
“Hanin ... Hanin ...”
Kenan langsung memanggil nama istrinya saat pintu apartemen itu terbuka. Ia memasuki apartemennya dengan tergesa dan berharap Hanin sudah berada di dalam sana.
Sementara, Vicky mengikuti bosnya dari belakang. Ia pun mencari keberadaan istri bosnya itu di beberapa ruangan.
“Vick, dia ga ada.”
Kenan membanting tubuhnya di sofa. Kepalanya sangat pusing. Ia sudah tidak tahu lagi harus mencari istrinya kemana. Berkali-kali ia melihat ponsel yang masih ada di genggamannya itu dan mengecek GPS sang istri, tapi tetap tidak menunjukkan keberadaannya karena di sana, Hanin belum mengaktifkan kembali ponselnya.
“Tenang, Ken,”
Vicky tak bisa berkata apa-apa selain kata-kata itu. Ia bingung cara menenangkan Kenan yang sudah kelimpungan.
“Mana bisa gue tenang, Vick. Mana bisa,” teriak Kenan. Ia melempar benda yang ada di sampingnya. Untuk meluapkan kemarahan. “Arrrgggg ....”
“Ken, kalo lu seperti ini, lu stres sendiri,” ucap Vicky di tengah-tengah kesibukannya memegang ponsel dan mendapat kabar dari orang-orang yang ia perintahkan untuk mencari Hanin
“Dia lagi hamil, Vick. Sekarang dia dimana? Sama siapa? Terus bayi gue gimana?” tanya Kenan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Gue udah tanya Irma, tapi dia ga tahu, malah katanya mereka udah satu bulanan ga komunikasi,” ucap Vicky.
“Hanin juga ga mungkin sama Karmen, karena Karmen lagi di Singapura,” sahut Kenan lesu dengan tatapan kosong.
Vicky sungguh tidak tega melihat kondisi Kenan saat ini. Ia memesan makanan untuk sahabatnya karena sejak siang, pria itu tidak makan. Kenan tampak lesu dan terus memandangi ponselnya, karena siapa tahu Hanin sudah mengaktifkan ponsel miliknya, sehingga ia tahu keberadaan sang istri.
“Kenapa dia pengen banget kabur dari gue, Vick?” tanya Kenan sembari memandangi foto istrinya di benda eletronik itu. “Apa dia ga cinta sama gue?”
“Ck, lu ngomong apa? Kalau dia ga cinta sama lu, lu ga bakal diurusin,” jawab Vicky.
Kenan terdiam. Memang selama ini, Hanin selalu memenuhi semua kebutuhannya baik jasmani dan rohani. Bahkan ia pun tak pernah memahami kondisi istrinya saat setiap malam ia meminta dilayani lebih. ia tak tahu apa saat itu istrnya sedang lelah atau tidak. Namun, Hanin dengan senang hati selalu melayaninya dengan baik.
“Dari awal lu tuh nyakitin dia. Ngelecehin dia, nikahin paska dengan memfitnah dia di depan kakaknya. Terus sekarang dia ngeliat lu merhatiin cewek lain. ya, dia pasti marah lah,” kata Vicky lagi.
Vicky tidak pernah tahu jika Kenan dan Rasti juga sering menuntut Hanin untuk mengandung anak laki-laki. Jika ia tahu, mungkin perkataan Vicky akan lebih pedas lagi dengan sahabatnya itu.
“Udah Vick. Jangan bikin gue tambah pusing dengan omongan lu. Cepet cari Hanin sampe ketemu.” Kenan beranjak dari duduknya dan segera beralih ke kamar.
“Ini makan dulu,” ucap Vicky menahan langkah Kenan. Ia pun sudah menata makanan yang ia pesan tadi untuk makan malam mereka.
“Gue ga laper.”
__ADS_1
“Nanti lu sakit, Ken.”
Kenan menatap malas wajah Vicky. “Udah kaya bini gue aja lu.”
“Kalau bisa mah, boleh gue jadi bini lu,” ledek Vicky.
“Idih, najis.”
Vicky langsung tergelak. Ia gemas sendiri melihat kelakuan sahabatnya yang seperti abege labil.
****
“Akhirnya pesanan datang,” ucap Lani.
Wanita itu memasuki rumahnya kembali setelah menerima satu jinjingan yang berisi tiga kotak makanan dari pria berjaket hijau di pintu gerbang rumahnya tadi.
“Yeay ...” Hanin bersorak sorai dengan senyum lebar di bibirnya.
Malam ini, Lani memesan mie ayam untuk makan malam mereka. Lalu, ia menyajikannya pada Hanin. dengan penuh semangat Hanin memakan makanan itu.
“Pelan-pelan, Han. Lu kaya udah sebulan kaga makan tau,” ucap Lani.
“Ini enak banged, Lan.” Hanin menyuapkan makanan itu dengan banyak ke mulutnya hingga bibirnya menggelembung.
“Serius? Kok bisa?” tanya Lani.
“Kenan ngelarang gue makan mie. Bahkan gue ga pernah sekalipun nyentuh mie instan. Padahal lu tau gue penggemar berat mie.”
“Sampe segitunya?” tanya Lani lagi.
Hanin mengangguk. “Ya, katanya ga sehat.”
“Tapi maksud dia baik sih,” sahut Lani. “Itu artinya dia cinta banget sama lu.”
Hanin baru menghabiskan satu box mie ayam itu lalu mengambil box kedua dan membukanya lalu melahapnya kembali. Sementara, Lani hanya menggeleng, ia saja baru mengabisnya belum ada separuh makanannya, tapi Hanin sudah mau menghabiskan box kedua.
“Iya, sih. Tapi dia berlebihan, Lan. Kadang gue ga tahu kuat apa ngga sama dia,” jawab Hanin ketika mulutnya tidak lagi dipenuhi makanan.
“Lu tuh beruntung, Han. Lu punya suami sempurna. Udah ganteng, kaya, cinta lagi sama lu. Mau cari yang gimana lagi coba?”
Hanin meletakkan sumpit yang ia pegang tadi.
__ADS_1
“Justru karena dia terlalu sempurna, jadi gue khawatir ngga bisa ngeimbangin dia. Gue apa sih Lan, cuma perempuan biasa yang biasa aja. Gue juga heran kenapa pria itu bisa cinta sama gue,” jawab Hanin.
“Ya, berarti lu harus bersyukur dong,’ kata Lani.
“Entahlah, Lan. Tapi terkadang gue rindu kehidupan gue dulu. Sekarang gue ga bisa ngapa-ngapain, karena semua udah dia atur dan bukan hanya dia tapi Mami nya juga.”
Lani menggeserkan tubuhnya untuk lebih dekat pada sahabatnya itu. “Han, yang penting Kenan cinta sama lu, titik. Menurut gue sebagai wanita, itu aja udah cukup. Soal dia begini begitu, lu maunya begini begitu, kalian bisa obrolin bersama. Gue yakin, dia akan mengikuti apa yang lu mau, karena apa? Karena dia cinta lu.”
Sejenak Hanin terdiam. Ya, selama ini, ia memang tidak pernah mengatakan apa yang ia inginkan pada Kenan dan Kenan bukan dukun yang akan tahu apa yang ia mau.
“Iya kan?” tanya Lani lagi sembari menaikkan satu alisnya.
Hanin pun mengangguk, membuat Lani tertawa.
“Dasar labil,” ledek Lani pada sahabatnya.
****
Malam semakin larut, di apartemen itu Kenan tak jua memejamkan matanya. Ia sengaja memeluk teddy bear milik Hanin. Teddy bear besar yang Hanin bawa dari kosannya waktu itu saat kabur ke Bandung dan hanya ia taruh di sudut sofa kamar ini. Namun malam ini, boneka besar itu ia ambil dari tempat biasanya dan dijadikan sasaran untuk dipeluk seperti dirinya memeluk sang istri.
“Sayang, aku ga bisa tidur kalau tidak memelukmu,” gumam Kenan yang sudah memeluk erat boneka besar berwarna coklat muda itu.
Di rumah minimalis milik Lani, Hanin pun merasakan yang sama. Ia terus membolak balikkan tubuhnya di atas kasur milik sahabatnya itu.
Lani dan Hanin tidur di ranjang yang sama. Setelah mereka berbincang panjang lebar, bercengkrama membicarakan semua hal termasuk teman-temannya yang dulu bekerja di kantor yang sama, akhirnya Lani merasa kantuk dan ia lebih dulu terlelap.
Hanin menatap ke arah Lani yang terlihat lelah. Lalu, ia membalikkan tubuhnya kembali. Ia mencoba untuk memejamkan mata, tapi justru malah wajah Kenan yang menghiasi pandangan matanya yang tertutup.
“Kamu lagi apa? Apa kamu juga ga bisa tidur seperti aku?” tanya Hanin dalam gumamannya.
Ia kembali bergerak dan menelantangkan tubuhnya. Gerakan Hanin yang tidak bisa diam, membuat ranjang itu bergerak beberapa kali, hingga menggangu tidur Lani.
“Han, bisa diem ga sih lu. Udah malam tau. Tidur gih!” ucap Lani yang masih dalam keadaan mata terpejam.
“Gue ngga bisa tidur, Lan. Gue ngga bisa tidur kalau ngga dipeluk Kenan,” sahut Hanin.
Sontak Lani membuka matanya sedikit. “Ck, yaudah tidur sekarang. Besok lu gue anter pulang.”
“Jangan! Gue masih mau di sini,” kata Hanin.
“Kalau lu masih mau di sini. tidur sekarang!” pinta Lani.
__ADS_1
“Iya, bawel.” Hanin pun menyerah dan berusaha kembali memejamkan matanya.