Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Nadi itu masih berdenyut


__ADS_3

Kini, Gunawan hanya seorang diri di dalam mobil Vicky yang bermasalah itu. Kiara dan Gunawan sudah berada di mobil yang semula dibawa oleh Gunawan. Mereka sudah saling berada di mobil yang berbeda. Entah mengapa Gunawan melakukan ini. Ia menepati janji untuk Kiara, untuk wanita yang selama ini tidak pernah ia anggap dan ternyata sekarang kondisinya berbalik.


Mobil yang di tumpangi Kiara langsung menepi dan berhenti di bahu jalan bebas hambatan itu. Sementara, mereka hanya bisa melihat mobil Vicky yang dikendarai Gunawan melaju di iringi mobil polisi yang menuntut Gunawan untuk tetap melaju ke tempat yang lebih aman.


“Vick, Mas Gun mau kemana?” tanya Kiara panik.


Kemudian, ia pun menangis.


“Maaf, Ra. Gunawan memaksa dan mengambil alih setirku.”


“Mas, Gun,” lirih suara Kiara disertai isak tangis.


Vicky menatap wanita yang hingga saat ini namanya masih bertahta di relung hati paling dalam. Ia menatap wajah Kiara yang sedang menangisi suaminya. Hati Vicky semakin perih. Kini ia sadar bahwa walau Kiara bersikap dingin pada Gunawan selama ini. Namun, di dalam hati wanita hamil ini, selalu ada nama Gun.


“Aku yakin, Gunawan akan baik-baik saja.” Vicky merangkul bahu Kiara dari samping.


Tak lama kemudian, mobil Kenan dan Hanin berhenti persis di beklakang mobil yang tengah terparkir di bahu jalan itu.


“Kiara,” panggil Kenan dengan langkah tergesa-gesa keluar dari mobilnya.


“Kakak.” Kiara menoleh ke arah Kenan.


Di sana sudah banyak mobil patroli yang menemani Kiara dan Vicky.


“Kiara.” Kenan langsung memeluk tubuh sang adik. “Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka?” tanya Kenan bertubi-tubi sembari melihat ke semua tubuh sang adik.


Hanin berdiri bersama Vicky tepat di hadapan mereka. terlihat raut wajah Kenan yang sangat panik.


“Aku ga apa-apa, Kak. Tapi di sana.” Kiara menunjuk mobil yang di kendarai Gunawan melaju ke arah yang sudah tidak terlihat olehnya.


“Gun mengambil alih setirku tadi, Ken. jadi saat ini, dia yang berada di mobil gue.”


“Oh my good.” Kenan melepaskan pelukannya pada Kiara dan hendak kembali ke mobilnya.


Ia ingin memastikan keadaan Gunawan di sana.


“Sayang, temani Kiara ya,” ucap Kenan pada Hanin saat ia akan memasuki mobilnya lagi.


“Gue ikut,” ucap Vicky yang langsung masuk ke mobil kenan dan duduk di kursi penumpang depan.


Kenan berkomunikasi dengan polisi yang tengah menggiring mobil bermasalah itu ke tempat aman. Ia pun melajukan kendaraan dengan cepat ke tempat yang diberitahu pihak berwajib itu.


Di dalam mobil, Gunawan sudah pasrah akan apa yang terjadi pada dirinya nanti. Walau kemungkinan ia tak bisa melihat darah daging yang ada di perut Kiara. Namun, ia yakin bahwa Vicky akan menggantikannya lebih baik, karena sebelumnya pun Vicky sudah menunjukkan rasa sayangnya pada bayi yang Kiara kandung, tidak seperti dirinya dulu yang tidak mengakui dan menyayangi bayi yang pernah Kiara kandung sebelumnya, walau memang saat itu bayi yang Kiara kandung bukan dari benihnya. Tapi Vicky yang jelas-jelas sudah tahu bahwa bayi yang Kiara kandung saat ini adalah benih Gunawan, ia tetap menerima dan menyayangi bayi itu.


“Ikuti saya terus, Pak,” ucap polisi yang menggunakan radio komunikasi terhadap Gun.


“Ya.”


“Saya akan alihkan ke sentul, lepaskan mobil anda di sana.”


“Baik.” Gun mengangguk menuruti peritah pihak berwajib.

__ADS_1


Di depan sana, semua jalan yang dilewati mobil Gun terpaksa di hentikan agar mobil itu bisa melaju tanpa mengurangi kecepatan dan tetap stabil.


Kenan menyetir dengan cepat hingga terlihat mobil yang tengah diiringi petugas itu. Ia melajukan mobil tepat di samping mobil yang dikendarai Gun.


“Gun,” teriak Kenan.


Gunawan menoleh ke arah Kenan.


“Hati-hati, Gun,” ucap Kenan lagi.


“Ya,” teriak Gun.


Hingga sampailah mereka di sentul, tepatnya di area sirkuit internasional sentul dengan panjang lintasan 4,12 kilometer dan lebar lintasan 15 meter.


“Pak, tunggu aba-aba dari saya! Setelah mendekati ujung perlintasan, segera keluar dan lepas mobil anda. Biarkan mobil itu terbentur pagar beton tinggi di ujung sana. mengerti!” ucap salah satu pihak berwajib yang memberi arahan pada Gun.


“Baik.” Gunawan mengangguk dengan pandangan lurus ke depan.


Ia harus memiliki strategi yang tepat agar keluar dari mobil ini dengan selamat. Walau kemungkinan itu tipis. Namun, ia akan tetap berusaha.


Kenan memberhentikan mobilnya, saat mobil yang di kendarai Gun sebentar lagi akan dilepaskan. Tak lama kemudian, ada mobil yang juga berhenti di belakang mobil Kenan. Kiara di tuntun oleh Hanin keluar dari mobil itu dan menghampiri Kenan.


“Kak, bagaimana Mas, Gun?” tanya Kiara yang masih mengeluarkan air mata.


“Tenang, Ra. Aku yakin Gunawan pasti bisa keluar dari sana dalam keadaan selamat.” Kenan merangkul bahu sang adik dan terus memberinya ketenangan.


Hanin pun melakukan yang sama. Ia memeluk Kiara dari sebelah yang lain.


“Siap, Pak!” ucap pak polisi di alat radio komunikasi yang Gun pegang.


“Ya,” sahut Gun yakin.


“Baik. Satu ... dua ... tiga. Lompat!”


Gun pun langsung melompat, hingga tak lama kemudian terdengar dentuman keras dari arah mobil yang terus melaju dan terbentur pagar tembok yang kokoh dan sangat tinggi itu.


Booom ....!


Terdengar suara ledakan di sana.


“Mas Gun,” teriak Kiara dari tempat yang sangat jauh dengan tempat Gun sekarang.


Tubuh Gun terpelanting saat keluar dari mobil itu. Ia mendarat tidak sempurna hingga tubuhnya terus berputar dan terkena suara keras dari ledakan itu.


Bruk


Kepala Gunawan terbentur sebuah bebatuan besar di sana, hingga akhirnya tak sadarkan diri.


Kenan sudah berada di dalam mobil bersama Vicky untuk memastikan keadaan Gun yang jauh dari jangkauannya. Api pada mobil Vicky yang terbakar pun langsung di padamkan oleh petugas. Semua orang berhamburan berlari menuju Gunawan yang tergeletak di jalan.


“Hanin, bagaimana keadaan Mas, Gun?” Bibir Kiara gemetar. Ia terus merangkul lengan Hanin. sungguh ia tak ingin ada berita buruk dari suaminya.

__ADS_1


“Tenang, Ra.” Hanin hanya bisa memberikan pelukan agar Kiara tenang.


“Gun,” teriak Kenan dan Vicky.


Mereka keluar dari mobil dan langsung berlari ke arah Gunawan.


“Ambulans,” teriak Vicky.


Kenan berjongkok di depan tubuh Gun yang tak lagi tersadar.


“Gun.” Kenan menepuk pipi Gunawan berkali-kali.


Ia pun memegang nadi Gunawan. Terdengar denyutan di sana.


“Gun, masih hidup Vick, Cepat bawa dia ke rumah sakit. Cepat!”


Petugas medis pun langsung berhamburan menuju tempat Gun yang tengah berbaring. Kenan dan Vicky sudah mengangkat tubuh Gun dan langsung membaringkan di tempat tidur pasien yang dikeluarkan dari mobil ambulans.


“Mas Gun.” Kiara mendekati tempat tidur pasien yang sedang di dorong petugas medis menuju mobil ambulan.


“Sabar, Ra. Gunawan akan baik-baik saja,” ucap Kenan memeluk adiknya.


Vicky ikut mendorong tampat tidur itu hingga di masukkan ke dalam mobil ambulans.


“Aku mau ikut ke sana, Kak. Aku ingin menemani suamiku di sana,” teriak Kiara dengan deraian air mata.


“Ya, iya. Kamu akan menemani suamimu,” ucap Kenan sembari membantu sang adik naik ke mobil yang membawa suaminya.


Ia pun duduk di hadapan Gunawan dengan kepala yang penuh darah, di sertai luka-luka di lengan dan kakinya yang terkena aspal jalan.


“Aku akan temani Kiara,” kata Hanin pada Kenan.


Kenan mengangguk.


Lalu, Kenan berlari ke arah mobilnya untuk mengikuti mobil ambulans. Namun, sebelum itu ia menepuk bahu Vicky.


“Vick, sorry. Gara-gara gue nyawa lu terancam.”


“Bukan gara-gara lu, Ken. tapi ini memang konsekuensi dari sebuah pekerjaan dan lagi kebenaran harus ditegakkan.”


“Si*l, gue ga bakal lepasin itu orang.” Kenan mengepalkan tangannya.


“Kita akan hadapi dia bersama,” sahut Vicky.


“Gue urus Gunawan, lu urus tempat ini,” kata Kenan lagi.


“Oke.” Vicky mengangguk.


Kenan memasuki mobil dan mengikuti mobil ambulan untuk membawa Gunawan mendapatkan perawatan segera.


Di dalam ambulans, Kiara terus menangis. Hanin hanya bisa memeluk tubuh wanita yang sedang hamil besar itu. Gunawan langsung mendapatkan perawatan awal. Hidungnya sudah mendapatkan oksigen dan darah yang mengalir deras di kepalanya pun langsung di hentikan oleh petugas yang duduk berseberangan dengan Hanin dan Kiara.

__ADS_1


“Mas, Gun. Bangun! Kamu harus melihat anakmu lahir nanti,” ucap Kiara dengan terus menagis tersedu-sedu.


__ADS_2