Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 9


__ADS_3

Detak jantung Rea berdetak kencang melihat adegn demi adegan di video itu. Ia tak percaya. Sungguh tak percaya dengan semua ini.


"Sila ... Kak Attar," gumam Rea.


Selama ini Rea percaya pada sang kekasih yang memperkenalkan Sila sebagai adik dari sahabatnya di Bandung.


Thia pun tidak pernah tahu bukti yang Vicky punya tentang Attar. Adik pertama Rea hanya meyakini bahwa Vicky mempunyai bukti perselingkuhan pacar sang kakak dengan wanita yang ia lihat beberapa kali. Ia pun tak pernah mengira bahwa Attar, lelaki yang dulu pernah menjadi tetangganya akan melakukan hal diluar budaya kita. Ia pikir Attar hanya berselingkuh dengan menduakan sang kakak saja.


Rea menelepon Attar. Ia ingin meminta penjelasan atas video ini. Namun, ponsel Attar tak kunjung di angkat. Kemudian, Rea beralih menelepon mama Attar.


"Halo."


"Mama, apa kabar?" tanya Rea basa basi.


"Rea," panggil di sana dengan suara antusias. "Mama sehat. Kamu, Thia, dan Nisa gimana kabarnya?"


"Baik, Ma. oh ya, maaf Rea jarang ke rumah soalnya lagi banyak tugas, Ma."


"Iya, tidak apa sayang," jawab mama Attar.


"Oh, ya. Kak Attar udah sampe rumah, Ma?" tanya Rea.


"Loh, Attar sekarang tinggal di apartemen Re. Dia ngga pernah pulang ke rumah. Sudah dua minggu."


Deg


Jantung Rea semakin tak karuan. Sepertinya apa yang pernah Vicky katakan itu benar. Dan, apa yang Thia katakan juga benar bahwa dirinya tidak boleh menutup mata dan tidak mau tahu.


"Baiklah, Ma. Terima kasih," kata Rea.


"Lain waktu, kamu beneran ke sini ya Re," sahut mama Attar.


"Iya, Ma."


"Salam untuk kedua adikmu."


"Baik, Mama. Terima kasih," jawab Rea.


Kemudian keduanya saling bersahutan salam sebelum menutup percakapan melalui telepon itu.


Pikiran Rea meremang, mengingat beberapa kejadian saat Attar menghindar atau pun saat memergoki Attar yang tengah berdua bersama Sila.


Dengan cepat, Rea mengambil kunci motor, lalu meluncur ke apartemen Attar. Ia hingga lupa untuk meminta bantuan pada Vicky, karena rasa penasaran yang sudah sampai ke ubun-ubun.


Rea mengunci pintu rumahnya, lalu membawa kunci itu karena di dalam sana, Thia memegang kunci cadangan pintu itu. Kemudian, ia mengeluarkan motor. Rea mengemudi motor itu dengan cepat hingga hanya butuh waktu lima belas menit, ia sampai di depan gedung itu.


Rea memarkirkan motornya di basement. Ia mencoba menelepon ponsel Attar lagi. Ia mencoba berulang-ulang sembari berjalan menuju unit apartemen kekasihnya. Namun, panggilan telepon Rea tak diangkat.


Kemudian, Rea menghembuskan nafasnya panjang. Ia harus kuat, apapun yang terjadi. Malam ini, ia akan membuktikan sendiri kebenarannya.


Setelah menaiki lift dan sampai di depan pintu apartemen Attar, Rea langsung menekan passcode itu. Ia membuka pintu lerlahan dan memasuki ruangan demi ruangan.


"Ah, Kak. Eum ..."


Suara ******* itu terdengar dari kejauhan, saat kaki Rea berjalan menuju kamar Attar. Hatinya bergemuruh, detak jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya gemetar.


"Teleponmu bunyi dari tadi, Kak ... Ah,"


Terdengar jelas itu adalah suara Sila.


"Biarin, paling mama atau Rea," jawab Attar santai di dalam sana sembari terus menikmati penyatuan dari tubuh wanita dibawahnya.


Air mata Rea tumpah saat menyaksikan semua itu di balik pintu yang sedikit terbuka.


Pintu itu memang tidak tertutup rapat, karena selama ini Attar dan Sila hanya tinggal berdua di apartemen ini dan tidak pernah terpikir akan ada orang yang datang ke tempat ini. Lagi pula tidak ada orang yang tahu passcode apartemen ini termasuk kedua orang tuanya. Tetapi, Attar lupa bahwa ia pernah memberi tahu pascode tempat ini pada Rea.


"Kasihan sekali pacarmu, Kak. Dia menelepon pacarnya yang lagi bercinta sama asistennya," kata Sila.


"Ya kan kamu pacar aku juga."


Duar

__ADS_1


Terasa petir menyambar hati Rea. Ternyata selama ini ia diduakan. Bahkan hubungan Sila dan sang kekasih sudah sangat jauh, melebihi dari hubungannya yang sebentar lagi akan bertunangan.


"Ah, Kak. Uh ... Eum ..." erang Sila.


"Ah, sebentar lagi aku sampai," kata Attar yang terus memacu kenikmagan.


Brak


Rea menggebrak pintu itu, hingga kedua orang di atas ranjang yang sedang bergumul terkejut.


Attar dan Sila langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati Rea yang sedang berdiri di sana.


"Rea," panggil Attar.


Ia kaget bukan main. Lalu, ia melepaskan penyatuan itu dari Sila dan segera memakai boxernya. Sementara Sila sibuk menutup tubuh polosnya dengan selimut tebal itu.


"Kita putus, Kak."


Rea melempar sebuah cincin tepat di dada Attar. Cincin yang satu bulan lalu Attar sematkan sebagai tanda keseriusannya pada Rea.


"Aww ... Re, aku bisa jelaskan."


Attar memakai boxer dengan terburu-buru karena Rea sudah melesat keluar kamar. Sedangkan Sila hanya mematung duduk di atas ranjang tempat mereka hampir mencapai puncak. Namun, sayangnya puncak kenikmatan itu tidak jadi sampai karena kedatangan Rea.


"Re, tunggu!"


Attar mengejar Rea dan menarik lengannya dari belakang.


"Re, aku bisa jelaskan."


"Apa yang harus dijelaskan? Selama ini aku percaya sama kamu, Kak. Aku menutup telinga setiap kali orang bilang kamu jalan dengan dia. Aku menutup mata dan meyakinkan diri bahwa kamu tidak seperti tu Tapi apa yang aku lihat sekarang? Apa?" teriak Rea.


Lalu, Attar mengambil tubuh Rea dan memeluknya paksa.


"Maaf, maafkan aku. Re. Aku hanya cinta kamu. Hanya sayang kamu."


Airmata Rea tumpah. Ia menangis tersedu-sedu sembari berdiri mematung di dalam dekapan dada Attar.


Sila berdiri di belakang Attar dan Rea melihat kehadiran selingkuhan kekasihnya itu. Rea segeramelepaskan pelukan dari tubuh Attar.


"Dia bukan siapa-siapa, Re."


"Dia itu pacar kamu juga," sahut Rea. "Jadi selama ini, kamu duain aku."


"Aku memiliki hasrat yang tinggi Re. Dan aku tidak ingin merusakmu jadi aku menggunakannya."


Plak


Rea menampar keras pipi Attar. Mudah sekali pria ini berkata demikian. Dan, anehnya Sila nampak tidak marah dengan ucapan Attar tadi. Sungguh aneh.


"Mulai detik ini, kita tak ada hubungan apapun." Rea langsung berlari pergi.


Namun, Attar tak tinggal diam. Ia pun mengejar kekasihnya, wanita yang sejak kecil ia sukai.


"Re."


Rea berlari sekencang mungkin dan langsung memasuki lift yang sedang terbuka. Ia menekan tombol, agar pintu lift itu segera tertutup sebelum Attar sampai di depannya. Ia melihat Attar yang terus berlari menghampiri, hingga pintu itu tertutup dengan waktu yang tepat.


"Si*l," gumam Attar karena ia tak berhasil mengejar Rea.


Namun, ia tak kehilangan akal. Ia masih mencoba mengejar Rea dengan menggunakan tangga darurat. Ia menuruni tangga itu dengan cepat hingga sampai di basement.


"Rea, tunggu. Kita harus bicara," teriak Attar saat melihat Rea sudah berada di atas motornya.


Attar berdiri dan membentangkan kedua tangannya agar Rea berhenti melajukan motor itu, tapi Rea sudah tidak ingin berbicara dengan pria ini lagi. Ia sengaja menyalip menghindari Attar yang tengah menghalangi jalannya dan segera meninggalkan tempat yang membuatnya terluka.


Attar meremas kasar rambutnya. Ia frustrasi. Ia harus menggunakan sang ibu untuk meluluhkan hati Rea kembali. Atau mungkin mengajak nikah Rea secepatnya tanpa tunangan terlebih dahulu.


Rea melesatkan motornya hingga sampai ke jalan raya. Lalu, ia menepikan motor matik itu di tempat yang tidak ramai. Kemudian ia menangis. Rea menangis di atas motor matik kesayangan yang telah mengantarnya melalui perjalanan hidup yang cukup berat.


Rea menangis cukup lama. Jika sang ibu masih ada, mungkin Rea akan menangis di pangkuan itu.

__ADS_1


Lalu, Rea berusaha meredamkan tangisan itu. Hatinya benar-benar berkecamuk. Ia tidak ingin pulang dalam keadaan seperti ini. Ia terlanjur malu pada Thia, karena selalu memarahi anak itu jika menjelekkan kekasihnya.


Setelah menumpahkan kesedihannya. Rea kembali melajukan kendaraan roda dua itu. Ia terus menelusuri ibukota yang terbilang masih ramai karena malam ini malam terakhir hari kerja dalam satu minggu. Ia berjalan tanpa arah dan tujuan, hingga motornya terhenti di sebuah gedung apartemen.


Rea menenggakkan kepalanya untuk melibat gedung apartemen itu dan membaca nama yang tertera di sana.


"Om Vicky," gumam Rea.


Ya, Rea berada di depan gedung apartemen Vicky. Kemudian, Ia memarkirkan motornya di dalam gedung itu. Entah mengapa ia justru malah ke tempat ini. Mungkin karena beberapa kali terakhir, Vicky menjadi sosok yang menyenangkan ketika berbincang.


Ting Tong ...


Vicky yang sedang asyik menonton televisi terhentak dengn bunyi bel di unitnya.


Malam ini, Vicky memang ingin bersantai saja. Usai memberi makanan untuk kedua adik Rea sore tadi, ia langsung menuju apartemen dan beristirahat. Walau sebenarnya ia bosan tetapi ia sudah tidak ingin melampiaskan kebosanannya dengan mencari kesenangan di club atau wanita malam. Ia pun Kebiasaan buruk itu sudah sangat lama ia tinggalkan itu.


Vicky melangkahkan kakinya malas menuju pintu, tetapi suara bel itu terus berbunyi.


"Iya, sabar," teriak Vicky yang hendak membuka pintu itu.


Ceklek


Vikcy tercengang melihat sosok wanita yang berdiri di depannya dengan wajah berantakan.


"Rea."


"Om."


Rea langsung memeluk tubuh Vicky. "Om benar, aku sudah melihatnya langsung."


Vicky menerima pelukan itu. Ia tahu aoa yang terjadi. Ia mengajak Rea untuk masuk dan berusaha menenangkannya.


Vicky bisa merasakan tubuh Rea yang gemetar.


"Kenapa tidak mengajakku saat ke tempat itu?" tanya Vicky sembari membawa tubuh Rea duduk di sofa.


Rea diam. Wanita itu hanya menangis tanpa melepaskan pelukan.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Vixky mengelus punggung belakang Rea agar wanita itu tenang.


Kepala Rea masih berputar adegan yang ia lihat melalui video dan live. Selama hidupnya, baru kali ini Rea melihat manusia berlainan jenis tengah bergumul dan bercinta.


Kemudian, pelukan itu terlepas karena Vicky mendengar isakan Rea yang tak lagi terdengar kencang.


"Aku buatkan minum, sebentar," kata Vicky.


Lalu, Vicky meninggalkan Rea dan beralih ke dapur untuk membuatkan Rea minuman. Sungguh, Rea terlihat kacau.


Saat Vicky kembali ke ruang televisi. Ia langsung terkejut dan berlari ke arah Rea.


"Hei, apa yang kamu lakukan?"


Vicky berusaha menutup tubuh Rea yang hanya berbalut pakaian dalam. Ia memakaikan kembali kaos Rea.


"Aku ingin melakukannya, Om. Aku ingin melakukan apa yang Attar lakukan tadi."


Vicky menangkup wajah Rea. "Kamu bukan wanita itu. Dan, kamu tidak boleh seperti ini hanya karena pria itu. Kamu sangat berharga Re. Apa yang akan kamu banggakan untuk kedua adikmu, jika kamu seperti ini?"


Sontak Rea kembali menangis. Lalu, Vicky memeluknya.


"Apa aku tidak cantik, sehingga tidak ada pria yang mau menyentuhku? Apa aku terlalu galak?" tanya Rea.


Vicky ingin sekali tertawa, tapi ia tahan karena suasana saat ini bukanlah suasana yang tepat untuk bercanda.


"Kamu cantik, Re. Kamu galak itu bagus, karena untuk menjaga dirimu. Tapi jika kamu bilang tidak ada yang ingin menyentuhmu? Itu salah, karena aku selalu menahannya jika berdekatan denganmu."


"Lalu, kenapa Om tidak melakukannya sekarang?" tanya Rea.


"Karena aku bukan pria yang suka memanfaatkan wanita. Aku akan menyentuhmu setelah kta menikah."


Sontak Rea terkejut dan menengadahkn kepala untuk menatap wajah Vicky dengan seksama.

__ADS_1


Vicky pun menatap kedua bola mata Rea. Di sana ia menunjukkan keseriusannya.


Kini, mereka terdiam dengan saling bertatapan.


__ADS_2