Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kapal pesiar - dua


__ADS_3

Family gathering yang khusus Kenan persembahkan untuk orang-orang yang telah berdedikasi tinggi terhadap keluarga dan perusahaannya ini memakan waktu lima hari empat malam. Kapal pesiar ini akan melakukan perjalanan ke beberapa negara Asia Tenggara dengan rute Singapura – (Penang) Malaysia – (Phuket) Thailand.


Di Singapura, Vanesa dan Riza sudah menunggu. Kebetulan orang tua Vanesha tinggal di negara itu sekarang dan sebelum menghadiri acara yang diselenggarakan perusahaan Kenan ini, Riza memang sudah izin untuk menemui orang tua Vanesa terlebih dahulu dan mereka akan naik ketika kapal Kenan berhenti di sini.


Kapal sedang bergerak menuju Singapura. Semua keluarga yang berada di dalam kapal pesiar milik Kenan ini tengah memasuki kamar masing-masing yang telah di sediakan. Mereka bersantai dan beristirahat sambil menikmati semua fasilitas yang ada di dalam kapal ini.


Setiap kamar di dalam kapal ini memiliki kamar mandi dan televisi di dalamnya. Kondisi kamarnya pun dibuat persis seperti kamar hotel bintang lima. Di tengah kapal terdapat swiming pool yang sangat luas. Swiming pool ini dapat dilihat dari deck mana pun karena letaknya yang berada di tengah. Ada juga area permainan air untuk anak yang dilengkapi dengan berbagai jenis permainan anak. Di dalam kapal ini juga menyediakan area olahraga seperti catur raksasa, lapangan basket, dan mini golf. Restoran di dalamnya pun sangat luas. Di sana, juga tersedia pub atau mini bar untuk bersantai, biasanya tempat ini diisi oleh rekan-rekan Kenan sejawat.


Sebelum acara makan malam bersama, semua keluarga bebas melakukan aktivitasnya masing-masing, karena lepas makan malam bersama, panitia akan membuka acara ini sebagai sambutan dari pemilik acara yaitu Kenan dan kelurganya.


Hanin berdiri di dekat jendela, menikmati laut yang terhampar luas di sana. Perlahan, Kenan menghampiri istrinya yang masih berdiri dengan pandangan keluar jendela.


“Hei, apa yang kamu pikirkan?” tanya Kenan sambil mengeratkan kedua tangannya pada pinggang Hanin.


Hanin menoleh ke arah Kenan dan tersenyum. Lalu kembali memandang laut lepas itu. Dagu Kenan pun menempel di bahu istrinya dengan arah pandang yang sama.


Hanin meletakkan tangannya di atas tangan kokoh yang sedang melingkar di pinggangnya itu. “Aku tak henti bersyukur, By.”


Hanin kembali menoleh ke arah suaminya dan menangkup wajah tampan itu dengan satu tangannya. “Aku bersyukur menjadi istrimu.”


Kenan tersenyum dan mengecup kepala sang istri. “Aku juga, Sayang. Oleh karena itu aku membuat acara ini. aku ingin orang-orang terdekatku merasakan kebahagiaan yang aku rasakan.”


Hanin mengangguk.


“Tiba di Malaysia, Kak Nida akan ikut bersama kita,” ucap Kenan yang sudah menyiapkan kedatangan sang kakak ipar.


“Oh, ya? Aku bahkan belum berkomunikasi lagi dengan Kak Nida.”


“Kamu memang pelupa sekarang.” Kenan meenpuk dahi istrinya.


“Aku sibuk mengurus dua bayi, By.”


Kenan tertawa. “Baru dua.”


“Memang mau berapa?” tanya Hanin membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sang suami.


“Kita sepakat akan membuat kesebelasan ‘kan?”


“Itu kan kalau aku belum melahirkan anak laki-laki,” jawab Hanin cemberut.


“Kalau begitu enam. Separuhnya kan?”


“By,” rengek Hanin. “Dua saja, aku sudah menjadi orang pelupa apalagi enam.” Hanin menunjuk keenam jarinya. “Ditambah kamu satu, jadi tujuh dong. Oh, My God.”


Kenan tertawa. padahal ia juga tak serius untuk melakukan itu.


Di kamar Kiara, Gunawan terus meenmpel pada sang istri. Entah mengapa sejak ia tahu tentang orang yang membantu Vely adalah Kiara, Gun menjadi sangat takut.


“Mas, apa sih? Dari tadi gelayutan terus.” Kiara tertawa sembari menggerakkan bahunya yang Gun pakai untuk menyandarkan dagu atau kepalanya.


“Aku ingin dekat kamu terus.”


“Ish, gombal banget.” Kiara tertawa.


Pasalnya, saat ini ia sedang sibuk memindahkan pakaian dari dalam koper ke lemari yang tersedia di dalam kamar ini. sebelumnya ia tidak sempat merapihkan dan sekarang karena Kayla sedang tidur, ai dapat leluasa merapihkannya.


Gunawan terus menempel di belakang tubuh Kiara dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang itu.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Gun. Sejujurnya, Gun ingin sekali menceritakan masa lalunya pada Kiara, agar Kiara tidak mendengar dari orang lain, tetapi ia terus menimbang-nimbang.


“Hmm ...” jawab Kiara.


“Kamu cinta aku kan?” tanya Gun.


Kiara menoleh ke arah suaminya. “Pertanyaan apa sih, Mas? Tanpa ditanya kamu pasti tahu jawabannya.” Wanita cantik itu tersenyum manis ke arah suaminya.


“Kalau pun masa laluku buruk?” tanya Gun lagi.


“Kan, aku juga udah tahu dari dulu kamu itu kaya apa. Lagipula, masa laluku juga tidak baik dan kamu menerimanya.”


Seketika bibir Gun tersenyum lebar. Namun kembali merengut. “Aku neyesel deh, Ra.”


“Kenapa?” tanya Kiara.


“Aku nyesel kenapa dulu perilaku aku buruk,” kata Gun hingga Kiara merasa kegelian karena dagu yang menempel di bahunya itu naik turun.


“No bodies perfect, Mas. Setiap orang pernah melakukan kesalahan,” jawab Kiara dengan membalikkan tubuhnya dan menatap lagi wajah sang suami.


“Ya, dan lelaki akan berubah perilakunya ketika memiliki anak.”


Kiara tersenyum mendengar pernyataan itu. Ia pun mengangguk. “Mungkin bukan hanya lelaki, perempuan pun akan seperti itu, berubah ketika sudah menjadi ibu.”


Gunawan dan Kiara menatap Kayla yang cantik dan mungil tengah terlelap di ranjang king size itu. Kiara menutup pintu lemari dan duduk di sofa. Gun kembali mengikuti istrinya. Ia pun duduk di samping Kiara dan memeluk pinggangnya.


“Aku sangat mencintaimu, Sayang,” ucap Gun sambil menenggelamkan kepalanya di dada Kiara. “Jangan pernah tinggalin aku ya!”


Kiara tertawa, pasalnya saat ini Gun tampak seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal ibunya. “Kamu manja banget sih, Mas.” Kiara menangkup kepala Gun dan mengelus rambutnya. Lalu, sesekali mencium rambut ikal itu.


“Aku butuh kamu, Sayang,” kata Gun lagi.


“Aku juga mencintaimu, Mas. Aku lakukan semua ini ke kamu karena cinta. Jadi selelah apapun aktivitasku, aku tidak merasa lelah.”


“Pokoknya, apapun yang kamu dengar tentang keburukanku di masa lalu. Itu tidak mengurangi sedikitpun cintaku padamu. Masa lalu adalah masa lalu, aku tidak pernah menginginkan masa lalu itu menjadi masa depanku. Karena aku sudah punya kamu sebagai masa depanku.”


“Eum ... So Sweet banget.” Kiara menatap wajah suaminya. Keduanya saling bertatapan mesra dan berpelukan erat. “Ya, aku percaya kamu, Mas.”


Di kamar Vicky dan Rea, kedua insan yang masih terbilang pengantin baru ini tak henti-hentinya bercumbu dan memadu kasih. Rasa yang baru menggelora itu seolah tengah berkobar dan ingin terus tersalurkan.


Seperti saat ini, Vicky masih asyik menimati gunung kembar yang kenyal milik istrinya. Mulutnya masih berada dalam bulatan kecil yang ada di tengah-tengah gundukan itu. Ia mngulum bulatan kecil itu bergantian dengan rakus. Rea hanya bisa mendes*h merasakan sensasi yang mengalir ke seluruh tubuhnya terutama bagian sensitifnya yang menjadi lembab.


Tangan Vicky meraba hingga tepat pada bagian yang lembab itu.


“Ah,” lenguh Rea ketika bagian lembab itu terisi jari telunjuk Vicky.


Vicky memang pandai memainkan tubuh wanita. Rea bertekuk lutut dan tidak bisa berkata tidak ketiak suaminya sudah beraksi. Padahal sedari tadi, Vely sudah menelepon Vicky dan memberitahu bahwa ia sedang berada di kapal ini juga. Vely menanyakan letak kamar Vicky. Namun sang kakak sedang asyik bermain dengan istrinya hingga mengabaikan semua pesan atau panggilan telepon itu.


“Mas, Ah. Aku ngga kuat.” Rea kembali melenguh. Ia sudah ingin meledakkan sesuatu hingga akhirnya tubuhnya menggeliat. “Aarrgg ....”


Vicky tersenyum melihat Rea yang sekarang sudah bertekuk lutut padanya. Ia pun memposisikan diri untuk mulai menyatukan dirinya dan sang istri.


“Ah,” Rea kembali melenguh saat Vicky sudah menyatu padanya.


“Kamu nikmat, Sayang,” ucap Vicky dengan nada sensual.


“Mas, kamu ngga ada capeknya ya.”

__ADS_1


Vicky tersenyum. “Bahkan aku akan minta lagi nanti malam.”


“Mas,” rengek Rea sembari memukul dada suaminya.


Vicky kembali tertawa.


Cukup lama mereka bercinta dan melakukannya dengan berbagai macam gaya. Walau usia pernikahan mereka masih hitungan minggu, tetapi Rea sudah banyak perubahan. Istri Vicky itu semakin pintar dalam mengimbangi Vicky yang gila bercinta.


“Arrggg ....” Keduanya berteriak ketika pelepasan itu tiba.


Vicky menyusul Rea yang sebelumnya berteriak lebih dulu. Pria itu ambruk di atas tubuh sang istri dengan nafas tersengal.


“Makasih, Sayang.” Vicky sedikit bangkit dan mengecup kening sang istri.


Rea pun tersenyum. “Sama sama, Mas.”


Perlahan Vicky melepaskan penyatuan itu dan berbaring di samping istrinya. Rea langsung bangun dan mengambil tas yang berada di atas meja rias. Vicky sayup-sayup melihat pergerakan istrinya. Rea mulai mengambil sesuatu di dalam tas itu dan menenggakkan sesuatu ke mulutnya seraya dengan air mineral yang ada di botol yang tersedia di samping meja itu.


Vicky terkejut dan langsung bengkit dari tubuhnya yang semula berbaring. “Re, kamu minum apa?”


Rea pun terkejut dan menoleh ke arah sang suami. Ia masih terdiam.


Vicky kembali bangkit dari ranjang itu, lalu memakai boxernya dan berjalan menghampiri Rea. Di sana, Rea sudah memasukkan kembali pil yang selama ini ia konsumsi.


“Re, kamu minum apa?” tanya Vicky lagi.


“Obat.”


“Kamu sakit?” tanya Vicky panik.


Rea menggeleng.


Vicky pun membuka tas itu dan menemukan stu strip obat. “Ini obat apa, Re?”


“Kontra ... sepsi,” jawab Rea terbata-bata.


“Apa?” tanya Vicky tak percaya. “Jadi selama ini kamu?”


Rea mengangguk. “Iya. Aku belum siap hamil, Mas. Aku masih belum lulus kuliah.”


“Kenapa kamu ngga bilang dulu sama aku? Kamu tahu usiaku sudah berapa? Kamu juga tahu kalau aku ingin sekali kita cepat punya anak,” ucap Vicky dengan nada yang sedikit tinggi, karena kesal.


Rea terdiam dan duduk di kursi meja rias itu. Ia menunduk sambil memainkan tangannya.


“Seharusnya kamu bilang sama aku, Re. Jangan ambil keputusan sendiri!” Vicky kembali berkata dengan nada tinggi seakan menghardik apa yang dilakukan istrinya.


Hati Rea sedih karena sebelumnya tidak pernah ada orang yang membentaknya atau berkata tinggi di depan wajahnya. Air mata Rea hampir saja tumpah.


“Re, jawab.” Vicky memasang wajahnya tepat di depan wajah Rea yang masih menunduk.


Perlahan Rea menengadahkan kepalanya dengan air mata yang sudah membasahi pipi. “Kamu juga mengambil keputusan sendiri saat menikahiku. Kamu tahu ini konsekuensi menikahi anak kecil yang masih sekolah. Jika ingin cepat punya anak, seharusnya kamu menikahi wanita yang lebih dewasa dari aku.”


Rea bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Lalu, ia menutup pintu itu rapat dan menangis.


“Ah, Si*l.” Vicky meremas rambutnya sendiri.


Di dalam kapal pesiar ini, kedewasaan tiga pria bersahabat ini kembali diuji. Begitu pun dengan wanita yang menjadi pendampingnya, karena istri seorang Kenan, Vicky, dan Gunawan adalah wanita terpilih yang ketangguhannya sudah teruji.

__ADS_1


__ADS_2