
Dua bulan kemudian ....
“Sayang, tolong pasangain ini!” Vicky menyerahkan dasi itu pada Rea.
Rea yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar itu pun segera mengambil benda dari tangan suaminya dengan malas dan dengan jarak yang cukup jauh dari Vicky.
Lalu, Vicky mendekati istrinya dan Rea kembali melangkah mundur.
“Kenapa sih, Sayang? Dari kemarin kamu ga mau deket sama aku.” Tanya Vicky bingung dengan sikap istrinya akhir-akhir ini.
Rea nyengir. “Kamu bau, Mas.”
“Masa?” Sontak Vicky pun mencium ketiaknya. “Aku baru mandi loh. Masa bau.” Ia masih tidak percaya. Pasalnya baru kali ini ada wanita yang mengatakan bahwa dirinya bau.
“Beneran kamu bau. Mungkin parfum kamu kali ga enak,” ucap Rea.
“Ini parfum yang biasa aku pakai, Sayang. Biasanya juga kamu ga protes.” Vicky menatap wajah istrinya dengan senyum. “Oh ini cara baru kamu buat ngegoda aku ya.”
Kemudian Viicky duduk di tepi ranjang dan meminta Rea untuk mengambil kemeja baru.
“Ini!” Rea memberikan kemeja baru pada suaminya.
Dan, Vicky kembali mengendus ketiaknya yang terbuka di sisi kiri dan kanan. “Aku ngga bau, Sayang. Nih cium.”
“Dih, ogah.”
Vicky tertawa melihat ekspresi istrinya yang manyun. “Lagian ngadi-ngadi aja bilang orang bau.”
“Ya, emang gitu.” Rea meletakkan kemeja baru itu di samping Vicky. Lalu, ia hendak meninggalkan suaminya.
Sebelum Rea pergi, Vicky dengan cepat menarik lengan Rea hingga tubuh keduanya berbaring di atas ranjang itu.
“Mas,” rengek Rea karena Vicky memeluknya erat, sedangkan tubuh Vicky kini tengah ebrtelanjang dada.
Vicky tertawa. “Modus baru, buat goda aku, supaya aku lepas baju. Gitu?”
“Ih, ngga.” Rea berusaha melepaskan pelukan suaminya. “Ge-er banget sih jadi orang.”
Vicky kembali tertawa dan ia memeluk kepala Rea hingga ketiaknya berada di kepala itu.
“Hoek .... Hoek ...” Rea mual. Ingin rasanya ia muntah.
Vicky pun langsung melepas pelukan itu dan Rea juga langsung berlari ke kaamr mandi.
“Apa gue emang bau ya sekarang?” tanya Vicky bergumam. Ia kembali mencium kedua ketiaknya. “Ah, ngga sih.” Katanya lagi pada dirinya sendiri.
Lalu, Vicky beranjak dari tempat tidur itu dan menghampiri istrinya yang tengah munta-muntah di dalam kamar mandi.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Vicky sambil memijat tengkuk istrinya.
Rea menggeleng. “Engga tahu, rasanya eprutku engga enak. Apalagi kalau pagi-pagi begini. Ditambah nyium bau kamu.”
“Terus aku harus bagaimana?” tanya Vicky bingung.
“Jangan deket-deket aku, Mas.”
“Ngga bisa, Sayang. Mana bisa aku ga deket-deket kamu.”
__ADS_1
“Ih, Mas. Dari pada aku muntah lagi,” kata Rea.
“Ck. Baiklah.” Vicky menyerah dan meninggalkan istrinya.
Rea pun menahan lengan Vciky. “Maaf, Mas.” Ia meminta Vicky mendekat dan memeluknya.
Namun, lagi-lagi perutnya terasa mual. “Hoek ... Hoek ... Hoek ...”
“Ya ampun, Sayang.” Vicky panik dan kembali memijat tengkuk istrinya sambil mengusap punggng itu. “Sepertinya kamu harus ke dokter.”
Dua jam kemudian, Vicky masuk ke dalam rumah sakit bersama istrinya. Pria itu terpaksa meminta izin dadakan pada Kenan untuk tidak masuk kerja hari ini. Rea juga dengan terpaksa bolos kuliah, karena suaminya memaksa untuk membawanya ke dokter.
Sesampainya di dalam, Vicky mendaftarkan istrinya ke bagian kandungan.
“Buat apa ke bagian ini, memangnya aku hamil?” tanya Rea.
Vikcy mengerdikkan bahunya. Ia memang pria berpengalaman. Banyak wanita yang sikapnya aneh seperti ini karena sedang hamil dan ia merasa, istrinya seperti itu.
“Kamu aneh, Sayang. Dan firasatku mengatakan kamu hamil.”
“Ngga,” sanggah Rea. “Aku ga ngerasain apa-apa.”
“Ya udah, jangan ngeyel!” Vicky menarik istrinya untuk mengikuti langkahnya menuju ke bagian ObGyn.
Di sana Rea diberondong pertanyaan seputar masa periodenya.
“Kapan ya? Lupa Sus, karena siklus periode saya memang tidak setiap bulan.”
“Tidak apa, yang penting terakhirnya saja.”
Lalu, Rea menjawab pertanyaan itu. selesai pemeriksaan melalui petugas di depan, Rea dan Vicky diminta untuk memasuki ruang dokter. Di sana, justru Vicky yang lebih banyak bicara, membuat dokter itu tersenyum.
“Dok, itu apa?” tanya Rea yang ngeri melihat alat itu.
“Kita langsung periksa melalui transvaginal saja ya, Bu. Supaya lebih akurat hasilnya.”
“Sakit ga, Dok?” tanya Rea polos.
“Tidak sesakit saat pertama, bapak menyobek selaput dara ibu, Kok.”
Sontak, pipi Rea bersemu merah.
“Dokter bisa aja,” ucap Vicky yang membuat dokter itu tertawa.
“Ya, benar kata Bapak. Istri bapak sedang mengandung. Ini kantungnya sudah terlihat walau masih sangat kecil,” kata dokter itu sambil menggerakkan alat yang berada di milik Rea.
“Apa?” tanya Rea tak percaya, pasalnya ia baru saja akan memulai mengajukan skripsi semester ini.
“Alhamdulillah.” Vicky mengucap syukur sambil mengusap wajahnya dan mencium kening Rea.
Rea melihat senyum sumringah diwajah suaminya. seketika keegoisannya pun pudar. Ia ikut tersenyum did epan wajah manis suaminya.
Kemudian, dokter memberikan penjelasan tentang kondisi janin yang baru berusia delapan minggu itu di rahim Rea. Vicky dan Rea pun mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Vicky sangat antusias dengan berita ini. Ia sangat senang.
Lalu, dokter itu memberikan resep agar janin itu tetap kuat dan sehat.
“Dok, istri saya ga mau saya deketin katanya bau. Kira-kira sampai kapan seperti itu?” tanya Vicky dengan tidak malu-malu.
__ADS_1
Dokter itu tertawa. “Sampai trimester pertama selesai.”
“Berapa lama, Dok?” tanya Vicky lagi.
“Tiga bulan atau lebih.”
“Oh my God.” Vicky menepuk jidatnya, membuat Rea tertawa dan dokter itu hanya menggelengkan kepala.
****
“Bagaimana hasilnya, Sayang?” tanya Gunawan dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kiara.
Pria itu ikut melihat hasil alat tes kehamilan yang baru saja Kiara gunakan. Seketika Gunawan tersenyum lebar saat melihat benda itu. “Alhamdulillah. Kayla akan punya adik.”
“Apa ngga kecepetan, Mas?” pasalnya Kiara baru saja gnap satu tahun.
“Tidak apa, kata orang capek sekalian.”
“Bukan capek sekalian. Tapi emang kamunya yang doyan,” ucap Kiara meledek suaminya.
Gun pun langsung tertawa lebar. “Habis gimana ngga doyan, kamunya sexy banget.”
“Hmm ... gombal.”
Gunawan kembali menegratkan pelukannya di pinggang Kiara dari belakang. Kiara menatap wajah suaminya dari balik cermin. Ia sungguh mencintai pria brengs*k ini. Gunawan pun mengecup berkali-kali bahu Kiara yang terbuka dan mengucapkan terima kasih.
DI tempat berbeda, Hanin tengah uring-uringan. Pasalnya sudah dua hari ini ASInya tak kunjung keluar. Padahal ia sudah mencoba segala macam cara.
“Kenapa sih? Cemberut aja dari tadi.” Kenan menghampiri istrinya yang duduk di sofa dengan kesal.
Ia sudah memompa ASI itu sekitar hampir satu jam, sejak Kenan mandi dan memakan sarapannya, tapi air susu itu hanya ada lima puluh mili, botol susu Kevin yang penuhnya hanya dua ratus mili saja menyisakan banyak ruang kosong.
“Air susuku kering, By.” Ingin rasanya Hanin menangis. “Udah dua hari seperti ini. Padahal di lemari es, stoknya udah tinggal satu botol.”
“Ya udah ngga apa-apa. Kamu sudah berusaha.”
“Terus, nanti Kevin pakai susu formula? Belum setahun, By.”
“Ya habis bagaimana lagi? Yang penting sudah lebih dari enam bulan.”
Hanin menangis. “Aku ngga tanggung jawab banget, harusnya Kevin mendapatkan ASI hingga dua tahun.”
Kenan tersenyum dan memeluk istrinya. “Kamu ibu yang baik, Sayang. Kamu sangat bertanggung jawab dan sudah berusaha.”
“Bantuin, By. Supaya ASInya keluar lagi,” rengek Hanin dengan menatap suaminya.
Kenan pun menatap wajah istrinya dan menangkap sinyal yang hendak istrinya mau. Ia pun tersenyum. Lalu, mendekatkan bibirnya pada put*ng Hanin. Ia mencoba memberi stimulus pada bagian itu agar ASI sang istri kembali keluar. dengan senang hati, Kenan mmbantu istrinya.
“By, kok malah yang lain ikutan tegang sih?” tanya Hanin polos ketika lututnya yang menempel bagian bawah Kenan itu merasakan ada sesautu yang keras di sana.
Kenan menonggak dan berkata, “otomatis, Sayang.”
“Eum ... kamu mah bukan bantuin malah bikin masalah baru.” Hanin masih merengek kesal.
Sedangkan Kenan semakin tersenyum dan tidak tahan melihat ekspresi istrinya yang polos dan menggemaskan.
Apa Hanin juga hamil? Jawabnnya iya. Ketiga wanita itu hamil bersamaan, setelah dua bulan lalu melakukan perjalanan menjelajah ke beberapa negara Asia Tenggara dengan kapal pesiar. Perjalanan yang penuh cerita dan ekspresi selama lebih dari lima hari. Ternyata buah perjalanan itu menghasilkan buah cinta yang menambah kebahagiaan mereka.
__ADS_1
Ketiga pasangan ini semakin harmonis dan bucin setiap harinya. Di tambah istri mereka yang semakin hari semakin manja karena kehamilannya.
Welcome to second baby for Kenan dan to third for Gunawan. Welcome to first baby for Vicky. Congratulation ....