
Vicky menyesal, karena pagi ini ia datang ke kediaman Aditama di saat yang tidak tepat. Padahal, ia datang hanya untuk memberikan satu kantung belanjaan Kiara yang tertinggal di mobilnya kemarin. Dan, kebetulan belanjaan itu memang produk penting yang biasa Kiara gunakan untuk merawat kulitnya di rumah.
“Vicky, Ayo katakan! Apa benar kamu menjadi saksi pernikahan Kenan?” tanya Rasti menggebu-gebu.
Rasti berjalan mendekati Vicky. Arah mata Kiara dan Gunawan pun tertuju padanya.
Vicky terdiam. Ia tidak akan mengkhianati Kenan, karena selama ini sahabatnya itu telah banyak berjasa untuknya dan kedua adiknya yang saat itu tengah membutuhkan biaya sekolah. Jika harus memilih, ia akan memilih membuka aibnya sendiri di banding membuka privasi Kenan.
Arah mata Vicky, kini tertuju pada Gunawan. “Gue emang pernah ada hubungan dengan Kiara. Dulu, sebelum kalian menikah.”
Lalu, Vicky melirik ke aah Kiara yang sudah membulatkan matanya. Kiara mencoba memperingatkan Vicky agar tidak bicara apapaun, tentang masa lalu mereka.
“Apa? Apaan ini?” tanya Rasti. Harusnya ia mendengar laporan tentang pernikahan Kenan, tetapi telinganya malah di minta untuk mendengar fakta baru.
Tak lama kemudian, satu mobil masuk ke kediaman rumah Aditama itu. Mereka pikir itu adalah Kenan karena pria itu memang sudah berjanji pada sang ibu dan sang asisten bahwa ia akan pulang hari ini. Namun, mobil itu bukanlah mobil Kenan, melainkan mobil Vanesa.
Ya, Rasti memang meminta wanita itu datang ke sini karena Kenan akan datang menemuinya.
“Mam," panggil Vanesa pada Rasti sesaat setelah ia keluar dari mobil.
Vanesa menyapa Rasti dan mencium kedua pipi calon ibu mertuanya itu.
“Ada apa ini? kelihatannya kok pada tegang semua?” tanya Vanesa bingung.
“Hohoho ... ternyata semakin ramai. Baiklah, ini akan semakin seru. Ayo Vicky! Ceritakan, apa yang seharusnya kau ceritakan sejak dulu,” ucap Gunawan tidak sabar.
Kiara menggeleng dan Gunawan pun melihat interaksi mata antara Kiara dan Vicky. Hal itu, cukup membuat dirinya kembali panas.
“Apa yang lu mau tau, Gun?" tanya Vicky.
“Ya, masa lalu kalian. Masa lalu yang ngga pernah gue tahu,” jawab Gunawan.
“Kenapa, lu baru tanya sekarang? Hah. Dari dulu kemana aja?” tanya Vicky geram.
“Dulu gue ngga peduli, tapi sekarang gue peduli,” jawab Gunawan lagi.
“Karena apa?” Vicky memajukan tubuhnya pada Gunawan. “Karena lu baru sadar kalau lu ternyata cinta sama Kiara? Hah, basi!”
Kiara membulatkan matanya. Ia tak percaya bahwa pria yang selama tiga bulan terakhir ia abaikan ini ternyata mencintainya. Apa ia tak salah dengar?
“Mam, sebenarnya ada apa ini?” tanya Vanesa berdiri di samping Rasti.
Rasti hanya diam. Ia fokus mendengar dengan seksama pertikaian kedua pria dewasa itu.
“Baiklah, saya akan mengatakan sesuatu. Mungkin hal ini akan mengejutkan kalian,” ucap Vicky setelah menimbang dan memikirkan ini semua.
Ia menarik nafasnya kasar dan melihat ke arah Rasti. “Mami maafkan Vicky. Jika setelah apa yang akan Vicky katakan ini akan membuat Mami terluka atau kecewa. Tapi Vicky tidak ingin memendam ini lagi. Vicky tidak ingin menjadi pria pengecut.”
Vicky, sukses mengulur waktu, hingga mobil Kenan pun tiba. Semua mata tertuju pada mobil kenan yang sedang di parkirkan. Kelima orang ini masih berdiri di teras yang luas.
Kenan keluar dari mobil dan arah matanya langsung tertuju pada kelima orang yang tengah berdiri di sana. Jantung Kenan semakin berdetak tak karuan, karena ia pikir, orang-orang itu datang untuk meminta penjelasan atas pernikahannya. Padahal, ini pun menyangkut sang adik dan kedua sahabatnya itu.
“Kenan.” Vanesa langsung berlari menghampiri pria pujaannya dan hendak memeluk Kenan.
“Jangan mendekat, Van. Please! Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.”
“Ken,” panggil Vanesa lirih. Pria ini benar-benar sudah tidak bisa di jangkau lagi.
__ADS_1
“Ken, apa hubungan kita tidak bisa di perbaiki?” tanya Vanesa.
“Tidak, karena aku sudah menikah,” jawab Kenan tegas.
Jedar.
Sontak Vanesa langsung menangis.
Tiba-tiba, masalah Vicky dan Kiara pun menjadi tidak penting karena kehadiran Kenan dan dramatisnya Vanesa.
Rasti membulatkan matanya ke arah sang putra dan Kenan pun menangkap netra sang ibu yang tidak menyukai atas jawaban yang ia ucapkan.
“Mami.” Vanesa berlari ke arah Rasti dan memeluknya.
“Kenan, kamu tega sekali bicara seperti itu di hadapan Vanesa.”
Gunawan tertawa dan bertepuk tangan. “Hebat, ternyata keluarga Aditama penuh dengan drama. Bagaimana jika kita masuk ke dalam dan duduk untuk medengarkan dengan seksama drama ini.”
“Bajingan, lu. Gun.” Vicky kesal dan mendorong dada Gunawan.
Namun, Gunawan tidak peduli, ia malah membuka pintu yang ukurannya lebih besar dari pintu biasa itu. Ia pun mempersilahkan semua orang yang ada di sana untuk duduk. Ia sudah seperti pemilik rumah ini, padahal pemiliknya pun sedang kebingungan hingga tidak bisa berkata apalagi melakukan sesuatu.
“Sebelumnya, kita harus mendengarkan apa yang ingin Vicky katakan, setelah itu baru Kenan. Bagaimana?” tanya Gunawan pada audiens dengan nada memprovokasi.
Rasti mengangguk. Sungguh, ia tidak bisa berpikir jernih, yang ada di kepalanya hanya sebuah rasa penasaran. Pensaran akan kebenaran yang terjadi kepada kedua anaknya.
“Mami akan dengar kamu dulu, Vick. Ayo ceritakan apa yang ingin kau ceritakan sejak dulu,” ucap Rasti.
Kenan pun bingung. Matanya melirik ke semua orang yang ada di sana dan terdiam mata Vicky. Ia mencoba mencari tahu, apa yang akan Vicky katakan. Apa itu tentang pernikahannya dengan Hanin? tapi sepertinya tidak. Kenan tahu betul bagaimana sahabatnya itu. ia tahu bahwa Vicky dapat di percaya dan tidak akan melangkahinya.
“Ken, sebelumnya gue minta maaf sama lu. Mungkin setelah mengatakan ini, lu juga bakal kecewa sama gue,” kata Vicky.
“Bukan, Ken. Ini bukan tentang pernikahan lu. Tapi tentang gue dan Kiara dulu.”
Kenan semakin menyipitkan matanya dan semua orang pun menatap ke arah Vicky.
“Saya mencintai Kiara,” ucap Vicky tegas, hingga semua orang menganga. Apalagi Kenan dan Rasti.
“Sorry, Ken. Gue suka sama Kiara sejak pertama kali datang ke rumah ini dan berteman baik dengan lu.”
Kiara menunduk. Ia pun pasrah, jika Vicky akhirnya mengungkapkan semua kelicikannya dulu.
“Maaf Mami, karena Vicky kurang ajar dan telah mencintai putri kesayangan Mami diam-diam. Tapi Kiara tidak mencintai Vicky. Dia lebih mencintai Gunawan. Namun sayang. Gunawan pun menolaknya. Malam itu, Kiara hancur karena telah di tolak Gun dan pergi ke club. Saya mengikutinya karena saya khawatir padanya.” Vicky menjelaskan dengan arah mata tertuju pada Rasti dan Kenan bergantian.
“Lalu, Kiara mabuk berat. Saya hendak mengantarkan Kiara pulang, tapi dia tidak mau. Dia malah meminta ke apartemen saya. Dan, disanalah, saat dimana akhirnya kami melakukan itu.”
Rasti dan Kenan menatap ke arah Vicky tajam.
“Saya mengambil kehormatan Kiara. Dan, Kiara hamil anak saya pada waktu itu.”
Lagi-lagi pengakuan Vicky mengejutkan semua orang. Dada Rasti naik turun menahan emosi. Matanya sesekali melirik ke arah Kiara yang sedang menunduk. Begitu pun dengan Kenan dan Gunawan.
“Vick, lu?” Kenan masih tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya.
Sementara, Gunawan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia meninju Vicky.
“Jadi bener. Gue di jebak, Hah? Anak itu anak lu dan Kiara malah minta tanggung jawab dari gue?” Gunawan menunjuk dirinya sendiri dan tertawa kecut. “Hebat. Hebat kamu Kiara. Pantas saja aku tidak pernah bisa mencintaimu, karena kamu licik. Hebat, benar-benar hebat.”
__ADS_1
Suara tawa Gunawan terdengar sumbang. Ia tertawa walau hatinya tengah campur aduk dengan berbagai macam rasa. Ia sedih, kecewa, dan marah mendengar semua ini. Ia merasa orang yang paling bodoh, karena telah di tipu mentah-mentah oleh seorang wanita.
"Saat itu, saya pun ingin bertanggung jawab, Mam, Ken. Sumpah!" Vicky menunjukkan kedua jarinya ke atas. "Tapi saya juga kecewa saat Kiara mengumumkan pada kalian bahwa bayi yang ia kandung adalah anak Gun."
“Lu liat adik kesayangan lu ini. Liat! Gara-gara kelakuannya, gue ngga bisa bahagia. Gila!” Gunawan berdiri dengan wajah memerah dan menunjuk Kiara yang masih menunduk.
Saat ini, semua orang tidak memandang Kiara yang sedang mengandung. Mereka tetap menghakimi wanita manja itu.
“Kiara,” panggil Rasti. “Apa itu benar?”
“Kiara, jawab!” teriak Kenan.
Sementara, Vanesa tidak jadi menangis, karena hal ini lebih menegangkan di banding kesedihannya yang di tinggal Kenan menikah.
Kiara menengadahkan kepalanya yang semula menunduk. Ia membalas tatapan sang ibu dan kakaknya bergantian. Lalu, mengangguk.
“Maaf.”
Tubuh Rasti merosot. Ia langsung menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Ia tidak ingin mati berdiri mendengar kenyataan ini. Begitu pun Kenan. Ingin rasanya ia menampar sang adik dan mengusir Vicky. Namun, ia hanya memegang kepalanya yang pening.
Gunawan menghampiri Kiara dan mencengkram bahunya. “Kenapa, kau lakukan ini padaku, Hah? Bahkan ketika aku mendapatkan wanita baik-baik, kau menghalanginya.”
Kiara menangis. “Maaf, Mas. Aku terlalu terobsesi padamu. Karena sebelumnya tidak ada pria yang menolakku.”
“Kamu tahu, Ra. Kamu sudah menghancurkanku, menghancurkan kebahagianku,” ucap Gunawan dengan menggigit rahangnya keras. Sungguh, ia sangat kesal. Jika Kiara bukan wanita, mungkin ia akan menghajarnya dengan membabi buta.
“Kalau begitu kembalilah kamu dengan wanita itu. aku tahu kamu masih sangat mencintainya, bukan?” ucap Kiara lirih.
Mata Kenan membelalak. Ia tahu wanita yang di maksud sang adik.
Gunawan tertawa kecut dan menggeleng. “Itu sudah tidak akan mungkin, karena Kenan telah menikahinya.”
Sontak kepala Kiara langsung menenggak dan menatap Gunawan. “Itu tidak mungkin.” Kiara menggeleng dan arah matanya tertuju pada Kenan.
Rasti pun kembali duduk dengan tegak dan menatap putranya.
“Apa? Ken, kamu? Kamu menikahi wanita penggoda itu?” tanya Vanesa yang memang pernah melihat biodata Hanin terserak di atas meja kerja tunangannya dulu.
“Ken,” Rasti memanggilnya lirih.
“Kamu meminta bantuan pada kakakmu dan Kenan tertarik pada gadisku. Hah, sungguh sial nasibku.” Gunawan menarik rambutnya dan terduduk di lantai. Ia meratapi nasibnya yang begitu naas.
“Ken, apa itu benar?” tanya Rasti.
Perlahan, Kenan mengangguk.
"Dan, kau menyekap gadisku di Bandung," ucap Gunawan lirih.
Ia tahu, bahwa Hanin bekerja di perusahaan Kenan di Bandung dan telah tinggal satu atap dengan suaminya. Walau ia tak tahu persis di mana Kenan dan Hanin tinggal, tapi ia sudah mengikhlaskan Hanin dan bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan Kiara yang saat ini tengah mengandung benihnya.
Namun, kejadian ini membuyarkan rencana Gunawan. Ia tak tahu, apa pernikahannya dengan Kiara harus di pertahankan atau di lepaskan?
“Ya, Tuhan.” Tubuh Rasti kembali merosot.
Ia tak percaya dengan tingkah kedua anaknya ini. kedua anak yang selalu ia banggakan, kini telah menampar wajahnya keras, walau tidak terasa sakit secara fisik. Kedua K bersaudara ini ternyata membuat skandal besar yang tidak pernah terjadi di keluarga Aditama sebelumnya.
Rasti menyesal karena terlalu memanjakan Kiara dan tidak perhatian pada Kenan. Ia mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Kean, apa yang terjadi dengan putra putri kita? Apa aku salah mendidik mereka?" tanyanya lirih dengan airmata yang mulai tergenang di pelupuk matanya.