
Alisha sudah satu Minggu ada di Indonesia, Ia sudah mulai mengajar di salah satu Universitas di Surabaya.
Dan sudah satu Minggu pula tidak berkomunikasi dengan Hafidz,Alisha kecewa tapi ia tidak ingin juga berharap terlalu banyak,baginya harga diri seorang wanita lebih penting dari sekedar cinta.
Mas Birru melihat gelagat Alisha yang tampak menyembunyikan kesedihan,Alisha yang biasanya selalu berdebat dengan nya,kali ini lebih banyak diam,Alisha beralasan sedang beradaptasi dengan lingkungan kampus,jadi akhir-akhir ini menjadi agak lelah.
Mas Birru menghubungi Hafidz mengajaknya bertemu di cafe,Hafidz menerima ajakan Mas Birru,kebetulan juga ingin curhat dengan Mas Birru.
Hafidz sudah duduk berdua dengan Mas Birru di Cafe,tanpa basa basi Mas Birru langsung menanyakan perihal Hafidz dengan Alisha.
"Kamu ada masalah apa dengan Alisha Fidz?" Tanya Mas Birru.
"Bukan Alisha yang bermasalah,tapi Aku Al yang bermasalah,Aku juga sangat bingung dengan masalahku ini yang sulit terpecahkan"
"Jika kamu berkenan,ceritakan lah,tapi jika ingin menemukan solusi sendiri ya tidak masalah,Aku tidak akan membawa-bawa masalah adikku dengan persahabatan kita,tenang saja,kalian baru dekat,belum sampai menikah,jadi aku juga tidak berhak menyalahkan siapa-siapa" Ucap Birru.
"Kamu memang yang terbaik Al,aku juga sebenarnya ingin menceritakannya pada mu,tapi aku menunggu waktu yang tepat"
"Ceritakan lah sekarang aku akan mendengarkan"
Hafidz lalu menceritakan masalah yang sebenar nya pada Mas Birru, Mas Birru cukup kaget dengan masalah yang menimpa Hafidz, cukup rumit,apalagi berhadapan dengan nyawa seseorang.
"Aku tidak habis fikir ada wanita yang begitu egois,memaksakan sebuah cinta tanpa berfikir dahulu" Ucap Mas Birru.
"Aku harus bagaimana Al"
"Berdoalah,selama ijab Qabul belum di ucapkan,kamu masih mempunyai pilihan,tapi bijaklah dalam memilih,maksudku jika kamu sudah bertunangan dengan Nadia,kamu jangan mendekati Alisha,itu artinya kamu sama egoisnya,aku tahu kamu mencintai adikku,tapi redam lah keegoisan itu dengan doa Fidz"
Hafidz terdiam,Ia mencintai Alisha,namun benar apa yang di katakan Mas Birru,jika Hafidz mendekati Alisha itu hanya akan menyakiti Alisha.
"Tapi jika kamu ingin bersama Alisha,kamu batalkan pertunanganmu dulu dengan Nadia"
"Tapi jika Nadia nekat bagaimana?"
Birru tertawa,"Hafidz menikahlah dengan seseorang yang bagus agamanya,baru cantiknya,setelah itu hartanya,lalu keturunan nya"
"Jika Nadia dari awal sudah mengancam bunuh diri apa itu mencerminkan wanita yang baik?jelas itu jauh dari kata baik,bahkan Allah sangat membenci perbuatan itu,satu lagi,Mati di tangan Allah Fidz"
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Hafidz kembali.
"Coba kalian konsultasikan dulu dengan dokter yang menangani Nadia,baiknya Nadia bagaimana agar sembuh dan musyawarahkan dengan keluarga kalian,bagaimana baikmya mengenai perasaan mu itu" Jawab Birru.
"Aku takut Alisha kecewa"
"Tenang saja,adik ku pasti kuat,buktinya sudah 2 Minggu ini Dia bertahan tidak menghubungimu"
Albirruni benar,setelah acara wisuda itu Hafidz sudah mulai tidak berkomunikasi dengan Alisha,dan selama itu pula Alisha juga tidak sekalipun menanyakan kenapa,Alisha cukup dewasa dalam menghadapi laki-laki,Dia tidak merengek minta di cintai seperti Nadia.
"Alisha sekarang bekerja atau bagaimana Al?"
__ADS_1
"Alisha sekarang jadi Dosen lhoo Fidz"
"Apa jadi Dosen,"
Hafidz malah gusar karena takut pasti banyak mahasiswa bahkan dosen yang menyukai Alisha,Hafidz mengusap muka nya dengan kasar.
"Ya sudah,aku pulang dulu ya,takut Rengganis meminta sesuatu,pokoknya fikirkan baik-baik" Ucap Albirruni.
"Iya Al,terimakasih banyak yah"
Mereka pun berjabat tangan,Albirruni langsung keluar dari cafe nya lalu pulang ke rumah nya.
☘☘☘
Di rumah Alisha sedang mengobrol dengan Papahnya,Alisha di ajak Papah nya menghadiri undangan pernikahan rekan kerja papahnya.
Mama tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan,sementara Albirruni melarang Rengganis ikut karena kandungan nya sudah besar,dan tidak boleh keluar sampai larut malam.
Akhirnya Alisha menuruti keinginan papahnya,Alisha menggunakan gaun brukat warna biru muda,di padupadankan dengan jilbab segi empat yang di model dengan cantik namun menutup dada nya.
Alisha sedang belajar menggunakan jilbab yang menutup dada nya.
Alisha bergandengan tangan dengan papa nya menuju tempat pernikahan,teman-teman papa banyak yang memuji kecantikan Alisha.
Alisha duduk di salah satu tempat duduk dengan papahnya,seseorang menghampiri Papa Wijaya.Alisha sangat mengenal salah satu dari orang tersebut,namun Alisha pura-pura tidak mengenalnya.
"Pak Wijaya,apa kabar pak?"
"Ini siapa?"
"Ini anakku Alisha"
"Aku kira istri mudamu" Ledek pak Adrian di iringi gelak tawa.
"Aku selalu setia dong dengan Mama Al" Ucap Papa Wijaya.
"Cantik sekali putrimu,anakmu berapa sekarang?"
"Tiga,Albirruni pasti kamu sudah mengenalnya,lalu ini Alisha,ada satu lagi Almira"
"Coba kalau Aku lebih tahu kamu punya anak gadis,kan kita bisa besanan,sayangnya anak ku sudah bertunangan 2 Minggu yang lalu"
Hati Alisha yang mendengarnya langsung mencelos,rasanya seperti menaiki rollercoaster di puncak lalu turun ke bawah dengan kencangnya, tapi Alisha tetap menampakan wajah elegan nya.
Papa Wijaya langsung melirik ke arah Hafidz yang masih terdiam.
"Ini Hafidz putra ku" Ucap Pak Adrian.
"Aku sudah mengenalnya,kan sering ke rumahku,Hafidz akrab dengan Albirruni"
__ADS_1
"Oh jadi sering kesana ya"
"Aku kira Hafidz menyukai Putriku" Ledek Papa Wijaya.
"Papa ih,mana mungkin Mas Hafidz menyukai Alisha pah,Alisha hanya gadis biasa" Ucap Alisha.
"Eh,gadis biasa bagaimana,kamu sangat cantik,kamu sekarang bekerja dimana Sha?"
"Setelah lulus 2 Minggu lalu saya memilih menjadi dosen untuk menyalurkan ilmu saya Om" Jawab Alisha
"Wah mulia sekali niat mu Sha"
"Terimakasih Om"
"Bagaimana,calon sudah ada belum?" Tanya Adrian.
"Belum ada Om"
"Wah gadis secantik kamu,juga dari keluarga terhormat masa belum mempunyai calon"
"Tadinya ada Om seseorang yang katanya akan menunggu saya saat kuliah di London,tapi saat saya pulang tiba-tiba Dia sudah bertunangan dengan yang lain,mungkin saya perlu memperbaiki diri lagi Om" Ucap Alisha sambil melirik Hafidz.
"Pasti lelaki itu akan menyesal Sha" Ucap Adrian.
Alisha hanya tersenyum.
"Baru bertunangan Sha,belum ijab Qabul, jodoh masih di tangan Allah,bukan di tangan sang pemegang cincin" Ucap Papa Wijaya.
"Tapi Alisha tidak lagi mengharapkan laki-laki pengecut Pah,masih banyak stok yang lain,kenapa mesti mempertahankan seseorang yang sudah memberikan cincin pada wanita lain" Ucap Alisha.
"Kadang apa yang di dengar tidak sama dengan kenyataan yang ada," Ucap Hafidz.
"Benar Dokter Hafidz, tapi kenyataan ya kenyataan,mau di apakan lagi" Ucap Alisha.
"Sudah ayo kita makan," Ucap Papa Wijaya mencairkan suasana.
Mereka makan bersama satu meja.Papa Wijaya dan Papa Hafidz mengobrol tentang bisnis,Alisha dan Hafidz terus saja terdiam.
"Pah Alisha mau ke toilet dulu ya"
Papa Wijaya mengangguk.
Saat Alisha hampir sampai toilet,tangan Alisha di cekal oleh seseorang.
"Alisha dengarkan penjelasan Mas,ini tidak seperti yang kamu kira" Ucap Hafidz.
Alisha tersenyum.
"Mas,Alisha tidak berhak mendapatkan penjelasan apa-apa darimu Mas,memang Alisha siapamu Mas?"
__ADS_1
Alisha masuk kedalam toilet,sementara Hafidz masih terpaku di depan pintu toilet,kata-kata Alisha benar-benar membuat hatinya sakit seakan tertusuk belati.Apakah cinta sesakit ini Tuhan.