
“Mam, Kak Kenan sudah berangkat?” tanya Kiara, yang tak melihat keberadaan sang kakak.
“Sudah, bersama istrinya tadi pagi-pagi sekali.”
“Jadi kakak membawa Hanin?” tanya Kiara lagi.
Rasti mengangguk. “Hmm .... “
Kiara tertawa. “Kakak sepertinya benar-benar mencintai wanita penggoda itu.” Ia meledek sang kakak yang dulu selalu menyebut Hanin sebagai wanita penggoda.
Rasti tersenyum. “Ya .. ya, Hanin benar-benar wanita penggoda karena mampu menggoda kakakmu yang dingin itu. Bahkan lima tahun bersama Vanesa, Mami tidak pernah melihatnya menjadi seperti itu.”
“Seperti apa, Mam?” tanya Kiara, karena pernyataan Rasti di akhir kalimat mengandung makna ambigu.
Rasti mengeyitkan dahi sembari tersenyum membayangkan raut mesum putrnya. “Ya, seperti itu, nakal dan mesum.”
Kiara tertawa, diiringi tawa sang ibu.
“Tapi Mami senang melihat kakakmu sekarang. Tinggal melihat kamu bahagia bersama suamimu,” ucap Rasti sambil menyesap teh hangat yang beberapa menit diberikan Bi Lastri.
Kiara dan Rasti duduk di teras taman, menikmati secangkir teh hangat di temani udara pagi yang sejuk dan harum bungan yang sedang mekar.
Kiara terdiam.
“Hubunganmu dan Gunawan sudah lebih baik, bukan?” tanya Rasti.
“Ra, kamu di sini. Aku cari-cari dari tadi,” ucap Gunawan tiba-tiba, membuat perbincangan antara ibu dan anak itu terhenti.
“Mam.” Gunawan tersenyum menunduk pada Rasti saat bertemu ibu mertuanya di tempat itu.
__ADS_1
“Ada apa, Mas?” tanya Kiara.
“Aku lupa membawa dasi,” jawab Gunawan.
“Pakai saja dasi Kenan, Ra,” kata Rasti.
“Nanti kakak marah, Ma. Apalagi yang pakai Mas Gun,” sahut Kiara.
“Tidak, biar nanti Mami yang bilang.” Lalu arah mata Rasti tertuju pada Gunawan. “Oiya, Gun. Bisa kalian tinggal di sini sampai Kenan dan istrinya pulang?”
“Kenan dan istrinya? Jadi Kenan mengajak Hanin ke Amerika?” tanya Gunawan dalam hati.
“Hmm ...” Gunawan terdiam, lalu kembali bicara, “tapi Gun tidak membawa pakaian kerja lagi, Mam.”
“Atau kamu tetap pulang ke rumahmu dan Kiara menginap di sini sampai Kenan pulang. Bagaimana?” tanya Rasti.
“Kalau begitu, sepulang dari kantor, Gun kerumah dulu untuk membawa pakaian dan langsung kesini untuk menemani Kiara dan Mami,” jawab Gunawan pada ibu mertuanya, karena sejak dulu Rasti memang selalu baik padanya. Hal itu pula yang membuat Gun berat meninggalkan Kiara. Rasti selalu menganggapnya seperti anak sendiri.
“Sama-sama, Mam.”
Kiara hanya menjadi pendengar antara ibu dan suaminya. Ia cukup terkejut mendengar keinginan suaminya untuk menginap di rumah ini. Padahal di rumah ini sedang tidak ada Hanin. Semula, Kiara berpikir bahwa Gunawan ingin menginap di rumah ini karena adanya Hanin di sini. Namun, tidak adanya kehadiran mantan kekasih Gunawan itu, ternyata tidak menyurutkan keinginannya untuk pulang. Menurut Kiara, ini cukup aneh.
“Ra, sana ambil dasi Kenan di kamarnya!” pinta Rasti pada sang putri.
“Tidak apa, Mam?” tanya Kiara ragu.
“Tidak apa. Sana!”
Kiara bangkit dan meninggalkan ibunya. Begitu pun Gunawan. Pria itu mengikuti langkah sang istri. begitu sampai di depan kamar Kenan, Gunawan memilih menungguk Kiara di kamarnya.
__ADS_1
“Warna ini, cocok?” tanya Kiara pada sang suami yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
Kiara memasuki kamarnya dan membawa dasi berwarna biru, sama seperti pakaian kerja yang saat ini dikenakan oleh sang suami.
Gunawan mengangguk. “Cocok.”
“Ini.” Kiara menyerahkan dasi itu, karena biasanya Gunawan tidak ingin dipakaikan dasi olehnya.
Ia lebih memilih memakai dasi itu sendiri. Dulu ia memang anti dengan Kiara. Sedangkan, memakaikan dasi itu memang harus dekat hingga terkadang hembusan nafas keduanya pun sangat terasa.
“Kamu tidak memakaikannya untukku?” tanya Gunawan yang belum menerima uluran dasi yang Kiara sodorkan.
“Biasanya, kamu memakai sendiri dan tidak ingin dipakaikan olehku,” jawab Kiara santai.
“Tapi mulai sekarang, aku ingin dipakaikan dasi olehmu.”
Kiara menarik nafasnya. Lalu, mulai maju mendekati sang suami. Ia melingkarkan dasi itu pada leher Gunawan dan memakaikannya perlahan. Tidak ada degupan kencang di jantung Kiara. Biasanya ia akan berbunga-bungn dan berdegup kencang bila sedekat ini dengan pria pujaannya itu. Namun, sekarang terasa biasa saja. Ia pun bersyukur, semalam Gunawan tidak menggunakan tubuhnya, karena biasanya, pria itu tidak pernah absen menggunakan tubuhnya di waktu malam. Seharusnya Kiara senang, karena dulu ia bersusah payah agar dapat disentuh sang suami. Namun kini, itu tidak lagi. Semua terasa biasa saja.
Kiara memakaikan dasi itu, hingga rapih. Dan, arah mata Gunawan tak lepas memandang wajah istrinya yang cantik. Gunawan baru sadar bahwa Kiara memang cantik. Mungkin, karena dulu wajah cantik itu terpoleskan make up yang cukup tebal, sehingga wajah cantik alami itu tidak terpancar.
“Sudah,” ucap Kiara setelah melihat dasi itu terpasang sempurna di leher sang suami.
Kiara hendak pergi dari hadapan Gunawan. Namun, Gunawan menahan pinggang Kiara dengan kedua tangannya. Ia mendekatkan bibirnya pada sang istri. ketika sudah sangat dekat, Kiar memalingkan wajahnya.
“Maaf, Mas. Tadi pagi aku belum sempat gosok gigi. Nanti bau,” ucap Kiara tersenyum dan melepaskan kedua tangan Gunawan yang berada di pinggang lebarnya.
“Hmm ... aku siapkan sarapan untukmu. Nanti kesiangan,” Kiara kembali berucap dan meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung.
Untuk pertama kalinya, Gunawan ditolak oleh Kiara dan rasanya sakit. Apalagi Kiara yang sering mendapatkan penolakan darinya dulu, bahkan penolakan itu disertai kata-kata yang tidak mengenakan. Ia baru menyadarinya.
__ADS_1
Arah mata Gunawan terus menatap punggung yang semakin lama semakin tak terlihat. Mungkin, ini waktunya untuk memaafkan, melepaskan dendam dan amarah, lalu memulai semua dari awal. Ia pun lelah menjalani hidup seperti ini.