Aku Janda Tapi Perawan

Aku Janda Tapi Perawan
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Sejak menghadiri pesta pernikahan itu hati Hafidz sudah tidak karuan sampai sekarang,rasanya ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya,tapi Hafidz masih bingung dengan keadaan yang melanda nya.


Ia harus jadi laki-laki sejati yang hanya memilih satu wanita,Ia tidak ingin menyakiti Alisha terlalu dalam,namun hatinya semakin mencintai begitu dalam.


Siang ini Nadia mengajaknya makan siang bersama di restauran yang dekat dengan rumah sakit.Mereka bertemu di restauran,Nadia menggunakan dres warna merah selutut,Nadia memang cantik juga sexy,tapi hati ini yang memilih Alisha,sementara Hafidz hanya mengenakan kemeja warna Abu-abu dan celana bahan warna hitam.


"Sayang,makasih ya sudah meluangkan waktu untuk makan bersamaku"


"Namaku Hafidz,bukan sayang" Jawab Hafidz ketus.


"Iya Mas Hafidz"


"Cukup panggil Hafidz saja,lagian kita seumuran,"


"Oke baiklah Hafidz,kau mau makan apa?"


"Terserah kamu saja,pasti aku makan"


Hafidz memainkan ponselnya,Nadia memanggil pelayan lalu memesan beberapa makanan.


Mereka masih terdiam,mereka malah memainkan ponsel masing-masing.


Saat makanan sudah datang mereka segera menyantapnya,tidak ada obrolan serius di antara mereka.


Sesekali Nadia hanya bertanya perihal pekerjaan Hafidz.


Saat selesai makan pun Hafidz berpamitan ingin kembali ke rumah sakit.


Nadia berpamitan juga ingin kontrol ke rumah sakit,Hafidz menjadi penasaran,ia sengaja menawarkan Nadia untuk di temani ke rumah sakit,tapi Nadia malah menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan nya.


Hafidz melihat map yang di bawa Nadia bertuliskan Rumah Sakit Sumber Sehat,Hafidz tahu rumah sakit itu ada dimana,ia ingin sekali menanyakan dokter yang menangani penyakit Nadia,apakah Nadia bisa di selamatkan atau bagaimana untuk pengobatan yang terbaiknya.


☘☘☘


"Kak Alisha,kakak cantik"


Alisha menoleh kan pandangan nya pada seorang mahasiswa yang di rasanya sangat nakal,memanggilnya dengan sebutan kakak.


"Aldo,panggil saya ibu"

__ADS_1


"Tidak mau,masih muda,lajang,kenapa mesti di panggil ibu,tidak elok sekali"


"Bukan seperti itu Aldo,walau bagaimana pun saya ini dosen kamu"


"Oke...oke Bu Dosen," Ucap Aldo sambil terkekeh.


"Bu Dosen kita ke cafe depan kampus dulu yuk,ngobrol banyak,Aldo punya masalah nih"


"Ah kamu ini alasan saja"


"Ehmmm"


Suara deheman menggelegar mengagetkan Alisha dan Aldo.


"Eh Pak Raihan"


"Kamu mau curhat apa Aldo,bisa dengan saya,kebetulan saya pernah belajar tentang bimbingan konseling"


"Oh tidak-tidak pak,terimakasih"


Aldo langsung lari kecil menghindari Pak Raihan.


Pak Raihan juga salah satu dosen lajang yang di gemari para mahasiswi,namun juga di takuti karena ketegasan nya.


"Terimakasih, sudah membantu saya mengahadapi anak nakal itu" Ucap Alisha sambil tersenyum.


"Hemmm"


Pak Raihan hanya menjawab 'Hemm' saja,Pelit sekali bicara,Batin Alisha.


Alisha lalu bergegas menuju kantor para staf dan Dosen untuk meletakan buku-bukunya.


☘☘☘


Hafidz sudah berganti shif dengan teman Dokternya,Hafidz segera menuju parkiran,ia ingin mengunjungi Rumah Sakit Sumber Sehat tempat Nadia berobat.


Sesampainya di rumah sakit sumber sehat Hafidz sengaja menggunakan jas dokternya agar memudahkan nya bertemu dokter yang khusus menangani leukimia.


Dan ternyata kebetulan sekali Hafidz mengenali dokter tersebut,Hafidz di antar oleh suster menuju ruangan Dokter Ramli.

__ADS_1


"Assalamualaikum Dokter"


"Waalaikumsalam, Eh Dokter Hafidz,wah tumben sekali mampir di tempat menyeramkan ini" Ledek Dokter Ramli.


"Ah Dokter bisa saja,Saya ada perlu Dok"


"Kenapa?Apa kamu sakit Hafidz?"


"Bukan,bukan saya Dok,tapi tunangan saya,dan Dia sudah langganan berobat disini"


"Siapa Namanya?"


"Nadia Asyifa Dok"


Dokter Ramli langsung mengerutkan keningnya.


"Boleh saya berkonsultasi masalah penyakitnya Dok,bagaimana caranya agar cepat sembuh"


"Kamu ini bicara apa Hafidz,Nadia tidak sakit,ia hanya rutin mengantar sepupu nya yang sakit dan berobat kesini"


"Apa????"


☘☘☘


Aku terdiam merenung.


Sulit, bingung semua bercampur jadi satu. Hampa….


Sumpah serapah mulai keluar dari mulutku Mengutuk keadaan yang begitu kejam hempaskan kita.


Semua hari adalah keterpaksaan Setiap yang aku lakukan adalah kepalsuan. Aku tak lagi bisa menjadi diriku.


Aku berjuang setiap waktu memodifikasi setiap perasaan sakit menjadi tawa Setiap kata tidak menjadi iya. Berperang melawan nurani yang terus membrontak.


Memaksaku untuk pergi Tapi aku telah terperangkap oleh takdir yang mematikan ini.


Tapi kali ini aku tidak akan terus berdiam,Aku tidak ingin terus hidup dalam kepalsuan.


Aku akan berjuang,berjuang untuk kebahagiaan ku sendiri,dan kebahagiaan cintaku jua.

__ADS_1


__ADS_2