
Attar tidak tahu bahwa hari ini, kekasihnya menikah. Sejak pagi, ia berdebat cukup panjang dengan Sila dan mengantar wanita itu lagi ke Bandung.
“Kak, aku ngga mau kamu tinggalin,” Sila menahan lengan Attar, ketika Attar membalikkan tubuhnya dan kembali ke Jakarta.
Attar baru saja mengantarkan Sila ke tempat kosnya.
“Kamu tahu, sejak awal aku sudah punya pacar. Dan, sejauh ini kita hanya bersenang-senang.”
“Aku cinta kamu, Kak. Dan, kamu bilang kamu juga mencintaiku.”
“Tapi aku lebih mencintai Rea, Sil. Kamu tahu itu.”
Sila kesal. Ia menghentakkan kakinya. “Kamu jahat, Kak. Padahal aku telah berikan semua untukmu.”
“Aku tidak meminta, kamu yang memberikan.”
Attar pergi meninggalkan Sila yang masih berdiri mematung. Ia ingin segera menemui Rea dan memohon maaf pada kekasihnya itu. Attar yakin, ia akan dimaafkan karena ia tahu bahwa Rea sangat mencintainya.
“Kurang ajar,” teriak Sila sembari menendang satu kakinya ke udara.
Sedangkan Attar sudah berjalan jauh dan sama sekali tak menoleh lagi ke arahnya. Sila pastikan Attar akan memohon meminta kembali padanya, karena menurut Sila hanya dirinya yang tahu bagaimana menyenangkan pria itu.
****
Malam ini adalah malam pertama Rea dan Vicky berada dalam satu kamar. Thia dan Nisa pun masih berada di apartemen Vicky.
Vicky sengaja tak membiarkan kedua adik Rea pulang dan tidur berduaan saja di rumah itu. Alhasil, kini Thia dan Nisa berada di kamar tamu apartemen Vicky. Semua fasilitas yang diinginkan Thia dan Nisa pun Vicky kabulkan. Kedua adik Rea yang sedang beranjak dewasa itu senang bukan kepalang. Mereka seperti menukar sang kakak dengan sejuta kemewahan, walau sesungguhnya tidak seperti itu yang mereka maksud, karena Vicky memang pria yang baik yang pantas untuk kakaknya.
Usai membersihkan diri di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Vicky itu, Rea membuka lemari yang berada di dalam sana. Ia mencari baju tidur. Sebelumnya, Vicky bilang kalau pria itu sudah membelikan beberapa pakaian untuknya termasuk pakaian tidur. Namun, yang terdapat di sana pakaian tipis yang tidak pernah Rea gunakan seumur hidupnya.
“Ya ampun, ini baju apaan sih,” Rea terus melihat pakaian itu satu persatu.
Semua pakaian itu berbahan sangat tipis dan menerawang, hanya pada bagian tertentu saja, bahannya agak sedikit di pertebal untuk menutupi, tapi selebihnya semua terbuka.
Akhirnya, Rea mengambil handuk dan melilitkan handuk tubuhnya. Handuk yang tidak terlalu besar, yang hanya tertutup hingga bagian b*k*ngnya saja. Kaki jenjang Rea yang mulus itu tak tertutup apapun.
Rea membuka pintu kamar mandi sedikit, memastikan Vicky belum berada di kamar ini. Entah kemana pria itu pergi? Tapi syukurlah, dengan begitu ia dapat keluar dan memilah baju yang ada di lemari besar sana. siapa tahu ada pakaian lebih baik dari pakaian yang ada di lemari dalam kamar mandi tadi.
Tanpa Rea ketahui, ternyata Vicky sedang menerima telepon dari Vely di balkon kamar itu. Cukup lama, Vicky berbincang dengan adik perempuannya yang menetap di Australia. Rea juga cukup laam berdiri di depan lemari besar untuk mencari apa yang ia butuhkan. Tapi lagi-lagi pakaian tidur yang biasa ia gunakan tidak ada di sini.
Biasanya, Rea tidur dengan menggunakan piyama atas bawah berlengan pendek dan bercelana panjang. Tapi di sini, pakaian tidur semacam itu tidak ada.
Usai Vicky berbincang dengan adiknya di telepon. Ia pun masuk ke dalam dan menutup pintu balkon pelan. Ia dapat melihat dengan jelas, kaki jenjang yang mulus itu, serta bahu Rea yang terbuka. Vicky meneguk ludahnya kasar. Tapi ia tetap harus perlahan menjinakkan Rea.
Vicky berjalan ke arah Rea yang sedang berdiri menghadap lemari besar itu dan membelakanginya.
“Kamu cari apa?” tanya Vicky yang mengagetkan Rea.
“Ah.” Rea terkejut hingga menjatuhkan lingeri yang ia pegang. “Ngagetin aja sih, Om.”
Vicky tertawa. Rea masih saja memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Sumpah, Vicky seperti sedang menyewa ****** kecil malam ini.
__ADS_1
“Di dalam sudah aku siapkan pakaian tidur untukmu,” kata Vicky santai sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
“Seperti ini?” tanya Rea memperlihatkan lingeri yang ia pegang itu.
Vicky mengangguk. Matanya tak lepas dari tubuh mulus dan putih itu.
“Ngga ada model lain apa? Masa seperti ini semua.”
“Memang kamu cari baju tidur yang seperti apa?” tanya Vicky.
“Piyama atas bawah yang celananya panjang dan atasannya panjang atau pendek juga boleh.”
“Yang bergambar doraemon atau hello kitty?” sambung Vicky.
Rea pun mengagguk. Lalu, Vicky tertawa.
“Apaan sih, malah ketawa. Ngga lucu,” ucap Rea kesal, kemudian ia kembali membalikkan tubuhnya ke arah lemari dan mencari pakaian yang layak untuk dipakai.
Vicky pun mendekat ke arah Rea yang kembali membelakanginya. Ia langsung melingkarakn kedua tangannya pada pinggang Rea da mengecup bahu terbuka itu, lalu dengan cepat Vicky menggingit bahu Rea. Entah mengapa ia gemas melihat kulit mulus itu.
“Aww ...”
Bugh
Siku kanan Rea langsung mengantam perut Vicky.
“Ah, sakit Re.”
“Aku juga sakit, Om.” Rea memegang bahunya yang digigit Vicky.
“Lagian, Om sih. Ngapain gigit bahu Rea segala.”
Vicky kembali duduk di tepi ranjang sembari memegang perutnya dan Rea ikut menghampiri suaminya lalu memegang perut itu.
“Lagian, kamu dari tadi ngga pake baju. Bikin aku kepengen aja.”
“Ck ..” Rea melepas tangannya dari perut Vicky dan berdiri. “Dasar mesum.”
Rea pun pergi ke kamar tamu untuk menemui Thia dan meminta baju tidur milik adiknya itu. Kebetulan postur tubuhnya dan Thia tidak jauh berbeda.
“Kakak, ngapain? Ya ampun masih pake handuk lagi,” kata Thia yang mendapati sang kakak masuk ke kamar itu.
“Kamu bawa baju ganti kan?” tanya Rea.
Thia mengangguk.
“Kakak pinjem piyama kamu donk!”
Kemudian, Rea duduk di tepi tempat tidur itu dan mengelus kepala Nisa yang sudah terlelap.
“Baru aja Thia mau pakai, ya udah buat kakak aja.”
__ADS_1
“Terus kamu pakai apa?” tanya Rea.
“Kebetulan, Thia juga bawa kaos oblong sama legging panjang hitam.”
“Oh, baguslah.”
Lalu, Thia memberi piyama miliknya yang bergambar minion. Rea pun menerima piyama itu dan memakainya.
“Emang Om Vicky ngga beliin kakak baju tidur?” tanya Thia sembari melihat pergerakan sang kakak yang tengah memakai piyama miliknya.
“Ngga enak, bajunya ke buka banget.”
Thia tertawa.
“Eh, jangan mikir macem-macem. Masih kecil.”
“Ngga, kok,” ucap Thia yang tahu pakaian seperti apa yang kakaknya maksud, karena Thia sempat melihat baju itu ketika ia kepo membuka lemari yang ada di dalam kamar mandi Vicky.
Setelah memakai piyama di kamar Thia, Rea kembali ke kamarnya. Sebenarnya ia enggan kembali ke kamar ini. Ia masih belum siap untuk melakukan malam pertama.
Ceklek
Perlahan Rea membuka pintu kamar itu dan tidak mendpati sosok om mesum yang tadi menggingit bahunya. Namun, ia mendengar geemricik air dari balik pintu kamar mandi, menandakan bahwa Vicky sedang membersihkan diri di sana.
Rea berdiri di depan cermin. Ia melihat bahunya yang digigit Vicky tadi. “Aww ... sakit.”
Rea mengelus bahu yang berwarna keunguan itu. “Kurang kerjaan banget sih tuh Om, ngegigit orang sembarangan.” Gerutu Rea.
Kemudian, Rea beralih ke tempat tidur dan merebahkan diri di sana. Sebelum si om mesum jelek itu keluar dari kamar mandi, sebaiknya Rea tidur terlebih dahulu. Rea pun langsung menarik selimut tebal itu dan membungkus tubuhnya.
****
Keesokan paginya, Rea bangun sembari membentangakan tangannya ke atas. Ia melihat sisi di samping tempat tidur itu ternyata kosong. Tidak ada Vicky di sana dan di area kamar ini. Namun, ia mendengar tawa dari luar. Ya, tawa suara Thia dan Nisa yang sedang bercengkrama dengan suaminya.
Rea hendak bangkit dari tempat tidur, tapi saat ia masih duduk dan menjuntaikan kakinya menyentuh lantai, ia sadar sesuatu.
"Hah." Rara menutup kancing piyamanya yang terbuka dua kancing sari atas, sehingga mempertontonkan dua gunung kembarnya yang tak menggunakan bra.
Setiap tidur, Rea memang tidak menggunakan benda itu.
Kemudin, Rea menunduk dan melihat banyak bercak merah keunguan di area belahan dada hingga payud*r*nya.
"Hah." Rea kembali terkejut dan menutup dadanya lalu berlari ke cermin.
Rea meneliti area tubuhnya. Ternyata warna itu sama seperti warna yang tercetak di bahu karena gigitan om mesum itu.
"Ya ampun," resah Rea karena ternyata warna seperti itu ada di beberapa bagian leher dan tulang selangka.
"Aaa ... om mesum jelek," teriak Rea.
Sudah pasti ini ulah suaminya semalam. Rea memang dikenal tidur bagai kerbau. Sekencang apapun alarm berbunyi, ia pasti tidak bangun. Bahkan gempa kecil di tengah malam pun, ia tak menyadari. Dan semalam, ketika Vicky menggerayangi tubuh atasnya serta memberi kissmark pun, ia tak sadar.
__ADS_1
Salah siapa?
Di luar kamar, Vicky mendengar teriakan itu. Ia hanya tersenyum lebar sembari menyiapkan sarapan bersama Thia dan Nisa.