
Sedari sore, Kenan ingin segera pulang untuk merayakan anniversary bersama sang istri, tetapi itu semua tidak mungkin karena mendadak urusan mengenai tambak udang datang, sehingga ia dan Vicky harus menyelesaikannya saat itu juga. Alhasil hingga matahari terbenam dan langit menggelap pun ia masih berada di kantor. Bahkan saat ini ia masih berkoordinasi dengan Riza yang berada di Boston melalui video call di laptopnya.
Di Boston Riza sudah terjaga sejak pukul lima pagi karena panggilan dari Kenan mengenai pendistribusian bisnisnya yang mengalami masalah. ketika di tempat Kenan langit sudah gelap, di tempat Riza justru langit baru bersinar.
“Oke, berarti semua sudah beres,” ucap Kenan melalui VC di laptopnya pada Riza.
Riza mengangguk. “Ya, semua dokumen lengkap. Tinggal pengiriman.”
“Baiklah, selanjutnya kamu bisa delegasikan pada bagian-bagian yang berkepentingan.”
Riza mengangguk lagi. “Oke.”
Vicky pun masih berkutat degan serangkaian dokumen di ruangannya.
“Oh, ya. Selamat anniversary, bos.”
Tiba-tiba wajah Vanesa muncul dan berkata. Vanesa menggendong bayi yang juga berjenis kelamin laki-laki.
“Hai, Van. Apa kabar?” tanya Kenan yang langsung mengulas senyum.
“Baik,” jawab Vanesa.
Tubuh Vanesa terlihat lebih berisi. Di sana Vanesa dan Riza tersenyum ke arah kamera. Riza juga mengajak putranya tersenyum di kamera menghadap ke arah Kenan.
“Hai, Boy. Siapa nama mu?” Kenan melambaikan tangan pada putra Riza.
“Namaku Sean, Bos,” jawab Vanesa dengan suara anak kecil.
Vanesa benar-benar terlihat berbeda. Sepertinya ia menikmati perannya sebagai seorang ibu dan istri Riza. Kebetulan Sean dan Kevin hanya berbeda satu bulan. Sean lahir lebih dulu dari Kevin.
“Kalian bisa ikut kan minggu depan?” tanya Kenan.
Ia mengajak Riza beserta istri dan anaknya di acara perayaan anniversary mereka.
“Mengapa hanya keliling Asia bukan keliling Eropa sekalian?” tanya Vanesa.
“Aje gile, bangkrut gue, Van.” Kenan tertawa. “masalahnya ini hampir seluruh karyawan gue ajak.”
Riza dan Vanesa di sana pun ikut tertawa.
“Uuhhh, bos yang baik,” ledek Vanesa.
“Oh iya, daddy dan mommy apa kabar?” tanya Kenan lagi, lama sekali ia tak bertemu James dan Alin.
“Sejak Sean lahir, Daddy sangat jauh berubah, Ken.” sahut Riza sumringah, karena James dan Alin semakin bersikap baik padanya.
“Oh, ya? Bagus dong. Itu berita baik. Lagi pula Daddy memang harus nerima lu, Za. Lu pria baik.”
__ADS_1
“Masa sih?” teriak Vanesa karena Kenan memuji suaminya.
“Tuh, Babe. Seorang Adhitama saja mengakui bahwa aku pria baik,” kata Riza.
“Iya, deh.”
Di sana sepasang suami istri itu malah berkomunikasi berdua, Riza juga terlihat mencium kening Vanesa, melupakan Kenan yang masih dalam video call dengan Kenan.
“Ck ... ya udah gue end ya. Lanjut di kamar sana!” ledek Kenan.
“Oke, Bos.”
“Sean, nanti main sama kevin ya!” kata Kenan lagi sebelum memutuskan sambungan vc itu.
Lalu Vanesa mengajak putranya untuk melambaikan tangan pada Kenan dan Kenan pun membalas lambaian tangan itu sembari tersenyum.
Rasanya senang sekali jika semua hubungan baik-baik saja. Sungguh ia sangat bersyukur dengan segala kenikmatan ini. kemudian, ia segera membereskan mejanya dan pulang.
****
Krek ...
Perlahan Kenan membuka pintu kamar. Ia melihat Hanin yang sudah terlelap. Hah, semua rencananya gagal hari ini, padahal semula ia sudah membayangkan untuk malam pertama lagi, malam ini. namun karena masalah pengiriman itu, akhirnya ia pulang larut malam.
Kenan duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah lelah sang istri. Ia tersenyum dengan tangan terulur untuk mengelus rambut dan pipi wanitanya, ibu dari anak-anaknya. Sudah berulang kali Kenan menawarkan jasa baby sitter, agar sang istri tidak kelelahan, tetapi Hanin tidak mau karena ia ingin mengurus anaknya sendiri dan Hanin berdalih jika lelahnya hanya beberapa bulan setelah melahirkan saja, karena bayi ketika masih 0 sampai 6 bulan masih sering terjaga di malam hari.
Namun, Hanin belum terbangun. Matanya masih terpejam sempurna. Padahal Kenan sudah membisikkan kata cinta.
Kemudian, Kenan beralih pada bibir ranum itu. ia mengecupnya sekilas dan berkata, “happy anniversary, sayang. Maaf kalau aku selalu membuatmu jengkel.” Lalu, Kenan mengambil cincin di sakunya dan menyematkan pada jari manis sang istri.
Setelah cincin itu terpasang sempurna di jari manis itu, lalu Kenan mengecup punggung tangan Hanin. Sayangnya di saat-saat romantis itu, justru Hanin terlelap dan tidak merasakannya. Kemudian, Kenan kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum. Sang istri benar-benar lelah hingga sentuhan dan gerakan itu tidak membuatnya terjaga.
Kenan mengusap lagi kepala Hanin dan meninggalkannya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
****
“Oek ... Oek ... Oek ...”
Hanin terjaga ketika mendengar tangisan Kevin. Ia melirik ke bagian perutnya. Di sana sudah ada tangan Kenan yang melingkar. Ia pun tersenyum dan perlahan melepaskan tangan yang melingkar itu. Lalu, ia menuju box Kevin dan mengambilnya untuk di susui.
Saat Hanin menyusui Kevin di sofa yang biasa ia duduki. Arah matanya tertuju pada sebuah kotak di meja kecil yang berada persis di depan sofa itu. Hanin meraih kotak itu dengan posisi yang masih menyusui. Ia melirik ke arah Kenan, bertanya-tanya apa ini kejutan dari sang suami?
Lalu, Hanin membuka kotak itu perlahan. Di sana ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati berlapis berlian. Di sana juga terselip kertas yang dilipat menjadi empat.
Hanin membuka lipatan kertas itu dan membacanya.
Dear, wanita penggoda.
__ADS_1
Hari ini, tepat satu tahun usia pernikahan kita. Tetapi ketika kamu membaca surat ini, maka sudah lewat dari satu hari. Apa kamu melupakan hari dimana aku mengajakmu menikah dengan paksaan? dengan video yang saat ini masih tersimpan di laptopku untuk kenang-kenangan.
“Dasar nyebelin,” gumam Hanin ketika baru membaca di paragraf pertama surat itu. Ia pun tersenyum melirik ke arah sang suami yang masih terlelap dan kembali membaca kertas itu.
Aku memang bukan pria romantis. Aku juga tidak bisa berkata-kata, tapi aku bisa meluapkannya dengan tulisan.
Dari sekian wanita yang aku jumpai, entah mengapa hanya kamu yang membuatku tergoda. Bibirmu ingin selalu aku cium. Matamu ingin selalu aku lihat dan senyummu membuat hari-hariku bersemangat.
“Hoeekk ...” cibir Hanin sembari terus mengulas senyum. Ia tak menyangka seorang Kenan bisa menuliskan kata seromantis ini. lalu, ia melanjutkan kembali membaca surat itu.
Terima kasih karena kamu telah melahirkan putra yang lucu untukku. Kevin adalah kado terindah. Jangan pernah bosan berada di sampingku. Jangan pernah lelah untuk selalu menemaniku. I love you more and more.
Aku sematkan lagi cincin itu semalam di jarimu. Jangan pernah dilepas lagi, oke!
Kemudian, Hanin melihat jari manisnya. Ternyata Kenan memang sudah mengerjainya. Ia kesal tapi bahagia karena senyum itu tidak pernah lepas terulas dari bibir mungil Hanin. Sungguh ia sangat beruntung. Ia pun mengucap syukur dan terus menatap wajah lelah sang suami yang sedang terlelap.
Lalu, Ia melihat ke arah sang putra yang berada di dekapannya. Kevin kembali terlelap dan melepas bibirnya dari p*ting sang ibu. Kemudian, perlahan Hanin meletakkan kembali sang putra pada tempat tidurnya. Ia melirik ke arah jam di dinding, waktu baru menunjukkan pukul dua malam.
Hanin membersihkan payud*r*nya dan kembali merebahkan diri di samping Kenan. Ia memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah sang suami. Satu tangannya ia pakai untuk mengelus wajah yang sedang terlelap itu sementara satu tangannya lagi ia pakai untuk bertumpu kepalanya.
Hanin memajukan wajahnya dan mengecup kening dan ujung hidung Kenan yang mancung. Lalu, ia beralih pada bibir Kenan. ia mengecup sekilas bibir itu, tetapi sepertinya Hanin belum puas, ia ******* bibir bawah Kenan. Namun, tidak di sangka ternyata si empunya bibir merasakan gerakan itu. Kenan pun membalas ciuman sang istri, hingga menjadi ciuman panas yang membelit lidah satu sama lain, mengabsen setiap rongga yang ada di dalamnya, hingga Hanin mulai kehabisan oksigen.
“Mmmpphh ...”
Kenan melepas pautan itu. “Mengapa harus mencuri ciumanku?”
Hanin tersenyum. “Mengapa harus terbangun?”
Kenan sudah membuka matanya. “Kamu membangunkan ku.”
“Ya sudah tidur lagi.”
Kenan menggeleng. “Tidak bisa. Kamu harus menidurkan ku dulu.”
Hanin tersenyum. Ia tahu apa yang suaminya maksud. “Berapa ronde?” tantang Hanin membuat Kenan tersenyum.
“Tiga, sesuai kesalahanmu.” Kenan tersenyum menyeringai.
“Siapa takut,” sahut Hanin.
“Kalau begitu empat.”
Hanin memukul dada Kenan dan mereka pun tertawa.
🌺🌺🌺🌺
Setelah ini part Vicky-Rea
__ADS_1