
Hari berganti. Perhatian Kenan tak pernah berubah. Pria itu tetap menelepon Hanin tiga kali sehari. Tak lupa ia juga mengingatkan sang istri untuk meminum obat hamil, di saat menelepon.
Walau hari itu, Kenan sempat kecewa karena apa yang ia inginkan tidak sesuai harapan. Namun, cintanya pada Hanin perlahan melulukan rasa kecewa itu.
“By, kamu tidak menelepon Mami? Besok acaranya jam berapa?” tanya Hanin.
Ya, sejak makan malam itu, Kenan praktis tidak pernah berkomunikasi dengan Rasti.
“Kalau kamu tidak ingin hadir, tidak apa. Kita tidak datang pun tidak masalah,” jawab Kenan santai.
Kenan hendak bersiap menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Rasanya, lelah sekali seharian berkutat dengan pekerjaan.
“Hubby, aapan sih? Ngga boleh gitu dong. Ini akikahnya Kayla loh. Acara penting, masa kita ga datang. Lagi pula di sana nanti pasti banyak rekan-rekan keluarga kamu yang datang.”
Hanin mendekati suaminya dan duduk di atas ranjang, bersebelahan persis dengan Kenan. Hanin dan Kenan duduk bersandar pada dinding ranjang. Kaki mereka di selonjorkan bersama.
“Aku tidak ingin melihat Mami menyudutkanmu lagi,” ucap Kenan dengan tatapan lurus ke depan.
Hanin pun dalam posisi yang sama. Ia menatap lurus ke depan.
“Dan aku tidak ingin melihat kamu membenci Mami gara-gara aku,” ucap Hanin.
Kenan menoleh ke arah istrinya. “Aku tidak pernah membenci Mami, karena aku sangat menyayanginya.”
Hanin ikut menoleh ke arah Kenan. Mereka bertatapan.
“Aku juga tidak apa-apa, By,” kata Hanin lagi.
“Justru karena kamu diam saat disudutkan, membuat hatiku sakit melihatnya, Sayang.”
“Benarkah? Bukan karena rasa kecewamu yang akan muncul, jika aku disudutkan.”
Hanin bisa sekali membaca pikiran Kenan. Tepat, Kenan memang tidak ingin ada orang yang menyinggung lagi tentang jenis kelamin, karena itu akan membuatnya kembali mengingat rasa kecewa itu. Padahal saat ini, ia sedang berusaha untuk menerima takdir, menerima sesuatu yang akhirnya tidak seperti yang ia inginkan.
“Kamu bisa membaca pikiranku?” tanya Kenan dengan mengeryitkan dahinya.
“Kita bersama mungkin memang belum genap satu tahun. Tapi, aku sudah banyak mengenalmu.”
“Benarkah?” tanya Kenan tersenyum.
__ADS_1
Hanin mengangguk.
Kenan merapatkan tubuhnya pada Hanin. Ia memeluk istrinya. Hanin pun menerima pelukan itu.
“Kamu tahu, sejak kecil aku selalu memiliki plan dan hidupku nyaris berjalan sesuai yang kuharapkan. Kecuali, ketika menikahimu. Menikah denganmu adalah keputusan yang tak pernah ada dalam daftar rencanaku, tapi aku bahagia. Lalu sekarang ..” Kenan menjeda perkataannya.
Di pelukan Kenan, Hanin mendengarkan perkataan suaminya dengan seksama.
“Tuhan memberi aku anak pertama perempuan, padahal sebelumnya aku sudah memiliki plan untuk putra pertamaku. Kami akan belajar olahraga yang penuh tantangan, belajar tentang bisnis, dan memperkenalkannya pada rekan-rekan bisnisku.”
“Memang anak perempuan tidak bisa melakukan itu?” tanya Hanin.
“Ya, bisa. Hanya saja beban itu terlalu berat. Memiliki orang tua hebat dan lahir dari keluarga yang dikenal orang itu tidak mudah, Sayang. Aku pernah merasakannya. Menjadi anak pertama keluarga ini, menjaga kehormatan dan semua asset yang dimiliki, itu tidak mudah.”
“Begitukah?” tanya Hanin lirih.
Kenan mengangguk.
“Jadi aku terjebak ke dalam pernikahan seorang putra mahkota?” tanya Hanin lagi.
“Dan, kamu terjebak oleh cintanya juga,” sahut Kenan.
Kenan pun membalas tatapan itu. Ia menggeleng. “Tidak bisa. Karena kamu sudah masuk ke dalamnya dan tidak bisa keluar.”
Hanin yang lahir dari keluarga sederhana, merasa tidak biasa berada dalam keluarga yang penuh aturan seperti ini. Walau Kenan tidak pernah mengekangnya berteman oleh siapapun dan tidak pernah melarangnya ketika bepergian dengan sahabat-sahabatnya. Namun, sikap Rasti yang selalu menjunjung kehormatan keluarga, terkadang membuat Hanin lelah.
“Bagaimana kalau aku kabur dan merasa lelah berada di keluarga ini?” tanya Hanin iseng.
Kenan membalas tatapan Hanin dengan tajam. “Tidak akan aku biarkan.”
Hanin tertawa. “Ya karena kamu kan pemaksa. Pasti sulit, jika kabur darimu.”
Kenan tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
Kemudian, Hanin sedikit melonggarkan pelukan itu dan kembali menatap Kenan. “Kalau ternyata hingga anak kedua dan ketiga, aku tetap melahirkan anak perempuan. Apa kamu akan menikah lagi?”
"Atau akan ada banyak selir di sekelilingmu. Biasanya putra mahkota seperti itu, bukan?" tanya Hanin lagi.
Kenan terdiam sejenak.
__ADS_1
"Kamu pikir, aku seperti itu?" Kenan balik bertanya.
"Entahlah." Hanin mengerdikkan bahunya.
Walau tidak ada wanita manapun yang bisa menggantikan Hanin di hati Kenan, karena bagi Kenan Hanin adalah wanita pertama dan terakhir untuknya. Tetapi entah mengapa bibirnya sulit untuk menjawab pertanyaan ini.
“Sudahlah, ayo kita tidur! kamu harus istirahat yang cukup.”
Kenan merebahkan tubuh Hanin, bersamaan dengan tubuhnya. Mereka tidur berpelukan. Hanin pun membalikkan tubuhnya dan Kenan melingkarakan tangannya di pinggang Hanin. Kenan memeluk Hanin seperti guling.
“Kamu tidak bisa menjawab,” gumam Hanin dalam hati dan tersenyum kecut, sebelum akhirnya ia pun memejamkan mata.
****
Hari ini adalah hari sabtu. Di kediaman Aditama, pagi-pagi sudah banyak orang berlalu lalang menyiapkan acara akikah Kayla Anastasia, cucu pertama di keluarga ini.
“Mam, kok Kakak dan Hanin belum datang?” tanya Kiara.
Rasti mengangkat bahunya. “Entahlah, harusnya malah mereka sudah menginap sejak kemarin di sini.”
“Mami sih, bikin kakak marah.”
“Marah? Ya, kakakmu sekarang bisa memarahi Mami.”
“Mam,” panggil Kiara lirih.
“Itulah yang Mami tidak suka dengan Kenan sekarang. Dia itu terlalu mencintai Hanin. Terlalu bucin. Dan lihat, rasa cintanya yang berlebihan pada Hanin menjadikan dia seperti ini pada Mami,” ujar Rasti.
“Mami juga keterlaluan. Mami terlalu menekan Hanin untuk mendapatkan anak laki-laki, padahal itu bukan salahnya.”
“Kamu juga membela wanita itu. Ya, Hanin memang baik, dia santun dan penurut, Mami menyukainya. Tapi semakin kesini, dia seperti mengambil semua yang Mami sayangi.”
“Mam, kok mikirnya begitu sih?” tanya Kiara heran pada sang ibu yang dulu tidak seperti ini.
Entah berteman dengan siapa sang ibu, sehingga seperti ini. Yang jelas, Rasti memang masih menjadi anggota dalam kumpulan wanita sosialita dan saat ini justru malah semakin intens melakukan pertemuan.
Rasti terhasut oleh teman-temannya yang membanggakan cucu lelaki mereka, penerus tahta keluarga dan sebagainya. Ia kembali ingat saat memiliki Kenan. Rasti memang merindukan bayi laki-laki.
Beberapa waktu, Kenan memang kerap mengabaikan Rasti, karena sang putra lebih mementingkan Istrinya. Semula ia senang karena melihat putranya bahagia. Semakin hari, Rasti semakin merasa diabaikan dan di nomor duakan oleh putra kesayangannya.
__ADS_1