
Pagi hari nya setelah sholat subuh Reihan membaca Alquran, Ia membaca Alquran di sebelah Almira yang sudah bangun namun masih tiduran saja di tempatnya.
Selesai membaca Alquran Reihan mengusap perut Almira dan mengecup keningnya.
Almira meminta Reihan untuk memandikannya karena waktu di rumah sakit.
"Mas Mira mau mandi"
"Iya pakai air hangat tapi yah"
Almira mengangguk, Ia segera membopong Almira ke kamar mandi lalu meletakan nya di bawah shower yang akan mengeluarkan air hangat. Reihan membuka baju Almira satu persatu, Reihan menelan Saliva nya, sudah beberapa hari berpuasa di suguhkan dengan pemandangan yang menggiurkan ini rasanya kepalanya menjadi pusing.
Reihan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mas kamu kenapa?"
"Tidak sayang, Mas tidak apa-apa"
Reihan mulai menyalakan showernya dan menyabuni Almira, Reihan berlama-lama menyabuni di area dada Almira.
"Mas kenapa lama sekali di situ, itu di bawah-bawah belum"
"Mas sudah kangen dengan buah melon ini" Ledek Reihan.
Almira langsung menabok tangan Reihan yang mulai nakal.
Reihan menggelengkan-gelengkan kepalanya lagi.
"Ada apa sih Mas kamu geleng-geleng terus"
"Kau tidak lihat di balik sana, sudah minta keluar, jadi Mas geleng-geleng biar dia tahu kalau tidak boleh sekarang" Reihan berusaha menjelaskan pada Almira.
"Di balik mana?"
Reihan menepuk jidatnya sendiri, lalu menuntun Almira menyentuh celananya.
__ADS_1
"Kenapa tolet-tolet Mas?"
"Pusing sayang"
"Kasih saja Bodrex"
"Kau ini, Masa di kasih Bodrex, nanti kalau kamu sudah sembuh ya sayang obati pusing nya" Reihan mengerlingkan matanya.
"Ih Mas ini, Cepat mandikan dengan benar"
"Iya iya"
Reihan buru-buru menyabuni Almira agar dirinya tidak bertambah sakit kepalanya.
Selesai memandikan Ia segera menghanduki Almira dan memakaikan nya baju.
Reihan turun ke bawah mengambil makanan khusus Almira dan membawakan sarapan nya ke kamar.
"Sayang sarapan dulu"
Almira mengerutkan dahinya "Mas kok seperti ini sarapannya"
Sarapan pagi ini hanya beras meras 1 centong, sayuran, dan potongan buah-buahan serta air putih.
"Mas aku sudah tidak merasa sakit kok"
"Tapi kamu harus diet sayang"
"Mas aku tidak gemuk"
"Sayang turuti saja apa kata dokter demi kebaikan kamu"
"Mas sebenarnya aku sakit apa?"
Reihan terdiam, Reihan bingung memulainya dan menjelaskannya bagaimana.
__ADS_1
Reihan menghirup nafas dalam-dalam.
"Sayang kamu percaya takdir dan mengimbanginya bukan?"
Almira mengangguk.
"Sayang apapun yang terjadi pada kita, kita wajib berkhusnudzon pada Allah kan"
Lagi-lagi Almira hanya mengangguk.
"Kamu wanita pilihan Allah"
"Mas jelaskan yang sebenarnya jangan berbelit-belit."
Reihan akhirnya menjelaskan tentang penyakit Almira dengan sangat hati-hati agar Almira bisa mengerti dan tidak menimbulkan reaksi yang berlebihan.
"Mas apa ada harapan kita memiliki anak?"
"Tentu saja sayang"
"Apa Mas tidak kecewa padaku?"
"Kau ini bicara apa?"
"Aku bukan wanita sempurna Mas" Almira menunduk dan terdiam.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini Humaira"
"Mas...apakah takdir sedang tidak berpihak padaku?"
"Dengarkan Mas, sekarang dunia medis sudah canggih sayang, coba kita bayangkan zaman dulu, zaman para nabi, kita bisa belajar dari kisah nabi Ibrahim.
Momongan itu adalah amanah. Semua ada karena rido yang maha kuasa. Manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang akan menghendakinya.
Masih ingat kisah para nabi yang menanti pasangan di usia senja. Kisah Nabi Ibrahim bapaknya para nabi. Usia senja dan renta kalau kita ingat. Pasangan Nabi Ibrahim dan Sarah yang menanti buah hati harus menunggu cukup lama. Ingat usia mereka di atas 80 tahun dan hampir saja Sarah divonis mandul. Tapi ternyata Allah punya rencana lain yang sungguh ajaib. Ibrahim diminta Sarah untuk menikahi budak bernama Hajar. Ketika Ibrahim menikah dengan hajar akhirnya lahir Ismail. Lalu tumbuhlah benih cemburu di hati Sarah. Akhirnya Ibrahim diperintah Allah mengungsikan Hajar dan Ismail ke Makkah. Setelah kejadian itu, sungguh ajaib Allah beri karunia hadirnya buah hati dari rahim Sarah. Maka lahirlah Ishaq. Kedua anak inilah yang akan menjadi nabi. Sehingga Nabi Ibrahim disebut Ayahnya Para Nabi."
__ADS_1
"Ingat Humaira mereka saat itu sudah senja, di zaman itu belum ada alat medis yang canggih, tapi mereka bertawakal dan terus berdoa, lihatlah Allah begitu Maha segalanya" Sekali lagi Reihan berusaha menguatkan Almira agar Almira tenang dan tidak bersedih.
"Mas...Apakah akan ada Siti Hajar di antara kita?" Berat hati Almira mengatakan itu, tapi Ia hanya ingin tahu seberapa besar cinta Reihan kepadanya, seberapa ikhlas Reihan menerima kekurangannya.