Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Mengubur cinta itu sedalam mungkin


__ADS_3

Kiara masih tinggal di rumahnya untuk menemani sang ibu. Sementara, Gunawan tinggal di rumah itu untuk menemani sang istri.


Di rumah sakit tempat Hanin dan Kenan tengah menunjukkan pukul 12 malam, sedangkan di Jakarta tepat 12 siang. Gunawan ingat bahwa siang ini, Kiara akan pergi ke supermarket untuk membeli susu hamil. Ia pun bergegas untuk pulang. Mulai saat ini, ia akan mengantar Kiara kemana pun dan ia tak ingin kecolongan dan keduluan Vicky.


Gunawan menyambar kunci mobil dan bergegas keluar dari ruangan itu.


“Pak, jam dua nanti ada pertemuan dengan Mr. Dave dari Australia,” ucap sekretaris Gunawan, ketika Gunawan hendak pergi meninggalkan kantornya.


“Ya, saya tidak lupa,” jawab Gunawan sembari melangkah melewati sekretarisnya itu.


Akhirnya, Gunawan menemukan orang yang ingin menginvestasikan uangnya di kantor ini. Entah dari mana pengusaha Australia itu bisa mendapatkan namanya dan tertarik pada bidang bisnis yang ia geluti. Gunawan hanya merasa dirinya sedang beruntung. Padahal di balik itu semua, Kenan lah yang berperan.


Sebenci apapun Kenan pada Gunawan, ia tetap sadar bahwa Gunawan adalah suami dari adik kesayangannya. Jika sang suami bangkrut maka Kiara pun akan kena dampak. Ia tak ingin Kiara menjadi sengsara. Oleh karena itu, ia meminta Dave. Sesama rekan bisnis yang cukup kenal dekat dengan Kenan untuk menjadi investor pada perusahaan Gunawan yang sedang membutuhkan itu. Kenan memang pantas dijuluki ‘family man’.


Beberapa menit kemudian, Gunawan sampai di kediaman Aditama.


“Eh, Gun. Kau mau makan siang di sini?” tanya Rasti yang melihat Gunawan tengah berjalan mendekati pintu.


Rasti berdiri di depan teras sambil memerintahkan pada tukang kebun untuk membuang ranting, daun, dan bungan yang kering.


“Iya, Mam. Sekalian jemput Kiara, katanya mau ke supermarket,” jawab Gunawan.


Rasti tersenyum dan menepuk bahu Gunawan saat menantunya itu mencium punggung tangan Rasti.


“Mami senang melihat kalian seperti ini.”


Gunawan mengangguk.


“Kiara ada di kamarnya. Sana!” Rasti langsung menyuruh Gunawan untuk menemui istrinya.


“Iya, Mam. Saya ke dalam.”


Rasti mengangguk.


Gunawan dengan semangat melangkahkan kakinya menuju kamar. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung membuka pintu kamar.


“Aww, Mas. Ngagetin aja,” ucap Kiara yang tiba-tiba melihat Gunawan masuk, sementara dirinya tengah tak berpakaian sama sekali dan baru akan memakai pakaian.


Gunawan tersenyum, melihat wanita dengan perut bulat dan menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi bagian dada juga menyilangkan kaki untuk menutupi bagian sensitifnya.


Untuk pertama kali Kiara melihat senyum di bibir Gunawan yang tertuju padanya.


“Kamu baru mandi?” tanya Gunawan sembari mendudukkan diri di tepi ranjang. Ia memperhatikan sang istri yang hendak memakai baju.


“Aku mandi lagi, karena badanku lengket.”

__ADS_1


Memang hari ini cuaca sangat terik dan orang hamil biasanya sangat mudah berkeringat.


“Kita belum melakukan apapun, kamu sudah lengket,” ucap Gunawan asal.


Kiara mengeryitkan dahi. “Mas Gun ngajak becanda? Tapi ga lucu,” gumamnya.


“Kenapa diam. Pakai saja bajumu,” ucap Gunawan meminta sang istri untuk melanjutkan aktifitasnya.


“Tapi, mas jangan disini! Sana keluar dulu.” Kiara mengibaskan tangannya.


“Tapi aku mau di sini. Di sini lebih adem,” jawab Gun santai dengan menyangga kedua tangannya ke belakang.


Kiara hanya menatap malas, lalu membalikkan tubuhnya. Ia pun melanjutkan lagi aktifitas itu dengan menghadap ke dinding. Kiara memakai celana, lalu bra. Ia agak sulit mengaitkan bra itu ke belakang. Kemudian, dengan sigap Gunawan menangkap kedua tangan Kiara dan membantu mengaitkan benda itu di punggung belakang Kiara yang putih mulus.


Selesai mengaitkan benda itu, Gunawan mengecup bahu Kiara dan bibirnya menelusuri leher itu. Kiara merasakan sentuhan lembut yang menyapu kulitnya. Ia memejamkan mata dan reflek menggigit bibir bawahnya. Sejak kemarin Gunawan memang banyak berubah. Kiara merasakan itu, tapi ia tetap dengan hatinya yang sekarang. Ia hanya tidak ingin disakiti lagi, karena dengan hati yang sekarang, ia merasa lebih bebas dan tidak terluka lagi jika Gunawan melukainya.


“Kita jadi ke supermarket?” tanya Gunawan dengan nada berat. Ia menahan hasrat yang ingin memakan istrinya. Sungguh, Kiara saat ini sangat menggodanya.


Kiara tersadar dan mengangguk.


Lalu, Gunawan membalikkan tubuh sang istri yang hanya berbalut pakaian d*l*m. Gunawan menatap mata Kiara yang juga sedang menatapnya.


“Tapi sebelum itu, aku ingin makan,” kata Gunawan.


Wajah Kiara berubah. Ia malas jika harus melayani hasrat sang suami, karena ia baru saja membersihkan diri.


“Aku sudah mandi.”


“So?” tanya Gunawan mengangkat bahunya.


“Nanti malam saja,” jawab Kiara sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Gunawan mencubit dagu Kiara dan menggeser wajahnya agar mereka bertatapan. “Memang aku ingin apa?”


“Makan.”


“Iya, terus?” tanya Gunawan lagi.


“Makan aku ‘kan?”


Gunawan tertawa geli. Ia sungguh menyukai Kiara yang sekarang. Untuk pertama kalinya, ia tertawa terbahak-bahak di depan wanita itu. Kiar sedikit tersenyum melihat tawa Gunawan yang terlihat semakin tampan.


“Aku memang mau makan, tapi makan siang,” ucap Gunawan sembari memelankan tawanya.


“Kiara ... Kiara ...” Gunawan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Kiara malu dan menjauh dari Gunawan. Ia kembali mengambil pakain yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur itu.


“Hei, aku ingin berinteraksi dulu dengan anakku.”


Gunawan menarik lengan Kiara dan mendudukkannya di tepi ranjang. Ia berjongkok dihadapan Kiara dan mengelus perut bulat itu.


“Hai girl, apa kabar? Kamu belum makan? Mama belum memberimu makan ya? Mama memang kejam. Mamamu juga selalu membuat papa sedih. Bilang sama mama agar tidak kejam dengan papa ya!” Gunawan mengelus sambil berbicara dengan perut itu, lalu mengecupnya.


Kiara mendengar dengan jelas kata per kata yang Gunawan ucapkan. Hatinya terenyuh, tapi ia masih takut untuk mencintai pria ini lagi, karena ia merasa tidak pantas bahkan tidak berani berasumsi bahwa saat ini Gunawan telah menyayanginya.


****


Gunawan memarkirkan mobilnya di sebuah mall yang tidak jauh dari kediaman Aditama. Ia keluar dari mobil, begitu pun Kiara. Lalu, Gunawan dan Kiara berjalan beriringan. Gunawan sengaja memelankan langkahnya agar tetap bersejajar dengan langkah Kiara yang melambat.


Gunawan dan Kiara sampai di dalam mall. Mereka berjalan sembari memperhatikan setiap stand yang ada di sana. Perlahan tangan Gunawan merambat di telapak tangan Kiara. Kiara merasakan itu, hingga tangan itu menggenggam erat telapak tangan Kiara yang halus. Sontak Kiara menoleh ke arah tangannya yang di geanggam erat oleh Gunawan. Ia pun melohat ke arah pria yang tengah menggenggamnya itu. Namun, arah mata Gunawan tetap lurus ke depan, seolah ia tak sengaja menggenggam tangan itu.


Kiara pun ikut menoleh ke sembarang arah dengan pasrah mengikuti apa yang Gunawan inginkan.


“Ra, mampir ke toko baby di sana yuk!” ajak Gunawan mengarahkan pandangan Kiara ke arah yang ia tunjuk.


Kiara mengangguk. Kebetulan, memang ia belum sama sekali membeli keperluan bayi.


Gunawan dan Kiara memilih-milih pakaian wanita.


“Mas, ini lucu,” ucap Kiara, menunjukkan baju tidur berwarna pink pada Gunawan.


“Iya, lucu. Ini juga lucu.” Gunawan menunjuk sepatu bayi yang juga berwarna pink pada Kiara.


Kiara tersenyum, begitu pun Gunawan. Mereka terlihat bahagia. Mungkin orang yang melihat adegan ini tidak pernah menyangka bahwa kedua pasangan suami istri ini sebelumnya pernah mengalami badai yang hebat. Walau saat ini, badai itu belum selesai. Namun, setidaknya lebih baik.


“Ra, yang ini juga bagus,” ucap Gunawan saat menunjukkan satu dres bayi perempuan.


Bruk


Saat Gunawan menoleh ke samping, yang mengira Kiara masih berdiri di sampingnya, tapi ternyata ada seorang wanita yang justru menubruknya, hingga semua barang yang wanita itu pegang pun berhamburan di lantai.


“Maaf.” Tanpa menoleh ke arah wanita itu, Gunawan langsung jongkok dan memungut barang yang berserakan di lantai.


Sementara, wanita itu mematung, melihat pria yang tengah berjongkok itu adalah pria yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Pria yang pernah menjadi kekasihnya dan mengambil kehormatannya di masa belia.


“Maaf aku telah ...” perkataan Gunawan terhenti, saat ia mendongak dan melihat sosok wanita yang berada di hadapannya.


Gunawan perlahan berdiri dan memberikan barang yang terjatuh tadi pada wanita itu dengan mata yang tak henti menatapnya. Mereka saling berpandangan lama. Wanita itu semakin cantik berdiri di depan gunawan dengan tubuh proporsional dan polesan make up natural. Wanita itu pun tak terlihat sedang hamil. Namun, ia membeli cukup banyak perlengkapan bayi.


“Mas,” Kiara mencari Gunawan dan melihat pria itu tengah bertatapan mesra dengan wanita yang tidak ia ketahui, karena wanita itu berdiri membelakangi Kiara.

__ADS_1


Kiara tersenyum. Memang ia harus mengubur cinta itu sedalam mungkin, agar tak lagi merasa sakit. Lalu, Kiara meninggalkan Gunawan dan keluar dari toko itu sendiri.


__ADS_2