Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Mendadak terkenal


__ADS_3

Setelah itu, Kenan beralih ke Jakarta. Ia mengantarkan sang ibu ke kediaman utama keluarga Aditama. Ia pun meninggalkan istrinya di sana.


“Sayang, aku ke kantor dulu. Nanti akan ada orang yang membawamu ke butik dan mengantarmu ke kantor. Kita akan berangkat bersama ke hotel xxx,” ucap Kenan yang hendak menginggal Hanin di rumah itu hingga beberapa jam.


Hanin mengangguk. Ia tak lupa, jika sore ini mereka akan konferensi pers di hotel itu.


“Baiklah, aku pergi.” Kenan mengecup kening Hanin yang berdiri di teras luas keluarga Aditama. Sedangkan Vicky masih setia menunggu bosnya di dalam kursi kemudi.


“Ya, hati-hati, Sayang.” Hanin mengusap dada bidang suaminya.


Jika, tidak ada Rasti di sebelang Hanin, mungkin Kenan tidak hanya akan mencium kening tapi juga akan ******* bibir ranum sang istri. Kenan menoleh ke arah sang ibu dan Rasti pun hanya tersenyum.


“Dah, Mam. Ken pamit.” Kenan mencium punggung tangan sang ibu.


“Ya sudah sana pergi,” ucap Rasti yang masih melihat putranya belum beranjak.


“Hmm ...” Kenan masih berdiri di hadapan Hanin.


“Ken, apalagi yang ingin kamu lakukan?” tanya Rasti.


“Memeluk istriku.” Kenan yang ingin sekali ******* bibir itu, kini hanya beralih memeluknya.


Hanin tertawa geli, melihat sikap sang suami. Ia tahu betul apa yang diinginkan Kenan. Lalu, Kenan melepas pelukan itu dan menghampiri mobilnya yang masih menderu.


Rasti menggeleng. “Ternyata anak itu nakal sekali.”


Hanin ikut menggeleng. Kedua wanita yang sedang berdiri itu, sama menatap mobil Kenan yang hendak keluar.


“Memang, putra Mami benar-benar nakal,” sahut Hanin tanpa di sengaja.


Rasti menoleh ke arah Hanin dan Hanin pun menoleh ke arah Rasti, lalu menunduk malu. Rasti tersenyum.


“Ayo masuk!” ajak rasti pada menantunya.


Rasti mengumpulkan para pekerja yang bekerja di rumah besar itu. ia memperkenalkan Hanin sebagai istri dari Kenan, membuat semua pekerja itu pun terkejut, karena yang mereka tahu tunangan tuan mudanya adalah Vanesa.


“Mulai saat ini, Hanin adalah anggota keluarga di sini,” ucap Rasti dan semua pekerja di rumah itu pun mengangguk.


Kemudian, Rasti membawa Hanin berkeliling rumah itu, sembari menceritakan tentang dirinya dan Kean. Rasti pun menceritakan karakter Kean yang sebelas dua belas dengan Kenan sekarang.


Hanin berdiri di antara foto-foto keluarga Kenan yang terpajang banyak. Ia pun mengambil figura, yang memajang foto Kenan berusia sepuluh tahun, saat pria itu menunggang kuda.


“Kenan memang sudah tampan sejak kecil,” kata Rasti bangga.


Hanin mengangguk. “Karena orang tuanya, cantik dan tampan.”

__ADS_1


Rasti tertawa. “Kamu bisa saja.”


Lalu, Hanin beralih pada foto Kiara yang juga tak kalah cantiknya sejak kecil. “Dimana Kiara, Mam?”


“Di rumah Gunawan. Sejak kemarin malam, dia menginap di sana.”


Mendengar nama Gunawan dan melihat foto Kiara, membuat Hanin sedih. Pasalnya, ia sempat di cap wanita penggoda saat itu dan ia sempat diperlakukan semena-mena terhadap adik kesayangan sang suami.


“Kenapa?’ tanya Rasti yang melihat raut wajah sedih Hanin.


“Apa Kiara menerimaku?” tanya Hanin ragu.


“Hmm .... Entahlah! Tapi sepertinya, dia biasa saja saat tahu Mami berada di apartemen kalian. Dia juga biasa saja saat mendengar kamu dan Kenan berteriak dengan nada sensual.”


Seketika Hanin terdiam. “Maksud Mami?’


“Ah.” Hanin menutup wajahnya malu.


Rasti tertawa, melihat ekspresi menatunya. Sungguh, Hanin benar-benar kesal terhadap sang suami yang tidak bisa menahan hingga malam sedikit larut.


Hanin menemani ibu mertuanya di sini. Ia ikut membantu si Bibi menyiapkan makan siang, lalu kembali menemani Rasti di taman dan mendengarkan ibu mertuanya itu bercerita sembari sedikit merapihkan tanaman kesayangannya.


Menjelang sore, Hanin di jemput oleh Siska. Sekretaris Kenan itu mengajak Hanin ke butik dan mendandani istri bosnya itu.


“Ibu cantik sekali,” ujar Siska.


“Masa, sih?” tanya Hanin tak percaya.


Siska dan Hanin langsung akrab hanya dengan beberapa menit berada di mobil dan duduk berdampingan di dalamnya. Mereka memang seumur, sehingga tidak sulit untuk mereka saling mengenal dekat, di tambah Hanin yang supel, sehingga hubungan mereka tidak seperti sekretaris dengan istri bos.


“Sis, jangan panggil aku Ibu kalau kita sedang berdua. Panggil saja aku Hanin.”


“Tidak bisa, Bu. Walau kita seumur tapi ibu kan istri pak Kenan.”


Hanin tersenyum. “Tapi rasanya asing di telingaku, Sis. Apalagi kita seumur.”


“Tau ngga, Bu!” Siska kembali mengajak Hanin bicara. “Hari ini, Pak Kenan terlihat berbeda. Ada senyum di wajahnya dan lagi, saya tidak kena semprot.”


“Maksudnya?” tanya Hanin.


“Ih, biasanya nih. Dateng-dateng, Pak Kena udah cemberut, terus aku langsung di marahi hanya karena ... hmm ...”


“Karena apa?” tanya Hanin lagi.


“Karena, saya memakai rok mini.” Siska nyengir, membuat Hanin tertawa.

__ADS_1


“Tapi bener loh, Bu. Pak Kenan beda banget hari ini. ternyata, karena beliau sudah menikah. Akhirnya, si macan tutul itu ketemu pawangnya.” Siska tertawa, mengingat bosnya yang suka marah-marah.


“Macan tutul?” Kening Hanin mengeryit.


“Iya, kami menjuluki Pak Kenan seperti itu.”


Hanin tertawa. Ia pun mengingat saat pertama kali ia bertemu Kenan. “Banar juga. macan tutul.”


Kedua wanita seusia itu pun tertawa bersama.


****


Hanin sampai di kantor Kenan bersama Siska. Sebelum jam pulang kerja, Kenan menyempatkan mengumpulkan karyawannya kembali di kantor ini, kantor yang menjadi pusat bisnisnya. Gedung yang selama puluhan tahun berdiri. Namun, di perluas dan di perbesar oleh Kenan.


“Ini adalh istriku, Hanin Aqila.” Kenan memperkenalkan istrinya yang cantik pada karyawannya yang berkumpul di ruang rapat.


Selanjutnya, ia membawa Hanin ke hotel xxx di temni oleh Vicky. Di sana, media suadh berkumpul. Hanin mengenakan dres berwarna hitam dengan sedikit belahan di kedua bahunya. Hanin pun memakai kalung dan cincin berlian yang di berikan Kenan saat di ruangan kantornya tadi.


Wanita sederhana itu, seketika berubah menjadi putri.


“Saya, Kenan Aditama tidak lagi bertunangan dengan Vanesa. Kami sudah berpisah cukup lama, karena memang semula kami menjalani hubungan yang salah. Saya dan Vanesa tidak bisa menjalin hubungan yang lebih dari sahabat.” Kenan memulai perkataannya dengan membahas Vanesa, karena memang wanita itu yang membawa Kenan menjadi pria yang di kenal oleh khalayak ramai.


“Dan, di sebelah saya ini adalah istri sah saya. Namanya Hanin Aqila. Saya menikahinya dua bulan yang lalu di Kuala Lumpur. Saya baru memberikan pernyataan, karena sebelumnya ada beberapa kendala yang harus saya selesaikan.”


“Apa kalian menikah, sebelum Pak Kenan putus dari mba Nesa?’ tanya salah satu wartawan selebriti itu.


Kenan terdiam sejenak. “Tidak, saya menikah setelah memutuskan hubungan saya dengan Vanesa.” Kenan terpaksa berbohong agar Hanin tidak di cap sebagai pelakor.


“Bagaimana dengan Mba Nesa, apa dia menerima ini?” tanya salah satu wartaman itu lagi. “Karena ini sangat mendadak.”


“Kalau masalah itu, kalian bisa tanyakan sendiri pada yang bersangkutan,” jawab Kenan tegas.


Kenan dan Hanin di foto berulang kali oleh sekerumunan orang yang mengenakan tanda pengenal wartawan dari berbagai media. Hanin mendadak terkenal.


Di tempat berbeda, James tengah menonton televisi yang menyiarkan konferensi pers yang dilakukan Kenan. Alin berjalan menghampiri suaminya sembari membawakan teh hangat. Ia pun melihat berita itu.


“Loh, Pa. Kalau Kenan sedang di sini. Di mana putri kita? Dari kemarin Vanesa tidak bisa di hubungi,” ucap Alin cemas.


“Memang kurang ajar. Pasti putri kita sedang terluka dan memilih mengurung diri, sekarang.” Rahang James mengeras.


“Ini berarti, Rasti sudah merestui mereka?” tanya Alin pada suaminya.


James pun mengangguk.


”Lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada keluarga itu.”

__ADS_1


__ADS_2