
Di sisi lain, Vanesa masih menjalankan aktifitasnya sebagai model dan bintang iklan. James dan alin sudah tidak lagi mengusik keluarga Kenan. Mereka menjalani aktifitasnya masing-masing. Sementara Riza memulai hidupnya di negara paman Sam.
Kenan yang mengetahui bahwa Riza kembali dicampakkan Vanesa, membuatnya memberikan sebuah penawaran. Kenan melihat bahwa Riza bukanlah orang yang jahat. Ia pun mengakui track record Riza di perusahaannya cukup baik serta dedikasi yang sudah cukup lama. Semakin hari, permintaan pasokan udang di Amerika semakin meningkat, belum lagi di negara tetangga yang berdekatan dengan negara itu, sehingga membuat Kenan merasa perlu untuk mengirim orang dan menyediakan satu kantor di sana agar memudahkan mereka berkoordinasi.
Kenan menawarkan Riza sebagai orang kepercayaan yang akan mengelola penerimaan dan pendistribusian udang yang mereka kirim ke negara itu. Riza yang merasa harga dirinya sedang terinjak pun, langsung menyetujui penawaran Kenan. Ia bertekad akan berkerja lebih giat dan menyeimbangkan diri agar tak dipandang sebelah mata oleh James dan Alin. Riza sangat berterima kasih pada Kenan dan berhutang budi pada pria arogan itu. Walau di balik ketulusannya membantu Riza, Kenan juga sudah memegang kartu As skandal keluarga James dengan menjadikan Riza berhutang budi padanya, sehingga kelak keluarga itu tak lagi macam-macam pada Kenan.
“Break,” ucap fotografer yang sedang menshoot gaya Vanesa.
Saat ini, Vanesa tengah bekerja untuk mengiklankan sebuah kosmetik.
“Van, lu kenapa sih? Kok ga konsen gitu?” tanya wartawan itu.
“Kepala gue pusing,” jawab Vanesa.
Memang sedari pagi, perutnya terasa mual dan pusing.
“Lu sakit? Kalo sakit kenapa ga bilang, kan bisa di gantiin sama model lain.”
“Jangan! Gue pengen banget proyek ini. ya udah kita mulai lagi, oke!” Vanesa tetap bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja, demi karir yang tengah ia jalani saat ini.
****
Sesampainya di rumah, perut Vanesa masih terasa mual.
"Nes, kamu kenapa?" tanya Alin, yang melewati kamar putrinya dan mendengar erangan suara Vanesa yang muntah.
"Ngga tau, Mom. Dari pagi vanesa pusing, mual. kecapekan kali."
Alin berdiri mematung. Ini yang ia takutkan. Ia khawatir sang putri hamil.
"Berapa kali kalian melakulannya waktu itu?" tanya Alin menarik lengan putrinya yang hendak duduk di sofa.
"Apa sih, Mom." Vanesa menarik tangannya agar terlepas dari cengkrama. sang ibu.
"Kamu hamil anak pria itu?" tanya Alin lagi.
Vanesa terdiam. Ia mulai mengingat terakhir mendapatkan masa periodenya.
__ADS_1
"Ngga mungkin. Kami melakukannya hanya beberapa kali. Sebelumnya juga ngga jadi."
"Bodoh, enteng sekali kamu bicara. Heran Mommy denganmu, Nes." Alin sudah tak bisa lagi mengajarkan putrinya yang bebal ini. "Beli alat tes kehamilan sekarang! Mommy ingin tahu hasilnya."
"Ngga, Mom. Nesa ga hamil," sahut Vanesa.
"Itu kan katamu. Dasar bodoh!"
Alin keluar dari kamar Vanesa dan menyuruh salah satu maidnya untuk membeli alat itu.
Tak lama kemudian, Alin datang ke kamar Vanesa dengan membawa alat test yang paling akurat itu.
"Ini!" Alin menyerahkan alat test itu pada putrinya. "Ayo coba sekarang!"
"Mommy, aku lelah. Nanti sajalah. Lagian Mommy terlalu khawatir, aku hanya kecapekan, Mom." Vanesa mengelak.
"Sudah, jangan banyak alasan. Ayo gunakan alat ink! Mommy akan tunggu."
Vanesa bangun dari sofa dan mengambil.alat test itu, lalu berlalu ke kamar mandi.
Vanesa berdiri menghadap cermin, menatap dirinya sendiri dan memukul-mukul pelan pipinya. Sesungguhnya, ia pun khawatir. Namun, ia mencoba menepis kekhawatiran itu. Sudah lebih dari satu bulan, ia tak mendengar kabar tentang Riza. Bahkan, mereka tidak berkomunikasi lagi sejak Alin dan James memergokinya di apartemen itu.
"Apa?" Vanesa menganga dan menutup mulutnya tak percaya.
Ternyata, Riza benar-benar membuatnya hamil.
Vanesa keluar kamar mandi itu dengan gontai.
"Bagaimana?" tanya Alin yang tak mendapat respon dari Vanesa.
"Sini!" Alin merampas alat tes yang masih Vanesa pegang.
"Ya ampun," teriak Alin. "Akhirnya kekhawatiran mommy dan daddy terjadi juga."
"Maaf, Mom," ucap Vanesa lesu. Wajahnya seketika menjadi bingung. Ia menggigit ujung kukunya.
"Ayo, ikut ke ruangan Daddy!" Alin menarik tangan putrinya.
__ADS_1
"Dad, lihat hasil dari kelakuan putrimu yang bodoh ini." Alin menyerahkan alat tes itu pada James, setelah mereka berada di ruang kerja pria keturunan Amerika itu.
"Dia juga anakmu," ujar James melirik ke arah Alin.
"Tapi dulu, aku tidak sebodoh dia," jawab Alin menyedekapkan kedua tangannya di dada seperti tengah akan mengintimidasi Vanesa.
Vanesa tertunduk malu.
"Maaf, Dad." Tiba-tiba tangis Vanesa pecah.
James menarik nafasnya dan duduk.demgan tegap.
"Gugurkan."
Vanesa menggeleng. "Tidak Dad. Nesa takut."
"Ini konsekuensi dari kebodohanmu. Jadi kamu harus tanggung sakitnya."
Vanesa bersujud di pangkuan sang ayah. "Jangan ayah, Nesa mohon. Nesa tidak apa membesarkan anak ini sendiri."
"Lalu bagaimana dengan karirmu? Bagaimana dengan imaje yang akan berkembang nanti?" tanya James.
"Gugurkan bayi itu, Nes. Mommy punya banyak kenalan dokter obgyn yang bagus."
Vanesa masih menggeleng. "Tidak, Mom. Vanesa tidak sejahat itu."
Plak
Alin menampar pipi putrinya. "Kamu tuh benar-benar bodoh. Rasanya Mommy ingn buang kamu ke laut.
"Mommy, Daddy .... Maaf," ucap Vanesa lirih.
sepertinya, ia akan mulai mencari Rjza lagi dan memintanya untuk bertanggung jawab, karena sebelumnya, hal ini memang kemauan Riza. Pria yang sekarang jadi kaki tangan Kenan di Amerika itu memang menginginkan anak dari Vanesa. Namun, Vanesa tidak tahu harus mencari Riza di mana.
"Kalau kamu tidak mau menggugurkan janin itu. Kamu harus siap meninggalkan karirmu dan menetap di Boston, bersama paman dan bibimu di sana," ucap James tegas.
James masih memiliki adik di kota kelahirannya itu. Dan, sang adik hanya tinggal bersama istrinya, karena mereka tak memiliki keturunan.
__ADS_1
Akankah, Vanesa dan Riza bertemu di Boston? Semoga.