
Esok paginya Almira sudah bangun, Reihan juga sudah bangun, begitu juga dengan Mas Birru. Malam tadi yang menjaga Almira bergantian Reihan dan Mas Birru, sementara Ummi dan Mama selepas isya sudah pulang.
Papah dan Aby juga ikut pulang, Kasihan mereka sudah tua jadi tidak baik jika harus berlama-lama di rumah sakit.
Mas Birru mengimami sholat subuh pagi ini di dalam kamar rawat inap.
Selesai sholat seperti biasa Mas Birru membaca Alquran sedangkan Reihan sedang mengelap tubuh Almira.
Almira tidak betah jika badan nya terasa lengket. Reihan dengan telaten nya mengelap tubuh Almira.
"Mas"
"Hemm"
"Aku jadi seperti bayimu yah, di suapi, di lap, di gantikan bajunya" Almira tersenyum melihat suami nya yang terus membersihkan tubuhnya.
Reihan masih tetap diam, entah lah,menyebut tentang bayi, Reihan menjadi sangat sensitif hatinya.
"Mas..."
"Ya... Humaira ada apa?" Reihan sedang mengelap leher Almira.
"Nanti kalau kita punya bayi, Mas saja yang memandikan yah"
Tangan Reihan berhenti mengelap, Reihan menghirup nafas dalam-dalam.
"Huftt... Iya sayang"
Setelah selesai membersihkan tubuh Almira, Giliran Reihan kini yang mandi.
"Sodaqollahuladzim"
Mas Birru lalu mendekat ke Almira, Ia meniup ubun-ubun Almira.
"Cepat sembuh Dek, Ayyubi kangen" Mas Birru mengelus kepala Almira.
"Iya Kak" Almira tersenyum.
Reihan keluar dari kamar mandi, Mas Birru berniat akan membeli sarapan di luar.
"Dek kamu mau di belikan apa?"
"Tidak Mas, Almira harus diet gula dan lemak, tidak boleh makan sembarangan"
Malah Reihan yang menjawab pertanyaan Mas Birru.
Mas birru mengernyitkan keningnya.
"Kalau aku makan apa saja Mas terserah Mas saja, Samakan juga tidak apa-apa"
"Mas kok Mira tidak boleh makan sih" Mira mengerucutkan bibirnya.
"Nanti ada petugas rumah sakit yang akan membawakan sarapan untukmu Humaira"
"Tapi aku bosan"
"Tapi mau cepat sembuh tidak, Kalau cepat sembuh nanti kita bisa jalan-jalan, bulan madu dan makan sepuasnya"
"Benarkah?" Ekspresi Mira begitu senang.
Mas Birru akhirnya keluar dan membeli beberapa sarapan untuk dirinya juga Reihan.
Mas Birru bertanya-tanya dalam hatinya sebenarnya Almira itu sakit apa, Almira tampak sehat dan Almira tidak gemuk, kenapa harus diet.
Almira sedang mengobrol dengan Reihan tiba-tiba pintu di dorong dengan kencang.Reihan dan Almira menatap ke arah pintu. Ternyata Alisha.
__ADS_1
Alisha langsung berlari memeluk adiknya.
"Mira...."
"Kakak, kapan pulang?"
"Baru saja"
"Dari bandara?"
"Iya, kakak menghawatirkanmu, jadi dari bandara langsung kesini"
"Ih belum mandi" Ledek Reihan.
"Aku belum mandi juga wangi"
"Wangi ketek maksudmu"
"Enak saja"
"Mana Hafiz" Tanya Reihan, karena yang Dia lihat hanya si cerewet Alisha, sementara Hafiz belum terlihat sama sekali.
"Tertinggal di pesawat" Ucap Alisha meledek Reihan.
"Huh...senang sekali Hafiz bisa bertemu dengan pramugari cantik di pesawat" Reihan tak kalah meledek Alisha.
"Reihan kau ini"
"Mana Hafiz?"
"Kenapa sih, kau terus mencari Hafiz,"
"Memang ada apa Mas?" Tanya Almira.
"Tidak, ini urusan laki-laki"
"Ya Ampun kalian ini, kenapa tidak pulang dulu saja baru kesini" Ucap Reihan melihat Hafiz yang kerepotan membawa koper.
"Nih Alisha mau cepat-cepat bertemu dengan Almira"
Alisha mengambil kopernya hendak membukanya.
"Besok lagi Sha, kalau sudah di rumah" Mas Birru yang langsung masuk ke ruangan dan meletakan beberapa bungkus Makanan.
"Kakak"
Alisha langsung memeluk Mas Birru.
"Kau ini, lihat itu suamimu, kau sudah menikah, masih saja peluk-peluk kakak" Mas Birru mencoba melepaskan pelukan Alisha.
"Kakak, kenapa aku tidak di peluk" Ucap Almira.
Mas Birru dan Alisha mendekati Almira, mereka saling berpelukan.
"Mas Birru memang jadi juara di hati istri kita Rei" Celetuk Hafiz.
Mas Birru tersenyum, "Aku memang yang paling tampan"
Hafiz tertawa, "Percaya diri sekali, yang benar itu kamu yang paling tua"
Reihan seketika langsung tertawa, begitu juga dengan Almira dan Alisha.
"Umur boleh tua Fiz, tapi Muka kan tetap masih muda seperti Reihan" Mas Birru memberi pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Itu karena Mbak Ganis muda, jadi terbawa hoki nya mbak Rengganis, Mas Birru jadi terus terlihat muda" Balas Hafiz.
__ADS_1
"Sudah, cepat makan aku juga lapar" Alisha langsung mengambil makanan yang ada di meja.
Petugas rumah sakit datang membawa sarapan untuk Almira. Reihan segera menatanya lalu menyuapi Almira terlebih dahulu.
"Mira, lihat, kau begitu beruntung mendapatkan suami seperti gunung es itu, dengan mu dia begitu baik dan perhatian, berbeda sekali jika di kampus" Alisha terkekeh.
"Terus saja meledek"
"Tapi suami istri memang harus seperti itu, Harus ada di saat suka dan duka" Ucap Mas Birru.
Selesai sarapan Alisha dan Hafiz pulang ke rumah, begitu juga Mas Birru, karena Mas Birru tidak membawa baju ganti.
Almira meminta Reihan untuk membawanya keliling rumah sakit melihat pemandangan di rumah sakit karena di dalam kamar saja rasanya suntuk dan bosan sekali.
Reihan membawa Almira berkeliling rumah sakit menggunakan kursi roda. Mereka berdua berhenti di taman, disana banyak juga yang sedang berjemur dan menikmati udara segar pagi hari.
Reihan berlutut di depan Almira, lalu menggenggam kedua tangan Almira.
"Humaira, apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita, kita harus kuat menjalani bersama yah, saat kamu siap untuk menerima Mas, saat itu pula berarti kamu percaya kita akan melewati semuanya bersama"
Almira mengangguk, "Almira percaya Mas bisa menggandeng Almira dalam suka maupun duka"
Reihan tersenyum, "Dalam berumah tangga, kita akan melalui perjalanan panjang dan sangat melelahkan dengan tujuan untuk mecapai “pantai kebahagiaan” yang sakinah dan diridhoi Allah.
Untuk mencapai “pantai kebahagian” tersebut, tentu saja kita harus mempersiapkan diri dan mental, baik suami maupun istri, mempersiapkan berbagai keperluan dan bekal agar perjalanan kita terasa aman, nyaman, dan lancar, sebab apabila datang badai dan gelombang, kita akan siap menghadapinya dengan sikap tenang, tidak grogi, tidak takut dan tidak gentar sekalipun dahsatnya badai dan gelombang tersebut, sebab kita memiliki dasar [agama] dan pedoman [al-Qur’an dan Hadis].
Untuk mengarungi perjalanan [rumah tangga] itu dengan baik dan lancar, kita perlu mempersiapkan Pertama, kapal [rumah tangga] yang kokoh agar tidak macet dalam perjalanan. Kedua, mesin yang betul-betul baik. Ketiga, bahan bakar yang cukup dan memadai. Keempat, membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak sesat dalam perjalanan. Kelima, membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet. Keenam, nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal. Ketujuh, membawa bekal yang cukup dalam perjalanan."
"Kamu tahu itu kan sayang"
Almira kembali mengangguk "Mira siap berlayar kemanapun Nahkoda membawa pergi, tapi bekal Apa yang harus kita bawa Mas Nahkoda" Almira tersenyum.
Reihan menatap Almira, "Kepasrahan, sebagai bekal yang cukup. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita harus banyak berusaha bekerja dan berdo’a.
Mata Reihan sudah berkaca-kaca, " Sayang ayo kembali ke kamar, Angin nya besar, mata Mas jadi kelilipan"
Almira hanya menuruti apa kata Reihan untuk kembali ke kamarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ 3 episodenya di cicil ya, aku tadi habis dari sekolahan rapat, Alhamdulillah sekolah ku masuk dan menerapkan sistem ganjil genap, semoga sekolah lain juga begitu, kasihan anak-anak, bu guru juga bete,heheh]
[Makasih ya buat pembaca setia, masih setia baca walaupun sudah 248 episode, jangan lupa mampir di Surat Cinta 2000 ya, dukung juga]
Salam sayang,
__ADS_1
@Santypuji