
Hanin membuka matanya lebih dulu. Ia merasakan tangan kekar itu melingkar di perutnya. Hanin bergerak dan menoleh ke belakang. Ia melihat Kenan tertidur pulas. Perlahan bibir Hanin pun tersenyum. Ia tak pernah menyangka akan menjadi istri pria ini. Pria paling menyebalkan yang selalu melecehkannya setiap kali bertemu. Namun, kini perlakuan pria di hadapannya ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya dulu.
Hanin mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah itu dan mengusap rambut ikalnya. Hanin terkejut, karena saat menyentuh kening Kenan, tangannya merasa panas.
“Ken, kamu demam?” tanya Hanin lirih, sembari terus memegang wajah Kenan dan menangkupnya. Namun, mata Kenan tetap tertutup.
“Pi, maaf Ken tidak bisa menjaga Kiara,” gumam Kenan lirih di sela tidurnya. Matanya masih tertutup rapat tapi bibirnya terus bicara.
“Hei, kamu demam, Sayang.” Hanin merangkul kepala Kenan dan memeluknya
Hanin dapat merasakan betapa Kenan adalah pria yang baik. Ia begitu bertanggung jawab terhadap sang adik. Lalu, Hanin kembali melepaskan pelukan itu. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan melangkah ke dapur untuk mengambil air hangat yang tidak terlalu panas. Kemudian, ia kembali ke kamar dan mengambil handuk kecil untuk mengompres dahi Kenan.
“Mami harus terima Hanin. Aku mencintainya.” Kenan kembali bergumam.
Seketika, Hanin terharu mendengar gumaman itu. ia meletakkan baskom steinles yang berisi air hangat dengan handuk yang telah di rendam di dalamnya ke meja kecil yang berada di samping Kenan.
“Aku sangat mencintainya, Mami.” Gumam Kenan lagi dengan mata yang masih terpejam.
“Hei, aku juga mencintaimu,” ucap lembut Hanin, sembari menempelkan pipinya pada pipi Kenan yang panas.
Lalu, ia membuka pakaian Kenan hingga menyisakan boxernya saja. Dengan telaten, ia mengompres bagian-bagian lipatan tubuh Kenan. Sesekali ia pun memeluk tubuh kekar itu. Pria arogan ini seketika menjadi rapuh.
Rasa kecewa, kesal, sedih, dan khawatir, kini menjadi satu. Hal itu yang membuat Kenan menjadi sedikit rapuh. Ia kecewa dengan sang adik dan orang yang selama ini ia percaya. Kenan tak menyangka adiknya yang manja dan lembut, mampu berbuat licik seperti itu. Ia pun tak menyangka sahabat yang ia percaya juga mampu menusuknya. Kemudian rasa khawatir muncul karena hingga saat ini, sang ibu masih berharap dirinya bersama anak dari sahabatnya itu. Kenan khawatir sang ibu memintanya untuk meninggalkan Hanin, karena ia tidak akan bisa memilih jika Rasti meminta memilih sang ibu atau sang istri.
Hampir setengah jam, Hanin berusaha untuk menurunkan demam itu sedikit. Setelah di rasa lebih baik, ia pun meninggalkan Kenan dan beralih lagi ke dapur. Ia membuat krim sup jagung dan teh manis hangat untuk Kenan.
Hanin dengan gesit, berlarian antara dapur dan kamar untuk mengganti kompresan di dahi Kenan. Perlahan, kedua mata Kenan terbuka. Namun, ia tak melihat ada Hanin di sana. Perlahan, ia bangkit dan menurunkan kakinya dari tempat. Kompresan di dahi itu pun terjatuh. Kenan memegang leher dan dahinya sendiri.
“Aku demam,” gumamnya. Lalu, ia memungut handuk kompresan yang tadi terjatuh ke lantai.
Ceklek
Hanin pun masuk ke kamar dengan membawa nampan. “Jangan bangun! kalau masih pusing.”
“Tidak apa. Ini hanya demam biasa,” ucap Kenan.
Hanin menaruh nampan itu di nakas dan menghampiri Kenan yang sudah terduduk di tepi tempat tidur. Hanin memeluk kepala Kenan. “Istirahatlah, kamu bekerja terlalu keras.”
Kenan mememeluk perut Hanin dan menyandarkan kepalanya pada tubuh itu. “Aku pasti jauh lebih stres dari ini, jika tidak ada kamu.”
“Terkadang semua hal belum tentu akan berjalan sesuai keinginan kita, Ken. Jangan salahkan dirimu. Yang penting, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk keluargamu.”
Kenan mengangkat kepalanya dan menatap sang istri. Ia menggangguk. “Ya, kamu benar.” Kenan kembali berlindung pada perut Hanin. “Namun, aku terbiasa melakukan sesuatu dengan sempurna, hingga tidak ada celah untuk gagal. Tapi ternyata aku masih bisa gagal.”
“Dasar mister perfect! Kalau begitu makan dulu dan minum obat, kamu harus segera sehat agar bisa memarahi bawahanmu lagi,” ledek Hanin pada suaminya.
Kenan pun tertawa. “Dan, aku juga bisa memarahimu lagi. Aku kangen melihat wajahmu yang kesal.”
Kemudian, Hanin menoleh ke arah Kenan dan mengerucutkan bibirnya. Ia melonggarkan pelukan itu dan kembali menghampiri nampan untuk mengambil makanan.
Kenan kembali tertawa, karena ia akhirnya melihat wajah kesal yang menggemaskan itu.
“Jangan nyebelin deh! Orang sakit dilarang bikin kesel.” Hanin menarik kursi riasnya dan duduk di hadapan Kenan. “Ayo makan!”
Kenan masih menyungging senyum. “Orang sakit dilarang bikin kesel, tapi ngga dilarang buat mesum kan?” tangan Kenan terangkat untuk meremas satu gunung kembar Hanin.
__ADS_1
“Ish, kamu!” sontak Hanin membulatkan matanya pada Kenan.
Kenan pun tertawa geli.
“Ken ken ... jelek,” umpat Hanin. Namun, Kenan masih saja tertawa.
****
“Aku udah ngga pusing, Sayang.” ucap Kenan.
Hingga sesore ini, Hanin masih melarang Kenan untuk beranjak dari tempat tidur itu. Padahal, Kenan sudah sangat ingin ke ruang kerja dan mengerjakan pekerjaannya. Ia tidak betah jika harus berdiam diri dan hanya menonton televisi.
“Istirahat, Ken. Hanya hari ini saja, kamu benar-benar istirahat total tanpa melakukan pekerjaan. Pasti besok udah segar dan bisa aktifitas maksimal lagi.”
“Aku ngga betah, Sayang.”
“Kan ada aku, Ken. kamu ngga betah berdua di sini bersamaku?” tanya Hanin dengan menyipitkan matanya ke arah Kenan.
Kenan beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Hanin yang duduk di sofa. Lalu, ia memeluk tubuh Hanin. “Baper banget sih, istri siapa sih? Hmm ...” Kenan mencubit ujung hidung Hanin.
“Sebelumnya, aku paling ngga pernah ada di apartemen seharian. Paling lama berada di apartemen itu hanya lima atau enam jam. Itu pun hanya untuk tidur malam.”
“Hidupmu monoton sekali,” ujar Hanin menyandarkan kepalanya di dada Kenan yang sedang memeluknya dari belakang.
“Iya, sangat monoton. Hidupku hanya untuk kerja, menjalankan bisnis papi dan menjaga Mami juga Kiara. Memenuhi janjiku pada almarhum Papi. Tapi sekarang tidak lagi.” Kenan mengecup leher dan bahu Hanin.
Hanin sedikit menoleh ke belakang. “Kenapa?” tanya Hanin, karena Kenan menjeda perkataannya.
“Karena ada kamu di sisiku.”
“Beneran.” Kenan mempererat pelukan itu. Ia pun gemas dengan wajah Hanin yang merona. Ia gemas ingin menggigit dan menerkamnya.
“Aww.. Ken, Jangan di gigit!” Hanin memegang lehernya.
“Abis gemes,” jawab Kenan dengan wajah tak bersalah.
“Sudah selesai belum?” tanya Kenan ambigu. Namun, Hanin tahu masud suaminya yang mesum itu.
“Belum, baru dua hari. Masih lama.” Hanin kembali menoleh ke belakang. “Lagian, kamu lagi sakit. Emang bisa gituan.” Hanin menyatukan kedua telunjuknya.
Kenan pun tertawa. “Ya bisalah. Mau sakit atau ngga. Kalau soal itu tetap berjalan.”
“Dasar!” Hanin memukul pelan dada Kenan dan Kenan pun tertawa sembari memeluk kembali tubuh sang istri.
****
Di kediaman Aditama, Rasti masti mendiami Kiara. Berkali-kali Kiara meminta maaf pada sang ibu. Namun, Rasti mengabaikan permohonan maaf itu.
“Minta maaf pada suamimu. Dia yang paling tersakiti. Mami tidak menyangka memiliki putri selicik kamu hanya untuk obsesi.”
“Mam,” panggil Kiara lirih.
“Pulang ke rumahmu dan minta maaf pada Gun,” ucap Rasti.
Kiara menggeleng. “Itu tidak mungkin, Mam. Kiara sudah sadar sekarang dan Kiara ingin memulai kembali hidup Kiara sendiri.”
__ADS_1
“Terlambat! Sekarang ada anak di perutmu. Jika kalian bercerai, anak ini bagaimana? Bagaimana statusnya?” tanya Rasti heran pada pola pikir sang putri.
“Kiara akan mengurusnya sendiri. Kiara bisa mengurus anak ini tanpa Mas Gun.”
“Mami ngga percaya. Mami dan kakakmu terlalu memanjakanmu. Apa kamu bisa mengurus anak itu sendiri, bahkan mengurus diri sendiri saja kamu ngga bisa.”
“Mami.” Kiara menangis. Sungguh, perkataan sang ibu sangat meremehkannya.
Kiara pun berlari ke kamarnya dan seketika Rasti terduduk di sofa. Sejujurnya ia pun tak ingin berkata kasar pada Kiara. Namun, sang putri sungguh telah membuatnya kecewa.
Sejak siang tadi, Vanesa sudah pamit pulang. Wanita itu berjanji pada Rasti untuk menengoknya lagi besok. Vanesa datang ke kantor sang ayah dan menceritakan bahwa Kenan selama ini bersama istrinya di Bandung.
Vanesa juga menceritakan skandal Kiara. James pun terkejut. Selama ini yang ia tahu, Kiara adalah gadis manja yang tidak akan pernah bisa macam-macam.
Kemudian, James mengangkat teleponnya untuk mencari tau tentang pernikahan Kenan. Ia kembali mengecek semua data di kantor urusan agama dan ternyata Kenan telah mendaftarkan pernikahannya.
“Ini!” James memberikan kertas yang berisi semua tentang istri Kenan, pada putrinya.
Vanesa mengambil kertas itu.
“Namanya Hanin Aqila. Kenan menikahinya di Putra Jaya, Malaysia. Tepatnya di rumah kakak ipar wanita itu. Kakaknya menikah dengan orang asli Malaysia. Dia juga sempat beekrja di perusahaan ekport Kenan di Bandung. Dan, hari ini surat nikah mereka keluar karena kemarin Kenan menyuruh orang untuk mengurus dokumen dari Malaysia ke sini.” jelas James pada putrinya.
Seketika Vanesa meluruhkan air mata. Ia sedih melihat foto-foto Kenan bersama Hanin saat di kuala lumpur. Ia pun melihat foto pernikahan itu. Foto-foto pernikahan yang di ambil Nida dan di simpan di sosial medianya. Walau Nida tidak men-tag ke Hanin.
“Kamu tega, Ken.” Vanesa terus menangis dan menyobek kertas itu. Ia benci melihat senyum Kenan terhadap Hanin. Senyum cinta yang tidak pernah Kenan berikan padanya.
“Sudahlah, Honey. Kau tidak perlu berharap lagi pada anak itu. Dia tidak memilihmu,” ucap James.
“Tidak, Dad. Kenan milikku. Kami selalu bersama sejak kecil dan pernikahan kami pun sudah di depan mata. Namun, wanita penggoda itu merusak semuanya. Aku tidak rela, Dad.” Vanesa semakin terisak.
James berdiri dan menghampiri putrinya. Ia pun memeluk erat sang putri. “Daddy harus bagaimana, Sayang? Daddy kenal Kenan. Dia tidak bisa ditentang.”
“Paling tidak, aku ingin bertemu wanita itu. aku ingin sekali memakinya, menjambaknya, dan menamparnya, Dad.”
“Itu tidak elegan, Sayang. Biarkan Rasti yang melakukan itu,” jawab James licik.
“Jika Daddy sudah menemukan tempat tinggal mereka, ajak Rasti untuk menemui mereka. Daddy yakin hingga saat ini Rasti belum merestui Kenan dan masih menginginkan kamu menjadi menantunya.”
Vanesa mengangguk. “Ya, Dad. Kemarin Mami Rasti juga tidak mau bertemu Kenan.”
James tersenyum. “Kalau begitu, biar Rasti yang menyingkirkan wanita penggoda itu. Kita akan tekan Rasti dengan skandal Kiara.”
Vanesa mengangguk sambil memeluk erat sang ayah. “Cepat cari tahu, dimana mereka tinggal, Dad?”
“Orang suruhan Daddy masih berada di apartemen xxx untuk mengintai Kenan, karena dia pernah melihat Kenan di apartemen itu. Tapi dia kehilangan jejak. Hingga saat ini, Papi belum tahu Kenan berada di lantai berapa. Daddy akan segera memberitahumu jika orang suruhan Daddy menemukan jejak mereka.”
“Terima kasih, Dad. Aku menyayangimu” Vanesa merengek di pelukan sang ayah.
James mengelus rambut putrinya. Ia tak tega pada putrinya. Lagi pula, ia pun terlalu kesal dengan tindakan Kenan yang tidak menghargainya pada waktu itu. Walau sebenarnya, kejujuran dan ketegasan Kenan itu benar. Namun, bagi James tetap saja hal itu adalah sebuah kekurang-ajaran.
______________________________________________
Mau like, komen, hadiah, dan votenya donk guys, supaya rankingnya naik lagi hehehehhee,,
makasih 😘😘🤗
__ADS_1