Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Hanin hamil


__ADS_3

Hanin sampai tepat di depan rumah adik James.


“This is his house. To address,” ucap Hansel, yang sudah menepikan mobilnya di depan rumah itu.


“Ini rumahnya, Bu. Sudah sesuai alamat,” sambung Vina.


Hanin mengangguk. “Baiklah, ayo kita masuk!”


Hanin keluar dari mobil itu ditemani Vani. Namun, Hansel hanya menunggu di dalam mobil. Hanin perlahan mendekati rumah itu.


Ting Tong.


Vani menekan bel. Namun, tak ada satu pun yang datang untuk membuka.


Ting Tong.


Kini giliran Hanin yang menekan bel itu.


“Wait,” teriak si empunya rumah dari dalam dengan nada kencang.


Tak lama kemudian, pintu itu pun terbuka.


“Vanesa,” panggil Hanin yang melihat bahwa yang membuka rumah itu adalah orang yang ia cari.


“Kamu.” Vanesa memasang wajah sinis.


“Untuk apa kamu ke sini, Hah? Masih ingin mempermalukanku.” Vanesa mendorong tubuh Hanin.


“Aww.” Teriak Hanin, ketika tubuhnya terbentur dinding.


“Miss.” teriak Vani dan segera menghalau kebrutalan Vanesa.


“Mbak, Maaf. Aku tidak bermaksud untuk ...”


Plak


Vanesa menampar pipi Hanin. Walau tubuhnya di tahan oleh Vani, tetapi tenaga Vanesa cukup kuat untuk mendorong Vani hingga terjatuh.


“Kamu tahu, Kau telah menghancurkan hidupku. Aku di buang oleh ayahku karenamu. Aku dicampakkan oleh kekasihku karenamu.” Vanesa mencekik leher Hanin.


Hanin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari menahan cekalan tangan Vanesa yang tengah menekan lehernya.


“Miss, lepaskan.” Vani menarik kedua tangan Vanesa, agar cekalan itu terlepas.


“Hansel,” teriak Vani untuk meminta bantuan pada driver itu.


Hansel tak mendengar teriakan Vani, karena ia menggunakan earphone yang tersumpal di kedua telinganya. Dan, kebetulan di rumah itu pun hanya ada Vanesa seorang, pemilik rumah sebenarnya sedang tidak berada di sana.


“Hansel,” teriak Vani lagi. Namun, Hansel tak kunjung datang.


“Miss, please. Don’t be like this,” ucap Vani frustrasi, melihat Vanesa seperti orang kesetanan setelah bertemu istri bosnya itu.

__ADS_1


“Van, aku datang untuk meminta maaf padamu,” ucap Hanin.


Sementara, Vanesa berhasil di dekap erat oleh Vani dari belakang. tubuh Vanesa memang jauh lebih tinggi dibanding Vani, sehingga Vani sedikit kewalahan untuk menghalau tubuh itu.


“Pelakor, ******, wanita tidak tahu diri,” Vanesa terus mengumpat.


“Aku datang kesini hanya untuk mengatakan bahwa ...”


“Diam,” teriak Vanesa. Ia kembali berontak dan mendekati Hanin.


Hanin yang tidak lagi terhimpit dinding itu, mencoba menjaga jarak dari Vanesa. Ia mengangkat tangannya untuk meminta Vanesa tenang. Namun, wanita yang masih tersulut emosi setelah melihat wajah Hanin itu masih tidak bisa tenang. Ia merasa apa yang telah terjadi padanya adalah ulah Hanin.


“Kalau aku menderita, maka kamu pun harus menderita,” Hanin kembali di rong oleh Vanesa.


Bruk


Dorongan Vanesa kali ini cukup kuat, hingga tubuh Hanin terkena kursi dan terbentur meja teras yang ada di sana. Hanin pun terjatuh duduk di lantai.


“Bu,” teriak Vani yang langsung menghampiri Hanin.


“Aww .... Ah,” ringis Hanin, karena kali ini ia terjatuh cukup keras.


“Miss tidak apa?” tanya Vani yang membantu Hanin berdiri.


Hanin mengangguk. “Ya tidak apa.”


“Miss, sebaiknya kita pergi dari sini. sepertinya wanita ini gila,” ujar Vani.


Hanin berdiri. “Maaf, Van. Jika kedatanganku masih membuatmu marah.”


Vani membantu Hanin untuk berjalan. Ia melewati Vanesa yang masih emosi. Saat Vanesa hendak meluapkan emosinya lagi, ia melihat darah yang mengalir di pangkal paha Hanin. Ia berangsur mundur dan masuk ke dalam rumah itu, lalu menutupnya. Vanesa terduduk lemas.


“Hanin hamil? Apa wanita itu keguguran? Mati gue,” gumam Vanesa yang takut akan kemarahan Kenan.


Hanin tidak menyadari bahwa ada darah yang mengalir di pahanya. Begitu pu dengan Vani. Mereka melangkah keluar, menuju mobil yang terparkir di sana.


“Hansel,” teriak Vani.


“Hansel,” Vani berteriak dan mengetuk kaca jendela yang tertutup.


“Oh, Sorry,” ucap Hansel yang langsung membuka kunci mobil itu dan keluar, karena hendak membukakan pintu untuk istri bosnya itu.


Hansel menangkap darah yang mengalir di kaki Hanin, saat Hanin hendak melangkah untuk duduk di kursi penumpang itu. sementara Vani sudah berjalan mengitar untuk memasuki mobil dari pintu yang lain.


“Miss, your legg is bledding,” ucap Hansel sembari menunjuk ke kaki Hanin.


Hanin langsung mengikuti arah mata Hansel. “Ya, Tuhan.”


Hanin terkejut, begitupun Vani yang sudah duduk di sampingnya.


“Miss.” Vani panik, ia tahu apa arti ini, karena ia pun pernah mengalaminya.

__ADS_1


“Hansel, let’s go to the hospital,” teriak Vani.


Namun, Hansel masih diam mematung. Ia terkesima sesaat dengan apa yang terjadi.


“Go!” teriak Vani lagi pada driver yang baru berusia 19 tahun itu.


“Oke, Miss. Oke.” Hansel segera duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobilnya dengan cepat.


Di kantor, Kenan masih rapat dengan bagian-bagian yang menurutnya penting untuk kemajuan perusahaannya. Di sana juga ada Riza sebagai orang yang dipercayakan Kenan untuk meminpin perusahaannya di sini.


“Good. That’s good,” ucap Kenan ketika ia mellihat grafik rancangan bagian pemasaran yang akan dilakukan pada enam bulan ke depan.


“Saat ini pasokan udang kita juga sudah memasuki bagian tenggara amerika. Sepertinya, kebutuhan di sini akan semakin lebih banyak,” ucap Riza.


Kenan mengangguk. Sepertinya ia akan memperluas lagi tambak dan menambah pasokan benur. Kenan adalah eksportir yang taat pada pemerintah. Semua birokrasi dan ketentuan, ia lakukan sesuai dengan jalur yang di sediakan, tidak seperti pengusaha lainnya. Oleh karena itu, banyak negara yang lebih suka bekerja sama padanya.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Kenan berbunyi berkali-kali. Namun, ia tak mendengar karena di silent.


“All right, our coordination today is done,” ucap Kenan sembari merapihkan berkas yang ada di hadapannya. Ia menerima persentasi dari bagian-bagian penting yang hadir di sana.


“I Agree with all those plans,” ucap Kenan lagi pada segenap orang yang hadir di ruangan itu. kebetulan orang-orang yang ada di sini sebagian dari Indonesia dan sebagian asli terlahir di Boston.


“Oke, Sir,” jawab semua orang yang ada di ruangan itu.


Kemudian, mereka pun keluar dari ruangan itu bergantian. Sementara, Kenan masih duduk di sana sembari merogoh saku celananya dan mengambil ponsel.


Di sana juga masih ada Riza ditemani oleh sekretaris dan bagian pemasaran yang emrapihkan berkas-berkas hasil persentasi tadi.


“Vani telepon,” gumam Kenan yang di dengar oleh Riza.


Kenan langsung menelepon balik Vani.


“Halo, Sir. Ma... af.” Suara Vani terbata-bata antara takut dan panik.


“Ada apa, Van? Mengapa suaramu seperti itu?”


“Hmm ... Your wife, Sir.”


“Why, my wife? Tell me!” teriak Kenan, membuat Riza dan beberapa orang yang masih ada di ruangan itu pun menghentikan aktifitasnya.


“Your wife, in the hospital.”


Kenan langsung berdiri dan mematikan ponselnya. Ia langsung mencari jejak sang istri melalui GPS yang sudah terhubung antara ponsel Hanin dengan ponselnya.


“Pak, Ada apa?” tanya sekretaris itu.


“Riza, antar aku ke rumah sakit,” ucap Kenan semabri mengancingkan jasnya.


“Hanin kenapa?” tanya Riza.

__ADS_1


“Entahlah. Ayo!” Kenan keluar ruangan itu dengan panik dan langkah yang tergesa-gesa, diiringi oleh Riza di sampingnya.


__ADS_2