
Di kediaman Aditama, Gunawan mengerjapkan mata dan terbangun. Sorot matahari yang bersinar terang memasuki area kamar itu dari balik jendela yang Kiara buka. Kiara membuka lebar tirai itu.
Gunawan bangun dan duduk di punggung tempat tidur. ia melihat pergerakan sang istri.
“Hari ini apa jadwalmu?” tanya Gunawan.
Kiara menoleh. “Tidak ada, aku hanya ibu rumah tangga, jadi kegiatanku hanya di rumah.”
“Bohong. Mau kemana hari ini?” tanya Gunawan lagi dengan menatap tajam ke arah sang istri. Ia tak mau Kiara kembali di antar jemput oleh Vicky.
Kiara menyipitkan mata. “Tumben sekali bertanya seperti itu. biasanya kamu tidak peduli.”
Kiara berjalan menuju kamar mandi. Namun, dengan cepat Gunawan bangun dan mencekal pergelangan tangan itu.
“Aku bertanya sungguh-sungguh,” ucap Gunawan.
“Nanti sore, aku ingin ke supermarket karena stok susu hamilku habis," jawab Kiara.
“Baiklah, sore nanti aku akan pulang cepat dan mengantarmu.”
“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagi pula kamu kan sibuk, aku tidak ingin merepotkan.”
“Tidak repot. Aku sedang tidak sibuk,” ucap Gunawan bohong, padahal kondisi perusahaannya sedang tidak baik. Ia sedang membutuhkan investor lagi untuk pertahananan perusahaannya.
Kiara mengangguk dan meminta dilepaskan. Gunawan pun melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Kiara.
Kiara kembali menuju kamar mandi dan tak lama keluar lagi.
__ADS_1
“Air mu sudah aku siapkan.” Kiara menoleh sekilas ke arah Gunawan, lalu menghampiri lemari besar.
Ia membuka lemari itu dan berdiri di sana, memilih pakaian yang akan dipakai untuk sang suami. Gunawan beranjak dari tempat tidur itu dan menghampiri Kiara. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang yang tak ramping lagi.
“Kamu semakin sexy,” ucap Gunawan yang sedari tadi menahan hasratnya pada sang istri.
Sejak membuka tirai, arah mata Gunawan langsung tertuju pada sosok wanita yang menggunakan dres berwarna terang yang menerawang saat berdiri di jendela dan terkena paparan sinar matahari di sana. Lekuk tubuh sang istri yang sintal pun jelas terlihat dengan perut buncitnya.
Gunawan menelusuri leher dan telinga Kiara.
“Sudah berapa malam kita tidak melakukannya?” tanya Gunawan berbisik tepat di belakang telinga Kiara.
Kiara bergidik ngeri. Ia takut sang suami melakukan dengan kasar, karena kesalahannya kemarin.
“Aku sudah siapkan sarapan, Mas. Mami juga menunggu kita,” jawab Kiara lirih sembari memejamkan mata dan menggigit bibir. Ia merasakan sentuhan Gunawan berada di titik sensitifnya itu.
“Layani aku dulu!” pinta Gunawan dan membalikkan tubuh istrinya.
Ia pun langsung ******* bibir itu, bibir yang beraromakan strawbery di sesap oleh Gunawan berkali-kali. Kiara hanya bisa pasrah menerima ini tanpa ada rasa bahagia seperti yang dulu ia inginkan. Saat ini, ia hanya melakukan kewajibannya sebagai istri.
Gunawan menuntun sang istri menuju ranjang dan Kiara menuruti itu, hingga penyatuan itu terjadi. Namun, pagi ini Gunawan melakukannya dengan lembut, di luar dari apa yang dibayangkan Kiara.
Gunawan menatap wajah sang istri, sambil menggerakkan pinggulnya. Kali ini ia bergerak dengan sangat hati-hati agar tidak menyakiti bayi yang ada di dalam perut itu. Namun, Kiara membuang arah pandangnya ke samping. Entah mengapa ia tak ingin melihat wajah pria itu dalam keadaan dekat. Memang seharusnya ia menerima perlakuan ini karena memang dirinyalah yang membuat Gunawan menjadi pria yang sering menyakiti. Tetapi dulu, Kiara hanya menerima sakit di hati karena mendapati Gunawan yang sering bermain dengan wanita di luar. Namun, kali ini ia merasa sakit di hati dan fisik, karena sekarang Gunawan pun menggunakan tubuhnya sesuka hati untuk melampiaskan hasrat itu.
Gunawan melihat Kiara yang tak pernah menatapnya, saat penyatuan itu terjadi. Tiba-tiba hatinya mencelos, ia sedih karena sepertinya Kiara tidak menikmati kegiatan ini. padahal seharusnya kegiatan ini dinikmati oleh kedua orang yang sedang melakukannya, bukan hanya satu pihak saja.
Kemudian, Gunawan memberikan gerakan yang cepat, hingga membuat Kiara sedikit mengerang, walau ia tahan.
__ADS_1
“Jangan di tahan, Ra!” ucap Gunawan.
Kiara hanya menggigit bibirnya. “Eum ...”
“Sebentar lagi, aku sampai,” bisik Gunawan, yang tak melihat respon dari sang istri.
Biasanya Gunawan tidak peduli, yang penting ia terpuaskan. Namun, pagi ini ia ingin melihat pelepasan dari istrinya, tapi tak kunjung ada hingga pelepasan Gunawan tiba.
“Arrggg ....” Erang Gunawan dengan kepala yang berada di cerug leher sang istri. Gunawan sengaja menahan tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak menindih perut besar Kiara.
Ia langsung menjatuhkan diri di samping Kiara. Dan, seperti biasa, Kiara langsung bangun untuk kembali beraktifitas.
“Ra, istirahat dulu.” Gunawan mencekal lengan Kiara dari belakang, karena ia masih berbaring.
“Mami menunggu di ruang makan sejak tadi.” Kiara tetap bangun dan perlahan menurunkan kakinya dari ranjang itu.
Gunawan pun langsung terbangun dan dengan sigap berada di samping Kiara untuk membopongnya, membawa Kiara menuju kamar mandi. Ini adalah hal yang tak pernah Gunawan lakukan, biasanya pria itu hanya menatap Kiara yang berlalu meninggalkannya yang masih terbaring lelah dan hanya memperhatikan punggung Kiara yang menghilang hingga balik pintu kamar mandi.
Perlahan gunawan meletakkan Kiara ke dalam bath up.
“Air ini untukmu,” ucap Kiara yang sedari tadi telah menyiapkan air hangat untuk sang suami.
“Tidak apa. Setelah kamu selesai, aku akan mengisinya sendiri.”
Gunawan pergi, setelah mengucapkan kata-kata itu. ia meninggalkan Kiara untuk membersihkan diri. Lalu, ia mengambil pakaian yang teronggok di lantai dan memakainya. Ia beralih ke dapur untuk membuat susu hamil.
Di dalam kamar mandi, Kiara mengingat apa yang dilakukan Gunawan pagi ini. Pria itu sangat berbeda. Gunawan tidak lagi kasar dan menyakiti tubuhnya. Namun tetap, hati Kiara masih sama seperti sebelumnya, karena memang sikap pria itu suka berubah-ubah.
__ADS_1