
Setelah Gunawan Pergi, Rasti mendiami putrinya.
“Mam, maaf.” Kiara menangis memeluk sang ibu.
“Tidak ada kamus perceraian dalam keluarga kita, Ra.” Rasti berkata lirih.
Kiara mengangguk. “Kiara tahu, Mom.”
Kean menjunjung tinggi kesetiaan dan sepanjang sejarah keluarga besar Aditama dari leluhur sebelumnya pun, tidak ada yang mengalami perceraian. Pernikahan mereka hanya dipisahkan oleh maut.
“Maaf, Mam,” lirih Kiara.
“Jangan ambil keputusan karena emosi. Pikirkan lagi keputusanmu. Gunawan adalah pria yang kamu pilih sendiri. Jadi baik buruknya dia, harus kamu terima.” Rasti berdiri dan meninggalkan putrinya yang masih terduduk lesu.
Ini memang keputusan yang sulit untuk Kiara. Kemudian, Kiara melangkah ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kembali menangis. Ia mencoba merenungi atas semua yang terjadi.
Sedangkan Rasti, tengah bersiap untuk ke kantor Kenan. Ia penasaran dengan apa yang diucapkan Alin. Ia ingin mendengar penjelasan dari mulut putranya langsung.
“Bi, jaga Non Kiara.” Pesan Rasti pada salah satu maid yang dulu membantu menjaga Kiara sejak kecil.
“Nggeh, Bu.”
Rasti pun menaiki mobil dengan supir yang sudah siap menunggunya. Ucapan Alin masih teringat jelas dalam ingatan.
“Ngga mungkin putraku sudah menikah. Itu ngga mungkin,” Gumam Rasti sembari menggelengkan kepala. Ia terus memikirkan keadaan putra putrinya, hingga tak terasa perjalanan menuju kantor Aditama pun sampai.
“Bu sudah sampai,” ucap supir Rasti, saat mobil itu sudah berada di lobby perusahaan suaminya yang dikelola penuh oleh sang putra.
Rasti keluar dari mobil, setelah pintu mobil itu di buka oleh security di sana. Security itu tahu betul mobil ini adalah mobil milik ibu dari pemilik perusahaan ini. Lalu, ia langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Kenan. Semua karyawan menunduk hormat, ketika Rasti melewati beberapa karyawan di sana.
“Siska.” Panggil Rasti pada sekeretaris Kenan.
Siska berdiri menyambut ibunda bosnya itu. “Iya, Bu.”
“Kenan ada di dalam?” tanya Rasti sembari menunjuk ruangan Kenan yang tertutup.
Siska menggeleng. “Tidak ada, Bu. Tadi pagi Pak Kenan dan pak Vicky ke Bandung karena ada trouble di tim sana yang mengakibatkan pengiriman barang ke Amerika tertunda.”
“Oh, ya?” tanya Rasti lirih. Ia menarik nafasnya kasar.
“Iya, Bu.”
“Terus, kapan Kenan pulang?” tanya Rasti.
“Kalau tadi Pak Vicky mengabari, Pak Kenan kemungkinan akan lama di Bandung. Beliau menyelesaikan beberapa masalah dulu di sana,” jawab Siska sembari berdiri merapatkan kedua kaki dan menyatukan kedua tangannya ke depan.
“Kira-kira kapan dia kembali?” tanya Rasti lagi.
“Biasanya tiga hari atau lima hari. Saya juga belum mendapat kabar langsung dari bapak, Bu.”
“Oh, baiklah.” Rasti pasrah. Jika sudah menyangkut trouble perusahaan, maka putranya tidak akan bisa diganggu. Ia akan menunggu hingga Kenan tidak sedang sibuk.
“Ya sudah, terima kasih, Sis.” Rasti memakai kembali kacamata hitamnya dan pergi dari hadapan Siska.
“Iya, Bu. Hati-hati di jalan.” Siska membungkukkan sebagian tubuhnya tanda hormat pada ibunda yang semua orang tahu adalah wanita yang sangat di cintai oleh pria galak seperti bosnya itu.
Di kediaman James, Vanesa masih tak mau keluar kamar. Wanita yang dahulu adalah sahabat Kenan, lalu lima tahun yang lalu ia meyakinkan Kenan untuk menaikkan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih dan dengan beberapa kali perenungan akhirnya Kenan menyetujui itu, masih syok dengan apa yang terjadi kemarin. Ia masih tak percaya Kenan akan menolaknya terang-terangan, walau ia menyadari sejak awal bahwa pria itu memang belum mencintainya sebagai kekasih, Kenan hanya menyayanginya sebagai sahabat atau seperti sayangnya pada Kiara.
“Van, ayo makan! sejak kemarin perutmu belum terisi. Nanti kamu sakit.” Ujar Alin. Ia sungguh tak tega melihat putri semata wayangnya menjadi seperti ini.
“Vanesa tidak lapar, Mom.”
Kemudian, james pun ikut memasuki kamar putrinya. “Ayolah, Van. Jangan seperti ini! Sudah Daddy bilang, kamu ini cantik, kaya, pintar, dan popular. Banyak pria yang menginginkanmu.”
“Tapi, Vanesa hanya mau Kenan, Dad.”
“Tidak bisa, Sayang. Daddy sangat mengenal putra Kean. Dia sangat mirip ayahnya. Daddy ingat betul saat Kean memperjuangkan Rasti untuk berada di sisinya, padahal saat itu Mami Kenan juga tidak diterima di keluarga Aditama.”
“Benar begitu, Mom?’ tanya Vanesa pada sang ibu.
Alin mengangguk dan mengelus punggung sang putri.
Vanesa Menangis dan James memeluk tubuh sang putri. Ia berusaha untuk menenangkan putrinya. Sementara, Alin hanya mengelus punggung sang putri yang sedang di peluk oleh sang ayah.
****
Di kota kembang, Kenan mengemudi mobil sedan berwarna hitam itu dengan cepat ke apartemen miliknya. Sesekali, Hanin menoleh ke arah pria menyebalkan yang sejak awal selalu melecehkannya. Namun, arah mata Kenan tetap lurus ke depan. Ia sama sekali tidak membalas lirikan mata Hanin yang sesekali mengarah ke arahnya. Kenan masih kesal dengan yang ia lihat tadi di ruang rapat. Ia melihat bagaimana Hanin kembali berperan sebagai wanita penggoda dan berhasil menggoda Riza, salah satu karyawan yang sudah berdedikasi cukup lama di perusahaannya.
Mobil Kenan tiba di sebuah apartemen mewah. Ia memarkirkan mobilnya di basement.
“Ayo turun!” ucap Kenan dingin, saat membuka pintu yang di duduki Hanin.
Hanin menggeleng. “Aku ingin pulang.”
“Mulai sekarang, di sini rumahmu.”
Hanin kembali menggeleng. “Semua pakaianku ada di kosan. Krim malamku juga ada di sana, pembersih wajahku juga di sana.” Hanin masih duduk di krusi penumpang itu tanpa bergerak sedikitpun.
Kenan menarik nafasnya kasar dan membuang wajahnya ke sembarag arah sejenak. “Ck, aku akan membeli pakaian dan kosmetik baru untukmu.”
Hanin menggeleng. “Aku tidak mau, pakaian darimu pasti pakaian yang kurang bahan semua.”
__ADS_1
Kenan ingin sekali tersenyum, mendengar jawaban dari wanita yang ada dihadapannya ini. Namun, ia berusaha menahan.
“Kosmetikku juga beda, aku tidak bisa memakai yang terlalu mahal.”
“Akan aku pesan semua kebutuhanmu. Sekarang, ayo turun!” Perintah Kenan masih Hanin abaikan. Wanita itu masih terdiam di kursinya.
“Aku juga tidak bisa tidur tanpa tedy.”
“Siapa tedy?” rahang Kenan kembali mengeras. “Dasar wanita penggoda, berapa banyak pria dalam hidupmu? Hah?”
“Apaan sih?” Hanin memukul dada Kenan. Ia tak terima Kenan kembali menyebutnya wanita penggoda.
“Nah itu, kamu sudah menjadi istriku tapi masih tidur dengan pria yang bernama tedy itu.”
Hanin tertawa geli. Sedangkan Kenan tetap memasang wajah dingin.
“Ayo turun! Kalau masih tidak mau turun aku gendong.” Tanpa persetujuan dari Hanin, Kenan langsung menggendongnya seperti karung beras. Lalu, menutup pintu mobil itu dengan satu kakinya.
“Ken, turunin!” Hanin meronta dan memukul punggung Kenan. Namun, Kenan tetap membawa Hanin dalam posisi itu hingga naik lift.
Kemudian, Kenan menurunkan tubuh Hanin.
“Apa pria itu juga sering mencium bibirmu?” tanya Kenan dingin, sorot matanya tajam seperti ingin menerkam.
“Pria siapa? Aku ngga ngerti.” Hanin mengerdikkan bahunya.
“Tedy.”
Hanin kembali tertawa. Lalu, Kenan segera menangkup wajah Hanin dengan kedua tangannya dan kembali mencaplok bibir yang tengah tertawa itu.
“Mmpphh ...” Hanin kembali meronta, hingga terdengar bunyi lift terbuka.
Tring.
Sepasang wanita dan pria tua memasuki lift, sontak Kenan melepaskan pangutan yang tengah membelit lidah Hanin. Hanin pun mendorong dada Kenan. Mereka memutar tubuhnya dan membelakangi sepasang kakek dan nenek yang berdiri di depannya.
“Dasar mesum!” Hanin melirik ke arah Kenan sembari menghapus sisa saliva yang menempel di bibirnya.
Kenan juga mellirik ke arah Hanin tanpa senyum, lalu kembali memutar tubuhnya. Setelah selesai merapihkan pakaian, Hanin pun memutar tubuhnya.
Tring.
Kenan menarik Hanin untuk keluar dari lift dan meninggalkan sepasang kakek dan nenek itu di dalam sana, karena mereka belum sampai di lantai yang mereka tuju.
“Lepas!” Hanin berusaha melepaskan genggaman tangan Kenan yang kuat menggenggam jemarinya
Kenan menghiraukan perkataan Hanin. Ia tetap menarik tangan wanita itu.
“Kamu lelet.” Dengan cepat, Kenan kembali menggendong Hanin seperti karung beras.
“Kenan, jelek. Menyebalkan, psyco!” teriak Hanin sembari memukul punggung Kenan lagi.
Untung saja, lorong apartemen itu sepi sehingga teriakan Hanin tidak mengganggu siapapun.
Kenan menekan passcode pada gagang pintu itu dan membukanya. Lalu, tubuh Hanin dihempaskan ke sebuah sofa yang cukup luas.
“Ah.” Hanin tersentak saat tubuhnya terjatuh di sofa empuk itu.
Kenan dengan cepat membuka dasi dan kancing kemejanya.
“Kamu mau apa?” tanya Hanin takut.
“Melaksanakan kewajibanku. Tedy saja sudah melakukannya padamu, sedangkan aku suamimu belum menyentuhmu,” ucap Kenan sambil membuka kancing kemeja di bagian lengan.
Lalu, ia membuang kemejanya asal dan menekukkan lututnya dan menghimpit kedua paha Hanin. Kenan menindih tubuh Hanin. Ia langsung menyantap leher Hanin yang jenjang.
“Ah, Ken. Jangan! Mmpph ...” Hanin melenguh, saat Kenan menggigit dan menyesap kuat bagian itu hingga berwarna merah keunguan.
Ia berusaha menahan dada Kenan. Ia tahu saat ini, Kenan tengah marah. Namun, ia pun tidak mengerti apa yang menyebabkan pria itu sering marah padanya. Apa Kenan cemburu? pikirnya. Namun, Hanin menepus pemikiran yang tak masuk akal itu.
Kenan melepaskan aksinya dan menatap wajah Hanin. “Kamu benar-benar wanita penggoda.”
“Kamu salah, tedy itu bukan pria. Tedy itu boneka beruangku yang besar dan selalu aku peluk saat tidur. aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk boneka itu,” ucap Hanin dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Kenan bangkit. Ia masih menduduki kedua paha Hanin dan menarik nafasnya kasar. Ia memandangi wajah Hanin yang ingin menangis dan mengusap wajhnya kasar. Lalu, pria itu turun dari tubuh Hanin dan meninggalkan Hanin untuk menuju dapur. Langkahnya tertuju pada lemari es dua pintu. Ia mengambil air dingin dan meminumnya.
“Si*l. Mengapa aku se emosi itu, jika dia dekat dengan pria lain?” gumamnya sembari kembali meneguk minuman dingin itu.
Ia pun mengisi air dingin di gelas itu dan membawakan untuk sang istri. Ia melihat Hanin yang sudah duduk dan mengancingkan dua kancing atas kemeja yang tadi di lepas kasar oleh Kenan.
“Minumlah!”
Hanin menerima gelas itu sambil merengutkan bibirnya.
“Mulai sekarang kamu tidak perlu memeluk boneka itu, karena sudah ada aku.”
“Uhuk.. Uhuk... Uhuk.” Hanin tersedak. Otaknya masih belum bisa membayangkan akan setiap hari memeluk pria menyebalkan ini.
“Kenapa?” tanya Kenan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Hanin menggeleng. “Tidak apa-apa.”
__ADS_1
Kenan tersenyum menyeringai.
Ting tong..
Bel apartemen Kenan berbunyi. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju pintu dan membuka pintu itu. ia menerima dua kantung makanan yang sengaja ia pesan, sesaat sebelum ia mematikan mesin mobil saat di basemant.
“Ini, ayo makan! kata Riza, kamu belum makan dari pagi ‘kan?” Kenan menaruh dua bungkusan itu di hadapan Hanin.
Hanin melongok ke arah bungkusan itu. Di sana, terlihat ada beberapa ayam krispi dan burger dari restora siap saji terkenal. Membayangkannya saja, liur Hanin ingin menetes, karena sudah lama ia tak memakan makanan itu, persis sejak menjadi buronan Kenan, ia menjadi seperti orang miskin yang super irit.
“Makan saja, tidak perlu di liatin. Nanti ayamnya ngegigit kamu,” ledek Kenan yang sudah duduk di samping Hanin dan mengambil remot untuk menyalakan televisi.
Hanin melirik ke arah pria yang sempat berguyon, guyonan garing. Kemudian, ia mengambil makanan itu dan memakannya dengan lahap.
Kenan tersenyum melihat tingkah Hanin yang menggemaskan. Tangan Kenan terangkat untuk mengusap bibir bawah Hanin yang belepotan saos cabai.
“Udah ngga makan berapa hari?” tanya Kenan meledek.
Hanin menampilkan dua jarinya ke atas, karena mulutnya penuh dengan makanan sehingga ia hanya bisa menjawab dengan isyarat jari.
“Kenapa?” tanya Kenan mengeryitkan dahinya.
“Hmm ... kamena mamalah itu,” jawab Hanin dengan mulut penuh burger.
Kenan tertawa. “Habiskan dulu makananmu.”
Lalu, Hanin menghabiskan makanannya dan meminum minuma soda yang juga di sediakan dari restoran siap saji yang Kenan pesan.
“Sudah kenyang?” tanya Kenan yang ikut kenyang hanya dengan melihat Hanin makan.
Hanin tersenyum. “Sudah, kenyang banget. Hm...” Hanin bersendawa cukup keras, membuat Kenan kembali tersenyum.
“Ups, maaf.” Hanin menutup mulutnya.
“Well, kalau kamu sudah kenyang. Sekarang giliran aku yang harus kamu buat kenyang.” Kenan menggendong Hanin dan membawanya ke kamar.
“Ken, mau apa?” tanya Hanin di sela-sela tubuhnya yang terangkat ala bridal.
“Memakanmu dan buat aku kenyang,” jawab Kenan, yang membuat Hanin bingung.
Kenan membuka pintu kamar dan menutupnya dengan satu kaki. Ia mendudukkan Hanin di atas ranjang king size dengan sprei dan selimut berwarna grey.
“Kamu kanibal? Pemakan manusia juga?’ tanya Hanin polos.
Kenan tertawa dan memajukan tubuhnya, menghimpit tubuh Hanin ke dinding ranjang itu. “Ya, aku kanibal dan aku menyukai tubuhmu.”
Hanin bergidik ngeri. Ia sungguh takut, karena yang ada di otaknya Kenan adalah benar-benar pemakan manusia, bukan makan sebagai tanda kutip menyalurkan gairah pria.
“Ken, Jangan! Aku masih ingin hidup.”
Kenan kembali tertawa geli dan menatap wajah Hanin lekat. Mereka bertatapan tanpa jarak. Nafas Kenan memburu, pria itu sudah menahan gairahnya sejak tadi. Wajah Hanin yang menggemaskan sudah membuat miliknya tak kunjung surut.
“Aku menginginkanmu, aku ingin melaksanakan kewajibanku sebagai suami,” ucap Kenan dengan hembusan nafas yang menerpa wajah Hanin. Aroma mint dari tubuh dan mulut Kenan terasa di penciuman sang istri.
Hanin menyukai aroma itu. Aroma khas yang ia cium setiap kali berdekatan dengan pria menyebalkan ini. Namun, ia suka.
“Aku tidak tahu caranya.” Jantung Hanin berdetak kencang, saat Kenan meminta haknya.
Kenan tersenyum licik. Ia masih tidak percaya bahwa Hanin belum pernah melakukan s*x.
“Jangan membuatku marah lagi, Han!”
“Sungguh, Ken. Aku belum pernah melakukannya.”
Kenan menghiraukan ucapan Hanin dan langsung ******* lagi bibir itu. Hanin kuwalahn karena kali ini pangutan Kenan sangat liar. Ia tak di beri jeda untuk berhenti sejenak.
“Mmmppph ... Ken.” Jantung Hanin berdetak sangat cepat. Semua rasa bercampur, antara takut dan pasrah saja.
Hanin kembali menahan dada Kenan. “Mmppphh ..,.”
Kenan pun melepas pangutan itu dan beralih ke leher, bibirnya terus menelusuri tubuh itu.
“Ah, Ken. Mmpph.. “ Hanin menggigit bibir bawahnya, menahan gelenjar aneh yang menjulur keseluruh tubuhnya.
Jatungnya semakin berdebar kencang dan tiba-tiba ia merasakan sakit di bagian perut.
“Ken.” Hanin menahan kedua bahu Kenan yang baru akan menyesap kedua dada bulat miliknya.
“Hmm ...” wajah Kenan terangkat dan menatap kedua bola mata Hanin.
“Aku sakit periut, Ken. Mules.” Hanin berussaha bangkit.
“Ken, ngga tahan. Aku mau buang air besar.”
Kenan langsung membanting tubuhnya ke samping dan membiarkan Hanin bangkit dari ranjang itu dan berlari ke kamar mandi. Kenan hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah istrinya yang lucu.
Kini ia yakin bahwa Hanin memang belum pernah melakukannya. Wanita itu terlihat nervous dan takut.
"Panyas saja, Gunawan tergila-gila padamu," gumam Kenan sambil menyungging senyum.
Hanin langsung duduk di atas kloset. Ia menuntaskan gejolak yang membuat perutnya sakit. Mungkin ini efek dari grogi, karena selain ini adalah kali pertama Hanin melakukannya, ada juga beberapa orang yang jika mengalami nervous, akan menimbulkan sakit perut seperti yang Hanin rasakan saat ini.
__ADS_1