Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ekstra part 5


__ADS_3

“Kayla, Sayang ...” Hanin memanggil bayi mungil yang tengah di gendong oleh ayahnya.


“Hei, ada onty Anin,” kata Gun yang langsung menoleh ke sumber suara itu sembari mengajak tangan


putrinya untuk melambaikan tangan ke arah itu.


“Hai Han,” sapa Kiara yang sedang duduk di samping suaminya.


Kiara dan Gunawan berdiri menyambut Hanin dan Kenan yang melangkah mendekati mereka. Hanin dan Kiara saling bercium pipi, sedangkan Kenan dan Gunawan berpelukan ala khas seorang pria.


“Perutmu sudah terlihat besar sekali, Han,” ucap Kiara semabri mengelus perut besar itu.


“Iya, tinggal menghitung hari nih, Ra.”


“Bulat sekali, dulu sewaktu aku hamil Kayla bentuknya tidak bulat seperti ini,” kata Kiara lagi.


“Oh, ya?” tanya Hanin yang tidak ingin mengambil pusing.


Ia memang kini sudh tidak mengambil hati setiap orang yang berasumsi tentang jenis kelamin bayi dalam perutnya. Pasalnya, Kenan sebagai suami pun tidak pernah mempermasalahkan dan menyinggung hal itu lagi dan hanya itu yang terpenting.


“Sepertinya anakmu laki-laki, kak,” ucap Kiara.


Gunawan langsung menatap istrinya yang keceplosan mengucapkan sesuatu yang pernah membuat pasangan ini terbentur kesalahpahaman.


“Ya, dikasih laki-laki alhamdulillah, perempuan juga ngga masalah. Malah nanti Kay ada temennya. Ya!” Kenan mencubit pipi cabi Kayla yang sekarang berada dalam gendongan Hanin.


“Iya, benar,” jawab Gun. Lalu di angguki Kiara dengan senyum.


Tiba-tiba si Bibi datang menghampiri kedua pasangan ini.


“Den, Non. Ibu menyuruh ke ruang tamu,” kata si Bibi.


“Ada apa, Bi?” tanya Kiara.


“Ada Non Misya dan putranya ingin pamit.”


“Misya.” Kiara melirik ke arah Hanin dan Kenan.


Kenan dan Hanin pun saling berpandangan. Kenan mengangkat bahunya di depan Hanin. ia tak tahu mengapa aa Misya di rumah ini. Ia pun tidak tahu mengapa selalu saja ada Misya ketika ia datang ke rumah ini.


“Kak, mau ikut ke ruang tamu?” tanya Kiara pada Kenen.


“Tergantung ibu ratu.” Kenan malah mendudukkan diri di sofa dan mengambil kue kering yang sang ibu buat tadi, sembari menunjuk ke arah Hanin.


“Han, ke ruang tamu yuk! Temuin Misya. Dia mau pergi ke jerman,” kata Kiara.


“Ya, mumpung kalian ada di sini. mungkin dia juga ingin berpamitan pada kalian dan minta maaf mungkin,” sahut Gunawan.


Kiara dan Gunawan menceritakan bahwa Misya akan kembali menetap ke Jerman.


Hanin memberikan lagi Kayla pada ayahnya. “Memang kenapa dia pindah?”


“Mungkin karena ditolak kakak,” jawab Kiara.


“Ra,” Kenan memanggil adiknya dengan penuh penekanan. “Tuh mulut belum pernah dijejel sambel ya. Jangan jadi kompor deh!”


Kiara tertawa. Lalu, menarik lengan suaminya untuk berjalan ke dalam rumah itu menuju ruang tamu. Sementara, Hanin ikut duduk di samping sang suami.


“By, ayo ke dalam! Temuin Misya.”


“Aku ngga mau kamu salah paham, Sayang. aku juga ngga tau, kenapa setiap aku ke sini, pasti ada dia.”


“Tapi ini kan terakhir kali dia datang ke rumah ini, By. Kata Kiara dia mau pamitan,” seru Hanin.


Kenan menangkup wajah istrinya. “Hei, dengar. Aku tidak mau melakukan apapun yang membuatmu tersakiti. Sebisa mungkin, aku menjaga perasaanmu.”


Hanin tersenyum. “Aku percaya. Kamu sudah membuktikannya.”


Mereka pun berpelukan.

__ADS_1


“Tapi tidak ada salahnya bertemu wanita itu, By. “ Hanin menddongakkan kepalanya untuk menatap sang suami. “Aku ingin memiliki hubungan baik pada semua orang, termasuk Misya. Bukankah dia teman baikmu dulu.”


Kenan tersenyum dan menatap kedua bola mata istrinya. “Yakin?”


Hanin mengangguk. “Waktu itu aku lagi baperan aja.” Ia nyengir, menunjukkan jejeran giginya.


“Baiklah kalau begitu. Ayo temui dia!” Kenan berdiri dan mengulurkn tangannya pada sang istri untuk ikut bangun dari sofa empuk itu.


Hanin tersenyum menerima uluran tangan Kenan. Kemudian, mereka masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang tamu.


Seketika, suasana ruang tamu yang semula riuh menjadi hening saat Misya menatap sosok pria yang sudah menolaknya mentah-mentah tengah menggandeng wanita dengan perut bulat, berjalan menuju ke arahnya.


Rasti, Kiara, dan Gunawan pun melihat ke arah mata Misya. Begitu pun dengan Marcel.


“Hai, Om.” Marcel langsung melambaikan tangannya ke arah Kenan.


Kenan melepaskan tangan yang semula memeluk Hanin dan menghampiri Marcel. Ia memeluk pria remaja itu. “Kau ingin pulang ke negaramu?”


Marcel mengangguk. Ya, negara itu adalah negara kelahirannya. “Ya, Om. Aku tidak betah di sini. Teman di sini, tidak menyenangkan. Mereka tidak ada yang menyukai bisnis sepertiku. Aku di bilang ‘old’.”


“Mereka hanya tidak mengerti. biarkanlah!” Kenan mengelus pucuk kepala Marcel.


Kemudian mengajak Hanin untuk duduk di sampingnya.


“Apa kabar, Han?” tanya Misya.


“Maaf, Mami lupa memberikan kalian minum. Sebentar, Mami buatkan,” ucap rasti menyela perbincangan yang baru saja Misya mulai kepada menantunya.


“Hmm ... Kiara ikut bantu, Mam.” Kiara pun berdiri mengikuti sang ibu.


“Saya juga permisi, Kayla sepertinya mengantuk. Saya bawa dia ke kamar dulu,’ sahut Gunawan yang juga ikut berdiri.


Entah ini di sengaja atau tidak? Tapi Rasti, Kiara, dan Gunawan seolah-olah memberi mereka ruang untuk berbincang.


“Oh, iya Om. Saya boleh mengambil buku yang saya minta kemarin?” tanya Marcel.


“Kau memang yang terbaik, Om.” Marcel kembali memeluk Kenan sebelum kakinya melangkah mengikuti Lastri.


“Oh, aku baik. Mbak sendiri apa kabar?”


Akhirnya, Hanin menjawab pertanyaan Misya yang sudah di sela banyak orang.


“Aku juga baik.” Misya terlihat canggung.


Mereka bertiga terdiam sejenak.


“Mengapa kau pindah, Mis?” tanya Kenan basa-basi.


“Bisnis Exel di sana terbengkalai tanpaku, Ken. jadi sepertinya aku harus kembali. Tadinya aku pikir mereka bisa diandalkan, ternyata tidak.” Misya beralasan, padahal perusahaan sang suami di negara itu baik-baik saja. Ia pun masih mengontrolnya dari jauh.


“Oh, aku kira kau ke sini untuk mengembangkan bisnis Exel,” sahut Kenan.


Misya menggeleng. “Aku ke sini hanya karena rindu dengan tanah kelahiran.”


Kedua orang tua Misya memang sudah tiada. Lalu, perusahaan keluarganya di pimpin oleh anak tertua mereka dan sejujurnya niat Misya kembali ke sini bukan hanya sekedar itu.


“Tapi ternyata, Marcel tidak menyukai tempat ini. aku harus mengalah, karena memang negara kelahirannya bukan di sini,” sambung Misya.


Kenan dan Hanin mengangguk.


“Han,” panggil Misya.


Hanin yang semula menunduk pun langsung menoleh ke arah Misya yang menatapnya.


“Pertama, aku ingin meminta maaf padamu, karena kalian salah paham gara-gara aku.” Misya terdiam sejenak dan berkata lagi, “aku sudah mendengar banyak dari Kiara. Aku sungguh minta maaf.”


“Sudahlah, Mbak. Tidak apa. Mungkin karena hormon kehamilan, jadi aku mudah sekali baperan.” Hanin tersenyum.


Misya pun tersenyum, sementara Kenan hanya mendengarkan kedua wanita ini.

__ADS_1


“Pagi itu, aku dan Kenan tidak janjian. Kami kebetulan bertemu di rumah ini karena terkadang aku mampir ke rumah Mami setelah mengantar Marcel sekolah.”


Hanin mengangguk mendengar penjelasan Misya.


“Dan ketika di rumah sakit. Itu hanya insiden.” Misya kembali menjelaskan bagaimana ia dan Kenan bisa sampai di ruang IGD waktu itu. ia kjuga menjelaskan bagaimana Kenan menolaknya. “Kamu berunung, Han. Kamu adalah pemenangnya. Pemenang hati pria sedingin Kenan.”


Misya tersenyum dengan arah mata ke arah Kenan. Hanin pun melakukan hal yang sama.


“Ya, aku sangat beruntung.” Hanin melingkarkan satu tangannya pada pinggang Kenan.


Kenan pun menerima pelukan itu dan merangkul bahu istrinya. “Aku pun beruntung memilikinya, Mis. Kau tidak tahu bagaimana caraku mendapatkannya. Itu sangat gila.” Ujar Kenan yang langsung mendapat pukulan dari Hanin.


“By, jangan dibahas!”


Kenan tertawa sembari mengusap lengan yang cukup nyeri karena pukulan istrinya tadi.


“Pokoknya, hal itu jangan dibahas lagi. Oke!” kata Hanin.


Kenan tertawa. Kala mengingat kejadian itu, Kenan memang geli sendiri rasanya. Ia seperti pria gial yang menghalalkan segala cara, tapi di sisi lain, ia senang jika mengungkit hal itu karena wajah hanin akan bersemu merah, karena ia pun malu pada waktu itu yang membenci Kenan tetapi menyukai sentuhannya.


Misya melihat canda tawa pasangan ini. ia pun tersenyum. Sungguh jahat sekali pikirannya dulu yang ingin merebut Kenan dari Hanin, karena ternyata pria itu benar-benar mencintai istrinya. Semula ia pikir, dialah wanita pertama yang disukai dan dicintai Kenan, tapi ternyata pikirannya salah.


Setelah lma berbincang, akhirnya Misya dan Marcel pamit. Ia memeluk Hanin dan anggota keluarga Aditama lainnya termasuk Rasti.


“Hati-hati ya, Mis. Teman-teman anak mami, sudah mami anggap seperti anak sendiri,” kata Rasti, setelah menerima pelukan dari teman putrnya itu.


Mereka masih berdiri di teras, hingga mobil Misya keluar dari gerbang kediaman Aditama. Lalu, mereka pun kembali ke dalam.


Kenan berjalan bersama Gunawan sembari berbincang. Kedua pria itu tampak cool dengan sama-sama memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil berjalan. Sementara, Kiara tidak tampak mengantar kepulangan Misya karena sedang menyusui Kayla di kamarnya.


Sedangkan Hanin dan Rasti, berjalan di belakang kedua pria cool itu.


Rasti merangkul pinggang Hanin. “Sayang, maafkan mami.”


“Untuk apa, Mam?” tanya Hanin bingung.


“Untuk sikap Mami yang mungkin menyinggungmu.”


“Tidak, tidak ada sikap Mami yang menyinggungku. Sungguh!” jawab Hanin. ia memang sudah jauh melupakan semua itu. Tidak pernah terbesit di dalam pikiran Hanin bahwa kesalahpahaman yang pernah terjadi antara dirinya dan Kenan itu karena rasti, tidak. Ia memang mengira kesalahpahaman itu karena hormon kehamilan yang membuatnya mudah berperasaan. “Kesalahpahaman itu terjadi memang karena hormon ibu hamil, Mam.”


“Tapi tetap saja, Mami sepertinya pernah berbuat jahat padamu. Sebagai mertua dan seorang ibum seharusnya sikap Mami tidak demikian,” ucap Rasti tulus.


Hanin terharu. Ia pun menghentikan langkahnya. “Mami bukan hanya ibu mertua tapi benar-benar seperti ibuku, ibu kandungku. Hanin sayang Mami.”


Hanin memeluk Rasti, begitu pun Rasti yang juga memeluk menantunya.


Dari kejauhan Kenan membalikkan tubuhnya dan melihat pemandangan itu. Gunawan yang juga melihat itu pun tersenyum di dampingi sang istri yang sudah berada di sisinya dan memeluknya dari samping.


“Bahagia itu ternyata sederhana,” ucap Kiara sembari menghela nafasnya.


Kenan dan Gunawan pun mengangguk dan tersenyum. Gunawan mengecup pucuk kepala sang istri.


“Kayla sudah tidur lagi?” tanya Gun.


Kiara mengangguk.


“Kalau begitu gantian, aku yang akan menidurimu,” ucap Gunawan yang sudah siap membopong istrinya ala bridel.


Namun, Kenan langsung menepak tangan Gunawan. “Masih sore woy!”


Kiara dan Gunawan pun tertawa. di iringi tawa Hanin dan Rasti yang sudah berjalan mendekati mereka dan mendengar percakapan itu. Kenan merangkul kedua wanita yang sangat ia cintai.


“Kakak tidak memelukku?” tanya Kiara merajuk karena ia tak dipeluk sang kakak, tetapi dirinya masih dalam pelukan sang suami


“Ck, sepertinya kamu sudah tidak memerlukan pelukanku, Ra. karena dari tadi Gunawan sudah memelukmu. Lihat saja dia menempel terus. Menjijikkan!” ketus Kenan yang tak mau kalah dengan sikap romantis Gun pada istrinya.


Kiara dan Gun saling melirik ketubuhnya yang memang tengah menempel erat.


Kemudian, mereka pun tergelak bersama.

__ADS_1


__ADS_2