
Dret ... Dret ... Dret ....
Sesaat setelah Hanin mengaktifkan ponselnya, dua menit kemudian benda itu berdering. Hanin langsung melihat nama yang tertera di sana, karena ponsel itu masih dalam genggamannya.
“Kiara,” gumam Hanin, karena ia pikir yang menelepon adalah Kenan.
Lalu, Hanin mengangkat telepon itu.
“Halo, Ra.”
“Han, akhirnya ponselmu aktif,” ucap Kiara bernada riang di seberang sana.
“Hehehe ... iya, Ra. Kemarin lowbat.”
“Lowbatt, atau memang kamu menghindari Kak Kenan?” tanya Kiara.
“Kamu tahu?”
“Aku tahu, Han. Kamu tega sekali, kasihan kakakku. Kamu tahu kan dia seperti apa kalau kamu menghilang.”
Lagi-lagi Hanin hanya bisa tersenyum tipis. Ia juga ingat bagaimana Kenan menghebohkan acara aiqah Kayla pada saat ia tertidur di ruang baca. Kiara tak henti menceritakan sang suami yang sedang kelimpungan tidak jelas saat itu.
“Maaf, Ra,” kata Hanin lirih.
“Han, kamu beruntung dicintai Kak Kenan. dia adalah sosok panutan dikeluargaku. Dulu sewaktu aku kecil, aku selalu menargetkan pria yang akan menjadi kekasihku adalah pria seperti kak Kenan. Percayalah padanya, dia hanya mencintaimu Han. Aku tahu betul kakakku. Dia tidak akan pernah menghianatimu. Percayalah.”
Seketika Hanin membisu. Lalu bersuara kembali.
“Kamu tahu masalahku dan Kenan?” tanya Hanin.
“Lebih dari itu, aku tahu. Aku juga pernah merasakan kesensitifan diwaktu hamil. Tapi kecemburuanmu sama sekali tidak benar. Misya memang dekat dengan Mami, tapi tidak dengan Kak Kenan. Misya memang menyukai kakakku, tapi tidak dengan dia. Karena apa? Karena kakakku sudah sangat bucin padamu.”
Terdengar suara tawa Kiara yang renyah, membuat Hanin ikut tertawa.
“Jangan pernah meragukan cinta kakakku, Han.”
Di sana, Hanin tersenyum. Walau tak bisa dilihat Kiara.
“Iya, Ra. Aku percaya.”
“Nah, gitu dong,” ucap Kiara senang.
“Jadi? Kamu akan pulang sekarang?” tanyanya lagi.
“Hmm ... sepertinya, pangeranku yang akan menjemput,” jawab Hanin malu-malu.
“Jiaahhh ... baiklah.”
Kiara pun menutup sambungan telepon itu dan Hanin memandangi ponselny sembari tersenyum.
“Awas, jangan senyum-senyum sendiri, nanti lu dikata orang gila,” celetuk Lani yang melihat ekspresi sahabatnya setelah menerima telepon.
“Apaan sih,” ucap Hanin malu.
Kemudian, tidak lama setelah itu, mobil Kenan mulai mendekati mobil Lani yang terparkir di pinggir jalan.
Kenan keluar dari mobil itu tergesa-gesa dan langsung menubruk tubuh istrinya untuk dipeluk. Sungguh. Ia sangat rindu Hanin, sangat rindu walau hanya baru ditinggal satu malam, tapi rasanya bagai satu tahun.
Kenan terus mengecup wajah Hanin dan mengecup bibir itu berkali-kali tanpa memberi kesempatan Hanin untuk menjawab semua pertanyaan yang Kenan lontarkan padanya. Mereka terus meluapkan rindu dengan pangutan bibir dan tak menghiraukan orang sekitar serta kondisi tempat. Dunia serasa milik mereka, mengabaikan Lani dan Vicky yang akhirnya menjadi tamen untuk melindungi mereka dari tatapan orang yang melintas.
Lalu, Kenan menuntun Hanin masuk ke dalam mobilnya, sementara Vicky menyiapkan selang untuk memindahkan bahan bakar dari mobil Kenan ke mobil Lani dan Lani pun menyiapkan mobilnya untuk menerima transferan bahan bakar itu.
Di dalam mobil, tepatnya di kursi penumpang belakang, Hanin dan Kenan terdiam. Keduanya belum memulai bicara, hanya melihat Vicky dan Lani yang sedang melakukan tugasnya di luar. Tak lama adzan maghrib pun berkumadang. Mereka masih diam dan mendengarkan seruan yang terdengar jelas iu. Setelah masuk ke dalam mobil ini, justru Kenan tak bicara, padahal saat pertama kali bertemu Hanin, ia tak henti-hentinya bicara tanpa memberi kesempatn Hanin untuk bicara.
Sungguh, sebenarnya Kenan kesal dengan tindakan sang istri yang memilih pergi, padahal seharusnya hal ini bisa dibicarakan baik-baik.
“By, maaf,” ucap Hanin, ketika suara adzan itu sudah tak terdengar lagi.
Hanin terus menatap wajah suaminya dari samping. Namun, Kenan masih menatap lurus ke depan dari kaca besar yang ada di depannya.
“By,” panggil Hanin lagi dengan menarik-narik ujung kaos berkerah yang Kenan kenakan.
__ADS_1
Ia sadar tindakannya ini sangat kekanak-kanakan, seharusnya ia tidak perlu pergi dan langsung bicarakan hal ini pada Kenan. namun, entah mengapa rasanya ia ingin pergi sejenak.
Kepala Kenan bergeser ke samping, ke arah sang isri yang sudah berkaca-kaca. Sungguh, ia tiddak bisa berlama-lama kesal dengan wanita ini. justru ketika melihat wajahnya, kerinduan ini semakin menjadi.
“Mengapa kamu selalu ingin pergi dariku? Tidak nyaman denganku?” tanya Kenan.
Hanin langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, tidak begitu. Aku hanya cemburu.”
“Mengapa tidak langsung beritahu padaku? Ungkapkan semua yang ada di hatimu padaku.” Kenan menyentuh hati Hanin. “Karena aku tidak tahu, jika kamu tidak memberitahunya.”
“Aku takut,” jawab Hanin menunduk. “Di depanmu, aku tidak bisa berkata-kata.”
Kenan tersenyum. “Takut kenapa? Apa aku menyeramkan?”
Hanin menengadahkan kepalanya. “Sejak pertama kali kita bertemu, kamu memang menyeramkan.”
Kenan tergelak. Sungguh, wanita ini selalu membuatnya tertawa. kelakuannya sangat menggemaskan.
Lalu, Hanin kembali menunduk. Tangan Kenan terangkat untuk menjepit ujung dagu Hanin dan membawa wajah itu untuk menatap matanya.
“Sudah aku bilang berapa kali, tidak ada wanita yang dapat menggodaku. Hanya kamu wanita penggoda yang selalu berhasil menggodaku. Jadi, buang pikiranmu bahwa aku berselingkuh, karena memilikimu sudah jauh lebih cukup untukku.”
Hanin tersenyum dan langsung memeluk Kenan.
Kenan pun tersenyum dan menerima pelukan itu dengan erat. Ia mengusap punggung belakang Hanin dan berkata, “Maaf, jika selama ini aku dan mami menekanmu.”
Akhirnya airmata itu tak dapat terbendung lagi. Hanin menangis di pelukan sang suami. Kenan dapat merasakan getaran tubuh Hanin yang menangis tanpa suara. Hanin terharu dengan semua ucpan sang suami. Ia sangat bersyukur karena dicintai begitu besar terhadap pria yang tengah memeluknya ini.
Kenan pun melonggarkan pelukannya. “Mulai sekarang, kita harus selalu terbuka dalam hal apapun. Oke!”
Hanin mengangguk.
“Aku juga salah karena tidak bercerita pertemuanku dengan Misya padamu, tidak bercerita bahwa dulu ku memang pernah menyukai dia, karena aku pikir itu tidak penting. Kami tidak memiliki hubungan apapun, tidak pernah memulai apapun. Jadi bagiku Misya bukanlah siapa-siapa.” Kenan menarik nafasnya dan menggenggam tangan Hanin. “Maaf, tapi mulai saat ini, aku akan menceritakan padamu setiap wanita yang menggodaku.”
Hanin mengangguk. “Aku juga akan bercerita padamu, jika ada pria yang menggodaku.”
Kenan langsung menatap wajah Hanin tajam. “Siapa?”
“Saat ini tidak ada, tapi tidak tahu nanti.”
“Siapa?” tanya Hanin.
“Orang yang menggodamu.”
Hanin tertawa. Suaminya benar-benar posesif dan Hanin harus terbiasa dengan itu, karena seperti inilah Kenan mengekspresikan cintanya.
“Beres.” Tiba-tiba Vicky masuk ke dalam mobil itu dan langsung duduk di kursi kemudi.
“So, kita kemana?” tanya Vicky melihat kedua orang yang ada di kuri belakang dari spion depan.
“Masjid At ta-awun, sekalian maghrib di sana,” jawab Hanin.
Mata Vicky menatap Kenan dari spion depan untuk meminta persetujuan bosnya.
“Turuti keinginan wanitaku, Vick.”
Bibir Vicky langsung tersenyum dan menyalakan mesin mobil itu, lalu jalan. Di belakang, Lani mengikuti mobil sedan berwarna hitam itu. kedua mobil itu berjalan beriringan menuju masjid yang terkenal di sana dengan alam yang indah dan sejuk.
****
“Ya ampun, Hanin. suami kamu ganteng banget. Ummi ampe ga kedip ngeliatnya,” ucap ummi saat di dapur bersama Lani dan Hanin, menyiapkan bumbu ikan bakar untuk makan malam mereka.
Di halaman belakang, Abah tengah membakar ikan hasil tangkapannya sore tadi ditemani Kenan dan Vicky.
“Hmm ... harumnya sekali, Bah. Udh ga sabar mau makan,” kata Vicky.
“Memangnya ini enak?” tanya Kenan.
“Nak Kenan belum pernah mencoba ini?” si abah balik bertanya.
Kenan menggeleng. “Saya tidak begitu suka ikan.”
__ADS_1
“Wah sayang sekali, padahal ini sangat enak.”
“Iya, Ken. cobain deh nanti, pasti lu ketagihan. Sama seperti lu nyobain Hanin, ketagihan ‘kan?” Vicky tertawa.
Lalu, dengan cepat Kenan menyenggol lengan Vicky. “Apaan sih lu, kalo ngomong ngga pernah disaring.”
Kenan melirik ke arah Abah. Namun, Abah hanya tertawa, ia mengerti apa yang dibicarakan dua pemuda ini, karena ia pun dulu pernah muda.
“Sambal datang,” ucap Lani mendekati ketiga pria yang tengah membakar ikan.
“Bumbu ikan bakar juga datang,” sambung Hanin.
Mereka meletakkan pirping-piring berisi bumbu kecap dan sambal terasi lengkap dengan lalapan serta petai, di atas bambu yang cukup besar dan terjajar rapih, sengaja abah buat saung itu untuk duduk berkumpul di belakang rumahnya.
“Ayo, kita makan!” ucap ummi yang membawa piring-piring kosong.
Abah duduk di samping ummi. Lalu, Kenan mendekati istrinya dan duduk menempelkan dada bidangnya pada bahu Hanin yang berada persis di depan Kenan. Sedangkan, Vicky masih berdiri untuk membakar satu ikan lagi di sana.
“By, sambel ummi tuh the best banget. Enak deh.” Hanin menyodorkan sambal ke arah Kenan, tapi kenan justru menenggelamkan wajahnya di bahu Hanin.
Aroma terasi sangat menyengat dan Kenan tak biasa dengan itu. Ia menyumpal hidungnya dengan menempelkan hidung itu pada bahu kanan Hanin.
Kenan menggeleng. "Aku ngga suka."
Ekspresi sang suami, membuat Hanin gemas dan tertawa.
“Saya ngga sabar ingin makan,” ucap vicky menyerahkan satu ikan terakhir yang baru saja selesai ia bakar.
‘Ayo nak, sini!” ajak abah pada Vicky untuk duduk di sampingnya.
Mereka pun menikmati makan malam itu, kecuali Kenan.
“By, ayo coba!”
“Iya, ayo nak. Ini enak,” sambung ummi.
Kenan hanya tersenyum. Ia menatap makanan yang tidak pernah ia makan sama sekali. Menu makanan itu terasa aneh. Sambal terasi, petai adalah makanan yang tidak pernah Rasti sajikan di meja makannya. Ia pun semakin aneh karena mereka makan langsung dari tangan.
“Aku suapi ya, pasti kamu suka,” ucap Hanin lembut pada suaminya.
“Aku tidak pernah makan itu.” Kenan menunjuk petai yang ada di piring Hanin.
“Ini enak, By. Coba ya. Aaa ...” Hanin menyerahkan gumpalan nasi lengkap dengan lauk itu di jarinya ke depan mulut Kenan.
“Tidak mau yang ini.” Kenan mengunjuk petai yang juga ada di gumpalan nasi yang Hanin sodorkan.
Hanin menghela nafasnya, lalu melerai gumpalan nasi yang terkepal di jarinya dan mengganti dengan ikan bakar serta sambalnya saja.
“Aaa ...”
Mulut Kenan pun terbuka dan menerima suapan sang istri. ia mengunyahkan perlahan da menelannya.
“Enak.”
“Tuh kan apa ummi bilang. Ini tuh enak,” ucap ummi.
Sementara yang lain hanya tertawa melihat ekspresi Kenan yang senang dengan makanan itu dan meminta sang istri untuk menyuapinya lagi.
“Maklum bu, bule masuk desa,” celetuk Vicky, membuat mereka kembali tertawa.
“Sayang, mau lagi. Pakai itu.” Kenan menunjuk petai.
“Lah dia doyan, awas nanti pas nyiium Hanin, doi kebauan,” ledek Vicky, membuat mereka kembali tertawa.
“Emang iya?” tanya Kenan yang tidak tahu efek yang ditimbulkan setelah memakan makanan itu.
“Ngga apa-apa, aku tetap suka kok,” jawab Hanin spontan.
“Dasar bucin,” sahut Lani.
“Laki bini emang samanya,” kata Vicky ketus.
__ADS_1
Kenan dan Hanin hanya nyengir. Sedangkan Ummi dan Abah hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak muda jaman sekarang.
Sungguh, ini adalah makan malam ternikmat bagi Kenan. Belum lagi, ia merencanakan makan malam penutup di hotel yang sudah ia pesan tak jauh dari tempat ini.