Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Keadaan genting


__ADS_3

Pagi ini, matahari belum menampakkan diri. Di luar, suasana masih tampak gelap, walau satu jam lagi kemungkinan matahari mulai menampakkan diri. Namun, Hanin terbangun lebih dulu. Ia memandang wajah Kenan dan mengelus pipinya lembut. Ia tersenyum, pria yang dulu sangat ia benci kini menjadi ia sayangi. Sebelum beranjak dari tempat tidur, Hanin mengecup pipi Kenan. Lalu, kecupan itu turun ke bibir Kenan yang sedikit berwarna merah, karena Kenan adalah pria yang tidak pernah merokok.


Kenan merasakan kecupan itu. Ia pun menahan pinggang istrinya dan satu tangan lagi menahan tengkuk Hanin, agar ciuman itu menjadi lebih lama.


“Eum ….” Hanin dan Kenan saling mengecap, ******* bibir, dan membelit lidah.


Setelah puas, mereka pun menyudahi ciuman itu.


“Aku kira kamu belum bangun,” kata Hanin.


“Kamu membangunkanku dan membangunkan ini.” Kenan menangkap tangan Hanin untuk menyentuh miliknya.


Sontak, Hanin menarik tangannya. “Apaan sih, Ken.” Ia tersenyum geli, karena sang suami benar-benar tidak pernah puas.


Lalu, Hanin segera turun dari tempat tidur. Namun, Pinggangnya Kembali di tangkap oleh Kenan dan menindihnya.


“Satu lagi, please.” Kenan memasang wajah memelas. “Anggap saja ini rapel, karena besok malam kita tidak tidur bersama.”


Hanin tertawa. “Bisa begitu?”


Kenan pun tersenyum dan Kembali memasang wajah innocent. “Ya ...”


“Hmm … kasih ngga ya.”


“Kelamaan.” Kenan langsung melahap dua bukit kembar yang belum terbalut apapun, padahal semalam Kenan sudah mendapatkan yang ia mau.


Alhasil, mereka pun Kembali bergelut. Hanin kembali melayani gairah besar sang suami yang tidak pernah merasa puas akan tubuhnya. Ia hanya pasrah dan menuruti apa yang Kenan inginkan.


Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi mereka masih dalam penyatuan dan saling memberi nikmat. Kali ini, Kenan benar-benar agresif. Pria itu melakukannya dengan sedikit kasar. Namun, Hanin tetap menyukainya. Kemudian, lima belas menit kemudian, akhirnya Kenan menyerah, setelah Hanin mengambil alih permainan itu.


Hanin pun ambruk di samping tubuh sang suami yang sedang menyandarkan tubuhnya di dinding tempat tidur. Kenan mengusap keringat yang menempel di dahi sang istri sembari menoleh ke arahnya.


“Terima kasih, Sayang.”


Hanin mengangguk dan tersenyum. “Pagi ini, kamu kalah.”


Kenan membalas senyum itu. “Ya, kamu semakin hebat, sekarang.”


Hanin tersenyum dan berusaha bangkit dari tempat tidur itu. "Udah ah, jadi malu.”


Ia segera berlalu untuk membersihkan diri, pagi ini tubuhnya benar-benar lengket, karena ulah sang suami.


Bibir Kenan terus menyungging senyum, saat melihat sang istri dengan malu berlalu ke kamar mandi.


****


“Muaachh.” Kenan mengecup pipi sang istri, saat Hanin tengah menyiapkan sarapan pagi.


Ia merapihkan dasinya sembari berdiri di samping Hanin dan menyandarkan tubuhnya di kitchen set dengan menghadap ke arah sang istri.


Kemudian, Hanin melirik ke arah Kenan yang hendak memasangkan dasinya. Ia meninggalkan omelet yang sedang ia tata untuk di sajikan pada sang suami. Tangan Hanin beralih pada dasi yang hendak Kenan pakai.


“Sini aku bantu.” Hanin meraih dasi itu dan memakaikannya.


Kenan pun sedikit menunduk, agar Hanin dapat leluasa memasangkan dasi itu. Ia menatap lekat wajah sang istri, karena wajah Hanin tepat berada di hadapannya tanpa jarak. Ia tak habis pikir, mengapa bisa-bisanya ia menyukai selingkuhan suami adiknya.


Ini adalah hal tergila dalam hidup Kenan. Ia tak tahu bagaimana reaksi ibu dan adiknya nanti. Namun, ia akan menghadapinya. Apapun yang terjadi, Hanin patut untuk di perjuangkan, karena sang istri berbeda dari wanita yang lain dan wanita seperti Hanin lah yang ia inginkan.


“Sudah.” Hanin menepuk dada Kenan.


“Sepertinya ini belum rapih,” alasan Kenan yang masih ingin menatap sang istri lebih lama.


“Mana? Sudah rapih kok.” Hanin malah serius menatap dasi yang telah ia pasang di dada suaminya.


Kenan terkekeh geli. Sang istri mudah sekali di bohongi, pantas saja ia dengan mudah di bohongi oleh Gunawan yang memang playboy kelas kakap.


“Belum, ini belum rapih. Sepertinya harus di ulang.” Kenan malah menarik dasi itu kembali sehingga menjadi berantakan lagi.


“Ih, kok digituin? Malah jadi berantakan lagi, Ken Ken.” Hanin menatap kesal ke arah Kenan.


“Karena kamu pasangnya belum rapih. Rapihin lagi.” Kenan membusungkan dadanya.


“Ck, ribet.”


Kenan kembali tertawa. Ia suka melihat wajah Hanin yang kesal, karena semakin membuatnya gemas.


Ting Tong.


Suara bel apartemen Kenan berbunyi.


Hanin hampeir selesai memasangkan dasi itu kembali.


Ting Tong.


“Iya tunggu,” teriak Hanin. “Siapa sih? ngga sabaran banget.” Gerutu Hanin, karena sedetik lagi ia selesai memasangkan dasi itu.


“Marah-marah mulu sih, nanti cepet tua loh,” ledek Kenan sembari mencubit ujung hidung Hanin, setelah dasi itu terpasang sempurna.

__ADS_1


Kemudian, Kenan meninggalkan Hanin di dapur untuk membuka pintu.


“Hai.” Kenan menyapa kedua Wanita yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


“Hai.”


“Hai.”


“Ayo masuk!” Kenan menyuruh kedua Wanita itu masuk ke dalam apartemennya.


“Di mana Hanin?” tanya salah satu Wanita itu.


“Ada di dapur, sebentar aku panggilkan.” Kenan meninggalkan kedua Wanita itu dan kembali menghampiri sang istri yang masih berada di dapur.


“Ada siapa, Ken? Vicky ya?” tanya Hanin saat melihat suaminya tengah menghampiri.


“Tamu kamu.”


“Tamu aku? Siapa?” tanya Hanin bingung, pasalnya tidak ada teman ataupun saudara yang tahu keberadaannya saat ini. Ia seperti tengah menjadi istri simpanan pengusaha muda yang sukses dan terkenal itu.


“Sini, aku bawakan makanan itu. Kamu temui tamumu di luar.” Kenan mengambil alih piring-piring yang akan Hanin bawa ke meja makan.


Perlahan, Hanin melangkahkan kakinya keluar. “Ada siapa sih, Ken?”


“Lihat saja,” ucap Kenan sembari meletakkan piring itu di meja.


“Ibumu dan Kiara?” tanya Hanin takut.


Kenan menggeleng. “Ngga mungkin.”


“Ngga mungkin ya?” Hanin bergumam sendiri dan ia melihat kedua Wanita itu.


“Hanin.” Teriak kedua Wanita itu bersamaan saat mereka melihat Hanin.


“Aaaaa ….” Teriak Hanin tak percaya sembari menutup mulutnya. “Irma, Karmen.”


Kenan mendekati sang istri dan merangkul bahunya.


“Ken, mereka?” tanya Hanin pada sang suami sambil menunjuk ke arah Irma dan Karmen yang sudah berdiri di hadapannya.


Kenan mengangguk. “Mereka kesini untuk menemanimu selama aku pergi.”


“Aaaaa ….” Hanin teriak lagi, sembari menghamburkan pelukan ke tubuh sang suami.


“Eum … kamu sweet banget sih, Ken. Sepertinya aku jadi semakin cinta.” Hanin kembali memeluk Kenan dan mengecup seluruh wajahnya.


Kenan hanya tersenyum senang, saat sang istri memperlakukannya seperti itu. Memang sangat mudah membuat sang istri bahagia. Tidak perlu dengan membeli barang branded atau limitid edition seperti Vanesa. Bertemu sahabatnya saja, Hanin sudah kegirangan seperti ini.


Sontak, Hanin melepaskan pelukannya pada sang suami. Ia pun langsung menghamburkan pelukan pada kedua sahabatnya itu.


Mereka pun berpelukan bertiga.


“Kangen.” Hanin mengeratkan pelukan ke kedua sahabatnya itu.


“Hmm … gue juga kangen, lu tiba-tiba menghilang, Han.” sahut Irma.


“Gue apalagi,” ucap Karmen.


Ketiga Wanita ini terdengar ramai dan heboh. Sedangkan, Kenan hanya bisa menggelengkan kepala, melihat para wanita itu.


Setelah puas berpelukan, Hanin dan Kenan mengajak kedua wanita itu sarapan Bersama. Mereka duduk di meja makan. Lalu, tak lama kemudian Kenan pun pamit.


“Irma, Karmen. Tolong jaga Hanin ya!”


“Siap, Pak,” jawab Irma.


“Beres, Mr. Kenan,” sahut Karmen.


“Baiklah, Sayang. Aku tinggal ya.” Kenan tersenyum ke


arah Hanin dengan tangan yang tetap merangkul bahunya.


“Aku antar sampai pintu.” Hanin mengikuti Langkah suaminya hingga keluar.


“Sayang, jangan keluar dari apartemen ini. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, minta tolong Karmen.” Kenan tidak menyebut irma, karena karyawannya itu tengah hamil tua dan tidak mungkin wara wiri sendiri.


Hanin mengangguk. “Kamu juga sering kabari aku.”


“Itu pasti,” jawab Kenan tersenyum. “Aku pasti akan merindukanmu.”


“Aku juga.”


Kenan mencium bibir Hanin sekilas dan Hanin pun membalasnya.


“Aku menunggumu. Semoga urusanmu di sana cepat selesai,” ucap Hanin.


"Aamiin." Kenan tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Lalu, melambaikan tangannya dan meninggalkan Hanin yang masih berdiri di pintu. Ia melihat punggung sang suami yang kian menjauh.


Hanin kembali masuk ke dalam dan menutup rapat pintu itu kembali. Ia melihat kedua sahabatnya tengah bertolak pinggang.


“Gue butuh penjelasan,” ucap Karmen yang baru mengetahui bahwa Hanin istri dari Kenan Aditama.


“Gue, apalagi. Ternyata waktu lu di seret keluar dari kantor itu bukan karena di pecat, tapi malah di bawa ke apartemen mewah ini. Luar biasa,” ledek Irma.


Hanin tertawa. “Tenang-tenang, gue akan cerita semuanya. Tapi ngomong-ngomong, kalian di izinin suami kalian buat nemenin aku di sini?”


“Bukannya Aa Rizky paling ngga bisa di tinggal ya?” Hanin menunjuk pada Irma, karena suami Irma memang tidak pernah bisa jauh dari istrinya, apalagi sang istri tengah hamil tua.


“Terus, Karmen. Kak Yudha kasihan dong, harus ngurusin Yuki sendirian,” ucap Hanin lagi, kali ini ia melirik ke arah Karmen.


“Yah, mau gimana lagi? Kenan bos gue. Dia ngasih gue bonus gede banget buat nemenin lu di sini,” jawab Irma.


“Kalo gue, untung si Yuki lagi di rumah oma nya dan lu tahu lah, Kenan itu pelanggan vvip di club suami gue. Jadi Yudha malah yang nyuruh gue ke sini.”


Hanin tertawa. “Ya ampun, ternyata sebesar itu pengaruh dia.” Hanin tak percaya memliki suami yang tajir melintir.


“Lu bener-bener dapet kelas kakap, Han. Luar biasa,” ujar Karmen.


“Iya, loh. ngga nyangka gue. Eh tapi Kenan bukannya punya tunangan ya? Model kan? Siapa deh namanya?” tanya Irma.


“Vanesa,” jawab Karmen.


“Ya udah, mending kita ngobrol di balkon aja yuk!” Hanin mengajak kedua sahabatnya ke balkon besar yang berada dekat dengan ruang televisi.


Ia pun menceritakan semua tentangnya dan Kenan. Sebelumnya, kedua sahabat Hanin itu tahu tentang nasib Hanin yang sempat terombang ambing karena ulah Gunawan yang di ketahui sudah beristri dan memiliki kakak ipar yang psyco. Hanya saja mereka todak tahu siapa pria psyco yang telah membuat Hanin sempat menderita dan pergi ke sana kemari untuk menjauh.


“Jadi cowok psyco itu, Kenan? Bos gue?” tanya Irma.


Hanin mengangguk. “Dan, gue malah masuk perusahaannya dia.”


“Gila, cerita hidup lu udah kaya di novel, Han.” Karmen menggelengkan kepalanya.


****


Di Jakarta, Gunawan pagi-pagi menyambangi kediaman utama keluarga Aditama.


“Kiara … Kiara …” Gunawan memanggil nama istrinya sembari berteriak.


Kiara pun langsung keluar dari rumah itu. “Ada apa, Mas?”


“Aku butuh penjelasanmu.”


“Penjelasan apa?” tanya Kiara bingung.


“Ada hubungan apa antara kamu dan Vicky?”


Sontak, Kiara membeku.


Tak lama kemudian, Vicky pun datang dan memarkirkan mobilnya di sana. Gunawan dan Kiara yang sedang berdiri di teras rumah itu pun melihat ke arah Vicky yang baru saja keluar dari mobil.


“Nah, kebetulan dia juga ada di sini,” ucap Gunawan.


Kiara menatap Vicky dan memberi kode agar pria itu segera pergi. Vicky pun melirik ke arah Kiara. Ia tahu kode yang di maksud Kiara. Namun, ia tak ingin lagi menjadi pria pengecut.


“Ada apa, Gun?” tanya Vicky sembari melangkahkan kakinya untuk menghampiri kedua orang itu.


“Ada apa antara kalian?” Gunawan balik bertanya.


“Apa sih kamu, Mas. Datang-datang membuat keributan. Nanti di dengar Mami.”


“Aku butuh penjelasan, Kiara. Lagi pula buat apa pria ini datang pagi-pagi ke sini." Kenan menghentakkan dada Vicki. "Lu pengen ganggu istri gue? Hah!” Arah mata Gunawan menatap tajam ke arah Vicky.


“Istri? Sejak kapan lu menganggap Kiara istri lu. Apa karena dia saat ini sedang hamil anak lu, terus baru lu sebut dia istri.”


Gunawan semakin tersulut emosi. Ia meraih kerah kemeja Vicky dan meremasnya. “Ngga usah jadi pahlawan kesiangan.”


“Mas, Jangan!” Kiara mencoba melerai pertikaian antara Gunawan dan Vicky.


Mendengar keributan, Rasti pun keluar dari kamar dan kakinya melangkah ke pintu utama.


“Haduh, ada apa ini?” tanya Rasti histeris, saat mendapati kedua pria itu hendak berkelahi.


“Mami.” Gunawan melepaskan tangannya pada kerah baju Vicky.


Jika Vicky dan Gunawan bergelut, sudah pasti Gunawan akan menang karena postur tubuh suami Kiara itu lebih tinggi dan lebih tegap di banding asisten Kenan itu.


“Mengapa kalian bertengkar? Bukankah kalian bersahabat?” tanya Rasti.


“Mam, aku tahu siapa istri Kenan dan dia juga tahu, karena dia adalah saksi di pernikahan itu,” ucap Gunawan sembari melirik ke arah Vicky.


Vicky pun membalas tatapan tajam itu. Entah apa yang ada di pikiran Gunawan. Vicky tidak mengerti.


“Gue akan memberitahu siapa Wanita yang dinikahi Kenan pada Mami, kalau lu ngga bicara ada hubungan apa antara lu dan istri gue dulu.” Ancam Gunawan pada Vicky, membuat posisi Vicky terjepit.

__ADS_1


Kiara dan Rasti pun menatap ke arah Vicky.


Sementara, Kenan masih dalam perjalanan menuju rumah sang ibu. Walau semula ia ingin ke kantor dan setelah jam pulang kerja ia baru akan menemui sang ibu. Namun, mendadak hatinya tak tenang. Ia ingin segera menemui sang ibu detik ini juga. Ternyata, di rumah itu memang keadaan sedang sangat genting.


__ADS_2