Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Dia bukan wanita matre


__ADS_3

Rasti mengurungkan niatnya untuk mendekati Kenan. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali bergabung pada para tamu. Ia ingin memberi waktu pada putranya untuk sendiri, karena sepertinya Kenan keliatan benar-benar kalut.


Di sana, Kenan masih duduk termenung. Ia kembali mengambil ponselnya di saku dan menekan nomor Hanin. Ini adalah panggilan ke dua puluh yang sudah Kenan lakukan.


Di ruang baca, ponsel Hanin yang tergeletak di lantai, hanya bergerak tanpa suara. Ya, Hanin memang mensilent ponselnya sejak semalam. Dan, pagi tadi, ia lupa mengubah ponselnya ke posisi semula, karena serangan fajar yang dilakukan sang suami.


Di sebelah ponsel itu, Hanin tampak tertidur pulas, hingga bibirnya sedikit menganga. Ia benar-benar lelah.


“Shit,” umpat Kenan, saat lagi-lagi ponsel yang ia tempelkan ke telinganya itu tak ada jawaban. “Angkat Sayang. Ayo angkat!” gumam Kenan dengan kesal.


Kemudian, ia melihat Vicky berlari ke arahnya.


“Ken, Hanin ga ada di mana-mana,” ucap Vicky dengan nafas tersengal.


“Cari lagi! Lu nyarinya ga bener.”


“Udah, Ken. Tapi ngga ada. Satpam lu juga udah menyisir keluar daerah ini, tapi tetap ngga ada.” Vicky ikut duduk di samping Kenan.


Tak lama, orang-orang yang tadi Kenan suruh pun menghampirinya. Satu persatu orang di sana memberi laporan pada Kenan bahwa mereka tidak menemukan keberadaan istrinya, istri tuan mudanya yang sangat dicintai.


“Bodoh. Masa ngga ketemu!” umpat Kenan sembari berdiri dan terus memarahi sekuriti dan pelayan rumah ini.


“Apa mungkin Hanin pulang ke apartemen?” tanya Vicky asal.


Kenan langsung menoleh ke arah sahabat sekaligus asistennya itu.


“Mungkin dia merasa terabaikan karena lu asyik ngobrol sama Misya, terus doi ngambek dan pulang naik taksi lewat pintu belakang,” kata Vicky.


“That’s right.” Bibir Kenan langsung menyungging dan segera berlari keluar.


“Tapi supaya lebih meyakinkan, lu lihat cctv dulu,” teriak Vicky.


Kenan menggeleng. “Ngga perlu, saran lu udah brilian.”


Tanpa melihat cctv terlebih dahulu, Kenan yang panik justru memilih untuk melajukan mobilnya kembali ke apartemen. Kenan keluar lewat pintu belakang, tanpa berpamitan dengan Rasti dan tamu yang lain. Ia melajukan mobil itu dengan kecepatan yang cukup kencang. mobilnya pun melesat dengan cepat.


Sesampainya di apartemen. Kenan berjalan terburu-buru, membuka pintu apartemen itu pun dengan tergesa-gesa.


“Sayang,” pangiil Kenan, setelah memasuki apartemennya.


Ia melangkahkan kakinya dengan cepat ke kamar. “Sayang.”

__ADS_1


Tidak terlihat sosok wanita yang sedang ia cari di dalam sini.


“Sayang.” Kenan membuka pintu kamar mandi. Namun, Hanin tidak ada.


Kenan berlari ke dapur, juga tidak ada. Ia pun mengitari seluruh tempat ini, tapi sosok wanita yang sudah menjadi bagian dari jiwanya tidak ada.


Kenan terduduk lemas di sofa.


“Sayang, tolong jangan siksa aku seperti ini,” gumam Kenan dengan mengusap wajahnya kasar.


Ia bingung harus mencari Hanin kemana lagi. Ke bandung? Rasanya tidak mungkin jika Hanin kembali kabur ke rumah Irma. Lalu, Ia kembali mengingat semua sahabat-sahabat Hanin dan meneleponnya satu persatu.


Satu jam, ia coba menelepon sahabat dan kerabat Hanin. Namun, tidak ada satu pun yang bertemu dengan istrinya, karena memang Hanin tidak pergi sejauh itu.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Kenan berdering. Ia pun dengan cepat mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana. Ternyata di sana, tertera nama “My Mom”, ia pikir itu panggilan dari Hanin.


“Halo, Mam.”


“Ken, Hanin sudah ketemu? Dia di sana?” tanya Rasti.


“Belum, Mam. Dia tidak ada di sini,” jawab Kenan lesu.


“Ya, Ken kembali ke rumah, Mam.”


Kenan langsung menutup sambungan telepon itu dan bangkit dari sofa untuk kembali ke rumah sang ibu.


“Huft, kakakmu benar-benar,” ucap Rasti di seberang sana, menutup telepon yang sudah di tutup sepihak oleh Kenan, padahal Rasti masih ingin bicara.


Kiara tertawa. “Kakak tuh lucu banget.”


“Bukan lucu, Ra. Tapi nyusahin,” sahut Vicky yang ikut kalang kabut karena ulah bosnya yang super lebay.


“Ternyata, cinta Kenan ke Hanin begitu luar biasa,” celetuk Gunawan yang baru saja merebahkan putrinya di box tidurnya sendiri.


Para tamu sudah kembali pulang. Di rumah ini, sudah tidak ada tamu yang tersisa, kecuali Misya dan putranya. Misya mendengar semua perkataan itu. ia pun melihat perlakuan Kenan yang panik berlebihan seperti sekarang ini.


“Memang se istimewa apa istri Kenan itu?” tanya Misya.


“Mungkin Gunawan lebih tahu,” jawab Vicky nyengir.

__ADS_1


“Jangan mulai deh lu, Vick. Sengaja ya lu, bikin gue sama Kiara berantem, terus lu masuk lagi ke hubungan kita.” Sontak Gunawan kesal.


“Ya, kan lu mantannya,” ucap Vicky dengan wajah tak bersalah.


“Mantan?” tanya Misya yang tidak tahu apa-apa.


“Sudah-sudah, kalian ini, bukannya bantu Kenan mencari Hanin, malah ribut.”


“Hanin itu baik dan tulus, Mis. Dia lembut, sederhana, dan penurut. Mungkin hal itu yang membuat kakakku mencintainya,” jawab Kiara.


“Oh.” Misya hanya bisa ber’oh’ ria.


Ternyata selain mendapat cinta luar biasa dari Kenan. Hanin juga beruntung karena mendapat dukungan dari adik kesayangan Kenan. Dulu setiap Kenan di dekati wanita, Kenan selalu meminta pendapat dari sang adik. Jika sang adik bilang tidak, maka Kenan akan dengan senang hati menjauhi wanita itu atau menolaknya, padahal wanita itu sudah memberikan barang apapun untuk Kenan. Ketika, Kiara mengatakan ‘ya’ pada Vanesa, maka Kenan mencoba untuk memulai hubungan itu, walau akhirnya ia menyadari kenyaman itu hanya sebagai sahabat saja.


Tak lama kemudian, Kenan kembali tiba di kediaman Aditama.


“Gimana, Vick? Udah ketemu?” tanya Kenan yang bergegas lari menuju orang-orang di sana.


Vicky menggeleng. “Belum.”


“Tapi yang jelas, di cctv Hanin ga keluar dari rumah ini, Ken,” sahut Gunawan.


“Ya udah, coba cari lagi ke ruangan-ruangan lain di atas,” ucap Rasti.


“Ken, sudah membuka semua ruangan di atas, Mam, tapi tidak ada.”


“Kakak carinya sambil marah-marah dan panik. Jadi ngga ketemu,” ucap Kiara.


Kemudian, mereka kembali mencari Hanin.


“Mami istirahat saja,” ucap Kenan menyuruh sang ibu untuk duduk di meja makan. “Mis, tolong temani Mami.”


Misya mengangguk dan duduk di samping Rasti.


“Ada-ada saja anak itu. Bikin semua orang pusing.”


Rasti memegang kepalanya yang pusing bercampur lelah. Sejak kemarin, tenaganya terkuras untuk menyiapkan acara ini, lalu sekarang pikiran dan tenaganya kembali terkuras karena menantunya yang tiba-tiba menghilang.


“Padahal, Kenan tidak perlu se khawatir itu. Kalau uangnya habis, nanti Hanin juga pasti menghubungi Kenan,” ucap Misya.


Rasti menoleh ke arah Misya. “Tapi Hanin tidak seperti itu. Dia bukan wanita matre dan suka meminta uang pada suaminya.”

__ADS_1


Sontak Misya terdiam. Sepertinya ia salah bicara.


Meski, akhir-akhir ini Rasti sedang kesal dengan menantunya karena cemburu dengan sikap Kenan yang berlebihan terhadap sang istri, hingga ia merasa terabaikan. Namun, Rasti tahu betul bahwa Hanin bukanlah wanita yang mata duitan, karena ia sering mengajak Hanin berbelanja bersama dan ia bisa melihat bagaimana Hanin membelanjakan uang putranya.


__ADS_2