
Pagi-pagi sekali Alisha dan Hafiz sudah berangkat ke Venesia, Mereka harus menempuh perjalanan belasan jam jadi mereka memilih untuk melakukan penerbangan pagi.
Pagi ini mama memasak di bantu Almira dan Rengganis. Mereka membuat nasi goreng seafood dan lemon tea hangat.
Alisha dan Hafidz katanya akan sarapan di pesawat saja.
Keluarga Wijaya Sarapan bersama seperti biasa, Pagi ini Ayyubi sudah di buatkan bubur buatan Rengganis, bubur ayam wortel.
Ayyubi makan dengan lahapnya, Pipinya pun subur gembul.
Setelah sarapan Albirruni dan Papah Wijaya berangkat ke kantor.
Reihan masih ada sisa cuti 3 hari dari kampusnya, sedangkan Almira belum waktunya untuk tes ujian masuk perguruan tinggi.
"Mbak sini Ayyubi sama Aku, mbak sarapan dulu yah"
Rengganis memberikan Ayyubi pada Almira, Almira dan Reihan membawanya ke taman, mereka duduk di gazebo di taman dekat kolam renang.
"Sayang Ayyubi ini mirip siapa coba?"
"Mirip Kak Al begini kok masih Tanya sih Mas"
"Campuran itu, lihat hidung nya mirip mbak Rengganis,"
"Ah susah, soalnya mbak Rengganis juga sedikit mirip dengan Kak Al"
"Nanti kalau kita punya anak kira-kira mirip siapa ya?"
"Mirip Mira dong" Jawab Mira dengan antusias.
"Ih Enak saja, Mirip Mas lah, Mas yang selalu menang"
"Menang apa?"
"Menang ninu-ninu lah"
"Memang nya seperti itu, jika anaknya mirip bapaknya berarti bapaknya yang menang ninu-ninu?"
"Iya mitos nya begitu"
"Pegang Ayyubi"
"Kamu mau kemana?"
"Mau tanya sama mbak Ganis dulu kalah apa menang dengan Kak Al"
"Eh....jangan, itu hanya mitos sayang"
Almira kembali duduk.
"Kamu ini Humaira..."
"Okeh...nanti Mira mah berusaha sekuat tenaga biar Mira menang"
"Coba saja"
"Oke"
Reihan tersenyum mendapat tantangan dari Almira. Mbak Rengganis mengambil Ayyubi karena mau di mandikan.
"Mas nanti nonton yuk"
"Ya nanti, mall buka nya juga jam 10"
"Ya sudah kita ke taman depan komplek saja yuk, banyak jajanan yang Mira suka Mas"
"Oke hayu"
Mereka berdua lalu berjalan ke taman depan komplek, dan benar saja banyak sekali jajanan pasar yang di suguhkan di sepanjang pinggir taman.
Almira melihat ibu-ibu seumuran mbak Rengganis sedang berjualan cenil, ketan gula merah dan jagung tabur kelapa muda [Kesukaan Author gaes,hehe].
Ibu-ibu itu berjualan sambil menggendong anaknya yang masih bayi seumuran ayyubi juga.
"Mas..aku mau cenil"
"Ya sudah ayo"
__ADS_1
Mereka menghampiri ibu-ibu itu, Almira merasa iba dengan ibu-ibu itu,Almira malah teringat mbak Ganis dan Ayyubi.
"Mbak Aku mau cenil 5, jagung 5, ketan 5"
"Iya mbak"
Ibu-ibu itu melayani Almira sambil sesekali membetulkan gendongan nya.
"Apa setiap hari mbak jualan membawa bayi? kasihan mba, panas juga polusi" Ucap Almira.
"Iya mba, Mau bagaimana lagi, saya sudah bercerai dengan suami, dan suami sudah menikah lagi dengan selingkuhan nya, jadi saya sendirian harus menafkahi anak saya"
Deg...Dada Almira serasa merasakan kesedihan ibu-ibu itu.
Almira mencengkram lengan Reihan.
"Bapaknya apa tidak menafkahi anaknya?" Tanya Reihan.
Ibu-ibu itu menggeleng, "Tidak Mas"
"Ya Allah, masih ada laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti itu, padahal anak itu 100 persen tanggung jawab bapaknya, jika tidak menafkahi Allah akan menagihnya di akhirat nanti" Ucap Reihan dengan sedikit emosi.
"Tapi kan saya sudah bercerai Mas"
"Iya bu dalam Islam Ketika terjadi perceraian dan masa iddah sudah selesai, wanita yang dulunya menjadi istri, kini berubah status menjadi mantan istri. Tali pernikahan sudah putus, bukan lagi suami-istri. Sehingga dia tidak wajib dinafkahi oleh mantan suaminya.
Namun hak nafkah bagi anak, tidak putus, sehingga ayah tetap berkewajiban menanggung semua kebutuhan anak, sekalipun anak itu tinggal bersama mantan istrinya.
Imam Ibnul Mundzir mengatakan,
Ulama yang kami ketahui sepakat bahwa seorang lelaki wajib menanggung nafkah anak-anaknya yang masih kecil, yang tidak memiliki harta. Karena anak seseorang adalah darah dagingnya, dia bagian dari orang tuanya. Sebagaimana dia berkewajiban memberi nafkah untuk dirinya dan keluarganya, dia juga berkewajiban memberi nafkah untuk darah dagingnya.
Bahkan mantan istri boleh nuntut mantan suaminya untuk menafkahi seluruh kebutuhan anaknya. Jika mantan suami tetap tidak bersedia, mantan istri bisa menggunakan kuasa hukum untuk meminta hak anaknya."
"Saya orang awam Mas, saya tidak mengerti Hal seperti itu, saya pasrahkan saja pada yang kuasa"
Almira semakin mencengkram lengan Reihan dengan lebih erat, matanya sudah berkaca-kaca.
"Bu...jangan takut, Ada Allah, Walaupun suami ibu tidak menafkahi, tapi saya yakin rejeki ibu akan datang dari arah yang tidak di sangka- sangka, tetaplah bertawakal bu, bertawakal itu bukan hanya sekedar ikhtiar, tapi kita yakin dari hati kita yang terdalam, Allah akan selalu membantu kita di setiap kesulitan kita" Ucap Reihan.
"Iya Mas saya pasrah saja"
Ketika Siti Hajar dan anaknya yang masih bayi ditinggalkan begitu saja oleh suaminya yaitu Nabi Ibrahim as di sebuah lembah gersang bernama Mekkah, ia sempat bertanya:” Wahai Ibrahim, mengapakah engkau tinggalkan kami dilembah yang sunyi ini?"
Sang suami hanya terdiam dan terus melangkah menjauh.
Siti Hajar kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Nabi Ibrahim tetap membisu. Sampai kemudian Siti Hajar bertanya:” Apakah ini perintah Allah?”
Nabi Ibrahim akhirnya menjawab:” Ya, ini adalah perintah Allah”.
Jawaban Nabi Ibrahim seketika itu juga membuat hati isterinya tenang dan tenteram. Dengan penuh yakin dan mantap ia berkata :
” Wahai Ibrahim, jika ini adalah perintah Allah, maka tiada jalan lain selain mematuhinya. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami. Dia lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”.
Siti Hajar sangat yakin kepada Allah. Apa yang dikehendaki-Nya pastilah kebaikan. Mustahil Allah berbuat zalim terhadap makhluk-Nya. Sehingga ia berpasrah diri kepada-Nya. Menerima perintah-Nya. Namun, apakah kepasrahannya membuat ia berdiam diri? Tidak.
Untuk mempertahankan diri dan melindungi bayinya, Siti Hajar mengerahkan segenap tenaga mencari air. Ia berlari-lari, berpeluh-peluh mencarinya. Dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa. Kemudian kembali lagi, kemudian berangkat lagi. Begitu seterusnya hingga tujuh kali. Hingga tenaganya benar-benar terkuras. Dan, pencariannya membuahkan hasil. Sebuah mata air jernih dan segar memancar tidak jauh dari kaki mungil Ismail.
Kita bisa bertanya, jika Siti Hajar yakin Allah akan menolongnya, mengapa ia harus bersusah payah? Lalu, apakah ketika berlari-lari Siti Hajar tahu dimana sumber air itu?
Sungguh Siti Hajar tidak pernah tahu dimanakah sumber air itu sebelum kemudian sumber air itu muncul. Keyakinannya akan pertolongan Allah tidak lantas membuatnya berpangku tangan, melainkan ia lakukan ikhtiar semaksimal mungkin karena itulah yang bisa dilakukan manusia.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman :
” Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al Insyirah 94: 5-6)
Tidak semata-mata Allah berikan kesulitan kepada Siti Hajar, melainkan Dia lengkapi kesulitan itu dengan banyak kemudahan. Kemudahan yang diperoleh dengan ikhtiar maksimal. Perhatikanlah, kemudahan dan kebaikan yang diperoleh pengalaman Siti Hajar dari peristiwa itu. Sumber air Zam-Zam yang terus mengalir hingga saat ini, syari’at Sya’i dalam ibadah haji yang terus dilakukan hingga saat ini, dan banyak kebaikan-kebaikan lainnya.
Kesulitan luar biasa yang dihadapi Siti Hajar telah mengantarkannya kepada ridha Allah SWT. Allah membalasnya dengan berbagai macam kemudahan dan kebaikan yang dirasakan hingga saat ini dan insyaallah hingga akhir zaman.
Siti Hajar telah mengajarkan sikap tawakal kepada kita. Ditunjukkan dengan pernyataan keyakinannya kepada Allah SWT bahwa Dia pasti menolong dirinya dan anaknya. Keyakinan itu disusul dengan ikhtiarnya yang semaksimal mungkin.
Dalam haditsnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Sekiranya kalian benar- benar bertawakal kepada Allah SWT, dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah), sebagaimana seekor burung diberi rezeki; ia pergi dipagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang”. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibn Majah)
Secara bahasa, tawakal berasal dari kata “tawakala” yang berarti menyerahkan atau mewakilkan. Seseorang yang bertawakal adalah dia yang sejak awal, sebelum memulai aktivitas, telah menyerahkan dan mempercayakan urusannya kepada Allah SWT yang disusul kemudian dengan ikhtiar semaksimal dan sebaik mungkin.
Jika kita menghayati hadits diatas dan menghubungkannya dengan kisah Siti Hajar, maka tawakal adalah berpasrah diri kepada Allah tentang segala urusan kita dengan cara mengusahakannya sebaik mungkin sesuai dengan petunjuk yang Allah berikan melalui Al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Jika sudah demikian, maka sesuai janjinya, Allah akan mempertemukan kita dengan takdir terbaik menurut-Nya. Dan Allah mustahil mengingkari janji-Nya.
__ADS_1
Allah SWT berfirman:” Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan) nya”. (QS. Ath Thalaq 65: 3)
Ibu itu meneteskan air matanya, Almira apalagi sudah sesenggukan di lengan Reihan sedari tadi.
"Terimakasih Mas, sudah menguatkan saya"
"Hiks...hiks" Almira menangis sesenggukan.
"Eh sudah sayang, kamu kenapa mudah sekali terharu, Ayo katanya mau makan cenil, sudah nangisnya, nanti matanya sembab di kira Mas nakal ke kamu"
Almira mengusap air matanya.
"Mana dompet Mas"
Reihan mengambil dompet yang ada di saku celananya lalu menyerahkan nya pada Almira, Almira langsung menerimanya lalu membuka dompetnya. Ia mengambil semua uang chas yang ada di dalam dompet Reihan, ada 9 lembar uang seratus ribuan.
"Mas kasih semua ya"
Reihan mengangguk.
"Bu ini untuk dede ibu" Mira memberikan semua uangnya itu.
"Jangan mba, ini terlalu banyak"
"Eh sudah ini rejeki dede, Mana cenilnya mba"
Ibu ibu itu menerima uang Almira dan memberikan jajanan yang sudah di bungkus pada Almira.
"Terimakasih banyak ya mba, semoga rumah tangga kalian di berkahi Allah"
"Aamiin" Ucap Almira dan Reihan serempak.
"Kami permisi ya mbak"
Ibu-ibu itu mengangguk.
"Mas nanti uang nya Mira ganti, Mira punya banyak uang di celengan ayam jago"
Reihan tertawa, "Tidak usah, Mas yang harusnya memberikan mu uang nafkah, nanti di rumah Mas kasih kartu ATM saja yah, setiap bulan akan Mas transfer untuk biaya kebutuhan kamu"
"Kita belum punya anak Mas, jadi belum banyak kebutuhan" Ucap Almira dengan polosnya.
"Ya di tabung buat nanti kalau sudah punya anak" Ucap Reihan sambil tersenyum.
"Ya sudah ayo kita pulang Mas, sudah semakin siang, katanya mau ke mall"
"Iya Ayo"
Mereka bergegas kembali ke rumah, Almira begitu bahagia karena pagi ini banyak mendapat pelajaran hidup yang berharga, Almira juga sangat bahagia melihat ibu-ibu tadi mendoakan nya dan tersenyum padanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Apapun ujian hidupnya, masalahnya, musibah nya, tetaplah bertawakal pada Allah, okeh pembaca setia AJTP]
[ Jangan lupa like komen dan Vote]
__ADS_1
Salam sayang,
@Santypuji