
Di malam yang sama, ketika Gunawan dan Kiara tidur berpelukan. Walau mereka masih berada di ruang perawatan rumah sakit. Namun, tetap tidak mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
Begitu pun degan Kenan dan Hanin, mereka malah tengah asyik merengkuh kenikmatan yang tiada tara di sebuah apartemen milik Kenan. Apartemen yang hanya berbeda beberapa lantai dari apartemen yang Kenan berikan pada Vicky.
Namun, kebahagiaan yang dirasakan oleh Kenan dan Gunawan, belum dirasakan oleh Vicky. Malam ini, Vicky tidak bisa memejamkan matanya. Ia masih memandangi foto Kiara yang tersimpan rapih di dompet miliknya. Untuk kali pertama, Vicky menangis. Walau ini bukan pertama kali adik kesayangan Kenan itu menyakiti dirinya. Namun, entah mengapa kali ini terasa sangat sakit. Mungkin karena ia harus menerima kenyataan bahwa saat ini pria yang dicintai Kiara, sudah menerima cinta itu.
Jika dahulu, Vicky masih tidak mengeluarkan airmata saat Kiara menolaknya, itu karena Vicky tahu bahwa cinta Kiara tak berbalas. Oleh karena itu, harapannya masih tinggi. Tetapi, tidak untuk saat ini. Ia memang benar-benar harus mengubur rasa itu dalam-dalam, karena wanita yang dicintainya telah menemukan cintanya.
“Semoga kamu selalu bahagia, Ra,” gumam Vicky sembari mengelus wajah yang tercetak dalam foto itu.
Sebelum Vicky tiba di apartemen ini, ia menyempatkan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Kiara dan melihat putrinya. Namun, sesampainya di depan pintu ruang perawatan Kiara, Vicky mendapati keluarga itu tengah tertawa dan bersenda gurau. Terlihat keakraban antara Gunawan dan Kenan di sana. Apalagi senyum yang selalu mengembang di bibir Kiara dan Rasti, membuat Vicky semakin enggan untuk masuk. Ia tidak ingin kehadirannya justru malah membuat canggung kebersamaan itu. lagi-lagi, Vicky berbesar hati untuk menerima ini, walau sebagai manusia rasanya ia ingin untuk tidak mengalah. Namun, ia memang tidak memiliki kekuatan karena Kiara dan Gunawan sudah saling mencintai. Akhirnya, Vicky memilih keluar dari rumah sakit dan kembali pulang.
Vicky menatap jam di dinding kamarnya, terlihat waktu semakin malam. Ia pun menaruh kembali foto itu ke dalam dompetnya, lalu memulai untuk mengistirahatkan diri. Vicky berbaring di atas ranjang dan melipat kedua tangannya di bawah kepala. Ia menatap langit-langit kamar. Sesaat bayangan gadis aneh itu terlintas di dalam otaknya.
Vicky tersinyum, tatkala mengingat insiden dengan gadis aneh itu.
“Rea,” panggil Vicky lirih sembari menyungging senyum.
Kemudian, ia meraih ponsel. Ia melihat nama Rea di jejeran pertama panggilan ponselnya. Ya, karena memang setelah menelepon Rea saat mereka tengah menukar nomor ponsel, Vicky tak lagi menelepon siapapun.
Vicky iseng dan mencoba mendial nomor telepon itu.
Tut ... Tut ... Tut ....
Lama telepon itu terdengar nada sambung. Namun, tak kunjung di terima, karena memang Vicky menelepon di waktu yang tidak tepat. Di jam segini, sudah pasti setiap orang sudah memejamkan mata.
Namun itulah Vicky, ia memang sengaja membuat kesal gadis aneh itu dengan menelepon di jam seperti ini.
Vicky mematikan telepon itu dan kembali mendial.
Tut ... Tut ... Tut ....
“Halo,” terdengar suara seorang wanita mengangkat telepon itu.
Ya, Rea mengangkat telepon itu tanpa melihat nama yang tertera di sana, karena matanya sangat kantuk. Alhasil ia hanya meraba ponsel yang berdering di sampingnya, lalu ia angkat.
“Halo,” ucap Rea dari seberang sana.
Vicky mendengar suara itu. Namun, ia hanya diam dan tertawa sembari menutup speaker yang terletak di bagian bawah ponsel itu, agar suara tawanya tidak terdengar di sana.
“Halo,” ucap Rea lagi.
Vicky tetap tak mengeluarkan suara.
“Woi, gila apa lu, jam segini telepon kaga ada suaranya. Gangguin orang tidur aja. Stupid!” umpat Rea.
Kemudian mematikan sambungan telepon itu.
Vicky terkekeh geli. Gadis aneh itu benar-benar bar-bar, kata-katanya tidak terkontrol. Namun, entah mengapa Vicky malah mendengar umpatan yang keluar dari bibir Rea menjadi sebuah kelucuan.
__ADS_1
Rea memang jauh dari kata anggun. Tidak seperti Kiara yang selalu tampil anggun dengan tutur bahasa yang halus, kecuali saat ia melabrak Hanin pada waktu itu. Kiara bagai seorang putri yang membuat Vicky selalu jatuh pada pesonanya.
Di sana, Rea meletakkan ponselnya asal, tanpa melihat lagi siapa orang yang meneleponnya tengah malam buta. Rea terlalu kantuk, hingga ia kembali memejamkan mata.
****
Di kantor, Vicky sudah berada di sana pagi-pagi sekali. Saat ini tepat pukul sepuluh, sementara jam kerja mulai dari jam sempilan hingga jam lima sore.
Kenan berjalan cepat menuju ruangannya. Pagi ini ia kesiangan, padahal meeting akan di mulai sepuluh menit lagi. Semalam, ia terlalu asyik mengerjai Hanin, hingga wanita itu terkapar lemas. Hanin yang sudah memohon untuk istirahat, tetap tidak dikabulkan. Akhirnya keduanya pun bangun kesiangan.
“Pagi, Pak,” sapa Siska saat Kenan melewati meja milik sekretarisnya itu.
“Pagi.” Kenan melewati meja Siska dan hanya melihat ke arah wanita itu sekilas.
Lalu, Kenan menghentikan langkah kakinya, tepat di depan pintu ruangan yang hendak ia buka.
“Siska, sini!” pinta Kenan.
Siska pun bangkit dari kursi itu dan segera menghampiri bosnya. Ia berdiri persis di depan Kenan.
Kenan memperhatikan penampilan Siska dari atas hingga bawah. Siska mengenakan rok bahan berwarna krem di atas lutut. Rok itu terlihat sangat pendek. Wanita itu pun menggunakan kemeja lengan panjang yang ketat, hingga kancing di bagian dadanya hampir terbuka.
“Kamu mau kerja, apa mau nari strepteas sih?” tanya Kenan dengan menatap tajam ke arah sekretarisnya.
“Kerja, Pak,” jawab Siska menunduk.
“Ih bapak, amit-amit. Jangan sampe deh!”
“Makanya, pakai pakaian yang bener,” sungut Kenan.
“Iya, Pak. Besok saya tidak berpakaian seperti ini lagi.”
“Ngga usah tunggu besok. Sekarang juga kamu harus ganti pakaianmu. Aku tidak di bilang bos mesum karena memiliki sekretaris yang sexy.” Kenan langsung masuk ke ruangan itu.
Siska mengerucutkan bibir. Ia kembali kena semprot, padahal masih pagi.
Di seberang sana, Vicky tertawa. Begitu dengan Pak Rahmat yang hendak masuk ke ruang Kenan untuk memberikan kopi, juga meletakkan kopi di meja Siska.
“Lagian sih, sexy banget lu, udah tau si bos ngga suka.”
Vicky menepuk b*k*ng Siska dengan map yg ia pegang saat melewati sekretaris itu dan hendak masuk ke dalam ruangan Kenan.
“Uuuh ... tapi situ suka kan!” Goda Siska pada Vicky, sembari meliukkan tubuhnya.
Vicky dan Siska memang pernah terlibat hubungan ranjang, saat mereka tengah ditugaskan bersama ke Bali, dua tahun lalu. Saat itu, Kenan yang harus mengunjungi negara lain untuk melakukan bisnis penting, lalu meminta Vicky dan Siska yang hadir sebagai perwakilan perusahaan dalam penentuan proyek besar pemerintah untuk menggarap beberapa rumah susun yang didirikan di berbagai kota besar. Setelah acara pada waktu itu, Siska meminta Vicky untuk menikmati klub malam di sana. lalu, mereka terbawa suasana hingga akhirnya melakukan one night stand. Setelah kejadian itu, Siska memang beberapa kali terlihat menggoda Vicky. Namun, Vicky hanya menanggapinya dengan candaan. Ia sudah terbiasa menghadapi wanita seperti Siska, walau sebenarnya Siska wanita yang baik. Tetapi, ia sudah mengenal s*x sejak SMA. Gaya pacaran Siska pun tidak pernah lepas dari hubungan badan.
Vicky tertawa dan memandang tubuh sexy Siska sebelum ia membuka pintu ruangan Kenan. “Malu noh, sama Pak Rahmat.”
Sontak Siska pun menoleh ke arah Pak Rahmat, karena ia sedari tadi tidak sadar bahwa ada kehadiran orang lain selain dirinya dan Vicky. Kemudian, Siska kembali duduk di kursinya. Vicky menggelengkan kepala ke arah Siska, lalu membuka ruangan Kenan. Ia masuk dan menahan pintu, agar Pak Rahmat yang sedang membawa nampan itu masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
“Hei, Vick. Kemarin lu ga jadi ke rumah sakit?” tanya Kenan, ketika melihat Vicky berdiri di hadapannya.
Vicky menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung beralasan apa pada Kenan, karena sebenarnya ia sudah ada di rumah sakit waktu itu.
“Eum ... Sorry Ken, gue capek banget. Soalnya negosiasi sama Pak Wahyu tuh alot banget,” jawab Vicky bohong.
Kenan mengangguk. “Iya sih, beliau itu terlalu prosedural.”
“Bagus sih, Ken. Pemerintah emang perlu orang seperti itu supaya ga banyak yang korup.”
“Iya, sih.” Kenan setuju dengan pendapat Vicky.
Lalu, Vicky menyerahkan beberapa dokumen pada Kenan. “Nih, tinggal tanda tangan berkas ini. proyek bisa langsung di mulai.”
Kenan mengambil amplop biru yang diberikan Vicky. Ia membukanya dan tersenyum. “Good job, Boy.”
Kemudian, Kenan menatap Vicky yang masih berdiri didepannya.
“Vick, lu mau liburan?” tanya Kenan.
“Kenapa? tumben nyuruh gue liburan. Padahal baru bulan kemarin loh gue izin ke Ausy satu minggu.”
Kenan menarik nafasnya kasar dan meletakkan amplop yang diberikan Vicky tadi di atas meja.
“Gue tahu, saat ini adalah saat-saat terberat lu. Walau semua terlihat baik-baik saja. Tapi gue tahu sebenarnya lu tuh ngga lagi baik-baik aja.”
Kenan tahu bahwa ketidakhadiran Vicky di rumah sakit bukan karena lelah tetapi tidak sanggup melihat adiknya dan Gunawan bahagia bersama.
“Sorry, Ken. harusnya gue ga boleh punya rasa seperti ini sama adik lu.”
Kenan tersenyum tipis. “Kenapa sorry? Kita ngga pernah tahu kepada siapa akan jatuh cinta. Dan gue ngga salahin lu. Lagi pula lu udah berkorban banyak buat adik gue.”
“Ya, gue sadar cinta memang tidak harus memiliki. Dan, gue seneng akhirnya Kiara bahagia. Itu yang paling penting,” ujar Vicky.
Kenan berdiri dan menghampiri Vicky. Ia memeluk sahabatnya dan menepuk pundaknya. “Lu lelaki hebat, Vick. Lu punya hati yang besar untuk menerima semua ini.”
Vicky pun menerima pelukan itu. “Gue belajar dari lu.”
Kenan melepas pelukan itu dan tertawa. “Ngeledek lu.”
Vicky pun ikut tertawa. “So, gue boleh liburan nih?”
“Off course.”
“Oke, minggu depan gue hunting travel, buat nyari destinasi yang bagus.”
“Oke.”
“Thank you, Bro.” Vicky menempelkan genggaman tangannya ke atas pada tangan Kenan yang terkepal.
__ADS_1