
Vicky melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk menjenguk Kiara yang baru saja melahirkan seorang putri. Semula ia ingin ke rumah sakit bersama Kenan. Namun, pertemuannya dengan salah satu petinggi pemerintahan untuk keperluan birokrasi, lumayan cukup memakan waktu yang lama.
Vicky mengemudi mobilnya dengan cepat. Mobil yang baru saja Kenan belikan untuknya sebagai pengganti dari mobil yang terbakar itu.
Wushhh ...
Mobil Vicky menyalip di antara keramaian kendaraan roda dua dan roda empat. Namun, tanpa di sengaja, kaca spion luar mobil Vicky mengenai kaca spion motor matic yang ada di sebelahnya.
Vicky hanya menengok ke samping, tempat kaca spion itu tidak bergeser, karena kaca spion mobil Vicky memang cukup kuat dan hanya bisa digerakkan otomatis. Ia pun melihat ke arah kaca spion, bahwa motor yang bersenggolan itu dalam keadaan baik dan tidak terjatuh. Akhirnya, Vicky tetap melajukan mobilnya seperti semula.
Selang beberapa menit, Vicky di kejar oleh pengendara kendaraan roda dua itu.
“Hei, keluar lu. Dasar ga tanggung jawab,” ujar pengemudi motor matic itu.
Vicky menoleh ke arah jendela, ia melihat pengendara itu yang mencoba memepetkan motornya pada mobil Vicky dan berusaha menghentikan jalan Vicky.
Akhirnya, Vicky pun memelankan mobil dan menepi. Ia berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi. Pengendara motor matic itu pun memberhentikan motornya persis di depan kap mobil Vicky.
Vicky dengan santai menatap motor itu dari jendela depan, karena motor itu memang berhenti persis di depannya. Pengendara yang masih duduk di atas motornya itu pun membuka helm. Rambut panjang yang semula tak terlihat itu pun langsung tergerai.
“Oh, cewek. Pantes,” gumam Vicky.
Ia memang sering melihat pengendara wanita yang marah-marah di jalan, padahal jika sesama pengendara laki-laki, hal seperti itu sangat wajar terjadi di jalanan.
Wanita itu pun dengan gagah berjalan menuju pintu mobil Vicky.
Vicky langsung membuka kaca jendelanya.
“Hei, kalo jalan yang bener,” ucap wanita yang terlihat dari wajahnya kalau wanita itu masih belia.
“Maaf, aku buru-buru.”
“Semua orang juga pengen cepet sampe rumah, bukan lu doang.”
“Okey, sorry,” ucap Vicky lagi.
Memang saat ini tengah terjadi traffic jam, karena kebetulan ini adalah waktunya semua orang kantor kembali ke rumah.
“Sorry, sorry. Gue ngga terima, lu harus tanggung jawab,” ujar wanita itu sembari melihat ke sekeliling interior mobil Vicky yang terbuka.
Vicky pun melihat bola mata wanita itu yang sedang menjelajah isi di dalam mobilnya.
“Emang kamu jatuh?” tanya Vicky santai.
__ADS_1
Di kota besar seperti ini, memang banyak terjadi modus yang menggunakan cara seperti ini. walau memang pengendara roda empat selalu disalahkan, jika bersinggungan dengan pengguna kendaraan roda dua. Apalagi, terlihat mobil yang dibaa Vicky bukanlah mobil biasa. Mobil Vicky tergolong mobil mewah keluaran Eropa.
“Ngga sih, tapi tetep gue merasa dirugiin.”
“Rugi apa?” tanya Vicky.
Wanita itu pun kembali berjalan ke motornya, lalu mengambil sesuatu. “Nih, lihat!”
Wanita itu menunjukkan kaca spion motornya yang sudah terlepas dari sana.
“Ah, aku ga percaya kalo senggolan tadi sampe bikin kaca spion kamu seperti ini,” kata Vicky yang masih tidak percaya bahwa senggolan yang tidak keras tadi mengakibatkan hal sedemikian rupa.
“Yee, ga tanggung jawab kan lu,” ujar wanita itu.
Wanita itu memang cantik, tapi tertutupi karena gaya bicaranya yang asal dan sedikit kasar.
“Ya udah, aku tanggung jawab.” Vicky mengeluarkan dompet dan hendak memberikan tiga lembaran uang berwarna merah.
“Gw ga mau uang tunai. Gue mau kartu nama, karena motor gue harus di bawa ke bengkel.”
“Kamu meras aku?’ tanya Vicky yang mulai kesal.
Ia pun keluar dari mobil. Kebetulan tidak ada pihak lain yang ikut memperkeruh pertikaian mereka,
“Motor kamu emang udah banyak yang rusak. Di sini, di sini.” Vicky menunjuk lampu sebelah kanan yang sedikit retak dan bodi sebelah kiri yang tergores panjang cukup dalam.
“Enak aja, minta ke bengkel. Terus aku yang tanggung jawab,” ucap Vicky lagi.
“Dasar, orang kaya pelit,” umpat gadis itu.
“Aku bukan pelit, tapi realistis. Ini namanya pemerasan. Kamu bisa aku tuntut.” Vicky melangkahkan kaki mendekati gadis itu dan berkata persis di depan wajahnya, sembari mengacungkan telunjuk di depan wajah manis itu.
“Gue ngga takut!” tantang gadis itu dengan membulatkan matanya. “Lu emang udah salah, dari tadi ngendarain mobil kenceng, padahal ini bukan jalan tol.”
Vicky meneliti penampilan gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kalau di lihat gadis ini memang tidak jelek. Malah bisa di bilang cantik, walau agak sedikit galak.
Vicky mulai tersenyum licik.
“Nama kamu siapa?” tanya Vicky.
“Andrea, biasa di panggil Rea.”
Vicky mengangguk, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku. “Berapa nomor ponselmu?”
__ADS_1
Rea pun tersenyum bersemangat. Akhirnya, ada kesempatan untuk membenarkan motor kesayangannya yang sedikit rusak tanpa mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. Kemduian, Rea mengucapkan nomor ponsel miliknya pada Vicky.
Vicky mengetikkan nomor ponsel gadis itu. Hingga akhirnya, mereka pun bertukar nomor selular.
“Oke, aku akan tanggung jawab. Silahkan bawa motormu ke bengkel dan aku akan bayar semuanya.” Vicky kembali mendekatkan tubuhnya pada wanita itu. “Setelah motormu selesai diperbaiki, aku akan kirimkan alamat apartemenku. Kamu serahkan bill dari bengkel itu dan aku akan membayarnya.”
"Oke." Gadis itu tersenyum lebar dan menampilkan ibu jarinya ke atas.
Vicky memajukan sedikit tubuhnya lagi dan sedikit mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. “Tapi setelah itu, layani aku.”
Gadis itu pun langsung membulatkan matanya lebar. “Kurang ajar, dasar om om mesum.”
Rea mendorong dengan keras tubuh Vicky agar menjauh. Vicky pun tertawa.
Namun, gadis itu terus memukul tubuh Vicky yang sudah sedikit menjauh. Ia belum puas memukul pria mesum yang melecehkannya itu, walau masih sekedar kata-kata.
Vicky terus tertawa geli. Ia pun menutup mulutnya untuk mencoba memberhentikan tawanya, tetapi ia tetap tertawa.
“Sudah cukup! Dasar omes, otak mesum. Sono minta sama bini lu.” Rea masih mengumpat. Ia sungguh kesal.
Lalu, dengan cepat Rea menaiki motornya.
“Hei, katanya aku harus tanggung jawab,” teriak Vicky, karena gadis itu sudah duduk di atas motornya.
“Naj*s. Gue males berurusan sama om om mesum. Yang ada nanti gue di labrak sama bini lu.” Gadis itu memundurkan motornya dan berusaha untuk kembali melajukan kendaraan itu, menghindari Vicky yang sedang tersenyum licik ke arahnya.
Sekarang, keadaan malah berbalik. Semula, gadis itu berlagak menjadi wanita gagah dan kuat. Namun, kini ia seperti orang yang ketakutan. Padahal, Vicky pun tidak serius dengan ucapannya. Ia hanya mengerjai gadis belia itu. Gadis yang mungkin baru berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Mungkin, dia baru lulus SMA dan baru mulai masuk perkuliahan.
Vicky menahan setir motor itu dan berdiri di depannya. “Hei mau kemana, Rea? Urusan kita belum selesai bukan? Aku belum bertanggung jawab.”
“Ngga perlu. Terus, ngga usah manggil nama gue. Dasar pria stres. Minggir ngga!” gadis itu semakin kesal, karena Vicky menghalangi jalannya.
“Oke.” Vicky mundur dan tersenyum. Ia memberi jalan pada gadis itu.
“Hei, nanti aku akan meneleponmu, Rea.” Vicky menempelkan ibu jari dan jari kelingkingnya di telinga.
Gadis itu pun menoleh dan mengerutkan bibirnya. “Dasar stres!”
Rea menyesal karena telah memberi nama dan nomor pribadinya pada pria yang menurutnya teramat mesum itu. Sungguh, ia merasa terhina atas kata-kata Vicky sebelumnya tadi, walau ia pun salah karena telah memanfaatkan keadaan, hanya karena melihat mobil mewah yang dikendarai Vicky.
Vicky pun kembali tertawa dan menggelengkan kepala. Gadis itu memang lucu. Sok galak, padahal penakut.
“Dasar gadis aneh! Bisa-bisanya dia mau ngerjain gue,” gumam Vicky sembari melangkahkan kakinya menuju pintu mobil dan kembali masuk.
__ADS_1
Vicky kembali menyalakan mesin itu dan melaju ke tempat tujuan semula. Ia semakin terlambat sampaj ke rumah sakit, karena gadis aneh itu.