
Hafidz merasa geram dengan kenyataan yang menimpanya,ia ingin sekali memaki memarahi Nadia sedemikian rupa,tapi Hafidz rasanya tidak mampu untuk kasar terhadap wanita,namun perbuatan Nadia ini sungguh di luar batas.
Hafidz meminta rekam medis sepupu Nadia,walaupun sebelumnya Dokter Ramli tidak memberikan,tapi Hafidz sangat memohon pada Dokter Ramli karena ini demi masa depan nya,bukan demi hal lain.
Hafidz menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi,ia ingin sekali cepat sampai rumah dan memberi tahu soal ini kepada Papah nya yang kadang keras kepala itu.
Hafidz jadi berfikir andaikan ibunya masih ada,pasti seorang ibu lebih mengerti perasaan anak nya,dan lebih mengutamakan kebahagiaan anaknya,tapi Hafidz juga bukan anak pembangkang pada Papahnya,Papahnya yang telah merawat nya,Hafidz merasa harus menuruti perkataan Papahnya demi balas Budi.
Tapi kali ini kasusnya lain,ini namanya penipuan,Nadia tidak hanya menipu dirinya tapi juga Papahnya,mungkin juga keluarga nya sudah tahu,hanya mereka juga sama-sama menipu keluarga Hafidz.
Adzan Magrib berkumandang,Hafidz baru sampai rumahnya,ia langsung masuk ke dalam kamarnya lalu melaksanakan sholat magrib,setelah itu Hafidz langsung menemui papahnya di ruang makan.
"Fidz,sudah pulang"
"Hemm"
Hafidz langsung memberikan map coklat pada papahnya.
"Apa ini?"
"Buka saja Pah"
Papah Hafidz membuka map itu tertera nama Khairunnisa,dengan diagnosa sakit leukimia.
"Siapa Khairunisa?"
"Sepupu Nadia?"
"Maksudnya?papah tidak mengerti"
"Pah yang sakit bukan Nadia,tapi sepupunya itu,Nadia sudah membohongiku,aku tidak mau melanjutkan pertunangan ini" Ucap Hafidz tegas.
"Kamu dapat ini dari mana?jangan gegabah"
"Dari rumah sakit,dan dokternya sendiri yang mengatakan dan memberikan ini,Hafidz juga curiga,penyakit ini berbahaya,tapi Nadia masih saja keluyuran kesana kemari,bisa bekerja juga"
Papah menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Apa kamu tidak bisa mencoba mencintainya,bukankah bagus jika ternyata dia tidak sakit,berarti jalan kalian akan semakin mulus"
"Pah,Kan Hafidz sudah bilang,Hafidz mencintai wanita lain,kenapa papah ini tidak mengerti Hafidz,ini masalah rumah tangga Hafidz ke depan,biarlah Hafidz yang memilih"
"Memang nya siapa gadis itu"
"Papah juga mengenalnya?"
"Siapa Hafidz"
"Ah nanti papah juga pasti tahu,yang jelas gara-gara pertunangan itu,aku jadi semakin jauh dengan gadis yang aku cintai,pokoknya secepatnya akan Hafidz batalkan pertunangan ini,dengan persetujuan papa ataupun tidak"
Hafidz langsung kembali ke kamarnya lagi,ia mengambil ponselnya,lalu mengetik sesuatu dan mengirimnya pada Alisha.
Alisha,Apa kabar?
__ADS_1
ββββ
Alisha duduk di taman sendiri,ia sedang mengoreksi tugas-tugas dari mahasiswa nya,saat sedang asyik mengoreksi tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada tanda pesan masuk.
Alisha melihat ponselnya,Alisha menyunggingkan senyum,Namum senyum kecewa.Ia menghembuskan nafas nya dengan kasar,lalu kembali mengoreksi,tapi pesan dari Mas Hafidz membuat konsentrasi nya buyar.
Alisha terdiam,ia memakai headset lalu mendengarkan lagu sambil bernyanyi.
πΌπΌπΌ (Ninggal tatu~Didi kempot)
Ning ngopo ra cerito
Yen kowe wes ra tresno
Yen kowe malah lungo
Ninggal tatu ning dodo
Rasane ati iki koyo keno mowo
Barang wes ngerti ning mburiku kowe ngeliyo
Janjine ngancani
Nganti tekane mati
Ning nyatane janjimu
Panase geni ra koyo panase ati
Sak uwise ngerti kowe ning aku ngapusi
Kowe tak sayang-sayang saiki malah ngilang
Tresna mu karo aku kuwi mung kiasan
Kowe tak gadang-gadang tegane gawe lirang
Anggonku labuh kowe opo seh kurang
Ning ngopo ra cerito yen kowe wes ra tresno
Yen kowe malah lungo ninggal tatu ning dodo
Rasane ati iki koyo keno mowo
Barang wes ngerti ning mburiku kowe ngeliyo
Janjine ngancani nganti tekane mati
Ning nyatane janjimu kuwi mung kari janji
Panase geni ra koyo panase ati
__ADS_1
Sak uwise ngerti kowe ning aku ngapusi
Kowe tak sayang-sayang saiki malah ngilang
Tresna mu karo aku kuwi mung kiasan
Kowe tak gadang-gadang tegane gawe lirang
Anggonku labuh kowe opo seh kurang
"Ehmmm"
Rengganis mendekati Alisha,membawakan nya jus jeruk.
Alisha langsung melepas headsetnya.
"Sha suaramu keras sekali seperti sedang karokean saja"
"Hah,masa mbak"
"Kenapa?lagu itu sepertinya begitu menyentuh"
"Ah mbak ini jangan meledek"
Rengganis langsung memeluk Alisha,ia tahu sekali adik ipar nya itu sejak pulang ke Indonesia hati nya tidak baik-baik saja.
Mungkin karena alisha sudah banyak berharap,namun semuanya terasa semu,jadi ia begitu sedih.
"Mbak,apa Alisha harus meluapakan Mas Hafidz,Mas Hafidz selalu ingin menjelaskan sesuatu pada Alisha,tapi Alisha sudah terlanjur sakit hati Mbak"
"Sha,kadang seseorang yang kita cintai memang yang paling banyak membuat kita mengeluarkan air mata,kadang air mata kesedihan,kadang air mata bahagia" Ucap Rengganis.
"Mbak,apa Alisha harus menyerah?"
"Jalani hidup meski kadang ada bagian yang tidak disukai. Terimalah kenyataan yang ada, bersyukur, ikhlas dan sabar.
Kejujuran lahir dari sebuah hati karena ikhlas dengan kenyataan yang nanti akan terjadi pada kita.
Tak akan ada keterlambatan untuk saling memaafkan dan ikhlas menerima kenyataan, meski tak sebaik yang diharapkan.
Terkadang kenyataan tak seindah mimpi, tapi teruslah bermimpi karna mimpi yang membuat hidup kita lebih berarti.
Ketika kenyataan tak sesuai harapan, bukan berarti tak bisa mencapai kesempurnaan.
Meski kenyataan tak sesuai dengan harapan, tetaplah bersemangat. Jangan menyerah, jangan pernah buang semua impian dan harapan.
Ketika kenyataan tak sesuai impian, itu bukanlah akhir. Akan selalu ada kesempatan tuk mewujudkan impian selama kamu mau berusaha." Ucap Rengganis.
"Jika hatimu sudah reda dari kemarahan lebih baik kalian saling bicara,komunikasi itu penting sha,jangan terus menghindar,masalah tidak akan pernah selesai,saat kalian berbicara walaupun nanti akhirnya pahit,tapi setidaknya ada kejelasan" Ucap Rengganis kembali.
"Makasih ya Mbak,insyaallah nanti Alisha akan membicarakan nya dengan Mas Hafidz" Ucap Alisha.
Rengganis lalu tersenyum,ia merasa senang karena Alisha sudah mau tersenyum dan Rengganis juga mendoakan untuk adik iparnya itu agar segera menemukan kebahagiaan nya.
__ADS_1