
Sampai di rumah sakit mereka segera menuju ruang rawat inap,Hafidz mempersilahkan Alisha masuk,namun Alisha kaget melihat seseorang yang terbaring di sana.
"Dia" Gumam Alisha
Alisha lalu melirik Hafidz.
Hafidz mengangguk.
Disana Nadia terbaring lemah dengan wajah yang pucat,Disana juga ada Papa Hafidz dan kedua orang tua Nadia.
Alisha bingung dengan situasi ini,Alisha hendak melangkah keluar tapi Hafidz mencegahnya.
"Ayo kita hadapi bersama"
Hafidz dan Alisha mendekat ke arah Nadia.
Nadia melihat Hafidz dan Alisha,hati nya begitu sakit.
"Maafkan Aku Nadia,Aku hanya mencintai Alisha"
Nadia malah menangis.Alisha bingung harus bagaimana,di satu sisi ia kasihan dengan Nadia,di sisi lain juga ada hati yang akan tersakiti,yaitu Hafidz dan dirinya.
"Nak,apa tidak bisa di pertimbangkan lagi,lihatlah,Nadia tidak mau makan dan minum demi mendapat perhatian mu" Ucap Papa Nadia.
"Cinta tidak bisa di paksakan Om,Hafidz sudah menolak dari awal,tapi kalian terus memaksa,apalagi saat kalian membohongiku,itu semakin membuatku kecewa" Ucap Hafidz.
"Hafidz pandanglah Nadia,kasihan sekali Dia" Ucap Papa Hafidz.
"Pah,apa Hafidz tidak boleh menemukan cinta Hafidz, Hafidz ingin hidup dengan wanita yang Hafidz cintai,selama ini Mama sudah meninggal kan Hafidz, Hafidz sampai tidak tau rasanya berbagi cinta dengan wanita yang Hafidz cintai" Ucap Hafidz dengan mata yang sudah memerah.
__ADS_1
Alisha yang melihat perjuangan Hafidz menjadi ikut sedih,Hafidz rela menentang keluarganya demi Alisha.
"Pah,jika Papa mencoret nama Hafidz dalam keluarga,Hafidz tidak masalah,insyaallah Hafidz masih bisa hidup dengan penghasilan Hafidz sebagai dokter"
Alisha langsung menyenggol lengan Hafidz.
"Mas jangan seperti itu,dalam suatu hubungan juga harus ada ridho orang tua,karena itu penting,"
"Tapi Sha"
Nadia akhirnya ikut bicara.
"Sha,ikhlaskan Hafidz untuk ku Sha,Aku mohon"
"Nadia,mencari jodoh tidak boleh dengan cara mu seperti ini,kamu wanita,kamu boleh mencintai dengan level yang tinggi,tp jgn sampai merendahkan harga diri mu,kamu cantik kamu juga dari keluarga yang baik,jika saat ini Mas Hafidz belum menginginkan mu,cukup di doakan saja" Ucap Alisha.
Alisha tersenyum," Nad,sang pemenang pastinya yang namanya sudah tercantum di Lauh Mahfudz,makanya selama kita belum menikah,usahakan jangan terlalu dalam mencintai seseorang,dan sebuah doa itu tidak akan sia-sia,jika kamu tidak mendapatkan mas Hafidz pasti Allah akan gantikan dengan seseorang yang terbaik untuk mu,yang mencintaimu sepenuhnya,dan menginginkan hidup bersamamu selamanya"Ucap Alisha.
Nadia terdiam,
"Aku tidak akan simpati lagi padamu,jika kamu melakukan hal-hal yang tidak baik,yang membahayakan nyawa mu sendiri" Ucap Hafidz.
"Beri Aku kesempatan Hafidz" Ucap Nadia.
"Tidak Nad,hati ku sudah untuk Alisha"
Nadia kembali terdiam.
Alisha dan Hafidz memutuskan untuk keluar dari ruangan rawat inap Nadia.
__ADS_1
"Hafidz lebih baik aku mati saja" Ucap Nadia sambil berteriak.
"Terserah kamu" Ucap Hafidz dengan berteriak juga.
"Mas,Apa harus serumit ini ya,aku merasa kasihan dengan Nadia" Ucap Alisha.
"Apa kamu tidak kasihan dengan Mas,Apa kamu akan menyerah,Apa semua akan sia-sia," Ucap Hafidz.
"Kenapa semua begitu rumit Mas,Aku bingung" Ucap Alisha.
"Kenapa bingung,apa sudah ada yang lain di hati mu?"
Alisha menatap Hafidz,"Pertanyaanmu tidak lucu Mas" Ucap Alisha sebal.
"Laki-laki itu,yang menemani mu,apa kamu menyukainya?"
"Mas kamu bicara apa,kenapa malah jadi aku yang di salahkan,Dia laki-laki baik,dia hanya teman di kampus,"
"Oh kamu bilang Dia baik,tapi Dia memanfaatkan keadaan kita yang sedang bermasalah"
"Cukup Mas,Dia tidak seperti itu"
"Bahkan kamu membelanya" Ucap Hafidz.
"Terserah,aku kecewa sama kamu Mas,tadinya Aku ingin memberi kesempatan untukmu,tapi fikiran jelekmu itu yang membuat ku kecewa,terserah Mas akan berfikiran seperti apa tentangku,aku tidak ingin berdebat"
Alisha lalu lari meninggalkan rumah sakit,ia segera menyetop taksi yang lewat di depan jalan rumah sakit.
Hafidz masih terpaku di tempat,fikiran nya semakin tidak karuan,Hafidz tersadar kenapa ia melakukan itu pada Alisha,ah rasanya bodoh sekali,Hafidz meremas rambutnya karena merasa kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1