
Pagi ini Reihan dan Almira sudah keluar dari cottage untuk menikmati mentari pagi yang sangat indah.
"Sayang nanti kita sarapan di pinggir pantai sana saja yah" Tanya Reihan.
"Iya Mas, Oh ya hari ini kita akan kemana Mas"
" Kita berenang sayang, Di dalam laut ini banyak kekayaan alam yang menakjupkan"
"Aku takut berenang di laut Mas"
"Sama saja dengan di kolam renang, kan nanti berenang dengan Mas"
Almira tersenyum " Baiklah"
Setelah mereka puas mendapat hangat nya sinar mentari mereka bersiap untuk sarapan.
Selesai sarapan mereka menuju cottage berganti baju renang. Almira menggunakan baju renang khusus muslimah, sedangkan Reihan hanya menggunakan boxer saja.
***
Aktivitas wajib lainnya di pulau Cinta ini adalah snorkeling dan diving. Suatu hal sangat dinantikan oleh para wisatawan yang berkunjung ke pulau Cinta ini. Dengan melakukan snorkeling dan juga diving maka para wisatawan akan dapat menikmati dan menyaksikan sendiri keindahan alam bawah laut yang ada di sekitar Pulau Cinta dan merasakan pengalaman yang mengagumkan tersebut.
Untuk melakukan snorkeling dan diving tersebut maka para wisatawan dapat datang ke Teluk Tomini. Bagi wisatawan yang khawatir atau takut untuk menyelam, maka sebenarnya hal tersebut tidak perlu, karena cukup dengan menyelam dengan kedalaman yang dangkal yakni hanya sekitar 2 meter hingga 3 meter saja maka sudah cukup untuk bisa menikmati keindahan biota laut yang ada di pulau Cinta ini.
Sebenarnya pulau Cinta ini dapat dikunjungi kapanpun saja di sepanjang tahun, namun ada best moment atau waktu terbaik untuk mengunjunginya yakni adalah setiap di bulan Juni atau Juli di setiap tahunnya, yakni pada saat pasir putih di pulau Cinta ini akan membentuk hati yang sepenuhnya.
Ada pemandu snorkeling juga jadi tidak perlu takut untuk menyelam di pulau cinta ini.
***
"Sayang siap"
Almira dan Reihan terjun ke dalam laut.
Byurrr...
Reihan terus memegangi tangan Almira, Mereka menikmati pemandangan alam bawah laut yang menakjubkan.
Almira begitu bahagia, ini pengalaman pertamanya, apalagi bersama orang yang di cintai nya.
Setelah 10 menit menikmati pemandangan bawah laut mereka kembali ke permukaan.
Almira dan Reihan seperti biasa mengabadikan nya menggunakan ponsel mereka hanya sudah di lindungi dengan pelindung anti air.
"Sayang kamu suka"
"Suka Sekali Mas"
Reihan mengecup kening Almira.
__ADS_1
"Asin Mir"
"Hahahaha tidak malu yah mencium di tempat seperti ini, ada Mas Mas itu lhoo"
"Mereka pasti tahu kita sedang berbulan madu" Ucap Reihan sembari tersenyum.
Setelah mereka selesai snorkeling dan diving mereka kembali ke cottage mengganti baju mereka, Mereka akan melakukan kegiatan berikutnya yaitu Mengunjungi dan Berinteraksi dengan Penduduk Lokal Suku Bajo.
***
Kampung Suku Bajo yang berada di Desa Torosiaje, Gorontalo. Keunikan dari kampung ini adalah seluruh rumah dan fasilitasnya berada di atas laut. Ya benar-benar di atas lautan lepas pantai Torosiaje, Gorontalo. Saat kami mengunjungi kami menggunakan sampan tradisional yang dapat diisi penumpang sebanyak 5 orang. Dalam kurun waktu kurang lebih 10 menit kami sudah sampai di dermaga Kampung Bajo.
Kami disambut oleh Pak Tama yang menjadi kepala dusun di Kampung Bajo. Pak Tama menjelaskan tidak hanya rumah penduduk saja yang berada di kampung di atas laut ini, tetapi ada juga pusat pemerintahan tingkat desa, aula, masjid, hingga penginapan umum. Jadi seperti sebuah kampung pada umumnya.
Selanjutnya Pak Tama menjelaskan bahwa mereka yang menghuni kampung ini adalah Suku Bajo dan suku lainnya jika ada yang menikah antar suku. Pak Tama sendiri aslinya orang Makassar, namun karena beliau menikah dengan seorang suku Bajo, akhirnya dia menetapkan diri untuk tinggal di kampung ini.
Adapun alasan mengapa dia mau tinggal di tempat ini karena ia merasakan ketenangan karena jauh dari kebisingan kendaraan dan dekat dengan pekerjaan sehari-hari yaitu sebagai nelayan, jadi jika ingin melaut tinggal turun saja karena perahu selalu disandarkan di belakang rumahnya.
Lebih jauh Pak Tama menjelaskan bahwa suku Bajo ini banyak tersebar di pesisir pantai di seantero nusantara, bahkan sampai ada juga yang terdampar di Philipina.
Awal mulanya kerajaan Bajo terdapat di wilayah Selat Malaka. Saat itu sang raja kehilangan puteri satu-satunya saat sedang berada di laut. Mendengar sang puteri hilang kemudian sang raja memerintahkan segenap pengawal dan rakyatnya untuk mencari keberadaan sang putri. Sebagai abdi kerajaan dan rakyat yang patuh, mereka para pengawal dan rakyat bahu membahu mencari keberadaan sang putri di lautan. Begitu sayangnya sang raja kepada putrinya, beliau memerintahkan kepada para pengawal dan rakyatnya yang akan melakukan pencarian hingga terucap kata, "Jangan kalian pulang sampai puteriku ditemukan!"
Dan sejak saat itu para pengawal dan rakyat suku Bajo mencari keberadaan sang puteri di segala penjuru lautan. Mereka tidak berani pulang karena tidak menemukan sosok sang puteri. Mereka lebih memilih tinggal di setiap pesisir pantai yang disinggahinya. Itulah sebabnya keberadaan suku Bajo ada di segenap penjuru nusantara. Mereka ada di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Wakatobi, Kendari, bahkan hingga ada yang terdampar kepulauan Sulu di Philipina Selatan dan Thailand. Dan semua itu mereka tinggal di atas laut.
Bagi Suku Bajo hidup di atas laut adalah sebuah pilihan. Mereka pernah mencoba untuk hidup seperti manusia normal di daratan, namun setelah dijalani tidak bertahan lama. Mereka kembali ke kehidupan di atas lautan. Menghirup udara laut, menikmati kesunyian dan deru ombak tanpa henti.
Suku Bajo juga dikenal sebagai manusia yang mahir menahan nafas di dalam air hingga beberapa menit, bahkan ada yang bisa mencapai 11 menit. Kegiatan yang mereka lakukan adalah menyelam untuk mencari ikan atau lobster yang berada di dasar laut.
Namun sayang pada tahun 2007 meninggal dunia dalam usia 38 tahun. Saat ini keluarganya pun masih ada. Setelah panjang lebar menceritakan sejarah suku Bajo, Pak Tama kemudian mengajak kami berkeliling kampung.
Melihat kehidupan yang hampir sama dengan daratan, hanya bedanya di atas laut saja. Di sana ada warung, bengkel, bahkan nama jalanpun ada. Listrik dan air PDAM juga sudah masuk dan menjadi fasilitas yang memadai. Pondasi rumah yang ditopang oleh kayu Gopasa terlihat sangat kokoh, bahkan bisa bertahan hingga 30 tahun.
Satu lagi terungkap misteri keberadaan sejarah suku Bajo yang akan menjadi sebuah catatan budaya di nusantara. Rasa lelah hilang seketika sesaat setelah merasakan keramahan dan kehangatan penduduk lokal dengan menyapa dan mengunjungi kediaman suku Bajo, penduduk lokal setempat. Jangan heran jika para wisatawan akan disambut hangat dan bahkan ditawari makan ikan segar hasil tangkapan mereka.
Almira dan Reihan juga pemandu wisata serta beberapa pengunjung lain nya sangat menikmati santapan yang di sajikan oleh penduduk lokal.
Almira dan Reihan begitu sangat senang karena mereka bisa berkumpul dengan suku lain yang ada di Indonesia.
Indonesia ini memang kaya akan budaya dan suku yang beraneka ragam, kita jangan pernah melupakan kata-kata semboyan di lambang negara Indonesia.
"Bhineka tunggal Ika" Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Selesai mereka berkunjung di suku Bajo, kini Reihan dan Almira kembali lagi ke cottage, mereka begitu lelah hari ini, mereka ingin istirahat sejenak mengumpulkan tenaga untuk esok hari kembali menikmati wisata lain yang ada di pulai cinta.
Sampai di cottage mereka mandi bersama, setelah itu mereka merebahkan tubuhnya di kasur.
"Sayang"
"Iya Mas"
__ADS_1
"Puas Main air nya hari ini"
"Puas Mas, sudah snorkeling dan diving, sudah mendayung ke suku Bajo, tinggal lelahnya sekarang"
"Sudah lelah?"
"Iya...memang Mas tidak lelah?"
"Sedikit..."
"Hah sedikit, kuat sekali sih Mas"
"Masih kuat kok kalau main air sekali lagi"
"Ih kita sudah mandi, Mira tidak mau main air lagi Mas"
"Bukan main air laut sayang"
"Terus air apa?"
"Air Liur mu"
Reihan langsung berguling di atas tubuh Almira dan melancarkan aksinya untuk ber ninu ninu ria.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.[ Jangan lupa like komen dan Vote yah]
[Jadi tahu yah tentang suku Bajo, Author juga baru tahu,hehe]
__ADS_1
Salam sayang,
Santypuji