
Tiga hari kemudian,
Kiara menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Gunawan tampak masih lelah, pasalnya setiap malam ia selalu siaga terbangun ketika Kayla menangis meminta susu. Untungnya, sebelum tidur Kiara memang sudah menyiapkan ASI untuk putrinya yang akan terbangun tengah malam dan Gunawan tidak pernah membangunkan sang istri.
Kiara mengusap wajah suaminya. Ia ingin membangunkan Gunawan karena hari ini adalah pertamanya ke kantor setelah koma dalam waktu yang cukup lama. Selama Gunawan koma, Kenan menyuruh orang kepercayaannya untuk memantau usaha adik iparnya itu dan Gunawan sangat berterima kasih atas itu.
“Mas, bangun!”
Kiara mengelus lembut pipi Gun.
“Mas,” suara Kiara terdengar lembut.
Gun merasakan sentuhan lembut itu. matanya ingin sekali terbuka, tetapi masih sangat sulit.
“Eum ...” lenguh Gun.
“Semalam, Mas bilang akan berangkat pagi-pagi karena hari ini hari pertama ke kantor.”
“E ... hem ...” Gun mengangguk.
“Kalu begitu, ayo bangun!”
Gunawan yang mengulet malas, malah memiringkan tubuhnya ke posisi Kiara yang tengah duduk di tepi ranjang itu. Ia memeluk perut Kiara dan Kiara pun mengelus rambut ikal milik suaminya.
“Aku sudah bilang, biarkan aku saja yang bangun tadi malam. Kamu nya ngeyel, jadi ngatuk kan sekarang.”
“Aku tidak tega membangunkanmu,” jawab Gun.
“Eum, so sweet banget sih kamu, Mas.”
Gunawan pun membuka matanya dan sontak menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
“Aww .. Mas.” Kiara yang tidak siap pun berteriak kecil sembari tertawa.
“Mas, belum dapat ciuman pagi.” Gunawan memonyongkan bibirnya.
“Ogah, kau belum gosok gigi.”
Gun tertawa. “Biasanya belum gosok gigi juga di embat aja.”
Sejak di ruamh sakit, hal ini memang menjadi ritual pagi mereka.
Kiara tertawa dan mulai memajukan bibirnya. Ia menempelkan bibirnya pada bibir sang suami. Mereka pun berciuman dan Kiara melepas ciuman itu.
Gunawan menyapu sisa saliva sang istri yang menempel di bibirnya dengan lidah. “Manis, seperti orangnya.”
Kiara memonyongkan bibirnya, membuat Gun tertawa.
“Tapi kurang.” Gun menekan lagi pinggang Kiara, agar mereka kembali berciuman.
“Mas, nanti telat,” rengek Kiara sembari menahan dada sang suami yang sudah tak berjarak.
“Satu ciuman, lagi.”
Gunawan pun tak menyianyiakan kesempatan itu. Mereka kembali memangut bibir, membelit lidah dan bertukar saliva.
****
Di jam yang sama, Hanin tengah berada di dapur. Ia menyiapkan sarapan untuk sang suami yang akan berangkat pagi-pagi.
Kenan melangkahkan kakinya cepat menuju dapur. Namun, ia kembali berbelok ke ruang keluarga untuk meyakinkan lagi bahwa berkas-berkas yang ada di dalam tas itu sudah lengkap. Lalu, kembali menuju sang istri yang masih berkutat di dapur.
“Pagi, Sayang.”
Kenan mencium pipi Hanin dari samping dan mengambil susu coklat buatan sang istri. Ada dua susu yang Hanin buatkan, karena satu susu coklat itu adalah miliknya.
Hanin sedang menuangkan masakannya yang sudah matang itu ke dalam piring. “Pagi, By.”
Hanin menoleh dan tersenyum manis ke arah Kenan dan kembali menuangkan makanan ke dalam piring itu.
__ADS_1
Glek ... Glek ... Glek ...
Kenan meminum susu coklat itu. Sejak Hanin meminum susu Hamil rasa cokelat, Kenan pun ikut-ikutan menyukai susu rasa yang sama dengan merk berbeda.
“Hubby ... kamu meminum susuku,” ucap Hanin.
Sontak, Kenan langsung terdiam dan tidak melanjutkan meminum susu itu, padahal gelas itu masih berada di bibirnya.
“Jadi yang aku minum susu hamil?” Kenan langsung meletakkan gelas itu. “Hoek.”
Ia berlari ke wastafel. “Pantas rasanya ngga enak.”
Hanin tertawa geli. “Rasanya ngga enak, tapi hampir habis.” Hanin mengangkat gelas miliknya.
“Memang, kamu ngga lihat, By. Kalau susu untukku menggunakan gelas bergambar ini.” Hanin menunjuk gelas bergambar ibu hamil itu pada Kenan.
Kenan menggeleng setelah membersihkan mulutnya, lalu mengambil tisu untuk mengeringkan.
“Sudah terlanjur.”
Hanin kembli tergelak. Ia mengusap perut sang suami yang sudah berdiri di depannya. “Iya, tidak apa, paling sesuatu yang hidup di sini akan semakin sehat.”
“Memang apa yang hidup?” tanya Kenan sembari mengeryitkan dahi.
“Cacing.” Hanin nyengir.
“Enak aja.”
Kenan memiting leher Hanin. Kemudian, keduanya tertawa. Lalu, mereka berjalan bersama menuju meja makan. Hanin menaruh piring yang berisikan makanan itu di sana. Namun, Kenan berjalan ke arah ruang televisi untuk mengambil tasnya.
“Aku berangkat ya.”
Kenan menghampiri sang istri dan mengecup keningnya.
“Loh, kok ga sarapan. Aku udah buat makanan sebanyak ini,” rengk Hanin melihat ke arah makanan yang sudah ia siapkan sejak pagi-pagi sekali.
“Aku buru-buru, Sayang. Pagi ini ada pertemuan dengan rekan bisnisku.”
“Belum, Baru tiga hari, dia izin satu minggu.”
Tangan Kenan masih setia di pinggang sang istri dan mengajaknya untuk berjalan hingga ke depan pintu apartemen itu.
“Kalau begitu, nanti aku ke kantor untuk membawakan makanan untukmu.”
Hanin merapihkan kembali dasi Kenan.
Kenan tersenyum. “Baiklah, aku tidak akan memakan makanan apapun nanti.”
Hanin ikut tersenyum.
“Aku berangkat.” Kenan membuka pintu itu dan berpamitan lagi.
“Tunggu.”
Hanin menahan lengan Kenan dan berjinjit. Ia memangut bibir itu sebentar. Lalu, dilepaskan.
“Nakal, sengaja memancingku,” ucap Kenan yang memang tidak pernah bisa sebentar, jika bibir mereka bertemu.
Hanin nyengir. Ia memang sengaja menjahili Kenan.
Kenan mencubit pipi Hanin. “Nanti sore, aku akan mengantarmu belanja.”
“Benarkah?” tanya Hanin dengan mata berbinar, pasalnya semalam Hanin mengajaknya, tetapi kenan menolak dengan alasan masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan.
“Aku tidak bisa menolak rengekanmu.” Kenan mencubit ujung hidung Hanin.
“Eum ... terima kaih my hubby.”
“Sama-sama.” Kenan sengaja mengacak-acak rambut Hanin dan langsung pergi.
__ADS_1
“Hmm ...”
Hanin cemberut karena rambutnya berantakan, sedangkan Kenan menoleh ke belakang dan tertawa. Lalu, kembali berjalan ke depan.
****
Di supermarket, Kenan mengikuti sang istri yang memilih keperluannya. Hanin menoleh ke arah kiri dan kanan. Entah mengapa selama mereka berjalan, setiap wanita selalu melihat ke arahnya.
Kenan yang cuek, tidak menyadari itu. Ia asyik mendorong troli dengan sesekali membalas pesan singkatnya bersama Vicky saat Hanin berhenti dan memilih barang yang terdisplay di sana.
Kenan tampak semakin matang dan tampan. Ia menggulung lengan kemeja panjangnya hingga siku, sembari mendorong troli. Gaya Kenan memang pantas untuk diagungi para wanita.
“Kamu membeli diapers?” tanya Kenan, saat Hanin mengambil tiga bungkus besar diapers bayi yang baru lahir.
“Iya, ini pesanan Kiara.”
“Oh.” Kenan mengangguk.
“Hubby, Ayo!” Hanin mengeratkan tangannya pada lengan Kenan.
Kenan menatap lengan Hanin yang menempel erat. Sedangkan ia harus mendorong troli, membuat mereka berjalan tak leluasa.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Kenan melihat sikap tak biasa sang istri.
“Dari tadi banyak wanita yang melihat ke arahmu. Dia ngga tau apa, kalau istrinya ada di samping. Masih aja matanya ngeliatin laki orang,” ketus Hanin dengan bibir komat kamit.
Kenan tertawa. “Masa sih?” ia pura-pura tak percaya.
Padahal sejak sekolah ia memang selalu menjadi idola para kaum hawa. Namun, tidak satu pun yang ia tanggapi.
“Iya, lihat aja tuh!” Hanin menunjukkan wanita-wanita yang tadi menatap lapar sang suami dengan bola matanya.
“Yang mana?” tanya Kenan lagi, memancing kecemburuan sang istri.
“Jangan di cari!” sontak Hanin menarik dagu Kenan agar berjalan lurus ke depan.
Kenan tertawa senang. Lalu, mereka kembali berjalan lagi.
“Sayang, aku cari alat pencukur jenggot ya,” ucap Kenan pada Hanin.
Hanin menoleh ke arah suaminya. “Di mana?”
“Mungkin di arah sana.” Kenan menunjuk tempat yang cukup jauh.
“Ngga.” Hanin kembali menarik lengan Kenan. “Harus bareng aku. Nanti kamu digodain cewek-cewek genit.”
Kenan kembali tertawa. Ia baru mengetahui bahwa sang istri ternyata posesif juga.
Di salah satu wanita yang sedang menatap Kenan dari kejauan. Ada anak laki-laki yang merengek ingin menemui suami Hanin itu.
"Mama, itu Om Kenan yang ada di majalah-majalah ayah kan?"
Wanita itu mengangguk.
"Aku ingin menemuinya, Ma. Aku ingin meminta tanda tangan."
Anak laki-laki ini sangat mengidolakan Kenan, karena selain Kenan terkenal sebagai pengusaha muda sukses, ia juga pernah beberapa kali membintangi iklan sewaktu masih berpacaran dengan Vanesa. Itu pun atas desakan Vanesa dan Kenan malas berdebat jika menolak.
"Nanti saja, Om Kenan sedang bersama istrinya. Besok saja pas acara launching buku Om Kenan. Kamu bisa langsung meminta tanda tangan di halaman depan buku itu."
Salah satu penerbit tertarik dengan kesuksesan Kenan. Dan, penerbit itu meminta Kenan untuk berkenan menulis biography tentang hidupnya, dari kecil hingga menjadi sukses seperti ini. Kenan pun menyetujui dan besok buku tentang biography-nya akan beredar.
Kenan sengaja tidak memberi tahu Hanin, karena akan ia persembahkan untuk sebuah kejutan, karena nama Hanin tertera di beberapa lembaran terakhir buku itu.
"Hore."
Sorak anak laki-laki yang baru berusia genap dua belas tahun. Namun, setelah ayahnya meninggal, anak itu semakin menyukai bisnis dan sering membaca buku-buku yang ada di ruang kerja ayahnya. Dan, ternyata sang ayah dulu juga sangat mengidolakan Kenan. Pria sukses di usia belia, padahal usia mereka tak jauh berbeda. Namun, ayah anak itu tidak seberuntung Kenan.
Wanita itu pun ikut tersenyum sembari melihat lagi ke arah Hanin dan Kenan bergantian. Namun, ia lebih lama memandang ke arah Hanin.
__ADS_1
"Beruntung sekali, wanita yang menjadi istrinya," gumam wanita itu.