Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kapal pesiar - empat


__ADS_3

Di tempat duduk yang berbeda, para istri tengah duduk bersama. Ada Hanin, Kiara, Vely, dan Rea. Rasti masih bersama sahabat sosialita yang ia undang. Vicky menemani Kenan bergabung dengan beberapa kolega yang sempat datang ke acara ini. Sedangkan Gunawan masih bersama Dave dan Kedua adik Rea asyik menikmati segala fasilitas yang tersedia.


“Oh iya, gimana kandunganu, Vel?” tanya Kiara sambil menggoendong Kayla di pangkuannya.


“Oh, mbak Vely lagi hamil?” Rea juga bertanya.


Sementara Hanin menyimak sambil memberi camilan pada Kevin yang duduk di bangkunya sendiri.


“Iya. Re. Aku lagi hamil,” jawab Vely. “Alhamdulillah baik. Ini juga ngga ketauan, Ra. Tau-tau gue dinyatakan hamil pas pingsan.”


“Ya, lu mah enak, Vel kalo hamil ngga pernah pake mual-mual gitu,” sambung Kiara yang tahu bahwa Vely pernah merasakan hamil sebelumnya.


“Loh, emang sebelumnya Vely pernah hamil?” tanya Hanin.


Vely dan Kiara pun saling melirik.


“Oh, ngga.” Kiara langsung menjawab cepat. “Cuma kalo Vely tuh hamilnya enak, Han. Ngga pake drama mual-mual dan ngidam aneh-aneh.”


Vely sempat terdiam sejenak. Namun, setelah mendengar jawaban Kiara, ia langsung tersenyum.


“Rasanya gimana, Mbak?” tanya Rea pada Vely.


“Hmm .... Rasanya enak, Re. Seneng aja ada yang hidup di sini. Kita berasa ngga sendirian,” jaab Vely.


Sontak Rea terdiam. Ia mengingat kejadian tadi pagi ketika dirinya bertengkar dengan sang suami hanya karena anak.


“Tapi sebelumnya, Mbak Vely juga nunda punya anak?” tanya Rea lagi.


“Tunggu, Jangan bilang kamu nunda momongan, Re!” kata Kiara.


Hanin, Vely, dan Kiara menatap Rea.


“Soalnya, Rea belum lulus, Mbak.”


“Ya ampun, Re. Kasihan Vicky. Dia tuh udah tua,” sahut Hanin.


“Hanin ...” Vely tertawa. “Ngomong tua nya kurang kenceng.”


Ketiga wanita itu pun tertawa.


“Tapi walau pun tua tenaganya bagai kuda,” celetuk Rea membuat ketiga wanita itu semakin tertawa.


“Ya ampun, Re. Kamu jadi ketularan kita kan,” sahut Hanin.


Kiara mengangguk. “Iya bener. Padahal belum lama ketemu, kamu masih polos loh.”


“Gara-gara abang gue emang,” sambung Vely yang membuat mereka kembali tertawa.


“Aku juga waktu awal nikah sempet seperti itu, Re. Aku minta Dave buat nunda momongan karena banyak projek aku yang belum kelar,” ucap Vely.


“Terus?” Rea nampak antusias mendengar penuturan Vely. Ia paling muda di antara ketiga wanita dewasa ini. Tapi Rea senang berbagi pengalaman dengan mereka.


“Dave ngga masalah. So far, dia ngertiin banget aku.”


“Ciye ....” ledek Hanin dan Kiara bersamaan sambil momong anak mereka masing-masing.


Vely tertawa. “Iya beneran.”


“Buah dari kesabaran lu, Vel. Akhirnya dikasih jodoh yang luar biasa,” ucap Kiara dengan menepuk bahu Vely.


“Iya, bener banget, Ra,” jawab Vely tersenyum.


“Terus?” tanya Rea yang pertanyaan masih dijawab menggantung oleh Vely.


“Ya terus lama kelamaan aku kok kasihan ya sama Dave. Apalagi pas kita dateng ke lahiran istri temannya. Aku terenyuh banget pas dia gendong bayi itu. Walau dia ngga ngeluh dan nuntut apa pun ke aku tapi aku sadar kalau dia emang udah pengen banget punya baby. So, aku korbanin kerjaan aku demi dia dan itu ternyata menyenangkan,” jawab Vely panjang, membuat Rea terdiam.


“Betul banget, membuat orang yang kita cintai seneng itu menyenangkan,” sahut Hanin.

__ADS_1


“Yup, begitulah cinta.” Kiara pun menyahut.


Rea berpikir kembali. Sikap Dave mungkin tidak jauh berbeda dengan Vicky. Walau semula Vicky kesal dan sempat berkata dengan nada tinggi padanya, tapi akhirnya pria itu mengalah dan mencoba untuk tidak menuntutnya.


“Kalian memang memiliki usia yang cukup jauh, Re. Tidak usah dijadikan beban. Jalani saja,” ucap Hanin dengan menepuk bahu Rea karena kebetulan Rea duduk persis di samping Hanin.


“Ya benar, Re. Vicky itu udah cinta mati banget sama kamu. Jadi dia bakalan nurut sama kamu deh,” ledek Kiara.


Rea pun tersenyum malu.


“Ya gimana ngga bertekuk lutut ya, Bu. Secara daun muda. Emang bisa aja abang gue nyari bini.” Vely pun ikut meledek kaka iparnya membuat Rea semakin tersipu.


“Ah, mbak nih bisa aja. Justru aku harus banyak belajar nih dari mbak Hanin, mbak Kiara, sama mbak Vely. Pakar semua soalnya.”


Ketiga wanita itu pun tertawa.


“Ini yang lebih paakr, Re.” Kiara menunjuk ke arah Hanin. “Kalo mau tau gimana caranya menggoda suami, minta petuah dari dia.”


“Apaan sih,” ucap Hanin malu dan tersenyum.


“Bener ... bener ... secara mbak Hanin paling TOP karena udah bisa menaklukkan singa jantan yang super kaku kaya kanebo kering,” ujar Vely.


Kiara dan Vely tertawa, begitu pun Hanin.


“Emang Pak Kenan kaya kanebo kering?” tanya Rea yang tak melihat Kenan seperti itu.


Vely dan Kiara tertawa lagi.


“Panjang deh, Re. Cerita mereka mah,” sahut Kiara.


“Sama ya,” celetuk Hanin dengan menunjuk Kiara, karena Kiara pun mempunyai cerita yang panjang, bahkan saat ini saja ada cerita yang belum dituntaskan.


Sontak, Vely pun terdiam setelah ia tertawa cukup banyak tadi. Ia pun memikirkan bagaimana sikap Kiara jika wanita itu tahu bahwa suaminya adalah pacar Vely dulu yang pernah menghamilinya.


“Pokoknya, kita itu perempuan hebat yang terpilih menjadi pendamping pria gila seperti mereka,” ujar Kiara membuat para wanita itu tertawa.


****


Malam semakin larut, Kayla dan Kevin tidur bersama pengasuhnya masing-masing. Rasti pun sudah pamit ke kamar untuk istirahat. Malam ini waktunya para anak muda.


Kenan, Vicky, Gunawan, dan Dave duduk satu meja dengan di dampingi istri mereka masing-masing. Mereka saling bercanda dan tertawa.


“Truth or Dare,” ucap Dave tiba-tiba sambil memainkan botol soda bekas minumannya tadi. “Kenan.”


Botol itu berhenti tepat ke arah Kenan setelah di putar asal oleh Dave tadi.


“Wah kita main ginian nih?” tanya Vicky.


Dave mengangguk. “Seru-seruan aja.”


“Apaan sih, ngga guna. Ngabisin waktu,” sahut Kenan dengan menegakkan kembali botol itu.


“Ngga apa-apa, Kak. Sekali-kali kita seneng-seneng. Ayo, Kak jawab,” celetuk Kiara.


“Aku lebih seneng di kamar sama Hanin,” jawab Kenan mesum.


“Uuuh ... “ Sorak yang lain mendengar jawaban Kenan.


Dave tertawa. “Ayo, Ken. Truth or Dare?” Dave memang ingin sekali mengenal sosok Kenan yang tidak ia ketahui.


“Oke, Truth,” jawab Kenan.


Hanin melirik ke arah suaminya.


“Aku yang tanya,” kata Dave. “Siapa cinta pertamamu, Ken. Aku penasaran.”


“Uuuh ...” yang lain kembali bersorak.

__ADS_1


“Berat,” celetuk Vicky dan Gunawan Tertawa.


“Jelas Hanin lah.” Kenan memeluk bahu istrinya yang duduk di samping.


“Bohong,” sahut Gun sepat.


“Beneran lah. Hanin cinta pertama gue. Yang lain cinta monyet,” jawab Kenan lagi dengan tegas. Lalu ia menatap wajah istrinya. “Kamu percaya kan, sayang?”


Hanin tersenyum dan mengangguk. “Tuh kan, Hanin percaya. Ini aja udah cukup.” Kemudian, Kenan mengecup kening istrinya.


“Uuuu ...” mereka kembali bersorak, kemudian semua tertawa.


Lalu, Kiara memutar botol itu dan terarah ke arah Dave. “Yeah, aku yang tanya. Truth ya Dave?”


Dave mengangguk dan memasang telinga untuk mendengar pertanyaan Kiara.


“Waktu Vely minta nunda momongan, kamu amrah ngga?” tanya Kiara.


Dave menatap wajah istrinya. “Hmm .... marah.”


“Oh ya? Ya ampun, Beib. Jadi kamu ngga sungguh-sungguh ngertiin aku?” tanya Vely.


“Because I love her, So marahnya aku pendam,” jawab Dave.


“Eum ...” Vely menghamburkan pelukan pada suaminya.


Kemudian, Vely memutar botol itu dan ternyata berhenti pada Vicky.


“Truth.” Vicky langsung menjawab tanpa di tanya.


“Aku yang tanya,” kata Rea.


“Uuu ... aku jadi takut nih,” jawab Vicky dengan gaya selengeyan membuat yang lain tertawa.


“Siapa cinta pertama kamu?” tanya Rea.


“Kamu kan udah tahu, Sayang. Aku udah cerita,” jawab Vicky.


Rea menggeleng, yang Rea tahu dulu suaminya memang pernah menyukai Kiara.


“Ayo jawab, Vick,” ujar Dave.


“Kiara,” jawab Vicky sambil menatap wajah Rea. “Tapi sekarang Cuma kamu yang ada di sini.” Vicky menunjuk dadanya.


“Uuuuu ...” mereka pun bersorak.


“Percaya Rea, Vicky tuh udah ngga ada rasa sama istriku,” sahut Gun.


“Ya, karena aku juga ngga ada rasa sama Vicky,” sahut Kiara sambil tertawa dan berpelukan pada suaminya.


Rea pun tersenyum. Ternyata, masa lalu suaminya memang sudah usai, walau mereka masih saling berhubungan. Rea pun lega.


Kemudian, Rea memutar botol itu dan berhenti di Vely.


“Dare. Aku tantangan aja deh,” ucap Vely.


“No ... curang,” sahut Kiara.


“Hayo, Vel. Siapa cinta pertama kamu?” tanya Hanin.


Vely sontak terdiam. Ia melirik ke arah Dave dan suaminya pun demikian.


“Loh, emang lu pernah pacaran, Vek?” tanya Vicky yang tidak pernah tahu bahwa adiknya pernah berpacaran. Pasalnya Vely terkenal wanita yang lurus dan tidak pernah berpacaraan saat sekolah.


“Jawabannya pasti Dave lah,” celetuk Kenan.


“Ayo jawab, Vel. Selama ini aku jadi temen curhat kamu, tapi aku ngga tahu nama cowok itu, tampangnya aja aku ngga tahu. Siapa Vel?” tanya Kiara dengan semangat.

__ADS_1


Sontak Gunawan pun membeku. Sepertinya situasi yang menyenangkan kini menjadi menegangkan.


__ADS_2