Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Sakit hati Gunawan


__ADS_3

Di tengah pernyataan Kenan yang mmproklamirkan pernikahannya dengan Hanin pada khalayak ramai, mobil Gunawan tiba di halaman rumah minimalis itu. Kepergiannya ke kampung halaman selama empat hari cukup untuk kembali menjernihkan pikirannya yang penat. Selain, dalam rangka berbisnis dan mengunjungi makam sang ibu, Gunawan juga sedikit refresh di tempat kelahiran bersama paman dan bibinya yang sudah kembali ke kota itu setelah pensiun.


Gunawan keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Tubuhnya terasa lelah karena perjalanan yang cukup panjang. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan menyandarkan kepalanya pada punggung sofa yang empuk itu.


“Bapak sudah pulang,” sapa si Bibi.


“Hmm ...” Gunawan hanya mendehem dengan mata terpejam. Sungguh, Ia merasa sangat lelah.


Namun, di arah dapur, Gunawan mendengar seseorang yang sedang menggunakan peralatan dan tempat itu.


“Ada siapa di dalam, Bi?” tanya Gunawan pada si Bibi yang hendak berlalu meninggalkannya.


“Oh, itu. Di dapur Non Kiara sedang membuat kue, Pak.”


“Kiara?” tanya Gunawan tak percaya.


“Iya, Pak. Sudah dua malam, Non Kiara menginap di sini. Non ingin ketemu Bapak.”


Gunawan mengeryitkan dahinya. Kini matanya kembali segar. Tubuhnya pun seolah tidak lagi lelah mendengar sang istri berada di rumah ini. Antara marah bercampur senang dan tak percaya pun menjadi satu. Gunawan masih marah atas perlakuan ‘K’ bersaudara itu. Ia masih marah karena Kiara membohonginya dan ia pun marah pada Kenan karena telah mengambil Hanin. Namun, hati kecilnya pun senang Kiara datang ke rumah ini. Entahlah?


Gunawan berjalan mendekati dapur. Semakin mendekat ke arah dapur, ia semakin melihat sosok wanita yang membuat hidupnya hancur. Wanita yang belum ia ceraikan itu memang semakin sexy dan cantik. Tubuh Kiara yang sekal dan payud*r* yang bulat menonjol, membuat gairah Gunawan naik seketika. Ini adalah kali pertama, Kiara berhasil membuat libido Gunawan terpacu.


“Mau apa kamu ke sini?” tanya Gunawan dengan suara berat.


Kiara langsung menhentikan aktifitasnya. Ia menonggak dan menatap wajah sangar Gunawan.


“Kamu sudah pulang?’ tanya Kiara lembut.


“Tidak usah berbasa-basi. Apa maumu?” Gunawan bertanya dengan angkuh, padahal ia ingin sekali menerkam tubuh itu. Sudah lama Gunawan tidak menuntaskan hasratnya dengan wanita manapun, karena ia terlalu lelah dengan pekerjaan dan kisah cintanya yang rumit.


Kiara melelepaskan atribut yang ia gunakan untuk memasak. Perlahan, ia pun mendekati pria bertubuh tinggi dan terlihat sedikit kurus.


“Mas, aku datang ke sini untuk minta maaf padamu. Kemarin, aku belum mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Maafkan aku, Mas. Maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Maaf karena obsesiku, menghancurkan kebahagiaanmu.” Kiara menunduk dan menarik nafasnya.


Sementara, Gunawan masih tak bicara. Arah matanya hanya memandang wanita yang masih berstatus istrinya itu.


“Sekarang, aku akan melepasmu, Mas. Aku tidak lagi mengikatmu dalam obsesiku. Aku ingin kamu bahagia.”


Gunawan tersenyum kecut. Lalu, ia tertawa, membuat Kiara takut.


“Kebahagiaanku sudah tidak ada, Ra. Kamu dan kakakmu telah menghancurkannya.”


Kiara terdiam.


“Kamu pikir, kalau kita bercerai, aku bisa kembali pada Hanin? tidak? Aku kenal wanita itu. Hanin tidak akan menghianati suaminya. Apalagi Kenan pun bersungguh-sungguh dengan pernikahannya, terbukti hari ini dia mempublikasikan pernikahan mereka.”


Kiara kembali tertunduk. Ia pasrah dan akan menerima semua kemarahan pria itu.

__ADS_1


Gunawan mencengkaram dagu Kiara. “Aku tidak akan menceraikanmu. Kamu akan menjadi budak s*x ku dan pundi-pundi uangku. Itu pun mungkin masih tidak cukup untuk menghilangkan sakit hatiku pada kalian semua.”


Seketika, air mata Kiara mengalir. Ia memang harus menerima hukuman ini. Dahulu ia memang terlalu egois, sehingga membuat pria yang semula tidak jahat ini menjadi jahat.


“Ayo, ikut aku!” Gunawan menarik tangan Kiara.


“Kemana, Mas?” tanya Kiara dengan tergesa-gesa mengikuti langkah sang suami.


Kiara mengikuti Gunawan yang melangkahkan kakinya ke atas.


“Cepat,” teriak Gunawan.


“Aku tidak bisa berjalan cepat, Mas,” jawab Kiara yang kondisinya memang tidak memungkinkan untuk berjalan cepat.


Gunawan melihat perut buncit itu. Ia pun mengalah.


“Masuk!” perintah Gunawan pada Kiara setelah ia membuka pintu kamar.


Kiara menuruti permintaan suaminya. Ia pun masuk ke dalam kamar itu dan berdiri menunggu perintah Gunawan selanjutnya. Sementara, pria itu menutup kembali pintu dan menguncinya.


“Kamu mau apa, Mas?” tanya Kiara dengan wajah cemas.


“Bukankah, kamu sering menggodaku.” Gunawan menyeringai licik. Ia membuka bajunya satu persatu, menyisakan boxernya saja dan kembali mendekati Kiara.


Mereka berdiri berhadapan tanpa jarak.


“Bukankah, kamu selalu memakai pakaian sexy dan ingin sekali aku sentuh.” Tangan Gunawan menyentuh bagian-bagian sensitif itu.


"Apa-apan sih, Mas. Jangan macam-macam!” Kiara menepis tangan besar Gunawan.


Pria itu tertawa. “Dasar pelac*r. Kira-kira siapa ayah dari anak yang kamu kandung ini? Vicky?”


Plak


Kiara langsung menampar pipi Gunawan dengan keras.


“Walau semula aku memang melakukan kesalahan, tapi selama kita menikah, aku tidak pernah di sentuh oleh pria lain selain kamu,” ucap kiara dengan deraian air mata. Kali ini, ia benar-benar tidak bisa membendung air mata itu.


Ini sudah kesekian kalinya, Kiara sakit hati oleh perlakuan Gunawan. Ia merasa tidak menyesal telah menyakiti pria ini. Kiara segera berlari menuju pintu. Tangannya membuka handle pintu berkali-kali. Namun, Gunawan mencabut kunci itu dan menggenggamnya.


“Kamu tidak bisa keluar dari sini, Ra.” Gunawan menarik langan Kiara dan membantingnya di atas ranjang.


“Aww ... Ssshhh ...” Goncangan itu cukup membuat perutnya terguncang, walau ia di banting ke sebuah benda yang sangat empuk.


“Jangan pura-pura mengeluh. Dasar wanita licik!” Gunawan kembali mendorong bahu Kiara yang mencoba untuk bangkit dan kabur, agar kembali terlentang.


“Mas, jangan seperti ini. aku mohon!” Kiara memasang wajah memelas ddengan terus menangis. Namun, Gunawan menghiraukan rintihan itu.

__ADS_1


“Layani, aku! Pelac*r!”


Gunawan melebarkan kaki Kiara dengan paksa, lalu menyatukan miliknya tanpa pemanasan terlebih dahulu.


“Aaaah ...” Kiara menjerit. Sungguh miliknya sangat perih dan sakit, karena sudah sangat lama ia tak melakukan ini.


Milik sang istri sulit di terobos oleh Gunawan. Ia pun harus menghentakkannya berkali-kali hingga akhirnya terbenam sempurna.


“Ternyata, wanita hamil itu nikmat,” ucap Gunawan yang merasakan sensasi luar biasa karena milik sang istri sangat ketat.


“Kamu jahat, Mas. Kamu jahat.” Kiara menangis tersedu-sedu. Ia memalingkan wajah, saat Gunawan terus merengkuh kenikmatannya sendiri.


Kiara menyesal telah mencintai pria ini. Seharusnya dulu, ia menerima cinta Vicky, walau lelaki itu tidak setampan dan sekaya Gunawan, tapi pastinya lelaki itu tidak menyakitinya seperti pria ini.


Air mata Kiara terus mengalir dari sudut matanya dan memalingkan wajah dari wajah pria yang mulai sekarang menjadi pria yang sangat ia benci.


“Mami, Kakak. Aku membutuhkan kalian,” gumam Kiara dalam hati.


Di dalam mobil, Kenan dan Hanin tengah dalam perjalanan untuk kembali kekediaman Aditama, di temani oleh Vicky yang setia berada di kursi kemudi. Mereka telah selesai bertemu dengan para media dan meluruskan statusnya.


“Ken, kamu kenapa?” tanya Hanin yang melihat sang suami tampak terdiam dan tak bersuara sejak berada di mobil.


Kenan masih terdiam. Pikirannya tiba-tiba teringat pada Kiara.


Kenan tersentak dan menoleh ke arah Hanin. “Ya.”


“Kamu kenapa?” tanya Hanin lagi.


“Entahlah. Tiba-tiba, aku teringat Kiara. Apa kabarnya dia?”


“Kata Mami, Kiara di rumah suaminya.”


“Apa? Vick. Kiara kembali ke Gunawan?” tanya Kenan dengan menggebrakan kursi Vicky dari belakang.


“Mami, menyuruh Kiara untuk meminta maaf langsung pada Gun. Jadi, Kiara mendatanginya.”


“Apa Kiara akan baik-baik saja di sana?” tanya Kenan cemas.


Vicky menggeleng. “Aku tidak tahu.”


“Cari tahu! Suruh orang untuk memantau keadaan Kiara di sana.”


Vicky langsung mengangguk. Sementara, Hanin tersenyum melihat sang suami yang selalu melindungi wanita-wanita yang ada di sekelilingnya.


Hanin memeluk tubuh Kenan dari samping dan mengusap dadanya, menenangkan sang suami dengan bahasa tubuh.


Kenan pun melingkarkan tangannya ke bahu Hanin dan membalas pelukan itu. Ia mengecup kening Hanin. Walau hatinya tidak tenang, tapi wanita di sampingnya ini selalu membuat hatinya kembali tenang.

__ADS_1


__ADS_2