
Setelah menelfon Hafiz, Reihan kembali ke ruang rawat inap, disana Ummi dan Mama sedang menemani Almira dan memberi nasehat.
"Mas.."
"Iya..."
"Aku mau buang air kecil"
Reihan segera memapah Almira dan membantunya ke kamar mandi.
"Sudah Mas biar aku sendiri"
"Tidak Humaira, Mas ikut ke dalam"
"Tidak Mas, jijik Mas, Mira juga mau ganti pembalut"
"Tidak, Mas tidak jijik, sudah menurut saja"
Almira membawa pembalut baru juga ke kamar mandi.
Reihan membantu Almira melepaskan celananya, setelah itu Reihan memegangi botol infus Almira, setelah selesai Reihan membantunya, mencebokinya walaupun darah dimana-mana tapi Reihan tidak merasa jijik sama sekali, baginya Almira ya bagian dari dirinya, Almira adalah belahan jiwanya.
Setelah itu membantunya memasangkan pembalut.
Almira begitu terharu dengan perlakuan Reihan terhadapnya, Ia merasa beruntung mendapatkan suami seperti Reihan yang mencintainya dalam suka maupun duka, yang mencintainya dalam keadaan sehat maupun sakit.
"Bagaimana ini, mengahadap kemana, ini di tempel dimana nya?" Reihan membantu menempelkan pembalut.
"Itu sayap nya di buka juga perekatnya,nanti di tekuk ke belakang"
"Hahaha sayap? memangnya burung ya, segala ada sayap-sayap segala" Reihan menertawakan istilah yang menurutnya itu sangat lucu.
"Ih cepat Mas, apa Mas mau memakainya juga" Ledek Almira.
"Ih sembarangan, Burung asli tidak pakai sayap-sayap an" Reihan tertawa kembali.
Reihan menuruti arahan dari Almira, Reihan lalu memasangkan celana Almira juga.
"Makasih ya Mas"
"Ini sudah kewajiban Mas Humaira" Reihan mencubit hidung Almira dengan gemas.
Selesai semuanya Almira dan Reihan keluar dari kamar mandi. Ternyata sudah ada Mas Birru yang sedang duduk. Sedangkan Mama dan Ummi sedang membeli makan siang.
***
Kebahagiaan suami adalah kebahagiaan istri, kesedihan suami merupakan kesedihan istri juga. Oleh karena itu, hendaknya suami istri selalu bersama dalam suka maupun duka.
Dengan demikian beban yang dirasakan akan terasa ringan, karena adanya kebersamaan dan seorang pendamping yang selalu menemani dalam suka maupun duka.
Sebagai teman hidup, semestinya suami istri adalah dua sahabat yang bisa berbagi dalam suka dan duka. Tapi, ternyata begitu banyak pasangan suami istri yang bahkan untuk mengungkapkan perasaan begitu susahnya, apalagi untuk bersahabat.
Sahabat adalah orang dekat dihati kita. Banyak hal-hal menyenangkan yang bisa kita dapatkan dari dia, karenanya mudah saja kita berbagi canda dan tawa dengan dirinya.
Dia adalah orang yang mudah kita ajak bicara untuk semua, atau paling tidak untuk sebagian besar masalah kita. Siap menerima semua keluh kesah kita dan acapkali memberi solusi yang terbaik untuk permasalahan yang kita hadapi.
Untuknya kitapun akan melakukan hal yang sama. Dengan rela kita sisihkan waktu untuk mendengar semua ceritanya, suka maupun duka.
Bila dia perlu pertolongan, dengan atau tanpa diminta tangan kita akan terulur untuknya. Dia nyaman bersama kita dan kita pun nyaman bersamanya.
Dengan hubungan semacam itu, banyak orang yang bisa menjalani langkah hidup yang lebih baik lantaran memiliki sahabat yang selalu peduli padanya.
Alangkah indahnya bila pola persahabatan semacam itu bisa diterapkan dalam kehidupan rumah tangga.
Suami istri adalah dua sahabat yang saling menyayangi, saling berempati, saling menerima dan memberi, dalam keadaan suka maupun duka dalam biduk rumah tangga.
“Namun sayang, tidak semua pasangan suami istri mampu menerapkan pola persahabatan seperti diatas.”
__ADS_1
Banyak hal yang berpengaruh dalam masalah ini, kecakapan dari suami istri dalam membina persahabatan, pola komunikasi yang dikembangkan dalam rumah tangga serta model yang dianut dalam hubungan suami istri sangat mempengaruhi.
Hubungan suami istri kadang menganut model bagai hubungan antara atasan dan bawahan, manajer dan karyawan. Perasaan setara, kesamaan dan kebersamaan sebagai dasar terbentuknya persahabatan tidak ada sama sekali.
Maka, jangankan berbagi cerita, mengungkapkan satu hal kecil saja sangat sulit karena adanya batasan hirarki, adanya hambatan komunikasi.
“Lalu kemana suami atau istri dapat mengungkapkan segala keluh kesahnya, gundah gulananya?”
Kalau tidak bisa menjadikan pasangan hidup sebagi sahabat, harus dipahami apa yang menjadi prinsip hidup sebagai sahabat, harus dipahami apa yang menjadi prinsip dari persahabatan.
Prinsip persahabatan antara suami istri adalah sama dengan dengan orang lain. Intinya adalah pada penerapan peinsip ukhuwah islamiyah yaitu saling membantu, saling tolong menolong, saling mengingatkan, saling menghibur, tidak mencari-cari kesalahan, dipenuhi dengan rasa saling ingin memberi dan penuh kasih sayang.
Agar pernikahan bisa memberi rasa aman dan nyaman bagi suami istri juga anak-anaknya, sudah selayaknya bila setiap pasangan suami istri terus berusaha membangun iklim persahabatan yang mesra diantara keduanya.
Perjalanan tidak selamanya mulus, banyak jalan yang terjal, berliku dan berlobang, tapi kita harus yakin bahwa selama ada niat, usaha dan do’a, Insya Allah kita akan sampai ke tujuan, yaitu keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
***
"Hey...kalian ini, di kamar mandi berisik sekali, sedang apa memangnya?" Tanya Mas Birru.
"Sedang memasang sayap Mas" Jawab Reihan.
"Hah"
Almira menabok lengan Reihan, " Mas Azzam kau ini"
Reihan malah tertawa terbahak-bahak.
Reihan membantu Almira merebahkan Almira di atas bangkar.
"Istirahatlah"
Almira mengangguk.
Reihan menghampiri Mas Birru. Mas birru bertanya Almira sakit apa.
"Rey, kenapa?"
"Apa serius?"
Reihan mengangguk.
"Kak... aku kangen Ayyubi" Celetuk Almira.
"Makanya sembuh dulu, Ayyubi kakak larang ke rumah sakit"
"Kenapa kak"
"Ya tidak boleh Dek, Tak seperti orang dewasa, sistem daya tahan tubuh anak-anak di bawah 12 tahun belum cukup kuat. Meskipun dari luar anak tampak sehat, kita mungkin tak tahu kalau sebenarnya daya tahan tubuhnya sedang melemah. Belum lagi anak-anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan diri dari penyakit dibandingkan orang dewasa.
Sementara itu, rumah sakit adalah sarang bagi berbagai jenis organisme penyebab penyakit. Mulai dari bakteri, virus, kuman, hingga toksin. Organisme-organisme tersebut bisa menular pada anak-anak dengan mudah. Apalagi kalau sedang ada wabah penyakit tertentu.
Salah satu penyakit yang paling sering ditularkan pada anak yang sering berkunjung ke rumah sakit adalah infeksi paru(pneumonia) karena bakteri. Biasanya gejala penyakit ini baru muncul beberapa hari setelah infeksi. Jadi, orangtua mungkin tidak sadar kalau anak sebenarnya tertular penyakit di rumah sakit. Jadi lebih baik jangan bawa anak jika tidak ada keperluan mendesak"
"Oh iya Kak"
"Lagian kalau ada Ayyubi pasti kamu tidak akan bisa istirahat,"
Petugas rumah sakit membawakan makanan untuk Almira, Reihan menerimanya dan ikut duduk di samping Almira ingin menyuapinya.
"Mas apa aku harus makan ini"
"Iya dong sayang"
"Mas ini pasti tidak enak"
"Mau cepat sembuh tidak, nanti gendong Ayyubi lagi"
__ADS_1
Almira mengangguk.
"Mulai sekarang harus jaga kesehatan, makan makanan bergizi, tidak boleh lemak ataupun gula, bila perlu jadi vegetarian"
"Ah, Mas tidak mau"
"Demi kesehatan"
"Memang Mira sakit apa sih Mas?"
"Kelelahan dan kurang gizi, malu-maluin Mas saja kan, dikira tidak di beri gizi yang baik" Ledek Reihan.
Reihan belum ingin memberitahu perihal penyakit Almira dulu, sebelum Almira pulih sepenuhnya, setelah itu baru Reihan akan membicarakan tentang pengobatan selanjutnya.
Reihan menyuapi Almira dengan sangat telaten. Ibu dan Ummi datang membawa beberapa makanan. Mereka juga ikut makan.
Selesai menyuapi Almira, ponsel Reihan berdering, Ada panggilan vidio call masuk dari Hafiz.
"Angkatlah Humaira, itu Alisha"
Almira langsung mengangkat telfon dari Hafiz, dan benar saja terpampang di layar wajah ayu Alisha yang sedang melambaikan tangannya.
"Assalamualaikum Dek"
"Waalaikumsalam, Kak"
"Dek kamu sakit apa?"
"Kata Mas Azzam Mira hanya kelelahan Kak"
"Hah kelelahan memangnya kalian main berapa putaran?" Ledek Alisha.
Reihan langsung mengambil ponsel yang berada dalam genggaman Almira, " Eh yang benar saja, memangnya kita sedang bermain komedi putar"
"Hey, kau apakan Adikku sampai kelelahan?"
Ledek Alisha kembali.
"Aku tidak apa-apa kan?"
"Almira sedang ospek kak, jadi mungkin lelah karena kegiatan ospek Mira" Almira mengambil ponselnya kembali.
"Kan panitia nya suamimu, duduk manis saja, kalau ada kegiatan yang melelahkan minta saja gendong padanya"
"Ih Kakak ini,"
"Eh Dek, kamu harus menunjukan kalau Reihan itu milikmu, karena di kampus suami mu termasuk idola" Ucap Alisha sambil tertawa.
"Eh sudah...sudah bukan nya menghibur, malah meledek istriku" Ucap Reihan.
"Hahaha Dek besok kakak pulang, cepat sembuh ya,"
"Iya Kak"
"Ya sudah, kakak sedang beres-beres ini, sudah dulu ya ,Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Panggilan vidio call di akhiri oleh Alisha, Almira segera memberikan ponselnya lagi pada suaminya.
Almira kembali istirahat setelah makan obat, Reihan duduk di sebelah bangkar sambil memegangi tangan Almira.
Sementara Mas Birru kembali lagi ke kantornya, sedangkan Mama kembali ke rumah membawakan baju ganti untuk Reihan dan Almira, Ummi dan Reihan masih setia menjaga Almira.
Setelah Almira terlelap, Reihan menghampiri Umminya.
Reihan memeluk Umminya, Ummi kembali memeluk Reihan.
__ADS_1
"Kamu kenapa Rey, matamu berkaca-kaca"
"Ummi...ada yang harus Rey bicarakan"