
Kenan memperhatikan wajah Hanin yang sedari tadi tampak terdiam.
“Sayang, kamu sudah gendong Kayla?” tanya Kenan pada Hanin yang berdiri jauh dari sisinya.
Hanin hanya duduk di sofa dengan tetap ikut berkumpul di tengah keluarga yang sedang bahagia ini.
“Sudah, malah dari tadi Kayla itu di pegang Hanin,” jawab Rasti tersenyum.
Rasti masih menggendong bayi mungil itu dan menyerahkannya pada Kiara untuk di susui.
“Iya, Kayla malah ga nangis kalo di gendong Hanin,” sahut Kiara sembari menerima putrinya dari gendongan Rasti..
“Oh ya?” Kenan menatap wajah Hanin dengan senyum manis.
Lalu, Kenan mendekati sang istri dan duduk di sampingnya. “Duh, udah siap banget jadi ibu ya, Sayang.”
Kenan menolehkan wajahnya persis di depan wajah Hanin dengan senyum menggelikan.
‘Ih, apaan sih.” Hanin tertawa kecil sembari mendorong wajah Kenan agar tidak terlalu dekat dengannya.
“Ish, di puji malah ngga mau. Aneh kamu,” kata Kenan.
“Malu, ih,” ucap Hanin pelan sembari melihat ke arah Rasti, Kiara, dan Gunawan yang tersenyum pada mereka.
Rasti, Kiara, dan Gunawan hanya tertawa mellihat keromantisan Kenan dan hanin.
“Ra, nanti selesai Kayla nyusu. Aku mau gendong ya,” ucap Kenan.
“Emang bisa?” tanya Gunawan.
“Bisa lah, latihan. Atau jangan-jangan lu belum gendong ya?” tanya Kenan pada Gunawan.
Gunawan menggeleng. “Belum.”
“Idih, parah. Bapak apaan lu,” sungut Kenan pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.
Gunawan hanya nyengir. Ia duduk persis di samping Kiara, sambil mengelus pipi putrinya yang sedang menyusu.
“Dia cantik seperti kamu.” Gunawan tersenyum ke arah Kiara.
Kiara pun tersenyum ke arah suamiya. Rasti hanya memperhatikan keduanya. Hatinya lega, akhirnya sang putri mendapat kebahagiaan di pernikahannya.
“Tapi kalau kata Mami, bibirnya mirip Hanin.”
Sontak mata mereka tertuju pada Hanin. Hanin seperti terddakwa karena tatapan semua orang etrtuju padanya.
“Masa sih, Mam.” Kenan kembali mendekati ranjang Kiara.
“Iya, Masa’ sih?” Hanin pun berdiri dan mendekat ke sana.
“Itu karena aku dulu benci sama kamu, Han. Gara-gara kamu ngegodain Mas Gun aku,” tawa Kiara, membuat semua orang pun tertawa.
Masa lalu, yang kini menjadi bahan candaan mereka.
“Ih, Ra.” Wajah Hanin merona menahan malu.
“Hati-hati loh, Ken. Istri lu harus dikekep terus, nanti pesonanya bisa ngegoda cowok di luar sana,” ledek Gunawan pada Kenan.
Kenan menaikkan alisnya dengan menatap intens wajah sang istri. “Tentu saja. Hanin ngga akan keluar rumah, tanpa gue.”
“Dasar posesive,” ucap Rasti. “Begitu juga tidak baik, Ken. artinya kamu tidak mempercayai pasanganmu.”
“Tuh denger kata Mami,” sahut Hanin.
“Hanin bukan wanita penggoda kok, Cuma para prianya aja yang ga bisa jaga pandangan, apalagi kalau dia sudah menikah,” ucap Rasti lagi.
“Hmm ... Mami makasih.” Hanin memeluk Rasti dari samping.
“Tuh, denger ya para pria. Jaga pandangannya!” Kiara melirik ke arah Gunawan.
__ADS_1
“Kalau aku udah insyaf, Sayang.” Gun memeluk Kiara dari samping.
“Ciye ... yang udah insyaf,” ledek Hanin, membuat yang lain ikut tertawa.
Gunawan mengelus lagi wajah mungil Kayla yang sedang asyik menyusu. Namun, sesekali ibu jari Gun mengelus payud*r* Kiara yang putih mulus dan hanya terlihat sedikit, karena ia menutupnya dengan baju rumah sakit yang ia kenakan.
“Apaan sih, Mas,” bisik Kiara sembari menyingkirkan ibu jari itu.
“Sedikit aja, pelit banget.” Bisik Gun.
“Sekarang ini punya Kayla.” Kiara kebali berbisik di telinga suaminya.
Gunawan menarik nafasnya. “Hufftt ...”
Lalu, Kayla melepaskan bibirnya dari tempat ia menyusu tadi.
“Wah udah selesai ya nyusu nya. Sekarang giliran aku yang gendong,” kata Kenan.
“Gue dulu lah, gue kan bapaknya.” Gunawan menyerobot dan segera menerima tangan Kiara untuk menggendong putrinya.
“Ah, rese lu Gun.” Sungut Kenan.
Gunawan masih kesulitan menerima Kayla untuk masuk ke dalam gendongannya.
“Bukan seperti itu Gun, tapi seperti ini,” ucap Rasti mengajarkan cara menggendong yang benar.
“Awas kepalanya!” celetuk Kenan.
“Itu tangannya ke jepit,” kata Kenan lagi, pasalnya Gun memang belum menggendong sempurna, ia baru akan memindahkan tangan itu agar tidak ke jepit pada ketiaknya.
“Iya bawel,” sahut Gun pada Kenan.
“Awas kakinya!” kata Kena lagi berteriak.
“Hanin, suami lu repot amat sih. Gue jadi gugup nih, padahal Cuma gendong doang.”
Ketiga wanita itu tertawa. Hanin, Kiara, dan Rasti.
“Iya, ini gue lagi belajar. Lu jangan bawel!” sahut Gunawan.
“Udah ... Udah ... ini lama-lama bakal perang dunia kalo Kenan dan Gun masih di ruangan ini bersama.” Rasti tertawa melihat putranya dan Gun yang memang sering bertengkar.
“Iya, udah kaya kucing sama anj*ng aja sih.” Kiara tertawa.
“Hanin, bawa suamimu keluar gih, ke kantin kek, ke resto bawah sana kek,” kata Gun kesal.
“Ngga, gue mau gendong ponakan gue dulu,” sahut Ken.
“Ngga usah sana.” Gunawan menghalangi Kenan yang mencoba mendekati putrinya.
“Nanti lu bisa gendong anak lu sepuasnya.” Kata Gun lagi sembari tertawa kecil.
“Rese lu, belagu.” Kenan menatap wajah Gun kesal.
“Ya udah sana, ajak makan suamimu. Sehabis pulang kerja tadi, Kenan belum makan,” kata Rasti pada Hanin.
Hanin pun mengagguk. “Iya, Mam.”
“Ya udah, Yuk!” ajak Hanin pada suaminya.
“Ya udah, mending aku pacaran dulu. Bye.” Kenan melambaikan tangannya pada semua orang di ruangan itu.
Kenan merangkul bahu Hanin, lalu keluar dari ruangan itu.
Rasti hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang putra yang lama kelamaan menghilang dari balik pintu.
“Hanya Hanin yang bisa menaklukkan hati abangmu,” ucap Rasti pada Kiara sembari mentap ke arah pintu, setelah Kenan dan Hanin keluar.
Namun, Gunawan yang mengangguk. “Benar, Mam. Padahal sejak SMA saya tidak pernah melihat Kenan menyukai perempuan.”
__ADS_1
Kiara ikut tersenyum. “Ya, Padahal dulu Kiara sempat memaki dan menjambak rambut Hanin di depan umum. Tapi dia tidak dendam sama sekali.”
“Benar, Hanin memang wanita yang baik,” sahut Gun.
Kiara langsung menatap suaminya dan Gunawan pun menangkap tatapa sang istri. ia mencari kebenaran apa sang suami masih menyimpan rasa pada Hanin?
Gun tersenyum ke arah Kiara. “Anak Mami juga menaklukkan hati saya.”
Tatapan Rasti beralih pada Kiara dan Gunawan.
“Apaan sih.” Kiara menunduk dan tersipu malu.
Rasti tersenyum. “Senangnya melihat kalian seperti ini.”
Gunawan mendekati istrinya dan memeluk dari samping sembari tangan kanannya tetap menggendong Kayla.
“Tentu saja, Mam. Saya akan menjaga keluarga saya dengan baik,” ucap Gunawan.
Rasti langsung mengeluarkan ponselnya. “Mami foto ya.”
Cekrek
Terpampang wajah Gunawan yang masih dalam posisi tadi tengah tertawa lebar. Begitu pun dengan Kiara yang sedang mengulas senyum.
Kenan dan Hanin sampai di lantai dasar. Ada beberapa tempat makan yang masih buka.
“Ken, aku mau bakso.” Hanin menunjuk restoran bakso yang cukup terkenal di tengah sana.
“Boleh, kebetulan aku juga lagi pengen makanan berkuah.”
Kenan dan Hanin menuju tempat itu. seperti biasa, Kenan terus menggenggam tangan istrinya.
“Kamu duduk aja, aku yang pesankan,” kata Kenan, sembari melepaskan genggaman tangan yang semula menyatu erat.
Hanin mengangguk dan berjalan ke tempat duduk yang cukup sepi dan paling ujung dengan jendela mengarah ke jalan raya.
Sebelum sampai di tempat duduk yang Hanin inginkan, Hanin berbincang sejenak dengan seorang pria. Di depan kasir, Kenan melihat itu, karena mereka berbincang cukup lama dan Hanin tersenyum ke arah pria itu. Kenan kesal, rasanya ia ingin segera membayar semua yang ia bawa itu tanpa di hitung lagi.
Sesaat, setelah Kenan selesai membayar makanannya di kasir, ia langsung mendekati Hanin. Namun, pria itu pun langsung pergi.
“Siapa pria tadi?” tanya Kenan dengan wajah yang sudah tak bersahabat.
Hanin menggeleng. “Tidak tahu, hanya bertanya dimana letak toilet dan ruang perawatan Mawar.”
“Terus kamu jawab?”
Hanin mengangguk. “Iya.”
“Lain kali ngga usah di jawab, bilang aja ngga tau.” Kenan mendudukkan dirinya di kursi.
Hanin pun mendudukkan dirinya persis di hadapan Kenan. “Kok gitu.”
“Karena aku ga suka kamu berbincang dengan pria lain. Apalagi memberikan senyum.”
“Ya ampun, Ken.” Hanin sedikit kesal dengan kepossesifan Kenan.
“Lihat saja, pria itu masih menoleh ke arahmu,” ucap Kenan lagi dengan rahang yang sedikit mengeras.
Hanin menoleh ke arah pria itu.
“Jangan di lihat!” ucap Kenan dengan menggeser wajah Hanin, agar tidak menoleh ke arah pria itu dan tetap bertatapan padanya saja.
“Mungkin dia tidak sengaja arah matanya ke arah sini," kata Hanin.
Kenan mulai memakan makanannya dengan wajah dingin dan tidak lagi mengeluarkan suara.
“Ken, jangan marah!”
Kenan masih terdiam sembari mengunyah makanan itu dan mengaduknya.
__ADS_1
Hanin menarik nafas. Ia pun ikut diam sembari mulai memakan makanan itu.