
"Mas Hafidz,Bangun Mas" Ucap Alisha sambil mengoleskan minyak kayu putih pada tangan nya lalu mendekatkan pada hidung Mas Hafidz.
Perlahan-lahan Mas Hafidz mulai membuka matanya.
Alisha memberikan teh manis hangat pada Hafidz.
"Mas...Apa yang di rasa Mas?"
Mas Hafidz menunjukan kepala nya,wajahnya terlihat pucat.
"Mas Alisha antar pulang yah,nanti Alisha izin dulu yah"
Hafidz mengangguk,Alisha menelfon sahabatnya meminta tolong untuk izin dulu karena ada keperluan mendadak.
Setelah itu Alisha memapah Hafidz untuk menaiki mobilnya.
"Kamu bisa menyetir Sha" Tanya Hafidz.
"Bisa Mas"
"Kenapa tidak pakai Mobil ke kampus?"
"Tabungan nya belum cukup untuk membeli mobil Mas" Jawab Alisha.
"Tidak salah aku mencintaimu Sha,sepertinya kamu bisa di ajak hidup susah juga" Ucap Hafidz sambil tersenyum.
"Alisha tidak sekaya kak Al,yang bisa membeli mobil mewah,Alisha ingin membelinya dengan hasil kerja Alisha,walaupun kak Al sudah menawarkan mobil,tapi Alisha tolak,kalau papah memang tidak memanjakan kita anak-anak nya"
Hafidz mengangguk, "Mau Mas belikan?"
"Tidak perlu Mas,cukup Mas berikan hati Mas untuk Alisha saja" Ucap Alisha sambil tertawa.
Hafidz ikut tertawa pelan,"Sejak kapan bisa menggombal"
"Sejak Mas Hafidz sakit,makanya cepat sembuh,kan nanti bisa gombalin Alisha lagi"
Alisha mengemudikan mobil Hafidz dengan pelan,Hafidz memberikan petunjuk arah menuju rumahnya.
Sampai juga akhirnya di rumah Hafidz.
__ADS_1
Pak satpam membuka gerbangnya,Alisha segera memarkirkan mobil Hafidz di garasinya.
Setelah itu Alisha meminta bantuan pak satpam untuk memapah Mas Hafidz menuju kamarnya.
Rumah Mas Hafidz begitu sepi,hanya ada simbok dan Pak satpam jika siang seperti ini.
"Ya Allah,Hafidz kenapa mbak" Tanya simbok.
"Tadi pingsan Mbok"
"Ya Allah,asam lambung nya naik sepertinya"
"Hah,Mas Hafidz punya asam lambung mbok,?"
"Iya Mbak"
Setelah Mas Hafidz di rebahkan di kasurnya Alisha segera keluar kamar membantu simbok membuatkan bubur dan teh manis hangat untuk Mas Hafidz.
"Mbok,sepi sekali rumah ini" Ucap Alisha.
"Iya Mbak,hanya ada Hafidz dan Papahnya saja,sejak Ibuk meninggal,Bapak tidak menikah lagi sampai sekarang,hanya membesarkan Hafidz seorang diri."
"Kalau sakit ya Nak Hafidz hanya berdiam diri di kamar,menatap foto ibu nya sambil menangis,Nak Hafidz juga jarang mengeluh,karena tahu Papahnya sangat sibuk,"
Mendengar penuturan simbok panjang lebar Alisha menjadi ikut sedih.
Setelah selesai membuat bubur dan teh manis,Alisha membawa nya dengan nampan ke kamar Hafidz.
Alisha membuka kamar Hafidz, disana sayup-sayup terdengar suara mas Hafidz menangis.
"Mama,perut Hafidz sakit,kepala Hafidz pusing Mah"
Alisha langsung masuk saja.
"Mas...."
Hafidz langsung menyeka air matanya,dan meletakan foto ibu nya.
"Maaf ya Sha,Mas cengeng"
__ADS_1
"Tidak,keluarkan lah mas air matamu jika itu membuat Mas lega"
Alisha duduk di sebelah Hafidz hendak menyuapi bubur,tapi Hafidz langsung menutup muka nya dengan bantal,Hafidz menangis sepuasnya tertutupi oleh bantal.
Alisha bingung harus berbuat apa.Alisha ikut merasa sedih ikut meneteskan air matanya juga.
Setelah puas menangis Hafidz menyeka air matanya,"Maaf ya Sha,Mas kalau sudah kangen ibu hanya bisa menangis"
"Sudah ya Mas,jangan berlarut-larut"
Alisha lalu menguapi Hafidz,dan memberikan Hafidz obat asam lambung yang Hafidz simpan.
"Terimakasih ya Sha"
Alisha hanya mengangguk.
"Mas istirahat yah,Alisha pulang dulu"
Hafidz mengangguk, "Terimakasih sekali lagi"
"Iya"
Alisha langsung pulang ke rjmah menggunakan taxi online.
Ponsel Alisha berdering,ada nomor baru memanggil, Alisha mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Sha,kenapa kamu izin,kamu kenapa?"
"Waalaikumsalam,maaf ini siapa?"
"Ini Reihan"
"Oh ya tadi Aku ada keperluan mendadak,jadi harus izin"
"Oh,oke,Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Ih aneh banget ini manusia batu satu ini,Batin Alisha.
__ADS_1