
1 bulan kemudian....
Lusa Alisha dan Hafiz akan melangsungkan akad nikah, hari ini sesuai adat Jawa yang akan mereka gunakan untuk prosesi pernikahan mereka akan melangsungkan siraman di kediaman masing-masing.
Siraman adalah upacara adat ritual warisan nenek moyang kita yang mengandung banyak falsafah di dalamnya. Dalam tiap langkah pada prosesi siraman dimaknakan agar para calon pengantin membersihkan diri dan hati sehingga semakin mantap untuk melangsung pernikahan esok harinya.
Pada upacara yang lebih bersifat intern ini seluruh keluarga besar berkumpul, berbagi suka, memberikan doa restu dan dukungan moral pada sang calon pengantin untuk memasuki fase baru dalam kehidupannya.
Perlengkapan acara Siraman terdiri dari:
Gayung Siraman, untaian padi kuning keemasan yang menyertai gayung tersebut melambangkan merunduk dan mengayomi keluarga.
Bubur Sengkolo memiliki arti sebagai penolak bencana sehingga semua dapat berjalan lancar.
Selain itu terdapat rebusan umbi umbian yang tumbuh dalam tanah (lebih dikenal dengan namapolo pendem) dimaknakan agar rumah tangga yang nanti akan dibina oleh sang pengantin akan mempunyai pondasi yang kuat.
Terdapat pula rangkaian buah kulit, Kendi air siraman tempat air kucuran wudhu, Tumpeng Robyong yang bermakna harapan akan keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan.
Tumpeng untuk acara suapan terakhir, serta tidak ketinggalan Kreweng, yaitu uang dari tanah liat yang akan digunakan untuk membeli cendol dalam acara “dodol dawet“.
Yang perlu dipersiapkan juga yaitu mangkuk air bunga dan gunting untuk upacara potong rambut setelah siraman, serta sekop mini penggali lubang untuk upacara tanam rikmo (tanam rambut).
Apabila si empunya hajat menyediakan tanda mata (souveneer) bagi para sesepuh yang nanti akan menyirami atau untuk para undangan acara siraman, sebaiknya juga telah dipersiapkan.
Air Siraman dan Pemasangan Bleketepe.
Kegiatan diawali dengan menyiapkan air siraman yang berasal dari 7 sumber ke dalam gentong. Sumber air siraman biasanya diambil dari rumah besan, rumah pini sepuh, dan rumah adat yang kemudian diaduk dengan campuran bunga.
Sambil menunggu calon mempelai puteri bersiap-siap untuk siraman, sang Ayah melakukan pemasangan bleketepe (anyaman daun kelapa) sebagai tarub pada gerbang rumah. Pemasangan tarub dimaknakan sebagai tanda resmi bahwa akan ada hajat mantu di rumah yang bersangkutan.
Tata cara memasang tarub adalah sang Ayah menaiki tangga, sementara Ibu memegangi tangga sambil membantu memberikan bleketepe. Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluarga.
Sejarah mengenai kegiatan pemasangan tarub ini dimulai pada saat Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram mempunyai hajat menikahkan anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Hal itu dilakukan karena rumah Ki Ageng yang kecil tidak dapat memuat semua tamu, sehingga tamu yang diluar rumah diteduhi dengan payon daun kelapa itu. Dengan diberi ’payon’ itu ruang yang dipergunakan untuk para tamu Agung menjadi luas dan menampung seluruh tamu. Kemudian payon dari daun kelapa itu disebut ’tarub’, berasal dari nama orang yang pertama membuatnya.
Setelah selesai memasang tarub, kain penutup tuwuhandi kedua sisi gerbang masuk di buka. Tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak yang dijodohkan agar dapat memperoleh keturunan, untuk melangsungkan sejarah keluarga.
Tuwuhan terdiri dari :
Pohon pisang raja yang buahnya sudah masak. Maksud dipilih pisang yang sudah masak adalah, diharapkan pasangan yang akan menikah telah memiliki pemikiran dewasa atau telah masak. Sedangkan pisang raja mempunyai makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.
Tebu wulung berwarna merah. Dimaknakan sebagai sumber rasa manis. Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua. Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu bertindak dengan ’kewicaksanaan’ atau kebijakan.
Cengkir Gadhing merupakan simbol dari kandungan tempat jabang bayi atau lambang keturunan.Daun randu dan Pari Sewuli Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan. Sehingga hal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.
Godhong apa-apa (bermacam-macam dedaunan) Seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan terbebas dari segala halangan
Acara siraman diawali dengan sungkem calon pengantin kepada orang tua untuk mohon doa restu.
Alisha yang sudah memakai baju khusus siraman langsung sungkem kepada papah dan mama nya.
"Mah, Pah Alisha mohon doa restu, doakan Aisha yah Pah semoga rumah tangga Alisha bisa bahagia seperti mama Papa" Ucap Alisha sambil menitikan air mata.
Papa mengelus kepala Alisha " Iya papah selalu mendoakanmu, mendoakan anak-anak papah agar semuanya bahagia, jadilah istri yang baik Sha, carilah selalu ridho suami"
__ADS_1
Alisha mengangguk,
Alisha lalu berpindah ke Mama nya, Alisha langsung memeluk mama nya dengan penuh haru.
"Doakan Alisha yah Mah, agar kelak Alisha bisa menjadi istri yang baik seperti Mama, maafkan Alisha jika selama ini belum bisa menjadi anak yang berbakti"
Mama menangis, melepas anak perempuan rasanya begitu berat, tapi kehidupan ini akan terus berjalan, dan anak-anaknya berhak mendapat kebahagian dengan pasangan nya.
"Iya sayang mama restui, belajarlah jadi istri yang baik, penyejuk untuk suamimu"
Alsiha mengangguk.
Setelah itu Alisha dibimbing ke tempat siraman yang sudah disiapkan.
Siraman dimulai dari kedua orang tua Alisha diikuti oleh pini sepuh yang telah dipilih yaitu budhe dan pakde nya. Air wudhu lalu dikucurkan oleh Papa wijaya dari kendi siraman. Kemudian kendi dipecahkan oleh kedua orang tua Alisha sebagai tanda pecahlah pamor Alisha sebagai wanita dewasa dan memancarlah sinar pesonanya.
Acara potong rambut, diikuti dengan Papa Alisha yang menggendong Alisha ke dalam rumah melambangkan kasih sayang orang tua yang senantiasa mengiringi anaknya sampai detik terakhir menjelang tahap baru kehidupan sang anak.
Sementara menunggu calon pengantin wanita berganti busana, seluruh keluarga berkumpul menyiapkan tumpeng untuk acara suap-suapan di akhir acara. Almira, Rengganis dan Mas Birru lalu membagikan uang kreweng untuk digunakan pada acara jual cendol (dodol dawet).
Makna dodol dawet diambil dari cendol yang berbentuk bundar, diartikan sebagai lambang kebulatan kehendak orang tua untuk menjodohkan anaknya. Bagi orang yang akan membeli dawet tersebut harus membayar dengankreweng (pecahan genting) bukan dengan uang. Hal itu menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi.
Yang melayani pembeli adalah Mama Alisha sedangkan yang menerima pembayaran adalah Papah wijaya. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah, bahwa sebagai suami istri harus saling membantu. Dibalik itu ada juga makna jenaka dari acara ini, yaitu simbolisasi kalau esok hari pada saat akad nikah dan resepsi, tamu-tamu yang datang akan sebanyak dan seramai jualan cendol/dawet tersebut!
Selanjutnya upacara dilanjutkan dengan tanam rikmo/rambut oleh orang tua. Yang ditanam adalah potongan rambut kedua calon mempelai, dilakukan setelah wakil keluarga calon pengantin wanita kembali dari kediaman calon pengantin pria dengan membawa potongan rambut.
Pelepasan Ayam Jantan hitam merupakan prosesi selanjutnya yang berarti bahwa orang tua sudah dengan sepenuh hati ikhlas melepas putrinya untuk hidup mandiri. Bagaikan Ayam yang begitu dilepas sudah dapat mencari/mengais makanan sendiri, diharapkan untuk ke depannya sang anak dapat hidup mandiri, memperoleh rejeki yang luas dan barokah.
"Sedih ya Mbak" Ucap Almira pada Rengganis.
"Iya, Mbak jadi teringat Ibuk "
Mata Rengganis sudah berkaca-kaca.
Mas birru mengelus Bahu Rengganis, " Sudah sayang"
"Kaka dulu dengan Mbak Ganis tidak ada siram-siraman yah?" Tanya Almira.
"Tidak, kan Mira tahu sendiri, dulu kakak langsung di nikahkan"
"Mama dan Papah tahu kakak nakal kali"
"Enak saja, kakak sangat mencintai Mbak Ganis jadi tidak akan nakal padanya"
"Seru lhoo kak acara siraman seperti ini"
"Lebih seru kakak lah, langsung mandiin mbak Ganis, ya kan sayang" Ucap Mas Birru dengan tawa nya.
"Ih Mas, Almira masih sangat muda, tidak boleh bicara sembarangan" Jawab Rengganis.
"Masih muda bagaimana, nanti sebentar lagi juga Mira akan merasakannya"
"Ih kakak ini,"
__ADS_1
"Kamu mau tidak langsung di nikahkan dengan Reihan seperti Kakak" Ledek Mas Birru.
Almira terdiam.
"Kenapa terdiam, nanti Reihan di ambil orang lhoo"
"Ih jangan" Ceplos Almira.
Mas Birru tertawa melihat ekspresi Almira.
"Mau tidak hayo"
"Iya iya kalau jodoh ya mau mau aja" Ucap Almira.
"Nah gitu dong nanti kakak jodohkan,hahaha"
"Sudah Mas jangan menggoda Almira terus,"
Baby Ayyubi terbangun dari kereta bayinya, Albirruni langsung menggendong nya.
Mereka lalu menyantap makan bersama-sama. Rengganis menyuapi Mas Birru yang sedang menggendong Ayyubi.
Almira memperhatikan kedua kakaknya itu,
Aku juga ingin seperti Kakak, romantis dan penuh kasih sayang dengan Mbak Ganis, Batin Alisha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Aku tuh kesengsem sama ritual-ritual di adat Jawa, karena banyak sekali filosofi yang terkandung di dalamnya, dan itu juga merupakan sebuah doa]
[Jangan lupa like komen dan Vote yah, Author itu sedang ikut lomba write season 3 Yang di adakan noveltoon, dan sekarang masih di peringkat 24, agar lebih bisa menduduki peringkat atas mohon dukungan nya dengan memberikan Vote yah, karena kalau menang, bisa berkesempatan novel ini di cetak menjadi buku]
[ Mohon dukungan nya,Author juga sedang menulis karya terbaru berjudul "Surat Cinta 2000, jangan lupa mampir yah, mengisahkan tentang percintaan pada tahun 2000 an Tempo dulu]
Salam sayang,
@SantyPuji
__ADS_1