke toko bakery and cake yang berada di bawah, tepat berada di samping lobby apartemen ini, yang bersebelahan dengan minimarket.

__ADS_1


Hanin keluar dari apartemen itu, tanpa memberitahu Kenan, karena pikirnya ia hanya sebentar. Hanin tidak tahu bahwa keberadaannya tengah di intai seseorang. Sekali Hanin menginjakkan kakinya ke lobby, maka akan ada orang yang membuntutinya hingga menemukan tempat tinggal mereka.


__ADS_2