
Dua jam berlalu. Kenan baru saja selesai bertemu dengan klien penting. Klien itu datang langsung ke kantor ini dan berbincang bersama Vicky juga Siska yang mencatat hasil pertemuan itu.
Setelah berbincang sebentar dan mengantarkan klien itu hingga lift, Kenan kembali ke ruangannya. Kemudian ketiga klien pentingnya itu di antar hingga lobby oleh Vicky dan Siska. Sejak pertemuan dengan klien pentingnya itu, Kenan memang sengaja meninggalkan ponsel di ruangan ini.
Kenan kembali menduduki kursi kebesarannya dan melihat jam di tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Lalu, ia meraih ponsel itu dan membukanya. Di sana tertera rentetan notifikasi dari bank yang memberitahu penarikan dalam jumlah besar.
Kenan mengerutkan dahi, tidak biasa-biasanya Hanin mengambil uang dalam jumlah yang cukup besar dan tidak mangatakannya terlebih dahulu. Walau Kenan tidak mempermasalahkan hal itu karena ia memang sudah memberikan kartu itu untuk apapun. Namun, baru kali ini Hanin menlakukannya.
Dengan segera, Kenan mendial nomor ponsel Hanin.
Tut ... Tut ...Tut ...
Beberapa kali sambungan telepon itu berdering, tapi di sana belum ada tanda-tanda menjawab, hingga di detim terakhir Kenan akan menutupnya, suara di sana pun terdengar.
“Halo,” Hanin mengangkat panggilan telepon melalui video call.
Kenan memang selalu menelepon istrinya dengan panggilan melalui video call, karena ia ingin mengetahui aktifitas istrinya ketika ia sedang bekerja. Terlebih saat ini.
“Kamu dimana?” tanya Kenan.
“Aku lagi di mall.” Hanin memperlihatkan sebuah gedung mewah yang ia ketahui letaknya.
“Sendiri?”
Hanin mengangguk. “Iya, aku bosan di apartemen.”
“Tidak minta ditemani Karmen?” tanya Kenan lagi.
“Dia sedang berada di Singapura, menemani suaminya.”
“Oh. Maaf Sayang aku tidak bisa menemanimu.”
“Tidak apa By. Aku juga hanya sebentar, hanya ingin membeli tas branded dan menikmati makan siang di restoran jepang.”
Kenan tersenyum. Lalu, Hanin kembali bicara.
__ADS_1
“Maaf, aku menggunakan uangmu untuk membeli tas yang harganya sangat mahal itu,” ucap Hanin lagi.
Kenan pun langsung tersenyum. Ternyata tanpa di tanya, Hanin sudah mengatakannya lebih dulu. Kenan memang tidak pernah tahu jenis tas apa yang jumlahnya semahal itu, Dulu ketika masih berpacaran dengan Vanesa, wanita itu memang kerap membelanjakan uangnya untuk membeli tas mahal, tapi Kenan hanya melihatnya sekilas ketika Vanesa menunjukkan tas itu, karena baginya itu tidak penting. Namun, Vanesa tidak pernah membeli sebesar jumalah yang Hanin beli saat ini.
Kenan kembali tersenyum. “Uangku adalah milikmu. Aku bekerja keras untukmu dan anak-anak kita nanti. Belilah apa yang kamu inginkan.”
Hanin ikut tersenyum dalam hati ia berkata, “Maaf, Ken. Sekarang aku yang berbohong padamu.”
“Oh ya, jangan lupa minum obatmu setelah makan siang nanti.”
Hanin mengangguk. Lalu, keduanya berbincang sejenak dan kemudian Kenan menutup sambungan telepon itu.
Kenan merutuki pekerjaannya hari ini yang terlampau banyak, hingga tidak bisa menemani istrinya yang berada sendiri di mall itu. Padahal jika pekerjaannya tidak sedang urgent seperti ini, ia pasti akan langsung meluncur ke tempat di mana istrinya berada sekarang dan menemaninya bersenang-senang di sana.
****
Dua jam sebelum waktu jam pulang kerja tiba, Kenan meminta beberapa staf penting untuk melakukan meeting. Kenan memberitahu beberapa jajaran yang berkepentingan untuk mengetahui hasil dari pertemuannya dengan klien penting tadi.
Kenan kembali menatap arloji di tangan kanannya. Waktu menunjukkan pukul 15.30. Entah mengapa ia sangat gelisah. Ia terus mengetuk-ngetuk jarinya di meja sembari mendengarkan satu persatu ide yang dikeluarkan oleh para petinggi manajemen di perusahaan itu. Dan, lagi-lagi Kenan melirik arlojinya, rasanya ia pun ingin segera pulang, hingga tak lama kemudian ponsel itu berbunyi dengan bunyi yang menandakan sebuah pesan masuk.
Kenan hanya melirik ponsel itu sekilas, lalu menatap kembali karyawannya yang sedang berbicara.
Lalu, ia meraih ponsel itu. ia tersenyum karena ternyata pesan itu berasal dari ponsel sang istri. ia pun langsung membuka dan membacanya.
“By, Maaf. Aku berangkat ke rumah Kak Nida sekarang. Aku sudah sangat merindukannya. Jangan khawatir! Aku akan baik-baik saja dan mungkin akan lama di sana. Tidak apa ya, By. Saat ini, aku sudah ada di ruang check in. Bye, Ken Ken Jelek.”
Rahang Kenan langsung mengeras setelah membaca pesan itu. Tiba-tiba darahnya mendidih. Ia langsung bangkit dan meminta Vicky ikut bersamanya keluar, lalu sebelumnya meminta salah satu orang yang berada di bawahnya sesuai struktur manajemen untuk menggantikannya memimpin rapat ini.
Kenan menarik kemeja Vicky dengan paksa.
“Ada apa sih, Ken?” tanya Vicky bingung.
Kenan meminta Vicky untuk duduk di depan laptiopnya dan mencari keberadaan sang istri. Ia pun memperlihatkan pesan yang diberikan Hanin tadi.
“Dia naik maskapai apa?” tanya Kenan dengan wajah merah menahan marah.
__ADS_1
“Lu abis berantem sama Hanin?” Vicky malah balik bertanya, sembari melakukan perintah Kenan.
Kenan menggeleng. “Tidak, tapi sikapnya sejak kemarin sangat aneh.”
“Lu ketemu Misya, terus Hanin lihat?” tanya Vicky lagi.
Kenan menggeleng. “Ngga, tapi kemarin gue anter Misya ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat Hanin periksa kandungan.”
Lalu, Kenan menceritakan pada Vicky kronologis mengapa ia membawa Misya ke rumah sakit itu.
“Bodoh, pasti Hanin liat lu berdua. Terus lu pegang tangan Misya dan rangkul dia? Ah, ****,” erang Vicky. Ia sangat kesal dengan sikap Kenan.
Hanya Vicky yang berani mengumpat dan membodoh-bodohi seorang Kenan.
“Rumah sakit itu luas, Vick. Hanin ga mungkin liat gue sama Misya di sana. Ruang IGD dan tempat dia periksa sangat jauh.” jawab Kenan yakin.
“Hei, Ken, wanita di dunia ini banyak, tapi kenapa cuma Hanin yang lu cinta? Kenapa orang yang melakukan hubungan s*x satu kali langsung jadi, sementara mereka yang udah menikah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, malah belum jadi satu pun?”
Kenan terdiam.
“Who knows? Yang tidak mungkin bisa jadi mungkin terjadi, Ken. Gue yakin Hanin melihat lu waktu itu dan sepulang dari sana dia bersikap dingin sama lu.”
Kenan masih terdiam. Ia sungguh gelisah.
“Kenan, lu kenapa ga peka sih,” ucap Vicky lagi.
“Cepat cari? Dia menggunakan maskapai apa? Gue lansung ke bandara.” Kenan meraih kunci mobilnya dan segera keluar dari ruangan itu. “Telepon gue kalau udah dapet informasi”
Vicky mengangguk dan segera menelepon ke sana kemari untuk mendapatkan informasi itu.
Kenan berlari menuju lobby dan menelepon seseorang di sana untuk memindahkan segera mobilnya dari basement hingga depan lobby.
Kenan sangat gelisah. Ia memang tidak mengerti perempuan walau hidupnya dikelilingi oleh perempuan. Seperti yang Vicky ucapkan, ia memang tidak peka. Kenan masih belum mengerti sikap perempuan yang tengah merajuk, karena sejauh ini ia merasa sudah membahagiakan Hanin, sama seperti caranya membahagiakan Rasti dan Kiara.
Sewaktu bersama Vanesa pun, ia memanjakan wanita itu dengan uang dan berhasil. Vanesa praktis tidak pernah merajuk. Hanin perempuan berbeda.
__ADS_1
Kini ia sadar bahwa inilah cinta terhadap pasangan. Hanin perempuan istimewa yang juga mencintainya dengan tulus. Seharusnya caranya mencintai Hanin pasti tidaklah sama dengan caranya mencintai Rasti dan Kiara. Sejatinya mencintai teman hidup bukan hanya perhatian dan uang melainkan memahami tentang apa yang diinginkan juga dirasakan oleh masing-masing.
"Maaf, Sayang. Maaf aku tidak peka dengan perasaanmu," gumam Kenan di tengah perjalanan menuju bandara.