
Setelah Singapura, kapal pesiar melaju menuju Malaysia. Dengan terpaksa malam ini, Kenan tidur sendiri, karena ia tengah berada di kamar Kak Nida bersama anak Nida yang perempuan dan Kevin. Sementara, suami Nida bersama anak pertanya yang laki-laki di kamar lain.
“Sayang, aku ngga bisa tidur nih.” Kenan mengirim pesan melalui whats app pada istrinya.
Hanin dan Nida saling merindu. Kedua kakak beradik ini sudah lama tidak jumpa, sehingga sepanjang bertemu mereka selalu berbincang. Ada saja yang mereka bicarakan.
Hanin mengambil ponselnya yang berbunyi notifikasi. Ia tersenyum membaca pesan dari suaminya.
“Siapa?” tanya Nida.
“Kenan,” jawab Hanin.
“Kenapa suamimu? Tidak bisa tidur karena kamu tidur bersama kakak di sini?” tanya Nida lagi.
“Ih, kok kakak tahu sih,” jawab Hanin tertawa.
“Tahu lah, tampang Kenan kan mesum.” Nida tertawa.
Hanin ikut tertawa dan mengangguk. “Ya, dia mesum banget. Emang Kak Emran ngga gitu?”
Nida masih tertawa. “Sama. Tapi kayanya mesuman Kenan deh.”
Kedua wanita itu pun kembali tertawa.
“Ya udah kasihan dia, Han. Kamu balik lagi ke kamarmu, gih!” kata Nida.
“Ngga apa-apa, Kak. Sekali-kali ngerjain Kenan. Lagian aku kangen banget sama kakak. Udah lama tau ngga ngobrol seperti ini. Cuma semalam doang.”
Nida menepuk bahu hanin. “Tega banget kamu. Kasian tau.”
“Paling besok malem dirapel,” celetuk Hanin dan Nida pun tertawa. Nida tahu kata “rapel” yang dimaksud adiknya.
Dua wanita kakak beradik itu kembali tertawa. Sedangkan Kenan di kamarnya tengah gelisah. Ia benar-benar tidak bisa tidur. Biasanya ia tidur dengan memeluk guling hidup yang kenyal sambil menghirup aroma tubuh istrinya yang menenangkan, tapi kini ia benar-benar memeluk guling yang tak bisa bergerak dan tidak memiliki aroma candu itu.
“Sayang.”
“Sayang.”
“Sayang.”
Kenan terus mengirim pesan itu pada Hanin, tapi sang istri belum juga membalasnya. Kenan melihat jam ternyata waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ia ingin menelepon istrinya, tapi khawatir istrinya sudah tidur dan mengganggu kakak iparnya yang sedang tidur bersama Hanin.
“Kamu tega banget, Sayang. Aku ga bisa tidur nih. Awas ya! Besok malem aku hukum.”
Kenan kembali mengirim pesan, tapi kali ini centang dua itu berwarna biru.
“Mau dong di hukum, wk wk wk ...” Balas Hanin.
Bibir Kenan pun langsung menyungging senyum. Mereka seperti dua sejoli yang tengah Long Distance Relationship, padahal hanya beda kamar saja.
“Nakal,” balas Kenan.
“Mesum,” balas Hanin.
Kenan dan Hanin tertawa sendiri membaca pesan itu.
“Miss you, Sayang.” Kenan kembali mebalas pesan itu.
“Love you, Hubby. Bobo ya, udah malem.” Hanin pun membalas.
“Semoga bisa,” jawab Kenan.
“Pasti bisa, anggep aja guling itu aku,” jawab Hanin.
__ADS_1
“Beda. Gulingnya ngga kenyal kaya kamu.”
“Dasar mesum.” Hanin kembali membalas dengan emot tertawa.
“Tapi suka kan dimesumin,” jawab Kenan.
“Au ah.” Hanin langsung menggeletakkan ponselnya setelah mengirim balasan pesan Kenan tadi.
Kenan tertawa sendiri di kamarnya. Ia pun mengirim emot love dan kiss. Lalu, ia meletakkan ponsel itu dan meraih guling, kemudian memeluknya. Rasanya sangat berbeda.
“Ck, wanita penggoda itu sangat berarti untukku,” gumam Kenan yang terkadang masih saja menyebut Hanin dengan sebutan wanita pengoda.
Padahal Hanin kesal sekali jika suaminya menyebutnya dengan sebutan itu. Namun, Kenan malah menyukai istrinya yang cemberut karena sebutan itu.
Di kamar Nida, ternyata Hanin pun tidak bisa tidur. berulang kali tubuhnya bergerak ke kana dan kiri, hingga tidur Nida pun terganggu.
“Aduh, Han. Kamu ga bisa diem banget sih,” ujar Nida yang sedikit terbangun karena gerakan Hanin yang tidak bisa diam.
“Maaf, Kak,” jawab Hanin.
“Udah gih sana pindah ke kamar kamu. Kayanya bukan hanya Kenan yang ngga bisa tidur.”
Hanin nyengir menampilkan jejeran giginya yang rapi dan putih.
“Dasar! Ternyata bukan cuma Kenan yang mesum, istrinya juga,” ucap Nida.
“Kak, ih.” Hanin malu dan menepuk bahu sang kakak.
Nida pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Udah sana, pindah!”
“Tapi Kevin udah pules. Kasihan kalo dipindahin,” jawab Hanin.
“Ngga apa-apa, Kevin di sini sama kakak. Yang penting ada ASI kamu kan di sana.” Nida melirik ke kulkas kecil yang ada di kamar itu.
Hanin mengangguk. “Ada. Hanin memang udah siapain buat tengah malam.”
Hanin pun kembali nyengir. “Kak Nida emang is the best. Paling mengerti aku.” Hanin mendekati Nida dan mencium pipinya. “Makasih, Kak.”
“Dasar!” Nida menepuk b*k*ng sang adik saat Hanin membalikkan tubuhnya untuk beranjak dari ranjang itu.
Hanin menoleh dan kembali nyengir sambil mengedipkan satu matanya.
“Dasar centil,” celetuk Nida sesaat sebelum Hanin menutup kembali kamar itu.
Hanin hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Hanin perlahan membuka kamar itu. Ia melihat suaminya yang sudah memejamkan mata sambil memeluk guling dengan posisi membelakangi pintu. Hanin langsung duduk di ranjang itu dan membaringkan diri, lalu masuk ke dalam selimut tebal bersama suaminya. Tangan Hanin memeluk tubuh Kenan dari belakang. Namun, tubuh Kenan tak bergerak. Sepertinya, Kenan sudah terlelap pulas.
“Katanya ngga bisa tidur tanpa aku. Tapi udah pules juga. Uh dasar,” kesal Hanin, kemudian membalikkan tubuhnya.
Mereka saling membelakangi. Namun beberapa detik kemudian, Kenan memeluk Hanin dari belakang dan menempelkan wajahnya di cerug leher itu.
“Ternyata kamu juga ga bisa tidur tanpa aku, hmm ...”
“Tau ah, Ken Ken jelek. Nyebelin.”
Kenan tertawa. Dagu Kenan yang ditumbuhi bulu halus yang baru tumbuh itu membuat sensasi geli di leher Hanin. Kenan sengaja mengesekkan dagunya di leher jenjang itu.
“By ... geli. Stop!” pinta Hanin yang mulai tersenyum kegelian.
“Biarin abis gemesin.”
“By,” teriak Hanin sambil tertawa.
__ADS_1
Lalu, Kenan mengecup leher putih itu dan menggigitnya.
“Ah ... By,” lenguh Hanin, tapi Kenan masih dengan aktivitasnya.
Ia candu dengan aroma tubuh itu. Kenan menghirup dan menelusuri leher Hanin sambil menggigit kecil bagian-bagian itu menjadi sedikit kemerahan.
“By, udah malem. Ayo tidur!” rengek Hanin.
“Tadi aku udah tidur, tapi karena kamu membuatku terbangun jadi harus tanggung jawab,” ucap Kenan.
“Ih, kok gitu?” tanya Hanin tak terima. “Udah ah, tidur.” Hanin menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Eh ga bisa.” Kenan membuka selimut itu.
Hanin kembali menarik selimutnya. “Tidur, By. Besok pagi kita berlabuh lagi.”
“Terus kenapa?” tanya Kenan menyeringai.
“Tidur.” Hanin kembali menyelimuti tubuhnya hingga kepala.
Kenan masuk ke dalam selimut itu dan tetap menganggu istrinya.
“By,” rengek Hanin karena dibalik selimut itu, Kenan sudah melucuti pakaiannya.
Kenan tersenyum menyeringai dan menindih tubuh Hanin. keduanya berada dibalik selimut tebal itu.
“Semalam aja ngga begituan. Aku udah lepas spiral, By. Ini mah langsung jadi deh,” ucap Hanin kesal.
Ya, atas permintaan sang suami. Akhirnya Hanin melepas alat kontrasepsi yang belum lama terpasang. Ia menuruti keinginan suaminya yang menginginkan teman untuk Kevin.
Kenan kembali tersenyum senang dan mencubit ujung hidung Hanin. “Wanita penggoda ini memang penurut. Hubby-mu jadi semaaaaakin cinta.”
“By, jangan panggil aku wanita penggoda. Kesel tahu dengernya.”
Kenan kembali tertawa. “Lah, kan emang kamu wanita penggodaku.”
“By ...” Hanin kembali merengek, membuat Kenan tertawa. “Panggil gitu lagi, aku pindah ke kamar Kak Nida nih.”
Hanin mencoba melepaskan kungkungan itu.
Namun, Kenan dengan cepat menahan tubuh istrinya untuk tetap dalam kungkungan itu. “Ish, ngancem.”
Kenan mulai melakukan aksinya. Sepertinya Hanin salah dengan keputusannya yang pindah kamar, karena akhirnya ia tidak bisa langsung tidur dan harus olahraga malam. Padahal malam ini, ia sedang malas berolahraga. Tapi tetap saja, Hanin akan terbuai dan menikmati olahraga itu setelah Kenan menyentuhnya.
****
Matahari mulai bersinar. Hanin yang kembali tertidur setelah melaksanakan kewajibannya itu pun terbangun karena ponselnya yang berbunyi alarm, tetapi Hanin hanya mematikan bunyi itu dan kembali tidur. Ia pun melihat Kenan yang masih terlelap. Mereka masih lelah akibat pertempuran semalam. Sejenak Hanin tenang meninggalkan Kevin karena diliar sana banyak orang yang mengasuh anaknya itu, termasuk Nida yang memang sangat merindukan keponakannya.
Sedangkan di rsstoran, seluruh peserta di kapal itu sedang menikmati sarapan pagi, karena sebentar lagi kapal akan berlabuh di Malaysia. Namun, Kenan dan Hanin belum nampak di tempat itu. Hanya pasangan itu yang masih berada di kamarnya.
“Kenan mana?” tanya Gunawan pada Vicky.
“Ngga tahu, dari tadi belum liat,” jawab Vicky.
“Lah, tapi Kevin ada tuh sama kakaknya Hanin,” ucap Gun lagi.
“Wah, pasti tuh anak gempur Hanin sampe pagi,” celetuk Kiara.
“Dasar emang kaga tahu tempat tuh si Kenan,” ucap Vicky kesal, padahal dirinya pun kemarin seperti itu.
“Bos siapa sih?” tanya Kiara.
“Kakaknya siapa sih?” tanya Vicky.
__ADS_1
“Tahu tuh, anak siapa sih?” celetuk Rasti yang baru saja bergabung bersama Vicky, Rea, Kiara, dan Gun. Juga bersama Dave dan Vely.
Mereka tertawa dan Rasti pun ikut tertawa dengan para generasi muda itu. Sementara yang dijadikan bahan pembicaraan masih terlelap sambil memeluk istrinya erat.